Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.35


__ADS_3

Jihan berjalan dengan lemas menuju ruangannya, ia selalu saja merasa kehabisan tenaga saat habis berbicara dengan Johan, benar-benar menguras hati, tenaga dan pikiran.


Sesampainya di ruangan, rekan-rekannya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ia melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya yang berada di sebelah kiri ruangan itu.


Jihan mengeryitkan dahinya saat melihat meja Malik kosong, seingatnya Malik kembali lebih dulu tadi.


Jihan membuka laptopnya untuk menyalin notula yang tadi iya catat. Namun sepertinya ia benar-benar tidak bersemangat hari ini. Ia menutup kembali laptopnya dan meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya.


Mencoba memejamkan mata, melupakan semua ucapan Johan yang selalu menggoyahkan pendiriannya.


Suara langkah kaki yang semakin mendekat, membuat Jihan kembali ke posisi tegapnya. di lihatnya Malik yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Kamu dari mana saja?" tanya Jihan kepada Malik.


Malik menoleh, ke arah Jihan yang ada di sampingnya, "Aku tadi ada sedikit urusan ... bagaimana urusan mu di ruang HRD, apa sudah selesai?"


"Ah itu ... tentu saja, hanya ada masalah sedikit," ucap Jihan berbohong.


Malik terus menatap Jihan, ia tidak menyangka jika Jihan pernah menjalin hubungan spesial dengan sepupunya. Sebenarnya ia tidak masalah jika Jihan adalah mantan sepupunya sendiri, yang dirinya khawatirkan adalah ucapan Johan yang mengatakan akan membuat Jihan kembali padanya. Tentu saja Malik tidak akan membiarkan hal itu.


~


Jam menunjukkan pukul Lima sore, para karyawan King group silih berganti keluar dari gedung itu. Jihan sekarang sudah berada di lobby bersama keempat rekan kerjanya, yang juga akan keluar dari gedung itu.


Kebetulan Johan juga sudah berada di sana, Jihan bisa melihat Johan di dampingi Raksa yang akan keluar, berjalan dengan penuh wibawa seperti biasanya. Hal yang membuat wanita manapun terpana, siapa yang tidak tersihir dengan ketampanan seorang Johan Alexander. Sepertinya Johan tidak menyadari Jika Jihan berada di belakangnya.


"Sayang!!" ucap seorang wanita yang berhambur medekati Johan.


Jihan harus kembali di uji kali ini, di depan matanya, tuhan menakdirkannya untuk melihat pemandangan ini di hadapannya. Saat ini ada seorang wanita tinggi nan seksi berhambur memeluk Johan, semua orang yang berada di sana sampai terkejut, termaksud Jihan.


Malik melirik kearah Jihan yang kini nampak kaget, namun sepertinya Malik biasa saja, karena ia sudah tahu wanita yang memeluk Johan itu adalah Vita. Ya Malik cukup mengenal Vita, karena keluarga Vita dan keluarga Alexander berhubungan akrab sejak dulu.


Johan melepaskan pelukan Vita, ia mendorong tubuh Vita agar menjauh darinya.


"Apa-apaan kamu!" seru Johan kesal.


"I be back ... apa kamu tidak senang," ucap Vita sambil membuka kacamata hitam yang menutupi matanya.


Johan tak menjawab dan langsung meraih lengan Vita dan menyeretnya pergi.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat tadi. Jihan bisa merasakan matanya yang mulai memanas. Ia tidak menyangka saat ini akhirnya tiba.


Pada akhirnya tak ada alasan dan tak ada jalan untuk ia bisa kembali kepada Johan, meski tak pernah berharap namun Rasa tak bisa di bohongi. Jihan terluka karena rasa cemburu yang akhirnya menyeruak.


"Ya ampun ... jadi tuan Johan sudah punya pacar," ucap Jenny tak menyangka.


"Cantik sekali," ucap Cika.


Jihan hanya diam dan terus menatap Kearah Mobil Johan kini melaju pergi. Malik menyadari jika Jihan pasti sedang merasa sedih karena melihat pemandangan itu.


"Aku dan Jihan pulang duluan ya," ucap Malik kepada jenny, Cika dan Rendy.


Malik menarik tangan Jihan agar berjalan mengikutinya. Jihan sampai tak sempat Mengatakan apapun, ia hanya bisa pasrah saat Malik terus membawanya keluar dari gedung itu.


"Wih PDKT ya mereka," ucap jenny sambil memandangi kepegian Jihan dan Malik.


"Aku sudah menebak, Malik pasti suka sama Jihan," ucap Cika.


"Pepet terus bro!" teriak Rendy pada Malik.


~~


"Lepaskan," ucap Jihan yang kini sudah melepaskan tangannya dari genggaman Malik.


"Kita mau kemana?" tanya Jihan.


"Mengantarkan kamu pulang lah," jawab Malik.


"Arah kita kan berlawanan," ucap Jihan.


"Tidak apa-apa, sekali-kali ... ayo naik," ucap Malik.


"Oke, kalau kamu memaksa," ucap Jihan lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil. Malik Menyunggingkan Senyumnya saat Jihan sudah masuk kedalam, dengan cepat Malik m nyusul Jihan.


~~


Di sebuah restaurant berbintang, Johan dan Vita sedang duduk berhadapan, Vita tak pernah melepaskan tatapan matanya dari Johan. sementara Johan terlihat kesal melihat Vita.


"Aku kira kamu akan pulang bersama ayah ku," ucap Johan.

__ADS_1


"Aku sudah sangat merindukan kamu, jadi aku pulang lebih cepat," ucap Vita.


"Tolong jaga sikap mu, memelukku sembarangan di hadapan banyak orang dan kenapa kamu memanggil kiu dengan sebutan sayang ... kamu tahu ini bukan di Amerika yang bisa memeluk dan memanggil orang sembarangan," ujar Johan kesal.


"Maafkan aku, aku terlalu senang bisa bertemu kamu," ucap Vita.


Johan kembali menatap Vita, ingatannya tiba-tiba mengingatkan bahwa Vita adalah biang kerok di balik perpisahannya dan Jihan. Namun ia kembali menahan semuanya, ia pikir ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini kepada Vita.


"Kamu kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Vita.


"Tidak ada, habiskan makananmu, setelah ini kita pulang," ucap Johan.


~~


Mobil Malik memasuki area pemukiman padat penduduk di daerah Jakarta pusat. untung saja mobilnya masih bisa masuk, karena rumah Jihan tidak masuk gang seperti yang banyak Malik lalui tadi.


Setelah Jihan menunjukkan jalan yang berkelok-kelok, akhirnya sampai lah mereka di depan rumah Jihan. Terlihat Nino sedang berdiri di ambang pintu sambil berpangku tangan, Nino lebih mirip bapak yang sedang menunggu anak gadisnya pulang.


"Itu siapa?" tanya Malik.


"Oh itu adik sepupu ku, dia itu cerewet sekali padahal dia laki-laki jika dia bicara jangan di ambil hati ... ayo mampir dulu," ujar Jihan, mengajak Malik untuk mampir.


"Ya baiklah jika kamu memaksa, hehe," ucap Malik lalu terkekeh sendiri.


Jihan tak menanggapi, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Jihan dan Malik keluar dari mobil, melihat itu Nino langsung masuk untuk memanggil mamanya.


Sesampainya di dalam, Jihan mempersilahkan Malik untuk duduk terlebih dulu, dan ia pergi ke belakang untuk buang air kecil. Melihat Malik sedang sendirian, Nino langsung menghampiri Malik.


"Om ini siapanya kak Jihan?" tanya Nino.


"Saya teman kantornya Jihan, nama kamu siapa?" tanya malik ramah.


"Aku Nino om. waktu itu ada laki-laki juga yang mengartakan kak jihan pulang, orangnya tinggi, tampan, tapi dia juga bukan pacar kak Jihan," ujar Nino.


"Benarkah, siapa namanya?" tanya Malik penasaran.


"Emm ... siapa ya, kalau tidak salah namanya ... ," ucap Nino menggatung.


Nino berusaha mengingat nama pria yang waktu itu datang kemari juga, dan orang itu adalah Johan.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2