Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.66


__ADS_3

Jihan menggelengkan kepalanya saat Johan mengatakan hal itu. Ia tidak menginginkan hal seperti itu terjadi kepada mereka tanpa adanya ikatan apapun.


"Jangan aku mohon," ucap Jihan dengan suara bergetar.


Johan seolah buta dan tuli karena hasrat yang sudah tidak tertahankan lagi, setiap gerakan yang Jihan buat malah semakin membuatnya terpancing untuk melakukan yang lebih dari ini.


Bibirnya kembali menyatu dengan bibir Jihan, kali ini Johan semakin memperdalam permainannya, hingga Jihan yang tadinya memberontak kini seakan menyerah. Jihan terbuai, terlena, dengan setiap sentuhan yang di berikan Johan.


Johan kembali mengehentikan aktivitas di bibir Jihan, dahi mereka saling bertumpu dengan nafas yang semakin memburu. Johan mengusap air mata yang membasahi sudut mata Jihan.


"Tolong aku, hanya kamu yang bisa menolong ku," kata Johan dengan suara yang sudah mulai serak.


Jihan tak berkata apapun, ia hanya memejamkan matanya dengan sekujur tubuh yang bergetar hebat, karena hal ini adalah pengalaman pertamanya.


Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Jihan, Johan menganggap itu sebagai jawaban jika Jihan menyetujui permintaannya. Johan melepaskan jas dan dasinya, kemudian kembali mencium Jihan, Johan mengakat tubuh Jihan tanpa melepaskan tautan mereka.


Johan duduk di sofa dengan posisi Jihan berada di atasnya, ia bahkan tak lagi memberikan kesempatan kepada Jihan untuk beristirahat sejenak, dengan bibir yang menempel erat Johan melepaskan satu persatu kancing piyama yang di pakai Jihan lalu melemparkannya keseimbangan arah.


Kini tinggal tersisa pakaian dalam berwarna hitam yang membungkus rapi gundukan kenyal yang semakin menambah hasrat Johan untuk segera menikmatinya. tanpa basa-basi, Johan membuka pengait pakain dalam Jihan yang berada di punggung Jihan.


Setelah berhasil lepas Johan kembali melancarkan aksinya dengan menenggelamkan wajahnya di sana.


Erangan kecil terdengar dari mulut Jihan, ia semakin terbuai saat Johan dengan ganasnya menjelajahi dari leher hingga ke perutnya. tanpa berhenti sedikit pun.


Adik kecil Johan kian megembang dan mengeras. Johan kembali mengangkat tubuh Jihan beranjak menuju kamar.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamar, Johan membaringkan Jihan ke atas tempat tidur, belum sempat Jihan bicara Johan sudah menindih tubuhnya dan kembali menjelajahi setiap inci dari tubuh Jihan.


Johan kini sudah polos tanpa apapun lagi yang menempel pada tubuhnya, ia juga membuka apa yang tersisa dari tubuh Jihan.


Johan menatap Jihan sebentar, sementara Jihan hanya bisa diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Johan Mencium kening Jihan lalu ia mulai menyatukan miliknya dan Jihan, satu hentakan ,dua hentakan, tiga hentakan dan akhirnya Johan bisa menembus pertahanan Jihan. Air mata keluar dari sudut matanya, Ia menangisi kesucian yang kini telah tiada.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya. keadaan yang sedang hujan deras tidak menjadikan suasana di ruangan itu menjadi dingin. Malam kian larut malah semakin panas. Efek dari obat perangsang yang di berikan Vita benar-benar bekerja dengan sangat baik.


Pukul tiga dini hari, Johan sudah tertidur lelap sambil memeluk Jihan. Namun sepertinya Jihan tidak bisa tidur lagi, ia hanya memadangi Langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Apa yang telah mereka lakukan tadi adalah sebuah kesalahan yang selamanya akan meninggalkan bekas. Kesucian yang terenggut kini tak bisa di kembalikan lagi.


Jihan kembali merenungi nasibnya setelah ini. apa yang akan ia lakukan dengan keadaan yang seperti ini. Meminta pertanggung jawaban dari Johan, itu tidak lah semudah yang di bayangkan, Johan akan segera bertunangan dan ia hanya akan menjadi duri dalam daging di kehidupan Johan.


Jihan melirik kearah Johan yang kini sudah tertidur lelap. Air matanya kembali keluar tak kala mengingat kejadian tadi, ia pun tak menyangkal jika ia juga menikmati hal itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya saat ini, hal apa yang mendasari Johan melakukan hal seperti ini padanya.


Dengan langkah yang di paksakan Jihan kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi. ia menghidupkan shower lalu membiarkan air dingin mengaliri seluruh tubuhnya.


Jihan terduduk di lantai dengan kedua tangan meremas erat rambutnya. apakah Jihan menyesal karena sudah menyerahkan kesuciannya kepada Johan? Entahlah, jihan juga tidak tahu, namun yang pasti Jihan ingin pergi, pergi jauh dari semua hal yang menyesakkannya.


Mulut Jihan terkunci rapat, tak ada suara hanya diam dalam kebisuan. Namun hatinya menjerit meratapi semua kemalangan yang menimpanya. Yang Jihan sesali saat ini adalah, harusnya dari awal ia lari, ia pergi jauh dari Johan. Seharusnya ia tidak menuruti hatinya begitu mendambakan sosok pria yang tidak mungkin ia raih.


Lama Jihan berada di dalam kamar mandi, dengan langkah lunglai, Jihan mengeluarkan semua pakaiannya yang ada di lemari dan memasukkannya kedalam koper.


Jam lima dini hari, Jihan sudah selesai bersiap-siap, ia melangkah mendekati Johan yang masih terlelap. di usapnya wajah Johan yang terlihat sangat tampan saat tidur, Jihan kembali menyeka air matanya.

__ADS_1


Jihan tidak ingin pergi, tapi keadaan memaksanya untuk meninggalkan tempat itu, ia takut jika dirinya tetap di sini, Johan akan semakin berada dalam kesulitan, memilih antara dirinya dan keluarga Johan. Sebelum semuanya semakin runyam Jihan harus segera pergi.


Jihan berdiri dari posisinya dan lalu berjalan keluar sambil menyeret kopernya. Sebelumnya Jihan sudah menelepon supir travel langganannya, untung saja pak supir itu bersedia untuk datang menjemputnya sepagi ini.


Setelah sampai di depan apartement, Jihan bersyukur karena mobil travel itu, sudah datang, cepat-cepat Jihan menghapiri sang supir yang menunggu di dalam mobil.


"Pak!" seru Jihan membuat sang supir yang tadinya sedang tertidur kini melek seketika.


"Eh neng, udah datang," ucap pak supir lalu beranjak turun dari mobil.


"Sini neng barang-barangnya biar saya saja taruh di bagasi," ujar pak supir.


"Iya pak terimakasih," ucap Jihan.


Sang supir mengambil alih koper besar itu dan meletakkannya di bagasi mobil. Jihan segera masuk dan duduk bersandar di sandaran kursi mobil.


Mobil travel itu, meninggalkan area apartement. Jihan menatap nanar kearah jendela, kemudian ia teringat pasti Johan akan menanyakan keberadaannya kepada Kinan, Jadi sebelum hal itu terjadi, ia mengirimkan pesan kepada Kinan.


[ Aku akan pergi dan mungkin akan dalam waktu yang cukup lama, Jika kak Jo menanyakan sesuatu padamu, tolong jangan katakan apapun]


Jihan mengirimkan pesan kepada Kinan, lalu meletakkan ponsel itu kembali kedalam Tasnya.Jihan kembali menyeka air matanya yang masih saja ingin keluar. Jihan harap kepergiannya kali ini, ia bisa menenangkan diri dan melupakan semua hal yang membebani pikirannya.


Satu-satunya tempat untuk Jihan pergi adalah kampung halamannya yang berada di daerah Bandung jawa barat. kampung terpencil yang menjadi tempat kelahirannya.


Tempat dimana ia dilahirkan, dan tempat di mana ibu dan ayahnya di tertidur dalam keabadian. Jihan belum sepenuhnya tenang, ia masih memikirkan alasan apa yang akan ia sampaikan kepada Mela, saat ia mengatakan tak ingin kembali lagi ke Jakarta. semakin keras Jihan berpikir, Jihan tak menemukan alasan apapun kecuali berkata jujur kepada sang Tante.

__ADS_1


Namun apakah Jihan sudah siap mengatakan yang sejujurnya kepada Mela, entahlah, biarkan Jihan memikirkannya lagi, sebelum benar-benar siap untuk berkata jujur.


Bersambung 💕


__ADS_2