
Johan dan Raksa sudah sampai ke tempat tujuan, rumah sederhana di sebuah dalam lingkungan perkampungan di pinggir kota. Johan dan Raksa turun dari mobil, tapi rumah itu nampak sepi.
Raksa mencoba mengetuk pintu, hingga beberapa kali namun tak ada sahutan, tak lama seorang nenek, keluar dari rumah yang ada di sebelahnya.
"Kalian siapa?" tanya nenek itu.
"Maaf nenek, perkenalkan saya Raksa dan ini bos saya tuan Johan Alexander," ujar Raksa sopan.
"Oh ... kalian mencari siapa?" tanya nenek itu lagi.
"Apa benar, ini rumah Asep, supir mobil travel?" tanya Johan pada nenek itu.
"Iya benar," jawab nenek itu.
"Apa saya bisa bertemu dengannya?" tanya Johan lagi.
"Si asep kemarin pulang ke kampung istrinya, karena mertuanya sakit," tutur nenek itu.
"Kapan kiranya pak Asep pulang nek?" tanya Raksa.
"Kurang tahu juga, dia cuma bilang mau pulang kampung ke tempat istrinya," jawab nenek itu.
"Apa nenek tahu dimana kampung istri pak Asep?" tanya Johan lagi.
"Wah, saya kurang tahu juga ... saya nggak nanya," jawab nenek itu.
Johan menghembuskan nafasnya dengan berat, harapan satu-satunya yang ia punya, kini berakhir sia-sia. Raksa menoleh kearah Johan, ia begitu kasihan melihat bosnya itu menderita seperti ini. Raksa ingin membantu namun ia tidak tahu harus membatu seperti apa.
~
Minggu pagi yang cerah, tapi seperti hari kemarin yang selalu nampak mendung. Pagi ini Malik sudah siap untuk berangkat ke desa tempat tinggal Jihan. Dengan alasan akan traveling ke daerah puncak akhirnya Selfi ibu Malik tidak bertanya lagi dan langsung memberi izin.
"Aku pamit ma," ucap Malik sambil menyalami tangan mamanya.
"Iya kami hati-hati, jangan pulang terlalu larut," kata selfi sambil menepuk pundak Malik.
"Iya ma," ucap Malik, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Perjalanan Menuju desa Jihan, sekitar empat jam, untuk itu Malik berangkat pagi-pagi sekali agar bisa sampai di sana sebelum siang. Malik melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul tujuh pagi, ia pikir masih sempat untuk membeli sedikit oleh-oleh untuk Nino adik sepupu Jihan.
~
Menjelang siang, Jihan beserta keluarganya, berjalan menuju tempat pemakaman umum yang berjarak dua puluh meter dari rumahnya. dengan berbekal air dan bunga ia akan berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Tepat hari ini, Tujuh tahun sudah kedua orang tua Jihan pergi untuk selamanya. Jihan masih mengingat dengan jelas detik-detik ia melihat kedua orang tuanya dalam keadaan tak bernyawa.
Adapun hari ini, mengingatkan Jihan kembali saat-saat Johan pergi meninggalkannya, pergi tanpa sempat berpamitan,dengan membawa kesalahpahaman yang tidak sempat Jihan jelaskan.
Meskipun kesalahpahaman itu kini sudah terselesaikan, namun masalah baru muncul lagi, dan kini Jihan yang pergi meninggalkan Johan. untuk apa mereka di pertemukan kembali jika pada akhirnya harus berpisah lagi.
Jihan dan keluarga memasuki area pemakaman umum. Sesampainya di depan makam ibu dan bapaknya yang memang saling bersebelahan, Jihan diduk bersimpuh.
Ia mengusap batu nisan yang kini tertutup debu, ada rasa sesal yang menghinggapi Jihan, karena ia hanya bisa satu tahun sekali berkunjung ke makam orang tuanya. Dan ada pula rasa sesak di dada yang tak bisa ia ungkapkan mengapa dan kenapa.
"Jihan, kamu baik-baik saja?" tanya Mela yang duduk di samping Jihan.
"Iya Tante, aku baik-baik saja," ucapnya dengan suara yang bergetar.
Mela memberikan sekeranjang bunga kepada Jihan, Jihan menaburkan bunga itu keatas pusara kedua orangtuanya. Tak ada lagi hal yang bisa Jihan berikan kepada orangtuanya layaknya anak-anak lain. Yang ia bisa lakukan kini hanya bisa berdoa agar kedua orangtuanya bisa beristirahat dalam damai.
Jihan mengeryitkan dahinya, saat dari kejauhan,ia melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan rumahnya. Jihan dan yang lainnya berhenti sejenak memperhatikan mobil itu dari jarak lima meter.
"Itu mobil siapa?" tanya bi siti pada Jihan.
"Kurang tahu juga bi," ucap Jihan pada bi Siti.
Rasa penasaran Jihan akhirnya terjawab saat sosok pria keluar dari dalam mobil. Siapa lagi kalau bukan Malik, Ia baru saja sampai, bertepatan dengan Jihan yang baru saja pulang dari berziarah makam.
Malik melambaikan tangannya kepada Jihan, Jihan masih diam di tempatnya sambil terus memandangi Malik untuk memastikan ia tidak salah lihat.
"Malik," ucap Jihan.
Bi siti sampai terpana melihat sosok malik yang begitu tampan, ia mendekati Mela dan membisikkan sesuatu di telinga Mela, "Apa laki-laki itu yang kamu ceritakan?"
"Bukan mbak, ini lain lagi," ucap Mela pelan.
__ADS_1
"Waduh, ponakan kita di perebutkan laki-laki tampan ya, hehe," ucap bi Siti pelan
Nino yang melihat kedatangan Malik langsung berhambur memeluk Malik, Malik pun langsung menyambut Nino. Ia mengambil sesuatu beberapa mainan yang tadi ia beli sebelum kemari dan di berikan kepada Nino.
"Ini untuk Nino?" tanya Nino memastikan.
"Iya tentu saja, ambillah," ucap Malik sambil mengulurkan sebuah paper bag kepada Nino. Dengan senang hati Nino menerimanya.
"Asik mainan baru," ucap Nino kegirangan.
Jihan melangkah mendekati Malik yang masih diam mematung di tempatnya. Jihan begitu penasaran, kenapa Malik bisa sampai di desanya dan apa tujuannya kemari.
"Kenapa kamu kemari, dan dari mana kamu tahu aku ada disini?" tanya Jihan.
"Aku baru saja tiba, aku sangat lelah, apa tidak bisa beristirahat sebentar," ujar Malik mengalihkan pembicaraan.
"Iya Jihan jangan banyak dj tanya dulu, teman kamu pasti lelah, ayo nak ikut masuk kita makan siang dulu," ujar Bi siti tiba-tiba datang dan menimpali ucapan Jihan.
Bi siti menarik tangan Malik masuk kedalam rumah, Malik hanya bisa mengikuti saja tanpa berkata apa-apa. Sementara Jihan menghembuskan nafasnya dengan berat.
Suasan makan siang kali ini berbeda karena kehadiran Malik di antara keluarga besar Jihan. Menu makan siang sederhana ala pedesaan kini tersaja di atas bentangan tikar daun yang menjadi alas tempat duduk makan sambil lesehan.
Kini mereka sedang duduk di hadapan nampan besar berisi lauk pauk, bi Siti tanpa di minta menyendokkan nasi dan lauk ke atas piring Malik. Malik sampai tidak enak hati karena di jamu bak raja saja.
"Nak Malik, pasti tidak biasa ya makan makanan kampung seperti ini?" tanya bi Siti.
"Tidak kok bi, saya juga suka makanan tradisional seperti ini, sangat jarang di temui di kota," jawab Malik.
"Wah yang benar, kalau begitu makan yang banyak ya," ujar Mela tiba-tiba, lalu menambahkan pete goreng keatas piring Malik. Meskipun jujur Malik tidak biasa makan pete tapi demi pencitraan ia menerima dengan senang hati.
Jihan hanya bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi Malik ketika memasukkan sebiji pete kedalam mulutnya.
Malik senang bisa melihat Jihan terseyum lagi, ia awalnya cukup khwatir. Setidaknya meski tidak bisa memiliki Jihan seutuhnya, ia masih bisa membuat Jihan tertawa, walaupun tidak bisa menyembuhkan luka, yang di torehkan pria lain.
Kalau saja Malik datang lebih awal di kehidupan Jihan, apakah ceritanya aka m jadi berbeda , apakah Jihan akan mencintainya seperti Johan sekarang. Malik tidak bisa mengubah takdir yang telah tergaris tapi ia berharap dengan kehadirannya, Jihan bisa melupakan masalah hidup yang begitu berat.
Makan siang sudah selesai, Jihan dan Malik di panggil oleh bi Siti, untuk mengantarkan makanan ke are persawahan milik almarhum bapak Jihan, di sana ada seorang pekerja yang senang tiasa merawat sawah peninggalan satu-satunya orang tua Jihan.
__ADS_1
Bersambung 💕