
Toni Alexsander mempercepat kepulangannya karena suatu hal yang harus ia segera selesaikan.
Setibanya di bandara Toni tidak langsung pulang ke rumah, namun ia pergi untuk menepati janji temu dengan ayah Vita di sebuah restaurant di kawasan Tamrin.
Ya Toni mempercepat kepulangannya karena, Beni Irawan, ayah dari Vita ingin membicarakan tentang kelanjutan perjodohan antaa Vita dan Johan. Tanpa memberitahu Johan dan persetujuan dari Johan, Toni merencanakan Perjodohan ini.
Ayah Johan itu berpikir Jika Johan pasti akan setuju jika Vita lah yang menjadi calon istrinya, lagi Vita bukan lah orang baru di kehidupan mereka.
Sejak tinggal di satu lingkungan yang sama sejak Vita dan Johan masih kecil, Toni dan Beni sudah sangat akrab, bahkan mereka saling membantu untuk kemajuan bersama. tentu saja tidak di ragukan lagi bibit bebet bobotnya.
Toni memasuki sebuah restaurant tempat ia dan Beni ayah Vita, membuat janji. Toni langsung di sambut pelukan hangat dari sang sahabat.
"Apa kabar ton, makin sibuk saja kamu," ucap Beni.
"Biasalah, banyak yang harus di selesaikan, untung saja Johan sekarang mau menggantikan posisi ku, jadi aku lebih terbantu," ucap Toni.
"Ayo duduk," ucap Beni.
"Ah iya, terimakasih,"ucap Toni.
Mereka kini sudah duduk saling berhadapan, setelah pesanan makanan dan minuman mereka datang, Toni langsung membuka obrolan antar keduanya.
"Bagaimana tentang rencana kita, kapan akan terealisasi?" tanya Toni.
"Semua tergantung pada Johan, kamu tahulah, sejak dulu, Vita sangat menyukai anak kamu Johan," ucap Beni.
"Jangan Khawatir, aku tahu anak ku, dia tidak pernah sekalipun membantah ku, kita akan lanjutkan perjodohan ini," ucap Toni.
"Kapan acara pertemuan keluarga akan di laksanakan?" tanya Beni.
"Tidak ada pertemuan keluarga, aku akan langsung memperkenalkan Vita di hadapan seluruh karyawan ku di pesta ulang tahun perusahaan Minggu depan," ujar Toni.
"Haha ... aku suka kamu yang seperti ini, wah sebentar lagi kita akan menjadi besan," ucap Beni sambil tertawa.
~~
Rapat mingguan akan segera di laksanakan, pembahasan kali ini adalah mengenai ulang tahun perusahaan yang akan segera di laksanakan minggu depan.
__ADS_1
Para perwakilan dari departemen masing-masing sudah hadir di ruangan rapat, namun sepertinya mereka harus kembali menunggu karena Johan belum datang.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Johan memasuki ruangan rapat. Jihan yang melihat kedatangan Johan, menjadi sedikit canggung dan malu karena kejadian ciuman mereka kemarin.
Johan sudah menempati posisinya, ia melihat kearah Jihan yang semakin terlihat cantik dengan rambut yang di ikat kuncir kuda, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Rapat sudah di mulai, salah satu perwakilan dari departemen perencanaan sedang menjelaskan konsep yang akan di terapkan di ulang tahun perusahaan minggu depan.
Namun Johan sepertinya tidak terlalu memperhatikan penjelasan yang di berikan staf dari departemen perencanaan itu,ia malah sibuk dengan ponselnya.
Jihan yang tengah fokus kedepan, tiba-tiba di kaget kan dengan suara getar ponsel yang ada di saku blazernya. Ia mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya dari bawah meja,agat tidak terlalu kentara.
Saat membuka isi pesan itu, senyumnya tiba-tiba saja mengembang, ternyata Johan yang mengirimi Jihan pesan dan isi pesan dari Johan itu mengatakan Jika pagi ini Jihan terlihat sangat cantik dengan rambut terikat.
Jihan jadi tidak fokus pada rapat rapat kali ini, karena Johan terus saja mengiriminya pesan hingga ia beberapa kali harus melihat kearah bawah meja.
Karena merasa terganggu akhirnya Jihan membalas pesan itu dengan mengetikkan, " Hentikan, kita sedang rapat, jagan bermain-main."
Akhirnya Johan tak mengirimkan pesan spam kepad Jihan, ia kembali fokus ke rapat kali ini. Setelah rapat selesai, Jihan hendak kembali keruangan, ia masuk kedalam lift namun tiba-tiba Johan menyusul masuk.
"Terserah aku, di sini aku kan CEO nya," ucap Johan.
Jihan tak berbicara lagi, ia hanya diam sambil berdiri di samping Johan. Johan melirik kearah Jihan yang hanya diam tanpa kata, Ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Jihan dengan erat, tentu saja Jihan kaget, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Johan namun rasanya sia-sia saja, Johan malah mempererat genggamannya.
"Lepaskan tanganku," ucap Jihan.
Johan tak bergeming dan tetap pada pendiriannya, Jihan semakin panik karena mereka akan segera tiba di lantai tujuan.
Sedetik, dua detik, tiga detik, pintu lift terbuka dan di saat bersamaan Johan melepaskan genggaman tangannya. Johan benar-benar sedang menguji nyali Jihan, Johan keluar dari dalam lift dan berjalan mendahului Jihan, Melangkah pergi menuu ruang kerjanya.
Di saat wajah Jihan sudah berubah pucat, Johan malah tersenyum senang, baginya bermain-main dengan Jihan benar-benar menyenangkan.
~~
Sesampainya di ruangan, Jihan langsung duduk bersandar di kursinya, Malik mengahampiri Jihan dan langsung menghentak meja Jihan dengan tangan kirinya, membuat Jihan terperanjat kaget.
"Kamu Mengagetkan saja," ucap Jihan.
__ADS_1
"Maaf, habisnya kamu seperti orang kelelahan saja, wajah mu pucat," ucap Malik.
"Ah sepertinya karena aku tidak sarapan pagi tadi," ucap Jihan.
"Kamu ini, sarapan iti sangat penting untuk memulai aktivitas, minum ini," ucap Malik sambil menyodorkan sekotak susu madu.
"Susu madu lagi," ucap Jihan bingung, karena Malik terus saja membawa susu madu kemanapun dan kapan pun.
"Minumlah, susu ini bagus untuk menjaga stamina tubuh," ucap Malik kemudian terseyum kepada Jihan.
Jihan menerima, susu madu pemberian Malik, ia menatap Malik dengan sendu, entah kenapa ia menjadi merasa bersalah. Malik begitu baik padanya tapi sungguh entah sampai kapan pun Jihan tak bisa membalas perasaan Malik padanya.
Karena sepertinya, Jihan sudah terbelenggu pada cinta seseorang yang sejak dulu hingga saat ini masih setia mengisi hatinya, tetap tinggal meski raga orang tersebut sempat pergi meninggalkannya tujuh tahun yang lalu.
~
Jihan sedang duduk di halte bus untuk pulang. Malik beberapa kali menawarinya tumpangan namun Jihan menolak, Jihan benar-benar tidak enak jika terus merepotkan Malik.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan Jihan, Dan ternyata orang yang ada di dalam mobil itu, adalah Raksa. Raksa berjalan menghampiri Jihan yang masih setia pada posisinya.
"Selamat sore Jihan," sapa Raksa.
"Selamat sore ... ada apa?" tanya Jihan, bingung.
"Masuklah, ikut aku kesuatu tempat," ucap Raksa.
"Kamu akan membawa aku kemana?" tanya Jihan semakin bingung.
"Aku mohon ikut saja ... aku harus membawa mu bertemu dengan tuan Johan, kalau tidak aku pasti akan di pecat," ucap Raksa lirih.
"Apa! jadi ini semua ulahnya," ucap Jihan.
"Aku mohon ikut aku ya, aku mohon," ucap Raksa menghiba.
Jihan melihat Raksa seperti itu tentu saja, merasa kasihan, akhirnya ia menyetujui permintaan Raksa. Entah kemana Raksa akan membawanya, yang pasti Johan sudah menunggunya di suatu tempat.
Bersambung 💓
__ADS_1