Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Ngidamnya Luna


__ADS_3

"Luna, masih mual nak?" tanya Bu Mayang yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka dengan membawa mangga yang telah dikupas dan diiris.


Luna menganggukkan kepalanya lalu duduk di tepi ranjang.


Sedangkan Niko hanya melipat tangannya dan masih berjarak beberapa meter dengan Luna.


"Kamu ngapain berdiri disitu? Sini suapin Luna biar gak mual," suruh Bu Mayang pada putranya itu.


Niko menghela napas panjang. "Gimana mau dekat Ma, tiap dekat aku Luna nya malah mual."


Bu Mayang kini menatap Luna yang terlihat pucat ingin memastikan.


"Iya Ma, tiap dekat Mas Niko, aku langsung mual."


Seketika Bu Mayang tertawa dengan keras sampai puas menertawakan putranya. "Ya udah puasa dulu jangan dekat-dekat. Bawaan orang hamil kan memang beda-beda." Bu Mayang mengambil buah mangga yang sempat dia taruh di atas nakas. "Tadi mau mangga kan? Nih udah Mama kupasin, dimakan ya, biar mualnya mereda." Bu Mayang menyuapi menantunya itu.


Luna mulai memakannya. Mangga itu memang asam, tapi terasa cocok di lidahnya.


Niko justru menghempaskan dirinya di atas ranjang di belakang kedua wanita itu.


"Nik, siap-siap sana. Antar Luna periksa." suruh Bu Mayang.


Tapi Luna justru menggelengkan kepalanya. "Aku mau diantar sama Mama saja. Mas Niko biar di rumah."


Seketika Niko menegakkan kepalanya dan mendekat. "Sayang, gak bisa gitu dong. Aku kan juga mau lihat calon anak aku untuk pertama kalinya di layar USG." Niko melingkarkan tangannya di perut Luna. "Pokoknya sama aku."


Luna kembali menutup hidungnya. "Mas, jangan dekat-dekat."


"Pokoknya sama aku!"


"Mas!" Luna kembali merasa mual.

__ADS_1


Melihat ekspresi Luna yang akan muntah seketika Niko melepas tangannya dan menjauh.


"Niko, udah biar Mama sama Papa saja yang antar. Kamu di rumah aja."


Niko berdengus kesal lalu duduk di atas sofa. Dia tidak pernah mengira justru orang ketiga itu adalah calon anaknya sendiri yang memisahkan dirinya dan Luna. "Ya udah, hati-hati. Nanti video call, aku mau lihat. Jangan lupa print out yang banyak."


Bu Mayang tak hentinya tertawa sedari tadi melihat ekspresi putranya yang terlihat sangat kesal.


"Ya udah kamu siap-siap ya, mama juga mau siap-siap." kemudian Bu Mayang berdiri dan keluar dari kamar Niko.


Niko masih saja duduk dengan kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mas, maaf ya. Bukannya aku gak mau diantar Mas Niko, tapi gak tahu kenapa rasanya kesal dekat-dekat Mas Niko, dan aku gak mau mual lagi nanti di jalan. Mas kan gak bisa jaga sikap. Suruh jauh-jauh masih saja dekat-dekat." jelas Luna yang merasa kasihan juga sama Niko.


"Aku memang gak bisa jauh-jauh dari kamu. Ya udah, kamu sekarang siap-siap ya. Nanti tanya sama dokter bagaimana cara agar tidak mual dekat suami."


Luna tertawa kecil. Jelaslah itu tidak ada obatnya. Luna kini berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


...***...


"Mulai sekarang kamu hati-hati ya. Jangan jadi jagoan lagi." kata Niko.


Luna yang sudah merebahkan dirinya cukup jauh dari Niko hanya menganggukkan kepalanya.


"Jaga kesehatan kamu. Makan yang banyak. Kalau mau apa-apa bilang sama aku. Nanti aku belikan." kata Niko kali ini sambil menoleh Luna yang sedang memeluk gulingnya.


"Iya Mas," jawab Luna singkat tapi dia sangat bahagia mendapat perhatian lebih dari Niko.


Niko menyimpan kembali hasil USG itu pada buku pemeriksaan. "Boleh cium perut gak? Sambutan hangat dari Ayah."


Belum juga Luna mengiyakan, Niko menarik guling itu lalu membuka perut Luna. Kemudian dia ciumi perut datar itu. "Sehat-sehat ya sayang. Ayah akan selalu jaga Bunda tapi jangan larang Ayah dekat sama Bunda dong. Ayah gak bisa kalau gak peluk dan cium Bunda setiap hari."

__ADS_1


Luna masih saja menutup hidung dan mulutnya dengan tangan saat Niko mendekat, meskipun dalam hati dia tertawa mendengar celoteh Niko di dekat perutnya.


Niko kini mendongak menatap Luna. Ingin dia mencumbu bibir itu sebagai ungkapan rasa bahagianya, tapi Luna masih saja menutup mulutnya.


"Sayang, sampai kapan kayak gini. Aku gak bisa gak cium kamu, apalagi tidur berjauhan gini tanpa pelukan." Niko kembali ke tempatnya menyisakan ruang di tengah ranjang yang cukup luas. Dia tahan keinginannya mencumbu Luna demi kondisi Luna.


Luna menggelengkan kepalanya sambil membuka hidung dan mulutnya. "Aku juga gak tahu Mas. Aku juga gak mau kayak gini."


Seketika Niko memeluk gulingnya dengan erat. "Berasa jomblo."


"Sabar, Mas. Nanti trimester dua juga bakal hilang sendiri."


"Iya sayang, semoga saja beneran kembali normal. Demi kamu, apapun akan aku lakukan asal gak khilaf."


Mereka saling melempar senyum sambil berhadapan.


"Ya udah, kamu tidur gih, ini udah malam. Kalau besok gak enak badan kamu gak usah kerja. Dan bilang sama Kevin kalau kamu mau resign biar Kevin segera cari pengganti kamu."


"Emang harus resign secepat itu?" Luna yang sudah bekerja selama enam tahun lebih tentu terasa berat berhenti dari kantor Kevin. Dari kantor Kevin dia mempunyai segalanya. Tempatnya mencari uang dan kehidupan yang baik tapi sekarang akan berhenti, merasa seperti tidak rela.


"Iya, biar kamu konsentrasi sama kesehatan kamu. Kali ini nurut ya sama aku."


Luna mengangguk sambil tersenyum kecil. Iya, dia memang harus menuruti ala kata suaminya. Beberapa saat kemudiam dia mulai memejamkan matanya. Menuju alam mimpi tanpa pelukan dan ritual apapun dengan Niko.


"Met tidur sayang..." Niko hanya menciumnya dari kejauhan. Berharap esok jauh lebih baik dari hari ini.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen ya...


__ADS_2