Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Hujan Di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi hari yang tak secerah seperti biasanya. Sinar matahari malu-malu menampakkan sinarnya. Awan hitam juga tertata rapi di langit. Bahkan hujan gerimis pun turun yang membuat udara terasa semakin dingin.


Niko mengerjapkan matanya. Rasanya dia masih malas untuk beranjak dari tidurnya tapi seseorang yang semalam dia peluk saat tidur itu sudah tidak ada. Sepertinya dia sedang mandi, karena terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.


Perlahan Niko duduk di tepi ranjang. Dia usap wajahnya untuk mengusir rasa kantuk. Sejenak dia lupa jika sekarang, dia berada di rumah mertuanya. Haruskah dia berpura-pura rajin dan bangun pagi. Tapi inikah masih pagi. Baginya tidak perlu berpura-pura seperti itu.


Beberapa saat kemudian Luna keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe nya. Niko tercengang menatapnya. Luna seperti bidadari yang turun dari langit untuk mandi di sungai. Dirinya seperti Jaka Tarub yang siap mencuri selendangnya. Yeah, ini bukan cerita dongeng, melainkan rasanya Niko ingin segera memeluk dan memiliki tubuh cantik itu seutuhnya.


Luna berjalan menuju lemari dan mencari pakaiannya.


"Mau ambil yang mana?" tanya Niko sambil berjalan mendekat.


"Yang ini."


Niko menarik pakaian Luna sambil menahan atasnya agar tidak ikut tertarik.


Luna mengambil pakaiannya dari tangan Niko tapi dia tak juga berganti baju. Dia hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Haruskah dia meminta tolong pada mamanya saja? Rasanya masih malu meminta tolong pada suami barunya itu.


"Kenapa? Sini aku bantu," tawar Niko.


Luna mendekap bathrobe nya dengan sebelah tangannya. Di balik bathrobe itu tubuhnya tidak memakai apapun. Ini semua karena tangan kirinya yang sampai empat hari ini masih sakit saja jika digerakkan. Benar-benar menyusahkan.


"Aku malu," jawab Luna pelan sambil menundukkan pandangannya.


Niko tersenyum lalu dia mengambil baju ganti Luna. "Kamu hadap sana." Niko membalik tubuh Luna. Kemudian dia buka tali bathrobe itu. Ada aliran listrik yang seolah menjalar ke seluruh tubuh Niko dan membuatnya tersengat, meski dia tidak melihat secara langsung bagian depan tubuh Luna.


"Kamu bantu aku kancing aja biar aku pakai sendiri."


"Sstt, jangan malu sama aku. Aku kan suami kamu. Semua bagian tubuh kamu nanti pasti akan aku lihat dan aku rasakan," kata Niko sambil mengambil pakaian dalam Luna.


Mendengar hal itu dada Luna semakin bergetar bahkan rasanya sudah panas dingin tak karuan. Jiwa petarungnya telah luruh entah kemana.


Perlahan Niko mulai memakaikan penopang buah sintal itu. Meski sebenarnya dia ingin segera melihat, menyentuh dan memainkannya. Tapi dia tahan. Apalagi saat dia berlutut dan membantu Luna memakai kain segitiga itu. Hasratnya benar-benar sudah tidak bisa terbendung lagi.


Niko berdiri lalu memeluk Luna dari belakang. Dia kecupi punggung mulus itu sampai lehernya dan berhenti di dekat telinga Luna.


Hangat napas Niko membuat tubuh Luna meremang seketika.


"Sayang, aku..." Napas Niko telah memburu. Sepertinya dia tidak sanggup jika harus menundanya lagi. "Aku minta sekarang, boleh?" Niko membalik tubuh Luna lagi hingga kini mereka berhadapan.

__ADS_1


Dia kecup kembali bibir tipis itu. Memagutnya begitu dalam dan penuh hasrat. Sesuatu yang baru saja tertutup di buka kembali oleh Niko. Dia usap lembut bulatan itu secara bergantian yang membuat Luna melenguh tertahan. Sedangkan tangan satunya menahan punggung Luna.


Dia dorong secara perlahan Luna hingga terduduk di tepi ranjang.


Cuaca mendung yang sangat mendukung membuat Niko tak bisa menahannya lagi. Dia menatap Luna begitu mendamba.


Niko menangkup kedua pipi yang merona itu. "Sekarang ya? Aku akan hati-hati, gak akan kena tangan kamu."


Luna mendongak menatap kedua netra Niko. Dia tidak akan menolak Niko tapi ada rasa takut yang terselip.


"Maaf, padahal aku udah bilang sama kamu kalau aku bakal ngelakuin ini setelah tangan kamu sembuh, tapi..." Niko menarik napas panjang. Haruskah dia melanjutkan adegan barusan atau tidak? Dia merasa kasihan juga pada Luna yang belum bisa menggerakkan tangan kirinya. "Aku mau mandi dulu saja..."


Niko menegakkan dirinya, saat akan melangkah, Luna menahan tangan Niko.


"Aku gak papa kalau Mas Niko mau sekarang. Kan aku sekarang sudah menjadi istri Mas Niko."


Seketika Niko berlutut di hadapan Luna agar bisa menatap senyum tulus Luna. "Aku sayang sama kamu," ucapnya. Rasanya dia sudah bertekuk lutut dengan Luna saat ini.


"Aku juga sayang sama Mas Niko."


Kemudian mereka sama-sama tersenyum. Sebelum akhirnya wajah itu kembali mendekat dan bibir itu kembali menyatu untuk memagut cinta dan menyesapi manisnya madu. Perlahan Niko mendorong tubuh Luna hingga terlentang di atas ranjang. Satu tangannya kini menyusuri kulit lembut seputih susu itu. Menciptakan sensasi di area sensitif Luna.


Penutup terakhir Luna sudah terlepas dan tangan Niko sudah bermain di pintu yang masih sangat sempit itu. Sedangkan bibirnya dengan asyik menyesapi sekitar benda sintal lalu bermain lama di puncak berwarna pink itu.


De sah nikmat sudah tidak bisa Luna tahan. Tangan dan bibir Niko bekerja sama dengan lihai menciptakan gelora panas di tubuh Luna.


"Mas..." panggil Luna dengan mata sayunya.


"Iya sayang..." Niko mendongak sambil menatap wajah Luna yang kian memerah.


"Jarinya geli..."


Niko hanya tersenyum. Pasti sebentar lagi Luna akan mencapai klimaksnya dari permainan jarinya. "Kamu nikmati saja."


Benar saja, suara kenikmatan itu semakin keras yang kini dibungkam oleh bibir Niko, takut jika orang tua Luna sampai mendengarnya.


Setelah napas Luna kembali stabil, Niko kini menatap Luna lalu mengusap bulir keringat yang membasahi pelipis Luna.


"Sudah siap?"

__ADS_1


"Hmm, sakit ya?"


Niko tertawa kecil. "Masak karateka sabuk hitam takut sakit."


"Aku lagi gak bisa lawan Mas Niko."


"Iya, untung juga sih tangannya lagi sakit, kalau gak aku bisa di banting," canda Niko yang membuat Luna tertawa kecil.


"Pelan-pelan ya."


"Iya, nanti kalau tangan kamu sudah sembuh pasti aku yang kalah sama jurus kamu." Niko melepas kaosnya lalu celana pendeknya.


"Ih, gak ada jurus soal ranjang. Aku belum belajar."


"Oke, kalau soal itu biar aku yang jadi gurunya."


Luna mencubit kecil dada bidang Niko. Tapi pandangannya kini mengarah pada sesuatu yang telah tegak menantang. Dadanya semakin berdebar tak karuan.


"Mau kenalan dulu?" tanya Niko yang tanggap dengan arah pandangan Luna.


Seketika Luna mengalihkan pandangannya.


"Sini pegang dulu. Kenalan dulu biar gak kaget."


Luna menelan salivanya berkali-kali. Dia belum sanggup membayangkan rasanya jika itu menghujam dirinya.


.


.


💞💞💞


.


.


Kenapa versi Niko dan Luna semakin ada manis-manisnya gini sih... 🙄


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen... Biar gak berasa kayak lagi dongeng.. kritikan atau hujatan gitu kek biar ramai bisa perang komen.. 🤣


__ADS_2