Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.70


__ADS_3

Johan sebenarnya masih malas untuk masuk ke kantor, namun lebih malas lagi jika harus berada di rumah itu dengan segala masalah yang sedang menimpanya. Johan bahkan tak ikut sarapan pagi ini. Ia langsung beranjak pergi meninggalkan kediaman Alexander.


Selama perjalanan, Johan terus saja memikirkan di manakah Kini Jihan berada. Belum lagi masalah ke hamilan Vita yang membuat pikiran Johan semakin kacau. Menikah, ia tidak memikirkan pernikahannya dengan Vita yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah bagaimana kondisi Jihan saat ini.


Sesampainya di kantor Johan langsung turun dari mobil, ia tidak langsung pergi ke ruangannya, ia masih punya harapan, yaitu menememui Malik, siapa tahu saja Malik mengetahui keberadaan Jihan.


Johan membuka pintu ruangan departemen keuangan secara tiba-tiba, membuat pak Kus, jenny, cika, dan Malik terkejut sambil melihat ke arah Johan yang kini sedang berdiri di depan pintu. Johan melihat kearah Malik yang sedang duduk di kursi meja kerjanya.


"Malik, bisa bicara sebentar," ucap Johan pada Malik.


~~


Di atap gedung utama king grup.


Johan dan Malik sedang berdiri berdampingan sambil menatap nanar ke arah depan, melihat langit yang nampak mendung pagi ini. Malik menoleh kearah Johan yang hanya diam sejak tadi.


"Ada apa kak Johan memanggil ku kemari?" tanya Malik pada akhirnya.


Johan menoleh ke arah Malik yang kini sedang menatapnya, "Apa kamu mengetahui sesuatu tentang keberadaan Jihan saat ini?" tanya Johan.


Malik mengeryitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Johan, " Apa maksud kak Johan, bukannya dia tinggal bersama temannya saat ini."


Johan menghebuskan nafasnya dengan berat, ia kembali menekuk wajahnya. Ternyata Malik pun tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Jihan, lalu kemana lagi ia harus mencari.


"Kak, jawab aku," ucap Malik lagi saat Johan hanya diam tanpa tanpa menjawab pertanyaannya.


Johan kembali menatap Malik yang sudah nampak semakin penasaran, ia tahu Malik tidak akan membiarkannya pergi sebelum ia menceritakan semuanya.


"Jihan ... Jihan pergi, dan semua ini karena kesalahan ku, aku sudah menanyakan pada Kinan dan aku sudah mencari kemana-mana namun aku tidak menemukannya di manapun," tutur Johan.


"Kesalahan? Kesalahan seperti apa yang kakak maksud?" tanya Malik penasaran.


"Aku tidak bisa memberitahu mu, jika kamu mempunyai informasi tentang keberadaan Jihan, beritahukan pada ku," ucap Johan lalu beranjak pergi meninggalkan Malik yang masih diam mematung di tempatnya.


~~


Menjelang petang, Jihan masih tertidur di atas tempat tidurnya, sejak kemarin masih nampak murung. Sejak kepergiannya, ia tidak pernah mengaktifkan ponselnya sama sekali.


Perlahan Jihan mengerjapkan matanya saat ia mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Perlahan ia bangkit dari tidurnya dan berjalan membuka pintu. Ternyata bi siti yang mengetuk pintu.


"Mau ikut ke ladang, suasana di sana sangat indah saat petang," ujar bi Siti.


"Boleh bi, aku juga bosan di rumah terus," kata Jihan sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal sehabis bangun.

__ADS_1


"Oke, bibi tunggu di luar ya," ucap bi Siti.


"Iya Bi," ucap Jihan.


Jihan berbalik kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan juga syal rajut merah miliknya. Suasan di desa sedang dingin karena baru saja selesai turun hujan.


Jihan Melangkahkan kakinya menuju teras. Sudah ada Laila yang siap memberinya tumpangan menuju ladang. Sementara bi Siti di antar Mela yang memang bisa mengendarai sepeda motor.


"La, kamu yakin bisa bonceng kakak?" tanya Jihan pada Laila. Waktu begitu cepat berlalu Laila anak tetangganya yang dulu masih kecil saat kedua orang tua Jihan meninggal, kini sudah beranjak remaja.


"Iya kak, percaya deh, aku sudah biasa," ujar Laila.


Jihan hanya tersenyum,lalu naik keatas motor matic milik Laila. Sepanjang perjalanan, Jihan bisa merasakan hal yang tidak ia dapatkan di ibu kota, suasananya, udaranya, dan ketenangan yang hanya bisa ia dapatkan di sini.


Sesampainya di ladang, Nino di ikuti bi Siti, Mela dan Laila berjalan ketengah sawah. Sementara Jihan melangkahkan kakinya menuju sebuah pondok bambu yang ada di tengah sawah itu.


Pondok beratapkan daun Nira dengan dinding terbuka. Jihan duduk di pondok itu sambil menikmati pemandangan sawah. Semilir angin menerpa kulitnya, syal yang ia pakai seakan tak mampu menangkal rasa dingin yang kini terasa. Jihan menatap nanar ke langit yang sudah nampak terang setelah hujan reda.


Matahari mulai tenggelam tepat di hadapan Jihan. Jihan memejamkan matanya merasakan cahaya matahari yang sebentar lagi akan meninggalkan bumi. Saat memejamkan matanya, bayangan wajah Johan kembali datang, dengan cepat Jihan membuka matanya kembali.


" Kak Jo, apa kamu juga merasakan hal yang sama setiap kali kamu memejamkan mata, jika tidak maka aku satu-satunya orang yang tersiksa," ucap Jihan dalam hati.





Sesampainya di gedung Apartement, Johan langsung Melangkahkan kakinya menuju unit apartment milik Vita. Johan menekan bel berkali-kali tanpa henti. Vita muncul dari balik pintu, ia menatap Johan sambil tersenyum pahit.



Johan tanpa aba-aba, masuk kedalam apartement itu sementara Vita masih berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Kenapa kamu masih berdiri di sana," ucap Johan yang saat ini sudah berada di ruang tamu apartement itu.



Vita beranjak dari tempatnya, ia berjalan menghampiri Johan yang saat ini sedang berdiri dengan wajah yang begitu gelisah.



"Aku bahkan tidak meminta kamu datang, tapi kamu datang sendiri, hebat," ucap Vita sambil berpangku tangan.


__ADS_1


"Tidak perlu basa-basi, aku kemari karena aku ingin meminta penjelasan kamu, tentang anak yang ada di rahimmu itu ... siapa, siapa ayah dari anak itu?" tanya Johan dengan kesal.



"Tentu saja, anak mu," ucap Vita.



"Vita! Aku bahkan tidak pernah melakukan hal itu dengan mu, lalu bagaimana bisa dia adalah anak ku," ujar Johan.



"Aku tidak tahu! aku tidak tahu dengan siapa aku melakukannya malam itu, yang jelas kamu, kamu yang harus menjadi ayah dari anak ini!" pekik Vita yang sudah kehilangan kesabarannya.



"Apa kamu sudah tidak waras, untuk apa aku bertanggung jawab atas bayi yang bukan darah daging ku. Kamu tahu, ayah dan ibuku begitu marah saat mengetahui hal ini, apalagi kedua orang tua kamu yang semakin menyudutkan ku, kamu harus menjelaskan kepada mereka," tutur Johan.



"Lebih baik aku mati dari pada mengatakannya kepada mereka ... sekarang kamu pergi, pergi dari sini!" teriak Vita.



"Vita aku mohon jangan seperti ini," ucap Johan berusaha membujuk Vita. Namun sepertinya Vita malah semakin kesal. ia mendorong tubuh Johan sampai keluar dari pintu.



"Pergi! Jangan muncul di hadapan ku, sampai hari pernikahan kita," ucap Vita lalu kembali menutup pintu itu dengan keras.



Johan menendang pintu itu dengan keras. ia merasa kesal, marah, kecewa dan semua hal yang mewakili perasaannya saat ini. Semua masalah yang bertubi-tubi kini sedang menimpanya. Jihan adalah satu-satunya kekuatan yang ia punya, tapi Jihan pun kini pergi entah kemana.



Johan merasa sendiri, sendiri dalam memperjuangkan hidupnya, tak ada yang mengerti apa lagi mendukungnya, semuanya menyudutkannya bahkan kedua orang tuanya. Johan duduk bersandar di dinding apartement itu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.



"Aku mencoba tak mengingat mu dan mengharapkan kamu kembali, tapi semakin aku mencoba, hati ku semakin hancur berkeping-keping. semua yang pernah kita lewati tidak mungkin aku dustai begitu saja, aku mohon kembalilah, aku lemah tanpa mu," ucap Johan dalam hati.



Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2