
"Akhirnya sampai juga di rumah." Setelah semalam dirawat di rumah sakit, Luna sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah membaik meski perut bekas pukulan itu masih terasa ngilu.
"Kalian langsung istirahat saja ya," kata Bu Mayang sambil merengkuh pinggang menantunya menuju kamar.
"Iya Ma."
"Niko, kalau ada apa-apa kamu panggil Mama. Biar Luna istirahat dulu. Jangan ganggu," pesan Bu Mayang pada putranya yang masih terlihat pucat itu.
"Iya, Ma. Aku juga tahu. Protektif banget sama Luna daripada sama anaknya sendiri." Perlahan Niko merebahkan dirinya di atas ranjang. Bukan hanya lengannya yang terasa sakit tapi juga tulang-tulangnya terasa patah semua.
Bu Mayang hanya mencibir lalu meletakkan obat-obat mereka di atas nakas. "Mama itu sayang sama kalian berdua. Niko, jangan lupa obatnya diminum, biar gak sakit semua badannya."
"Iya, Ma," jawab Niko karena semalam dia memang tidak bisa tidur, sekujur tubuhnya terasa sakit.
Setelah itu Bu Mayang keluar dari kamar mereka dan tak lupa menutup pintu kamar itu.
"Sayang, tidur sini." Niko menepuk ranjang sebelahnya yang kosong.
"Sebentar Mas aku mau ganti baju dulu." Luna mengambil daster selututnya lalu dia segera berganti pakaian. Setelah itu dia menyusul Niko dan merebahkan dirinya. "Masih sakit semua?" tanya Luna sambil menjurai rambut Niko yang sedikit berantakan.
"Iya."
"Mas sih, gak mau diinfus, gak mau rawat inap juga."
"Aku mau jagain kamu. Kamu jangan terlalu memikirkan aku. Besok pasti sudah sembuh. Yang penting kamu fokus kesembuhan kamu dulu."
Luna memeluk Niko dari samping karena Niko masih belum bisa memiringkan badannya dengan leluasa.
"Makasih Mas, sudah melindungi aku sampai seperti ini."
"Iya sayang. Apapun akan aku lakukan buat kamu. Meski nyawa taruhannya."
Luna semakin mengeratkan pelukannya. "Tapi aku gak mau, Mas Niko sampai terluka kayak gini lagi."
"Iya sayang. Ini hanya luka kecil. Gak sebanding dengan apa yang terjadi sama kamu."
"Luka kecil? Sok hebat." Luna mencibir, tapi sedetik kemudian dia menciumi pipi Niko.
"Kok di pipi? Sini di bibir." Niko memajukan bibirnya, berharap Luna segera mencium tepat di bibirnya.
"Ih, maunya." Awalnya Luna menolak tapi sesaat kemudian dia mendekatkan dirinya. Melabuhkan ciumannya pada bibir yang telah membuatnya candu itu. Saling memagut dengan lembut dan penuh kasih sayang.
...***...
"Ma, ayo, katanya mau jenguk Ayah dan Bunda," ajak Reka siang hari itu.
"Iya sayang, Reka ganti baju dulu ya biar Mama nyiapin perlengkapan adik dulu."
"Iya, Ma." Reka berlari menuju kamarnya.
Alea tersenyum karena sekarang putra pertamanya itu sudah semakin besar dan sudah bisa lebih mandiri. Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara tawa kecil Raffa yang menggemaskan. Bayi tiga bulan itu sudah bisa tertawa lepas ketika digoda. Ya, siapa lagi yang menggodanya kalau bukan Papanya yang semakin menjadi menggoda Raffa.
"Ih, ketawanya gemesin banget." Alea mencubit lembut pipi Raffa.
"Papanya gemesin gak?" goda Kevin pada Alea.
__ADS_1
"Nggak. Papanya udah tua." Alea beralih mengambil tas bayi lalu mengisinya dengan beberapa perlengkapan Raffa. "Kev, Reka ngajak ke tempat Niko sekarang."
"Ya udah, gak papa." Kevin meraih tubuh Raffa dan menggendongnya. "Yuk, yuk, nengokin Ayah sama Bunda." Kevin menyandarkan kepala Raffa dipundaknya.
"Kamu gak ganti baju dulu?" tanya Alea yang melihat Kevin hanya memakai kaos lengan pendek dan celana biasa.
"Gini aja. Kamu ambilkan jaket aku sama punya Raffa aja."
"Iya."
Kemudian Kevin mengajak Raffa keluar, sedangkan Alea bersiap diri.
Setelah siap, mereka semua segera berangkat ke rumah Niko dengan disopiri oleh Anton. Sepanjang perjalanan Reka terus menggoda Raffa.
"Ma, adik Raffa udah pintar ketawa ya."
"Iya, udah makin besar."
"Kapan bisa jalan Ma?"
"Umur satu tahun nanti biasanya baru belajar jalan."
"Ulang tahun Reka nanti bareng sama adik Raffa kan Ma?"
"Iya sayang."
Reka kembali mengajak Raffa berbicara. Sedangkan bayi yang baru berumur tiga bulan itu seolah mengerti dengan cerita kakaknya.
Mengingat hari ulang tahun Reka, dia teringat kembali kejadian yang memilukan tapi juga bahagia. Tepat saat Kevin drop dan Raffa tiba-tiba terlahir secara prematur. Tapi hal itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan karena Raffa adalah pengobat untuk Kevin.
Kevin yang duduk di jok depan sebelah Anton, menoleh Alea yang sedari tadi tersenyum sendiri dengan tatapan kosong. "Mikirin apa?"
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah berhenti di depan rumah Niko.
Kevin turun terlebih dahulu lalu dia membantu Reka turun dari mobil.
"Sayang, Raffa biar aku gendong." Begitulah Kevin, ketika dia tidak ke kantor, dia selalu ingin menggendong Raffa.
Kemudian mereka berempat masuk ke dalam rumah Niko.
"Nenek, Ayah mana?" tanya Reka saat Bu Mayang menghampiri mereka.
"Ayah lagi di kamar."
"Kalau tidur biarkan saja, Bu." Kata Alea sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Baru saja mereka bangun. Sebentar saya panggilkan ya."
"Biar kita saja yang ke kamar," kata Kevin karena dia tahu pasti badan Niko terasa sakit semua setelah berkelahi kemarin.
Tapi belum juga berdiri, Niko sudah muncul dari dalam dan memanggil Reka. "Reka..."
"Ayah..." Reka menghampiri Ayahnya lalu mereka berdua duduk berdempetan. "Ayah udah gak sakit?"
"Udah sehat."
__ADS_1
"Ini lengannya masih diperban?"
"Iya, luka sedikit."
"Beneran udah sehat?" tanya Kevin. "Masih pucat banget. Kemarin mau diinfus kamu gak mau."
"Ya begitu kalau Niko sakit. Suka keras kepala." timpal Bu Mayang sambil menghidangkan cemilan dan minuman.
"Bagi aku sekarang cairan infusnya cuma ada di Luna."
Seketika Alea dan Kevin tertawa. "Dasar bucin!"
Beberapa saat kemudian Luna juga ikut bergabung dengan mereka.
"Luna, udah gak sakit?" tanya Alea.
Luna menggelengkan kepalanya. "Sudah lumayan."
"Sebenarnya kamu hamil berapa minggu? Kemarin belum ketahuan kalau hamil?" tanya Alea, karena kemarin dia belum sempat menanyakan kabar Luna secara langsung.
"Baru enam mingguan. Iya, saya belum ngerasain tanda apa-apa."
"Ya, semoga nanti cepat dapat gantinya," do'a Alea untuk Luna.
"Iya, Amin..."
"Niko, bentar lagi langsung gas terus sampai jadi." Kelakar Kevin.
"Oke, beres."
Beberapa saat kemudian Raffa yang ada di pangkuan Kevin menangis.
"Raffa haus ya?" Alea mengambil botol ASIP yang dibawanya. "Sini sama Mama."
"Biar aku aja." Kevin justru meraih botol itu. Seketika Raffa terdiam setelah menghisap dot miliknya.
"Kapan nih punya adik lagi."
"On progress," jawab Kevin karena dia memang sudah membuatnya setiap hari tinggal menunggu hasilnya.
"Wah, Reka mau adik berapa dari Mama?" tanya Niko pada Reka.
"Mau adik yang banyak biar ramai."
Seketika Kevin tertawa penuh arti. "Tenang Reka, nanti Papa buat adik yang banyak." Meski kelimat itu pelan tapi bisa ditangkap oleh telinga Alea.
"Ih, Kevin."
.
.
💞💞💞
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen..
.