
Ah aku ingat, namanya ...," ucap Nino terpotong saat mela tiba-tiba saja datang.
"Nino jangan Mengganggu teman kak Jihan," ucap Mela.
"Tidak kok mah," ucap Nino.
"Selamat sore tante," ucap Malik yang kini sudah berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Mela.
"Selamat sore," ucap mela yang kini sudah menerima uluran tangan Malik.
"Ayo duduk," ucap Mela.
Malik kembali duduk di tempatnya, tak lama Jihan datang dari arah belakang, "Ngobrolin apa nih"
"Jihan, aku langsung pulang saja ya, sudah terlalu sore," ucap Malik.
"Kenapa buru-buru sekali," ucap Mela.
"Maaf tante, saya ada acara keluarga, jadi saya harus cepat pulang," ucap Malik.
"Oh baiklah, terimakasih karena sudah mengatakan Jihan ya," ucap Mela lagi.
"Kamu hati-hati di jalan," ucap Jihan.
"Iya, saya pamit tante, Nino," ucap Malik, Nino hanya melihat Malik tanpa ekspresi.
Mela dan Jihan mengantarkan Malik sampai kedepan. Malik masuk kedalam mobil dan melaju pergi. Mela kini beralih menatap Jihan yang ada di sampingnya.
"Yang tadi itu cuma teman?" tanya Mela.
"Iya tante, cuma teman," ucap Jihan memperjelas.
"Yang kemarin juga begitu ... tante setuju sama kedua-duanya kok," ucap Mela sambil menyegol lengan Jihan.
"ish tante apa sih," ucap mela kesal, lalu berbalik masuk kedalam rumah, sementara mela hanya bisa terkekeh, sambil memandangi kepegian Jihan.
~~
Malam hari di kediaman keluarga Alexander.
Malik dan mamanya yang bernama Selfi baru saja sampai dan langsung di sambut pelukan hangat dari Maria.
Selfi dan Maria memang sudah merencanakan akan makan malam bersama meski tanpa suami mereka, maklum kedua suami mereka adalah petinggi perusahaan besar yang sangat sibuk.
__ADS_1
"Selamat datang," ucap Maria sambil memeluk selfi lalu bergantian memeluk Malik.
"Sudah lama sekali ya mbak, sejak terakhir aku kemari," ucap selfi pada Maria.
"Itu karena kamu sibuk mendampingi suami mu, makanya mumpung kamu lagi di Indonesia, aku menelepon untuk makan malam di sini," ujar Maria.
"Maaf ya mbak, baru sempat datang," ucap Selfi.
"Iya tidak apa-apa, ayo masuk," ajak Maria.
Malik dan mamanya mengikuti langkah Maria masuk kedalam mansion mewah itu, semenjak Toni Alexander ayah Johan berhasil mengembangkan perusahaan konstruksi, properti, dan beberapa pabrik olahan makanan, seluruh keluarga Toni alexsander mendapatkan dampak yang sangat positif dari segi materi.
Contohnya saja Keluarga Malik, ayah Malik adalah adik satu-satunya Toni Alexander yang bernama Teguh Alexander yang sekarang sukses sebagai pengusaha ekspor impor mobil mewah dan berbagai bisnis berskala internasional lainnya.
Johan dan Malik merupakan pewaris tunggal dari kekayaan keluarga mereka masing-masing, namun di saat Johan sudah mengambil tahtanya. Malik masih bergelut untuk mencari jati diri dan pengalaman hidup. untuk menempa diri agar bisa menjadi penerus dari kerajaan bisnis yang di bangun orang tuanya untuk masa depannya.
Malik dan Selfi, sekarang sudah berada di ruang makan, mereka benar-benar di jamu dengan sangat baik oleh Maria. Makanan yang tersaji benar-benar banyak hingga memenuhi meja makan.
"Johan kemana mbak?" tanya Selfi.
"Pelayan baru saja memanggilnya, dia itu kalau sudah pulang dari kantor pasti langsung ke kamar, kadang dia tidak mau makan malam," ujar Maria.
"Sama dengan Malik, kadang saya suka maksa dia untuk makan, sudah usia segini masih sering saya suapi," ucap Selfi.
"Ma kok malam buka rahasia sih," ucap Malik, membuat Maria dan selfi terkekeh.
Akhirnya rasa penasarannya hilang saat mendapati Malik dan Selfi lah yang datang berkunjung.
"Eh Johan, kamu tambah tampan saja," ucap Selfi.
"Hy kak Johan," sapa Malik.
"Selamat malam tante, Malik," sapa Johan kemudian duduk di samping ibunya.
"Bagaimana kinerja Malik di kantor kamu, apa dia merepotkan?" tanya Selfi pada Johan.
"Sejauh ini tidak ada keluhan dari kepala bagian keuangan tentangnya, dan dia cukup hebat, karena sampai saat ini belum ada yang mengetahui identitasnya yang sebenarnya," ujar Johan.
"Sampai kapan sih kamu mau menyembunyikan identitas kamu?" tanya Maria penasaran.
Malik memang sejak awal sudah bersikukuh tidak akan menggunakan nama Alexander di belakang namanya hingga ia siap untuk mengambil alih perusahaan papanya.
Sudah hampir satu bulan dan sepertinya semua berjalan lancar, kecuali Jihan yang sudah mengetahui semuanya dari Maria, untung saja Jihan setuju untuk merahasiakan identitas Malik yang sebenarnya.
__ADS_1
"Entahlah tante, mungkin sampai aku bosan," ucap Malik.
~~
Setelah selesai makan malam, Maria mengajak Selfi untuk minum teh di taman belakang, sementara Johan dan Malik pergi ke perpustakaan yang ada di lantai atas.
Malik melihat setiap sudut ruangan yang di penuhi dengan buku yang berjajaran dengan rapi. Johan mengambil minuman dingin dari lemari pendingin yang tersedia disana, kemudian menghapiri Malik.
"Minum lah," ucap Johan sambil menyodorkan sekaleng minuman soda kepada Malik.
"Terimakasih," ucap Malik lalu meraih minuman dingin dari tangan Johan.
Malik dan Johan beranjak duduk di sebuah sofa yang berada di tengah ruangan perpustakaan itu, sekarang mereka duduk saling berhadapan.
"Pasti melelahkan berpura-pura menjadi pegawai biasa, di saat kamu bisa menjadi bos di Perusahaan sendiri," ucap Johan kemudian kembali meneguk minumannya.
"Tidak juga, karena Jihan aku jadi betah berlama-lama di perusahaan kak Johan," ucap Malik.
Johan terdiam sesaat, menatap adik sepupunya yang secara terang-terangan mengatakan menyukai Jihan.
"Kenapa kak Johan menatap ku seperti itu, aku sudah tahu, Jihan itu mantan kekasih kak Johan semasa SMA kan," ucap Malik.
Johan menengakkan posisi tubuhnya, ia tidak menyangka Malik bisa mengetahui hal itu.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Johan penasaran.
"Kak Johan tidak perlu tahu, yang jelas aku menyukai Jihan dan akan berjuang mendapatkannya," ucap Malik dengan santainya.
"Tidak ... tidak boleh!" seru Johan.
"Kenapa tidak boleh, hubungan kalian kan sudah lama berlalu, apa salahnya jika aku ingin memulai hubungan dengannya," ujar Malik, meskipun ia sudah tahu maksud Johan menentangnya.
"A ... aku hanya tidak ingin kamu berurusan dengan orang yang aku kenal dekat dulu, lagi pula hubungan kami berakhir dengan kurang baik, hal itu akan menjadi tidak baik jika kamu menjalin hubungan dengannya," ujar Johan dengan gugup.
"Apa hanya itu alasannya?" tanya Malik.
Johan kembali terdiam ia benar-benar bingung harus menjawab seperti apa, tidak ia sangka adik sepupunya yang dulu begitu polos kini, sudah berani menatap matanya dan berbicara tegas padanya. Ia bukan tidak ingin jujur kepada Malik, namun ia tidak suka privasinya di ganggu, hubungan ia dan Jihan masih belum menemukan titik terang, mengungkapkannya sekarang hanya akan membebani pikiran, jika Jihan benar-benar belum siap untuk membuka hatinya lagi.
"Katakan kak ... apa hanya itu alasannya?" tanya Malik, kembali mendesak Johan agar menjawabnya.
"Iya memang hanya itu, hanya itu alasannya," teriak Johan dengan kesal.
Malik tersenyum miring, mendengar ucapan Johan, ia sudah tahu jika Johan masih menginginkan Jihan, tapi kenapa Johan tidak mau jujur padanya.
__ADS_1
"Sudah cukup ... aku tidak ingin karena hal ini, hubungan kekeluargaan kita menjadi tidak nyaman," ucap Malik lalu melangkah keluar dari perpustakaan itu.
Bersambung 💕