
Pelukan hangat itu seolah menarik jiwa Alea. Perlahan Alea mulai membuka matanya.
"Ibu..." suara pelan Alea yang membuat Kevin seketika berdiri dan beranjak dari tempatnya.
Pelukan itu terasa seperti pelukan ibunya.
"Ini Papa, sayang." Pak Marko melepas pelukannya dan tersenyum menatap Alea yang telah membuka matanya meski masih berderai air mata.
"Papa?" Alea menggelengkan kepalanya. "Papa sudah gak ada, apa aku sekarang sudah meninggal?"
Pak Marko menggelengkan kepalanya dan menangkup kedua pipi Alea. "Papa masih hidup."
Alea menatap Pak Marko bingung. Tapi pandangan matanya kini beralih pada Kevin. Seketika bayangan sebelum dia pingsan terputar kembali di kepalanya. Lalu dia meraba perutnya yang telah kempes.
"Rania, Rania gak papa kan?" Alea melepas selang oksigen yang menutup hidung dan mulutnya. Dia panik dan membuat tubuhnya tergerak tapi di bagian perutnya terasa sangat sakit.
"Sayang, Rania gak papa. Rania sehat."
Mendengar hal itu Alea kembali tenang meski masih meringis kesakitan.
Kevin memencet tombol darurat agar Dokter segera ke ruangan Alea.
Ingin Alea bertanya banyak hal tentang seseorang yang mengaku Papanya itu. Benarkah Papa kandungnya masih hidup dan sekarang ada di hadapannya? Tapi Dokter dan suster datang memeriksa keadaannya.
"Dok, saya ingin bertemu anak saya." kata Alea. Dia begitu ingin bertemu putri kecilnya untuk yang pertama kali.
"Iya, sebentar lagi biar diantar sama suster. Bagus, ibu sudah melewati masa kritis. Jangan terlalu stress agar kondisinya cepat pulih dan masih tidak boleh terlalu banyak bergerak karena luka sayatannya cukup panjang."
Alea mengangguk pelan.
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter dan suster itu keluar.
Alea kini menatap kedua pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Alea," Kevin berjalan mendekat. "Syukurlah kamu bisa melewati masa kritis." tangan Kevin terulur untuk mengusap pipi Alea tapi Alea justru membuang wajahnya.
"Kalian bicara berdua dulu, meski sebenarnya banyak yang ingin Papa ceritakan. Tapi kesalah pahaman kalian harus segera kalian selesaikan." Pak Marko memutar langkahnya dan keluar dari ruangan Alea.
Kevin kini duduk di dekat brangkar Alea. "Sayang, dengerin penjelasan aku."
Alea menggelengkan kepalanya. "Ibu Della sendiri bilang kalau Della hamil anak kamu."
"Itu hanya akal-akalan Della saja."
__ADS_1
"Kalau sudah tahu begitu, kenapa kamu masih mau menolong dia dan membohongi aku juga."
Kevin menghela napas panjang lalu meraih pipi Alea agar mau menatapnya. "Iya, aku memang bodoh percaya begitu saja dengan orang lain. Harusnya apapun masalahnya aku jujur sama kamu. Maafin aku ya..."
Alea menundukan pandangannya. Dia tidak berani menatap mata Kevin.
"Aku cinta sama kamu. Gak akan ada yang bisa menggantikan kamu dalam hidup aku. Kamu tahu, melihat kamu terluka parah seperti kemarin, rasanya aku juga ingin mati. Harusnya aku yang terluka, bukan kamu. Kenapa kamu gak biarkan aku saja yang tertusuk? Biar aku saja yang terluka. Karena melihat kamu kesakitan tak berdaya itu rasanya lebih menyakitkan daripada apapun." Kevin mengusap puncak kepala Alea karena sedari tadi Alea hanya menunduk tak mau menatap mata nanar Kevin.
"Rasanya sakit banget lihat kamu jalan sama wanita lain. Apalagi dengar kabar..." Alea menghentikan perkataannya. Dia kembali menangis. Mengingatnya saja hatinya terasa ngilu.
"Ssttt, semua gak seperti yang kamu lihat. Aku gak mungkin selingkuh dari kamu." Kevin mengusap air mata yang meleleh di pipi Alea. "Sekali lagi, aku minta maaf. Mulai sekarang aku tidak akan pernah bohong sama kamu."
"Tapi soal kakak dan Papa?"
"Iya, Papa kamu masih hidup. Papa kamu bernama Marko dan kakak kamu bernama Rendra."
Alea masih saja bingung dengan fakta itu.
"Dulu, ibu kamu sengaja menyembunyikan tentang Papa dan kakak kamu karena ibu kamu takut kamu berada dalam bahaya karena Papa kamu adalah seorang mafia."
Mendengar hal itu Alea pun terkejut.
"Tapi siapapun mereka, yang jelas mereka sangat menyayangi kamu. Selama ini mereka berusaha mencari kamu tapi karena identitas kamu diganti jadi mereka gagal menemukan kamu dan ibu kamu."
Alea terdiam dan nampak berpikir. Ya, apapun latar belakang Papanya, dia pasti bisa menerimanya.
Alea kini menatap Kevin lalu dia menangkup kedua pipi Kevin. "Tapi kamu jangan pernah bohong sama aku lagi. Aku cinta banget sama kamu."
Kevin mengangguk dan tersenyum. "Aku juga cinta banget sama kamu." Kevin mendekatkan dirinya dan mencium singkat bibir yang masih terlihat pucat itu.
"Eh, maaf." ucap suster yang sedang membuka pintu ruangan Alea saat melihat mereka saling mendekat.
Kevin menjauhkan dirinya lalu dia meraih box yang didorong suster itu dan membawanya mendekat ke Alea. Kemudian suster itu keluar.
"Rania, mirip sekali sama kamu."
"Benarkah?" tanya Alea dengan mata berbinarnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat Rania.
Perlahan Kevin mengambil Rania dari dalam box, bayi mungil seberat 2,8 kg itu nampak sehat meski tidak terlalu gemuk karena usia kandungan Alea memang belum genap 9 bulan.
"Cantik kan?" perlahan Kevin meletakkan Rania di sebelah Alea dengan berbantal lengan Alea.
Alea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan air mata haru yang masih saja mengalir. Dia usap lembut pipi Rania lalu menciumnya kecil.
__ADS_1
Rania masih saja terlelap padahal Alea sudah sangat ingin mendengar suara tangisnya.
"Makasih sayang, kamu sudah bertahan untuk Mama. Kemarin Mama takut sekali kehilangan kamu. Nanti kita ketemu sama Kakak di rumah ya."
Kevin tersenyum menatap wajah bahagia Alea. Rasa takut dan kesedihan itu telah berakhir.
"Akhirnya ada yang mirip sama Mama." Alea kini beralih menatap Kevin. "Reka dan Raffa bagaimana di rumah?"
"Mereka sama Luna dan Niko. Kita video call yuk, Reka sama Raffa pasti kangen sama kamu."
Kevin mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Niko. Beberapa saat kemudian panggilan video call itu terhubung.
"Mama... Papa..." teriak Reka, begitu juga dengan Raffa yang ikut tersenyum gembira menatap kedua orang tuanya.
"Mama, Reka kangen sama Mama. Itu adik Rania ya? Reka juga mau gendong adik Rania."
Alea semakin tersenyum mendengar celoteh Reka. Begitu juga dengan Raffa yang sibuk berbicara dengan bahasa bayinya.
"Reka boleh ke rumah sakit? Reka mau lihat Mama sama adik Rania."
"Besok saja ya Reka ke sini." kata Kevin. "Kesini sama Raffa. Besok pagi Papa jemput."
"Yee..." mereka berbicara panjang lebar sampai akhirnya Rania terbangun dan menangis.
Suara tangisan Rania terdengar sangat merdu di telinga Alea.
"ASI aku udah ada belum ya?"
Kevin mematikan pangilan video nya setelah berdada ria dengan mereka.
"Dicoba aja, tadi aku tanya suster gak papa. Sini aku bantu." Kevin membantu memegangi Rania dan mendekatkannya di dada Alea yang sudah setengah terbuka.
Kevin tersenyum melihat Rania yang telah berhasil menemukan sumber kehidupannya.
"Sebentar lagi kamu makan. Nunggu suster antar makanan. Tapi kalau kamu mau sesuatu bilang ya biar aku belikan."
Alea mengangguk. Dia terus menatap putri kecilnya yang sekarang sudah mulai bisa menghisap.
"Semoga tidak ada lagi tragedi seperti kemarin..."
.
💞💞💞
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen...