Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.19


__ADS_3

Jihan hanya duduk di belakang meja kerjanya, sambil memainkan ponselnya, pagi ini ia di buat heran dengan Johan yang tak pernah menyuruhnya sama sekali, ia sampai bosan terus duduk saja tanpa mengerjakan apapun.


Sudah satu minggu ini, Johan tak bicara banyak padanya, hanya bicara singkat soal pekerjaan. Bahkan untuk marah seperti biasanya tak pernah ia dengar lagi.


Rasa herannya pun bertambah karena Johan tak memarahinya tadi pagi, sewaktu ia datang telat dan tidak menyambutnya.


Di tengah lamunannya, Pak kus datang menghampirinya.


"Jihan ... tuan Johan ada?" tanya pak Kus pada Jihan.


"Eh, pak Kus ... ada pak, mari saya antar," ucap Jihan yang sudah beranjak dari duduknya.


Jihan dan pak Kus masuk kedalam ruangan kerja Johan, mereka cukup kaget melihat Johan yang sedang tertidur di atas sofa.


Rasanya begitu mustahil, Johan bisa tidur di jam kerja seperti ini. Pak kus dan Jihan saling melempar pandangan, mencari jawaban dari sebuah kejadian yang sedang mereka saksikan saat ini.


Jihan dan pak kus beranjak keluar, ditutupnya pintu secara perlahan, agar tidak menggangu singa yang sedang tidur.


"Maaf pak, Kembali nanti saja. Sepertinya tuan Johan, sedang kelelahan," ucap Jihan.


"Baiklah kalau begitu ... lebih baik, kamu periksa Kondisinya, jangan-jangan, tuan Johan sakit," ujar pak Kus.


"Sakit?" ucap jihan.


"Bapak Permisi dulu," ucap pak Kus.


"Iya pak," ucap Jihan.


Setelah pak kus pergi, Jihan kembali ke ruangan Johan, ia berjalan perlahan mendekat, pak kus ada benarnya, siapa yang tahu jika Johan tidak hanya tertidur, tapi dia sedang sakit. Lebih baik di periksa saja dulu, pikir Jihan.


Jihan kini berdiri di hadapan Johan, kemudian ia berjongkok untuk menyamaratakan posisinya dengan Johan. Sekarang ia bisa dengan jelas wajah polos Johan saat tidur, terlihat karismatik, siapa yang tidak terpesona jika melihat pemandangan seperti ini.


Sepertinya Jihan terlalu larut, hingga terus memandangi Johan dan melupakan maksudnya menghapiri Johan tadi. Ia menatap Johan dengan lekat, seolah mencari sisi dari kekasih yang ia kenal dulu.


Meski tak banyak tapi Jihan bisa melihat sosok kak Jo yang dulu ia kenal,masih sama. Meskipun kini tak lagi dominan, sekarang lebih dominan sikap tegas, dingin, dan arogan.


Jarak mereka kini hanya beberapa centimeter saja, entah mendapatkan keberanian dari mana, Jihan menyentuh rambut yang menutupi mata Johan.


Siapa sangka, sentuhannya itu membuat Johan membuka matanya, Johan terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Karena merasa kaget, Jihan terjatuh duduk ke arah belakang, hingga meringis kesakitan.


"Aww .. sakit," keluh Jihan saat merasakan sakit di bagian bokongnya.


Johan yang tadi masih setengah sadar, kini telah duduk dari posisi tidurnya tadi, setelah suara Jihan.


"Kamu, sedang apa disini?" Tanya Johan.


Dengan cepat Jihan berdiri dari posisi duduknya tadi, merapikan pakaian dan rambutnya.


"Ma-maaf tuan, saya hanya ingin memastikan, apa anda baik-baik saja, tidak biasanya anda tertidur seperti ini," ujar Jihan sambil menunduk.


Johan kembali mengingat saat pertama kali membuka mata, Jihan berada di hadapannya, menatapnya dengan sangat intens.


"Kamu mencuri kesempatan saat aku sedang tidur kan," tuduh Johan.


"Apa ... tidak, itu tidak benar, maaf jika saya lancang, saya permisi," ucap Jihan.


Jihan berbalik untuk pergi, namun dari arah belakang, Johan tiba-tiba saja memeluknya, tubuhnya menjadi kaku seketika. Deru nafas Johan begitu terasa di ceruk lehernya, membuat bulu kuduknya berdiri.


Jihan seolah tersihir dalam sesaat, namun sedetik kemudian ia sadar jika ini salah, ini tidak boleh. Jihan mencoba untuk melepaskan diri namun Johan semakin mempererat pelukannya.


"Biarkan aku memeluk mu sebentar saja, hanya sebentar, untuk memastikan sesuatu," ucap Johan.


Tapi Jihan tetap merasa bingung, apa maksud dari pelukan ini, apa Johan hanya sedang bermain-main kepadanya, dan menganggap Jihan adalah wanita murahan yang bisa di perlakukan semaunya.


Setelah beberapa saat Jihan memberanikan diri untuk melepaskan diri, melangkah menjauh dari Johan, ia menatap Johan dengan kesal, apa setelah mereka putus Johan menjadi seorang buaya darat yang suka gonta-ganti wanita.


"Saya harap ini yang terakhir kali, jika tuan menggap saya wanita murahan, anda salah besar. Hubungan kita sudah lama berlalu, sekarang kita berkerja bersama, saya harap tuan bisa bersikap profesional, jangan pernah bermain-main dengan saya," ujar Jihan lalu melangkah pergi, meninggalkan ruang kerja Johan.


Johan mengacak-acak rambutnya dengan kasar, maksudnya bukalah seperti yang Jihan katakan tadi, ia hanya ingin memastikan perasaannya kepada Jihan.


Saat memeluk Jihan tadi, Johan seakan menemukan kenyamanan yang sudah lama hilang dari hidupnya. kenyamanan yang dulu hanya ia rasakan saat berada di dekat Jihan.


~


Di luar ruangan Jihan tak bisa menahan air matanya. Ia meraih tasnya yang ada di atas meja dan melangkah pergi, ia ingin menenangkan diri.


Johan baru saja ia keluar dari ruangannya untuk mencari Jihan, namun Jihan sudah tidak ada di tempatnya. Rasa bersalah kini menderanya. Tanpa fikir panjang, Johan meninggalkan ruangan itu dan beranjak pergi untuk mencari Jihan.

__ADS_1


Sesampainya di lobby, Johan mengedarkan pandangannya ke semua arah, namun tak juga menemukan sosok yang ia cari.


Di tengah kebingungannya, ia melihat Malik dan beberapa rekannya baru saja masuk, sepertinya baru selesai makan siang.


"Malik!" seru Johan.


Malik, jenny dan rendy berbalik, melihat ke arah sumber suara.


"Apa kalian melihat Jihan," tanya Johan.


"Kami tadi bertemu dengannya saat di jalan, dia bilang mau ke butik temannya," ujar jenny.


"Iya benar tuan, kalau tidak salah nama butiknya Kinan Boutique," ucap Rendy.


Malik tak sempat Bicara lagi karena kedua temannya itu sudah bersuara lebih dulu.


"Baiklah, terimakasih," ucap Johan.


Johan melangkah pergi, sementara Malik, Jenni dan rendy di hantui berbagai pertanyaan, karena melihat raut wajah Johan yang nampak panik.


~


Johan, mengaktifkan GPS di ponselnya, untunglah butik kinan cukup terkenal, hingga memudahkannya untuk melacak posisi Jihan.


Akhirnya Johan sampai di sebuah butik yang bertuliskan Kinan Boutique.


Johan melangkah masuk, namun tak ada orang, sepertinya karyawan butik itu, sedang istirahat makan siang. Johan memberanikan diri untuk masuk, mencari letak keberadaan Jihan.


Sampai ia mendengar suara dua orang yang sedang bicara. Johan mendekat untuk mendengar lebih jelas dan ternyata itu adalah suara Jihan dan temanya Kinan, Johan memutuskan untuk diam dan terus mendengarkan pembicaraan mereka dari balik tembok.


"Kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya kepada kak Jo," ucap Kinan pada Jihan.


"Untuk apa, aku sudah tidak perduli lagi dia memandang ku rendahan, tapi setidaknya dia harus bersikap sopan, bagaimana dia bisa memeluk orang sembarangan, hubungan kami sudah lama berakhir, menjelaskan pun tak ada gunanya, dia tidak akan pernah percaya padaku, hiks hiks," ucap Jihan sambil sesegukan.


"Jihan lihat aku. Kak jo harus tahu, jika kamu tidak pernah mengkhianatinya, itu semua hanya rencana kak Vita untuk memisahkan kalian," ujar Kinan.


Duarrr.


Seperti ada peluru yang mendarat tepat di jantung Johan, saat mendengar ucapan kinan. Tubuhnya terasa lemas hingga tak mampu lagi untuk berdiri, Johan terduduk di lantai dengan kedua tangan mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Jadi selama ini, aku hanya salah paham, astaga apa yang sudah aku lakukan," Batin Johan.


Bersambung 💕


__ADS_2