Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Ada Penyusup


__ADS_3

"Bagus, sendinya sudah kembali pada tempatnya semula. Coba digerakkan secara perlahan," kata Dokter yang memeriksa keadaan Luna saat itu.


Luna menggerakkan tangannya secara perlahan.


"Masih sakit?" tanya Dokter itu lagi.


"Masih sedikit kaku," jawab Luna.


"Iya, pelan-pelan saja dan jangan mengangkat yang berat-berat dulu," pesan Dokter itu.


"Jadi sudah tidak perlu dibalut perban lagi?" tanya Niko yang duduk di samping Luna saat itu.


"Tidak perlu, tapi tetap hati-hati. Jangan dipaksakan bergerak bila terasa sakit."


Luna menganggukkan kepalanya. "Baik, Dok. Terima kasih." Setelah itu mereka berdua keluar dari ruang periksa. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.


"Syukurlah, tangan kamu sudah membaik." Niko menggandeng tangan kanan Luna.


"Mas Niko besok mulai kerja kan? Aku besok juga kerja ya."


Niko menghela napas panjang. Tidak adanya sekretaris menuntutnya harus segera bekerja padahal dia ingin menikmati momen indah bulan madu bersama Luna. "Iya, ada beberapa meeting penting besok. Dan sekretaris baru juga belum dapat. Pengennya bulan madu tapi gak bisa. Gimana kalau kamu aja yang jadi sekretaris aku?"


Luna justru tertawa. "Jangan gitu Mas. Kasihan Pak Kevin."


"Kamu terlalu patuh sama Kevin, gak kasihan sama suami sendiri?"


"Ya udah nanti aku bantuin di rumah."


"No, kalau di rumah beda lagi ceritanya." Niko tersenyum menggoda.


Jelaslah, Luna sekarang tanggap dengan kemesuman Niko. Baru dua hari menikah tapi sudah berkali-kali melakukannya. Meski Niko selalu melakukannya dengan lembut dan menjadikannya seperti seorang ratu yang membuatnya ikut terbawa terbang tinggi seolah lupa daratan.


"Kok diam sambil senyum gitu?" tanya Niko sambil sedikit memencet hidung Luna karena gemas.


"Gak papa. Jadi nih jemput Reka?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.


"Jadi dong."


Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Dari kemarin Reka udah pengen main sama kita." Niko mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, mobil Niko telah berhenti di depan rumah Kevin. Mereka berdua keluar dari mobil yang disambut dengan teriakan riang dari Reka.


"Yee, Ayah sama Bunda udah datang."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah sedangkan Reka langsung memeluk pinggang Niko. Baru dua hari tidak bertemu saja, Reka sudah sangat kangen dengan Ayahnya.


"Luna, duduk dulu sini," suruh Alea yang sedang memangku Raffa di ruang tamu waktu itu.


Luna mengangguk dan duduk di sebelah Alea. "Hai Raffa, tambah gemoy aja sih." Luna sedikit mencubit gemas pipi gemoy itu. "Perkembangannya pesat banget ya."


"Iya, syukurlah. Meski lahir prematur tapi berat badannya sekarang udah ideal. Raffa, nih ada Bunda Luna."


Bayi yang murah senyum itu memberikan senyum gemasnya pada Luna yang membuat Luna ingin menggendongnya. "Sini gendong sama Bunda." Luna meraih dengan sebelah tangannya dan memangkunya.


"Tangannya sudah sembuh?" tanya Alea.


"Sudah. Tapi masih tidak boleh terlalu digerakkan."


"Gak jadi bulan madu?" tanya Kevin saat keluar dari dalam rumah.


Niko yang saat itu sedang bermain bersama Reka pun mendongak menatap Kevin. "Nggak. Di kantor lagi banyak kerjaan. Kev, gimana kalau Luna jadi sekretaris aja di kantor aku?"


"Iya. Dia udah berhenti," jawab Niko tanpa menyebut alasan yang sebenarnya.


"Gak! Enak aja. Kamu cari aja sekretaris sendiri. Lagian kalau kamu kerja bareng istri emang kamu bisa niat kerja?" Niko kini duduk di sebelah Alea.


Niko tertawa. Tentulah, dia sangat mengerti dengan kalimat Kevin. "Iya juga. Kerjanya bisa dobel kalau kayak gitu."


"Duh, dasar dua bapak-bapak."


...***...


Beberapa minggu pun berlalu. Mereka kembali ke rutinitas seperti biasanya. Bahkan Niko cenderung lebih sibuk dari biasanya, begitu juga dengan Luna. Perusahaan Kevin sedang melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan besar.


Sudah beberapa hari itu, Luna merasa ada yang mengamati setiap gerak-geriknya di kantor. Tapi ketika dia melihat dan mencari orang yang mengamatinya seolah tidak ada. Siapakah dia? Apa hanya perasaannya saja atau memang nyata?


Luna kini masuk ke dalam ruangan Kevin dengan membawa beberapa berkas kerjasama.

__ADS_1


Setelah menerima berkas itu, Kevin segera memeriksanya. "Berkas dari PT Jaya Putra dimana?"


Luna jelas bingung. Baru saja dia selesai mencetaknya, tapi sekarang sudah tidak ada. "Barusan ada, Pak. Sudah saya print. Sebentar saya cek di meja saya dulu." Luna keluar dari ruangan Kevin lalu memeriksa mejanya tapi berkas itu tidak ada di sana. Dia curiga, sepertinya ada yang sengaja mengambil berkas itu.


Luna kembali ke ruangan Kevin. "Di meja saya tidak ada yang tertinggal, Pak."


Kevin menghela napas panjang. Dia nampak berpikir beberapa saat. "Sepertinya memang benar di sini ada penyusup."


Luna melebarkan matanya terkejut. "Saya juga merasa akhir-akhir ini ada yang mengikuti."


"Setelah ini biar saya cek rekaman cctv. Tapi sayang cctv yang mengarah ke meja kerja kamu tidak ada." Kemudian Kevin memeriksa berkas-berkas itu. Setelah tanda tangan, dia menyuruh Luna untuk kembali ke meja kerjanya. "Kalau ada apa-apa yang mencurigakan langsung beritahu saya. Sekarang kamu kembali ke meja kamu saja."


"Baik Pak." Luna mengangguk lalu keluar dari ruangan Kevin.


Kevin masih berpikir. Sepertinya sekarang dia memang harus lebih hati-hati. Dia angkat gagang teleponnya dan menghubungi assistant pribadinya. "Aldi, kamu ke ruangan saya sekarang!"


Sedangkan Luna, dia menjadi sangat khawatir. Pasalnya berkas yang hilang itu adalah salah satu dokumen penting. Bagaimana jika rahasia kerjasama perusahaan milik Kevin itu bocor ke perusahaan lain? Hingga membuat kerjasama penting itu dibatalkan.


Apa dalang dibalik ini semua adalah Robi?


Luna sedikit memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Mengapa hidupnya masih saja belum bisa lepas dari Robi?


Tahu gini, harusnya dia dimasukan saja ke penjara.


Luna berdengus kesal. Baru saja dia merasakan hidup bahagia bersama Niko, kini bayang-bayang masa lalu itu kembali menghantuinya.


"Kok tiba-tiba aku kangen sama Mas Niko." Memikirkan Niko, Luna jadi ingin bertemu dengan suaminya itu. Rupanya dia sudah menjadi seorang budak cinta sekarang. "Mau gak ya aku ajak makan siang." Luna mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Cukup lama, akhirnya panggilan itu diangkat oleh Niko.


"Mas, aku mau makan siang sama Mas Niko? Bisa?"


"Aduh, maaf ya sayang. Aku lagi ada meeting sama client. Nanti malam aja ya kita dinner," tolak Niko diujung sana.


"Iya Mas..." Luna mematikan ponselnya lalu kembali bekerja meski rasanya dia tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya hari itu.


.


💞💞💞


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen ya..


__ADS_2