Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Sekretaris Baru


__ADS_3

"Aku sampai lupa, Mas." Luna kini menatap Niko yang terbaring di sampingnya.


"Apa? Udah gak mual kan dekat aku," Niko menarik tubuh Luna dan menghapus jarak di antara mereka. "Saatnya melepas rindu."


"Ih, tiap hari juga ketemu. Bukan soal itu..."


"Terus?" Niko membelai rambut Luna, hal yang tidak bisa dilakukan selama empat bulan ini.


"Pak Kevin sudah dapat sekretaris baru jadi mulai besok aku sudah gak kerja," kata Luna. Sedari tadi dia lupa ingin memberi tahu Niko tentang hal itu.


"Bagus dong. Lama banget Kevin dapatnya."


"Iya, itu pun Pak Kevin sendiri yang masukin dia."


"Kevin? Saudaranya?"


Luna mengangkat bahunya. Dia sendiri juga tidak tahu pastinya. Entah itu temannya atau saudaranya. Dia hanya bertemu sekali tadi saat datang ke kantor.


"Ya udah. Yang penting mulai besok kamu udah gak kerja." Niko mencium pipi Luna.


Luna menganggukkan kepalanya. "Iya Mas. Bosan gak ya di rumah?"


"Ya kalau bosan, cari kegiatan aja sama Mama atau mau ke rumah kamu juga gak papa nanti aku antar."


"Udah lama aku kerja di kantor Pak Kevin. Berat banget sebenarnya keluar dari kantor itu." Luna menghela napas panjang. Tadi saja di sesi pamitan dengan teman-temannya dia hampir menangis. Semua teman-temannya di sana sangat baik dan mereka sudah seperti keluarga sendiri.


"Iya, aku ngerti. Sebentar lagi kamu juga punya teman dan gak akan kesepian. Nih, udah mulai besar." Niko mengusap lembut perut Luna. "Udah gerak belum?"


"Udah. Gerakannya masih halus banget kayak kedutan gitu." Luna tersenyum kecil sambil mengikuti gerak tangan Niko mengusap perutnya.


"Sayang, udah hampir empat bulan loh aku gak main sama kamu. Tersiksa banget rasanya."


Luna mengusap pipi Niko lalu bermain di seputaran lesung pipi itu. "Pernah main sendiri gak?"


"Ya jelas pernah. Sebagai lelaki normal gak mungkin benih tersimpan sampai satu minggu." Niko terkekeh sendiri. Apalagi tingkat li bi do nya yang termasuk tinggi, sudah jelas dia tidak bisa menahan terlalu lama.


Luna tertawa mendengar kalimat Niko yang berlebihan itu. "Kalau mau sekarang, gak papa Mas."


"Tapi kamu gak capek kan?" tanya Niko lagi memastikan kondisi Luna.


Luna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Niko nampak mengusap dadanya karena detak jantungnya sudah berdebar tak karuan.


Perlahan dia membuka kancing piyama Luna dengan jemari yang bergetar hingga sesuatu yang sangat menggoda itu memyembul di balik piyama yang telah terbuka.


Niko menelan salivanya berkali-kali karena kedua buah sintal itu terlihat semakin bulat dan berisi. Ingin rasanya dia langsung tancap gas dan adu kekuatan tapi karena Luna sedang hamil, dia akan melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.


Malam itu menjadi malam yang penuh gelora dan membara. Semua rasa yang terpendam selama berbulan-bulan itu Niko ekpresikan tanpa batas.


"Aku capek." Luna nampak mengatur napasnya setelah dibuat Niko sampai puncak sebanyak tiga kali.


"Bentar lagi sayang." Niko mendekatkan dirinya dan mencium Luna dengam lembut. Dia telusuri leher seputih susu itu dengan bibirnya. Dia sedikit menambah tempo geraknya saat sudah terasa di ujung.


"I love you, Luna..." Dia tuntaskan hasratnya yang telah membuncah. Setelah itu, Niko melepas dirinya dan menghempaskan tubuhnya di sebelah Luna. "Akhirnya..." Niko tersenyum puas sambil mengatur napasnya yang tersenggal.


"Akhirnya capek." kata Luna melanjutkan Perkataan Niko.


Niko bangun dan meraih sebotol air mineral. "Sayang minum dulu biar gak dehidrasi." Niko membuka penutup botol itu.


Dengan dada bertutup selimut, Luna duduk dan meminum air mineral itu hingga habis setengah botol.


"Kamu pakai piyama dulu lalu tidur." Niko mengambil piyama Luna yang berserak lalu membantunya berpakaian. "Biar gak kedinginan kalau malam. Nanti perutnya yang buncit malah kembung."


"Ih..." Luna sudah tidak punya tenaga lagi menimpali candaan Niko. Setelah piyamanya terpasang, Luna kembali merebahkan dirinya karena matanya sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka.


"Ih, gak bagus untuk kesehatan ibu hamil kalau bangun siang." kata Luna sambil memejamkan matanya.


Niko tersenyum kecil lalu mengusap rambut Luna agar semakin terbuai ke alam mimpi.


...***...


Pagi itu Kevin masuk ke dalam ruangannya. Ada seseorang yang telah menunggunya di dalam ruangan itu. Dia duduk di atas sofa dengan anggun. Ya, dia adalah sekretaris baru Kevin yang bernama Della.


"Della, kemarin Aldi sudah menjelaskan kan apa saja yang perlu kamu kerjakan."


Della memganggukkan kepalanya. "Sudah, Pak."


"Iya, bagus kalau sudah mengerti." Kevin menghela napas panjang lalu duduk di dekat Della. "Kamu tenang saja, masalah kamu pasti akan aku bantu."


Della menganggukkan kepalanya.


"Hmm, saya bawa makanan untuk Pak Kevin." Della meletakkan sekotak bekal di atas meja. "Semoga Pak Kevin suka."

__ADS_1


Kevin menatap bekal itu sesaat. "Iya, terima kasih. Tapi besok-besok tidak perlu. Ya sudah, kamu bisa mulai bekerja."


Della menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Kevin.


Kevin mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Della yang tiba-tiba pingsan di lift saat mereka menghadiri sebuah makan siang yang diafakan oleh perusahaan Gemilang.


Ada sebuah cerita yang membuat Kevin merasa iba padanya dan menawarinya untuk bekerja sebagai sekretaris di perusahaannya.


"Rendra Permana? Sepertinya aku pernah kenal dengan nama itu. Apa Rendra salah satu pimpinan mafia? Berat. Aku gak punya kekuatan yang sepadan melawan dia, tapi Della butuh bantuan. Apa aku harus menolongnya atau membiarkannya?" Kevin menghela napas panjang lalu dia duduk di kursi kebesarannya.


Beberapa saat kemudian dia memanggil Aldi untuk ke ruangannya.


Tak menunggu lama Aldi sudah masuk ke dalam ruangan Kevin.


"Aldi, kamu cari tahu tentang Rendra Permana. Apa dia sekarang ada di kota ini?"


Aldi membulatkan matanya. "Rendra Permana seorang mafia itu Pak?"


"Iya. Kamu tahu soal dia?"


"Tidak begitu banyak. Tapi saya dengar sekarang dia menguasai distributor senjata api."


Kevin nampak berpikir sejenak. "Ya sudah, coba kamu cari info lagi kalau perlu buat jadwal pertemuan aku dengan dia."


Aldi menatap Kevin heran. Tapi dia tidak berani bertanya terlalu mendetail. "Iya, Pak. Saya akan berusaha mencari info."


"Ya sudah, kamu keluar. Tolong awasi juga pekerjaan Della."


Aldi menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Kevin. Dia berhenti sesaat di dekat meja kerja Della. Dia sendiri tidak mengerti mengapa Della bisa masuk dalam perusahaan Kevin sedangkan kualifikasinya jauh di bawah Luna.


Menyadari diamati oleh Aldi, Della tersenyum ramah.


Seketika pikiran buruk singgah di kepala Aldi. Tapi mana mungkin...


.


.


💞💞💞


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen...


Nanti akan ada satu konflik yang dahsyat dan berakhir secara tidak terduga. Tetap stay sampai akhir ya.. 😙


__ADS_2