Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Jus Mangga


__ADS_3

Di hari yang hampir siang itu, Kevin tiba di kantornya. Saat dia akan masuk ke dalam ruangannya, dia melihat Luna yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Luna kamu sudah sehat?" tanya Kevin memastikan keadaan Luna. Meski sebenarnya pekerjaan Luna juga sudah menumpuk, tapi sebagai atasan dia juga harus tahu kesehatan karyawannya.


"Sudah, Pak." jawab Luna sambil tersenyum.


"Ya sudah, kamu lihat email yang masuk lalu kamu print out dan berikan padaku." suruh Kevin.


"Iya, Pak." Luna menganggukkan kepalanya lalu mulai mengerjakan apa yang di suruh Kevin.


Kemudian Kevin masuk ke dalam ruangannya. Saat itu rasanya dia benar-benar malas untuk bekerja. Rasa kantuk dan lemas hinggap didirinya. Bawaannya istri hamil memang ingin bermalas-malasan.


Beberapa saat kemudian Aldi masuk ke dalam ruangan Kevin. "Pak, ada rapat setelah jam istirahat."


Kevin menghela napas panjang, "Iya, kamu siapkan berkas-berkasnya dulu."


"Pak Kevin kenapa pucat?" tanya Aldi.


"Iya, kamu benar aku kena sindrom simpati. Sesuai janji aku, kamu aku kasih bonus." Kevin menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Selamat ya Pak dan terima kasih bonusnya," kata Aldi.


"Tapi untuk ke depannya kamu tolong handle beberapa pekerjaan aku. Aku masih belum bisa fokus sepenuhnya."


"Baik Pak." Aldi mengangguk hormat lalu dia keluar dari ruangan Kevin.


Setelah keluar dari ruangan Kevin, pandangannya kini tertuju pada Luna yang sedang melamun di depan layar komputer.


"Kamu kenapa? Masih belum fit?" tanya Aldi.


Seketika Luna menoleh Aldi sedikit terkejut. Lalu dia menggelengkan kepalanya. "Udah fit."


"Tapi rupa-rupanya udah gak semangat kerja nih." Kemudian Aldi duduk di sebelah Luna.


Luna tertawa sesaat lalu menghela napas panjang. "Iya, tahu aja. Mau resign tapi aku gak enak sama Pak Kevin."


"Nanti aja kalau mau resign."


"Kenapa?"


"Pak Kevin lagi masa ngidam sekarang. Jangan nambah daftar pekerjaanku." Aldi meregangkan ototnya. Meskipun bayaran yang didapat setimpal dengan kerjanya tapi terkadang dia juga merasa capek.


"Loh, yang ngerasain ngidam Pak Kevin? Romantis sekali."


Aldi hanya mencibir, "Emang suami kamu gak romantis?"

__ADS_1


Aldi mendapat satu lirikan tajam dari Luna. "Dibanding kamu sih, jauh beda." Luna yang sebenarnya teman Aldi dari kuliah jelas tahu bagaimana sifat Aldi sebenarnya. Meskipun dalam hal pekerjaan sangat cekatan tapi dia sedikit kaku pada perempuan.


"Romantis dong kalau ke istri. Kan udah jadi anak satu." Aldi mengangkat satu alisnya.


"Udah ah, jangan ngomongin anak dulu, jangan ngomongin orang hamil. Aku lagi sensitif. Gini banget ya baru kehilangan calon anak."


Aldi mengusap kecil bahu Luna, "Yang sabar ya. Nanti juga dapat gantinya."


"Ehem!" Satu deheman membuat Aldi dan Luna mendongak. Mereka melihat Niko yang tengah berdiri sambil melipat tangannya.


Seketika Aldi berdiri. Sepertinya dia mengerti ekspresi apa yang ditunjukkan Niko saat itu. "Maaf Pak. Saya hanya berbicara biasa saja sama Luna. Saya permisi." Kemudian Aldi berlenggang keluar.


"Mas Niko, kenapa ke sini?" tanya Luna. Karena sebelumnya Niko memang tidak bilang kalau mau ke tempat Kevin.


Niko berjalan mendekat lalu duduk di samping Luna.


"Mau makan siang? Tapi jam istirahatnya masih 30 menit lagi."


Niko tak menjawab, dia masih saja melipat kedua tangannya.


"Mas?"


Satu tangan Niko akhirnya merengkuh pundak Luna. "Jangan terlalu dekat sama cowok lain ya."


"Tetep aja cowok sama cewek."


Luna mencubit gemas pipi yang sedikit mengembung itu. "Jangan terlalu posesif gini."


"Biar sembuh, ini dulu." Niko menunjuk bibirnya.


"Ini di kantor orang Mas. Nanti Pak Kevin lihat," tolak Luna


"Biarin Kevin lihat. Dia juga udah sering."


"Ya, tapi kan tahu tempat Mas."


"Ya udah aku ngambek lagi."


Luna semakin tertawa. Lucu juga tingkah suaminya ini. Dia akhirnya mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak ada orang lalu dengan cepat menyambar bibir Niko sesaat tapi bukan Niko jika dia tidak nakal. Dia tahan tengkuk leher Luna lalu memagut bibir itu begitu dalam.


Kevin membuka pintunya tepat saat mereka sedang memagut cinta. Seketika perutnya terasa mual. "Sial! Ngapain kalian ciuman di sini!" Kevin membalikkan badannya dan berlari menuju toilet.


Niko segera melepas ciumannya. "Kevin kenapa?" Niko berdiri dan menghampiri Kevin yang sedang muntah di dalam toilet. "Kamu kenapa?"


Setelah selesai, Kevin berkumur dan mengusap bibirnya. Satu jitakan kini mendarat di kepala Niko. "Ngapain kamu ciuman di kamtor orang. Di rumah masih kurang?!"

__ADS_1


Niko tertawa tanpa dosa. "Nyari sensasi baru."


Kemudian Kevin berjalan limbung dan duduk di sofa.


"Kamu sakit?" tanya Niko.


"Aku mual lihat orang ciuman. Rasain ciuman aja langsung mual," kata Kevin. Betapa menderitanya dirinya saat tidak bisa mencium Alea dua hari ini.


Niko justru menertawakan nasib malang Kevin. "Kualat kan. Makanya jangan main gas terus. Anak masih bayi udah dibuatkan adik lagi."


Kevin semakin menyingsut dan merebahkan dirinya di sofa. "Nik, beliin aku jus mangga di depan."


"Hah? Aku?" Niko menggelengkan kepalanya. "Aku mau makan siang sama Luna."


"Belum waktunya istirahat." Kevin terus memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Kamu harus tanggung jawab udah buat aku mual."


"Aku kan ciumannya sama Luna, gak sama kamu. Dasar pakmil aneh. Ya udah aku suruh assistant kamu saja."


"No! Aku maunya kamu yang beli."


Niko berdengus kesal lalu melempar bulpoin pada Kevin. "Nyusahin banget sih! Kamu yang kena karma, aku ikut kena getahnya.


"Cepetan!" Perut Kevin masih saja mual. Mual itu tidak berhenti jika belum memakan mangga atau minum jus mangga.


"Iya!" Niko keluar dari ruangan Kevin. Kasihan juga dia melihat Kevin seperti itu.


"Kenapa Mas, Pak Kevin kok marah-marah." tanya Luna yang mendengar suara keras Kevin dari luar.


"Si pakmil minta jus mangga."


"Ya udah biar aku belikan Mas."


"Jangan! Kamu selesaikan pekerjaan kamu saja. Biar aku yang beli. Setelah itu kita makan siang." Niko segera berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar.


Dengan berat hati dia membelikan jus mangga untuk Kevin. Untunglah di depan perkantoran Kevin ada food court dan sangat kebetulan juga tidak sedang ramai. Baru kali ini seorang CEO disuruh beli jus mangga, untung yang menyuruhnya juga sama-sama CEO.


💞💞💞


.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2