
Pagi ini Jihan sudah kembali ke kantor untuk bekerja seperti biasa. Saat masuk kedalam ruangan departemen keuangan, Jihan langsung di hampir oleh rekan-rekannya, padahal Jihan masih berada di ambang pintu.
Jenny menarik tangan Jihan agar duduk di kursi Jenny, wajah para rekannya nampak sangat khawatir, apalagi Malik.
"Jihan, kami baru tahu dari sekertaris Raksa, jika kamu tertimpa musibah kebakaran, kamu yang sabar ya" ucap Jenny sedih.
"Oh iya, aku baik-baik saja kok, musibah kan memang bisa datang kapan saja," ujar Jihan yang sudah nampak lebih tegar.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Malik tiba-tiba.
"I-itu, di tempat teman ku, hanya untuk sementara saja," ujar Jihan, berbohong, mana mungkin dia bilang jika dirinya tinggal di apartemen Johan, bisa heboh nanti.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu katakan saja pada kami, kami siap membantu," ujar Cika.
"Aku benar-benar sudah merasa lebih baik, terimakasih untuk perhatian kalian," ujar Jihan lalu tersenyum tipis.
~~
Siang ini maria di temani Vita datang berkunjung ke perusahaan, untuk menemui Johan. Johan tidak tahu Jika ibunya datang, Maria sengaja tidak memberitahu Johan untuk memberikan surprise.
Saat sampai di kantor, tak sengaja Maria melihat Jihan yang sedang berjalan bersama dengan temanya jenny. Langsung saja Maria Memanggil Jihan.
"Jihan!" seru Maria.
Vita menoleh kearah Maria, ia mengeryitkan dahinya saat mendengar calon mertuanya itu, memanggil nama Jihan, apa lagi, Maria nampak sangat senang sekali bisa bertemu dengan Jihan, membuat Vita sampai memasang wajah cemberutnya.
Jihan menoleh kearah sumber suara, di lihatnya Maria dan Vita sedang berdiri tak jauh darinya. Maria melambaikan tangan kepada Jihan, sementara Vita hanya berdiri sambil berpangku tangan di samping Maria.
Jihan menoleh kearah Jenny yang sedang berdiri di sampingnya, "pergilah lebih dulu, nanti aku akan menyusul."
"Oh baiklah, jangan lama-lama ya," ujar jenny.
"Oke," ucap Jihan pada Jenny.
Setelah Jenny pergi dari sana, Jihan Berjalan menghapiri Maria yang kini sedang berdiri di samping Vita. Jika bukan karena Maria Jihan tidak akan mau berhadapan langsung dengan Vita. Ia tidak membenci Vita, namun Vita lah yang selalu membencinya dan mencari masalah padanya.
Maria tersenyum senang saat, Jihan sudah berada di hadapannya. kalau ekpresi Vita jangan di tanya, kekesalannya mungkin sedang berada di puncaknya saat ini. Jika tidak ada Maria mungkin Vita sudah memaki dan menghina wanita di hadapannya sekarang.
Vita tak habis pikir dengan Jihan. setelah rumahnya terbakar, Jihan masih bisa tersenyum seperti itu, tentu saja hal itu membuat Vita kesal.
"Jihan kamu apa kabar,"ucap Maria kepada Jihan.
"Kabar saya baik-baik saja nyonya," ucap Jihan.
__ADS_1
"eits kenapa masih memanggil nyonya, lupa ya," tegur Maria.
"Oh maaf, saya lupa Tante," ucap Jihan.
"Iya tidak apa. Oh iya, apa kamu sudah berkenalan dengan Vita, dia calon tunangan Johan," ucap Maria sambil menggandeng tangan Vita.
"Iya nyonya saya sudah mengenal nona Vita," ucap Jihan sambil memandang ke arah Vita, sementara Vita nampak membuang muka.
Jihan terseyum getir melihat tingkah Vita yang begitu sombong dan angkuh, baik dulu ataupun sekarang, Vita masih sama, Vita yang selalu menganggap Jihan sebagai parasit di hidup Johan.
"Kalau begitu, tante ke ruangan Johan ya," ucap Maria pada Jihan.
"Iya tante sampai jumpa," ucap Jihan pada Mela.
Maria dan Vita melanjutkan langkah menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas di mana ruangan Johan berada. Jihan memandangi kepegian Vita dan Maria, terlihat sangat akrab sekali.
Andai Jihan berada di posisi Vita sekarang, apa ia akan sama bahagianya seperti Vita saat ini, pikir Jihan. Jihan membuang semua khayalannya itu. lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan HRD.
~
Johan terlihat tidak terlalu sibuk hari ini, ia hanya duduk bersandar di belakang meja kerjanya, dengan wajah yang begitu bahagia. Malam tadi ia bisa menghabiskan waktu bersama Jihan meskipun hanya makan malam dan menonton TV bersama.
Johan membuka laci dan mengambil sebuah kotak kecil yang berisi kalung inisial JJ. ia mengambil kalung itu dari dalam kotak perhiasan. ia menggenggam kalung itu dengan erat. Johan pikir sudah waktunya ia
klek
Pintu ruangan Johan terbuka, mendengar itu Johan memandang ke arah pintu, ia bisa melihat ibunya dan juga Vita kini sudah masuk dan hendak berjalan kearahnya. Buru-buru Johan meletakkan kembali kalung itu kedalam kantong celananya.
Namun karena sudah terlanjur panik, Johan tidak sadar jika kalung itu terjatuh ke lantai di dekat kursinya.
"Ibu kenapa tidak bilang kalau mau datang?"tanya Johan ibunya tanpa menghiraukan Vita yang juga berada di sana.
"Ibu bosan berada di rumah, Vita mengajak ibu kemari, ibu pikir itu bukan sesuatu yang buruk," tutur Maria pada Johan.
"Kamu tidak merindukan ku?" tanya Vita tiba-tiba.
"Untuk apa aku merindukan mu," gumam Johan malas.
" Bu, lihat Johan,dia jahat sekali," ucap Vita mengadu pada Maria.
"Jo jangan seperti itu," tegur Maria.
"Iya bu," Jawab Johan singkat.
__ADS_1
Johan mempersilahkan Ibunya untuk duduk
di sofa tentu saja Vita terus mengekor di belakang. Saat duduk di sofa, Vita mengambil posisi duduk di samping Johan, bahkan sangat dekat, hingga Johan merasa susah bernafas.
Maria tersenyum senang melihat Vita dan Johan yang kini sedang duduk di hadapannya. Maria tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Ia masih begitu ingat dengan jelas saat Johan dan Vitae masih kecil,tak Maria sangka mereka akan segera meresmikan hubungan mereka dengan acara pertunangan.
Berbanding terbalik dengan Maria, wajah Johan nampak sedang menahan emosi, jika bukan karena ibunya, mungkin ia sudah melempar Vita keluar dari ruangannya.
Maria merasa seperti obat nyamuk saja, jika terus duduk di hadapan Johan dan Vita.
Akhirnya Maria memutuskan untuk melihat-lihat ruang kerja Johan yang sangat luas dengan berfasilitas lengkap.
Maria melangkahkan kakinya menuju Meja kerja Johan, ia tersenyum saat melihat foto keluarganya ada di meja kerja Johan.
Maria menggedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan yang masih nampak sama, seperti saat suaminya menjabat sebagai CEO.
"Jo, kamu tidak berencana mengubah desain ruangan ini, untuk mendapatkan suasana baru," ujar Maria yang kini menoleh kearah Johan dan Vita.
Akhirnya Johan punya alasan untuk menjauh dari Vita. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghapiri ibunya. Vita nampak kesal saat tiba-tiba Johan saja meninggalkanya sediri di sofa.
Akhirnya Vita memutuskan untuk duduk bersandar di sandaran sofa sambil memainkan ponselnya.
Kini Johan sudah berada di depan meja kerjanya, dimana Maria berada, "Aku juga sedang memikirkan untuk renovasi, tapi desain ini sangat mewah bukan, apalagi ruangan ini menjadi saksi bisu perjuangan ayah merintis king grup sampai sebesar ini, jika ruangan ini di renovasi, nilai sejarahnya akan berkurang."
Maria menganggukkan kepala tanda mengerti dan menyetujui ucapan Johan, ruangan ini memang sangat bersejarah, jika di pikir-pikir lagi, desain ruangan itu masih sangat bagus dan juga nilai estetikanya sangat tinggi.
Maria kembali melangkahkan kakinya menuju belakang meja kerja Johan, ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran Johan. Sudah hampir tiga puluh tahun menjadi istri seorang Toni Alexander, Maria tidak pernah sekalipun duduk di kursi itu.
"Ternyata nyaman juga," ucap Maria sambil memutar-mutar kursi itu. Johan hanya tertawa kecil melihat tingkah ibunya, yang memang kadang susah di tebak. Sementara Vita semakin terabaikan.
Maria hendak berdiri dari kursi itu, namun ia tidak sengaja melihat sebuah kalung tergeletak di atas lantai, Maria meraih kalung itu, ia mengerutkan keningnya saat melihat kalung yang terdapat inisial JJ.
" Jo ini milik kamu?" tanya maria sambil menunjukkan kalung itu kepada Johan.
Seketika Johan langsung bergerak dengan cepat, merebut kalung itu dari tangan ibunya, ia merasa benar-benar ceroboh karena kurang berhati-hati.
Johan bukan tidak ingin memberitahu Maria mengenai Jihan, namun waktunya benar-benar belum tepat, apalagi kini ibunya juga ikut-ikutan memihak Vita.
Untung saja Vita tidak melihat dan mendengar ucapan melihat hal itu karena terlalu fokus dengan ponselnya, jika Vita melihat kalung itu, bisa-bisa ia akan langsung mengatakan tentang siapa inisial yang tergantung di kalung itu.
"Ah ini milik teman ku bu, dia tidak sengaja menjatuhkannya saat datang kemari," tutur Johan sambil memasukkan kembali kalung itu kedalam laci.
"Oh begitu." Maria sepertinya masih curiga, ia tahu betul jika saat ini Johan sedang berbohong padanya. Maria bisa melihat dan merasakan dari respon, cara bicara dan bahkan dari mimik wajah Johan yang nampak panik.
__ADS_1
Bersambung 💕