Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Sakit Hati


__ADS_3

"Aku sudah membuat janji dengan Rendra di suite room hotel Mandala." kata Kevin pada Della setelah menjemputnya.


"Maaf, barusan ibu saya mengira kalau Bapak yang..."


"Iya gak papa. Tapi setelah ini tolong jelaskan pada ibu kamu. Aku gak mau kesalahpahaman ini berlanjut." potong Kevin pada kalimat Della.


Della hanya mengangguk pelan.


Beberapa saat kemudian Kevin menghentikan mobilnya di tempat parkir hotel. Mereka berdua turun dan menuju tempat sesuai perjanjian mereka.


Della berjalan sambil memegangi kepalanya karena kepalanya kembali terasa pusing.


"Kamu kenapa? Pusing?" tanya Kevin sambil merengkuh pinggang Della karena dia hampir saja terjatuh.


"Iya. Setiap habis naik mobil pasti pusing." Mereka berjalan menuju suite room yang memang berada di lantai dasar dan dekat taman hotel.


Kevin berhenti sesaat di depan pintu itu sambil mengetuk pintu. Pintu itu langsung terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam kamar itu.


Tapi di dalam kamar itu, Kevin hanya melihat empat anak buah Rendra. "Mana bos kalian?"


Seseorang yang memakai kemeja hitam dengan bekas luka sayat di dekat dagu itu hanya tersenyum miring. "Ada keperluan penting apa kamu mencari bos? Soal wanita murahan ini?" mereka berempat tertawa merendahkan.


Kevin semakin mengepalkan tangannya. "Iya, salah satunya. Tapi ada satu hal yang lebih penting."


"Apa? Mau minta pertanggung jawaban? Kenapa bukan kamu saja yang menikahinya tidak perlu repot-repot mencari Rendra."


Seketika Kevin menyergap salah satu dari mereka. Ingin dia menghajarnya tapi dia urungkan niatnya, karena saat itu dia belum mempersiapkan anak buahnya.


"Bilang sama bos kalian, besok aku ingin bertemu bukan hanya membahas tentang Della tapi juga tentang hidup dia!"


"Oke, oke, tapi bos ingin dia yang menentukan tempatnya."


"Iya, silakan!" setelah itu, Kevin keluar dari kamar itu dengan Della. "Sia-sia kita ke tempat ini."


"Pak Kevin lebih baik tidak usah bertemu dengan Rendra. Dia sangat berbahaya."


"Ada satu alasan penting yang membuat aku ingin bertemu dengan Rendra, bukan hanya karena masalah kamu." kata Kevin dengan raut wajah yang sangat serius.


Della menggigit bibir bawahnya. Iya, jelaslah dia tidak mungkin spesial buat Kevin. Kevin membantunya pasti karena merasa kasihan dan tentu ada motif lain, entah apa itu. Yang jelas semua itu pasti bukan hanya untuk Della.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil Kevin berjalan meninggalkan hotel.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Kevin fokus dengan jalanan malam hari itu. Dia tiba-tiba memikirkan Alea. Apa istri tercintanya itu sekarang sudah tidur?

__ADS_1


Kevin tersenyum kecil membayangkan saat ini Alea pasti sudah tidur dengan Raffa sambil berpelukan. Tapi beberapa saat kemudian ban mobil Kevin terasa bocor.


"Sial! Sepertinya ban mobil aku bocor." Kevin segera menepikan mobilnya dan mengecek ban mobil belakangnya. Benar saja, satu ban mobilnya sekarang kempes. Untunglah, tak jauh dari tempat itu ada bengkel yang masih buka.


Kevin masuk kembali ke dalam mobil dan menjalankan mobil itu perlahan menuju bengkel.


Kevin menghela napas panjang, sepertinya dia akan sampai rumah hingga larut malam. Ya, semoga saja Alea tertidur dengan nyenyak bersama Raffa.


Tapi bayangan Kevin tak seperti kenyataannya. Alea yang baru saja sampai di rumah segera masuk ke dalam kamarnya. Dia melepas jaket lalu merebahkan dirinya di sebelah Raffa yang masih tertidur dengan lelap setelah Bi Sum keluar.


Air mata itu masih saja ingin keluar.


"Kevin apa kamu tega melakukan ini semua sama aku..." Alea mengusap air matanya dengan punggung tangannya meski berulang kali akan keluar lagi. Sampai larut malam Kevin belum juga pulang. Apa Kevin benar-benar bermain dengan gadis itu di dalam hotel?


Apa karena sekarang aku gemuk dan jelek, kamu akhirnya bosan dengan aku. Apa karena aku hamil dan gak bisa memuaskanmu hingga kamu mencari wanita lain diluar sana?


Alea semakin terisak membayangkan itu semua. Tapi saat dia mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, Alea harus segera memejamkan matanya dan berhenti menangis. Dia miringkan dirinya sambil memeluk Raffa.


Kevin tersenyum kecil melihat dua kesayangannya sudah terlelap. Dia melepas blazernya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian Kevin keluar dan sudah memakai piyamanya.


Dia rebahkan dirinya di belakang Alea. Lalu dia kecup puncak kepala Alea dan mengusapnya kecil.


Beberapa saat kemudian, Kevin sudah tertidur. Sedangkan Alea masih saja terjaga. Dia memutar tubuhnya sesaat menatap Kevin yang telah terlelap.


...***...


Pagi itu, Raffa sudah terbangun dan menangis tapi Alea masih memejamkan matanya.


Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi segera meraih Raffa dan menggendongnya.


"Raffa sayang, haus?"


"Mammaa..."


"Mama masih bobok. Papa buatkan susu ya.. Sssttt," Kevin mengajak Raffa keluar kamar. Dia terus menggodanya hingga bayi yabg hampir satu tahun itu berhenti menangis sambil menunggu Bi Sum membuatkan susu.


"Nih, susunya udah jadi."


Raffa langsung meraih dot itu dan meminumnya.


"Setelah susunya habis, mandi sama Papa ya."


Kevin kembali masuk ke dalam kamar, dia masih melihat Alea terlelap.

__ADS_1


Setelah susu Raffa habis, Kevin kini memandikannya.


Mendengar tawa keras Raffa dari kamar mandi, membuat Alea terbangun. Perlahan dia duduk dan langsung mengambil air mineral karena tenggorokannya terasa kering.


Kevin dan Raffa keluar dari kamar mandi dengan tawa Raffa yang masih mengembang.


"Sini biar aku saja." Alea mengambil perlengkapan Raffa lalu meraih tubuh Raffa dari gendongan Kevin.


Karena Raffa yang sangat aktif, membuat Alea kesulitan memakaikan baju di tubuhnya. "Raffa, diam dulu."


Kevin menahan tubuh Raffa agar tidak merangkak. "Raffa pakai baju dulu ya,"


Alea hanya terdiam sambil memakaikan baju Raffa.


Sedangkan Kevin yang kini menatap Alea bisa menangkap mata sembab Alea.


"Sayang kamu kenapa? Habis nangis?" Tangan Kevin terulur menyentuh pipi Alea tapi Alea mengelak.


"Aku gak papa."


"Gak enak badan?" Kevin justru mengecek suhu badan Alea di kening dan tengkuk lehernya.


"Aku gak papa." perut besar Alea membuatnya kesulitan berdiri dari posisi duduk.


"Sakit ya pinggangnya? Kamu kelihatan capek banget." Kevin membantu Alea berdiri meski sebenarnya Alea enggan menerima bantuan Kevin.


"Kamu semalam pulang jam berapa?" tanya Alea meski sebenarnya dia sudah tahu, tapi dia ingin mengetes Kevin apakah kali ini dia berbohong atau tidak.


"Hampir jam 11 soalnya ban mobil aku bocor."


"O, bocor." kata Alea sambil berlalu menuju kamar mandi. Alea mengira, itu hanyalah alasan klasik Kevin.


Kevin menatap punggung Alea yang satu tangannya memegangi pinggangnya itu.


Alea kenapa? Apa mood nya sedang tidak baik hari ini?


.


💞💞💞


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen..


__ADS_2