Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.39


__ADS_3

Vita mengerjapkan matanya, ia bisa merasakan tubuhnya yang begitu sakit hingga seperti remuk. Kini posisinya sudah duduk di pinggir ranjang, setelah beberapa saat memulihkan diri, akhirnya ia baru sadar jika ini bukan kamarnya, ia sedang berada di sebuah kamar hotel, dan ia semakin kaget karena tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Vita mencoba mengingat hal apa yang telah terjadi padanya, namun kepalanya malah terasa sakit karena mencoba mengingat kejadian malam tadi.


Dengan langkah gontai, Vita berjalan menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam, ia berdiri di depan kaca, matanya kini membulat sempurna, karena sekujur tubuhnya di penuhi tanda kemerahan.


Kepalanya kembali terasa sakit, ingatannya tentang kejadian malam tadi akhirnya kembali pulih, adegan demi adegan kini tergambar jelas dalam kepalanya. Pria asing itu, telah merenggut kesucian di yang susah payah ia jaga.


Ini semua adalah kesalahannya sendiri, demi melepaskan stres ia berkenalan dengan laki-laki yang bahkan ia tidak kenal dan melakukan cinta satu malam dengan keadaan setengah sadar karena mabuk.


"Ahhhkkkk," teriak Vita menggerutuki kebodohannya.


Vita membenturkan-benturkan kepalanya di dinding kamar mandi, ia menyesali semua kebodohannya, niat hati pulang ke Indonesia untuk memperjuangkan cinta Johan lagi, namun ia malah terjebak seperti ini.


~~


Jihan baru saja bangun dari tidurnya, dilihatnya patulan wajah dari kaca meja riasnya, sangat berantakan dengan belek yang masih menempel di sudut mata.


"Apa dia masih akan menyukai ku, dalam bentuk seperti ini," gumam Jihan.


Jihan masih membayangkan saat Malik menyatakan perasaannya kemarin, rasa tidak nyaman kembali ia rasakan, ia dan Malik kan satu ruangan, dengan menolak Malik kemarin, tentu saja suasana antar keduanya akan menjadi sangat canggung.


Rasa nyaman saat bersama Malik adalah rasa nyaman kepada seorang teman. Selama ini tidak sedikit pria yang mencoba mendekatinya, bahkan saat ia berhenti bekerja di sebuah minimarket, sang pemilik benar-benar kehilangan banyak pelanggan karena Jihan sudah bukan kasir di sana.


Sepertinya Jihan benar-benar belum bisa lepas dari belenggu cinta di masalalu, apalagi setiap hari ia harus berhadapan dengan Johan. Rasanya sia-sia saja perjuangan move on dirinya selama ini.


Dengan kondisi yang masih mengantuk Jihan masuk kedalam kamar mandi, ia benar-benar tidak bisa tidur malam tadi, karena memikirkan dua orang pria yang saat ini menghantui kepalanya. Ia duduk di atas kloset lalu kembali memejamkan mata. dan mulai tertidur dengan posisi duduk, satu menit, lima menit, hingga duapuluh menit.


Nino memukul-mukul pintu dari luar, membuat Jihan langsung membuka matanya karena kaget.


"Kak Jihan, kok lama sekali sih ... aku bisa telat nih ke sekolah!" pekik Nino dari luar.


"Ia sebentar," saut Jihan dari dalam.


~~


Akhirnya Jihan sampai juga di kantor, ia berjalan dengan lemas memasuki lobby, sepertinya ia benar-benar butuh tidur.

__ADS_1


Sesampainya di dalam ruangan, Ia tak lagi menyapa teman-temannya, ia langsung duduk di belakang meja dan meletakkan kepalanya di atas meja, baru saja ia mulai memejamkan mata namun Malik sudah datang menghampirinya.


"Jihan ... Jihan!" panggil Malik.


Jihan kembali menegakkan posisinya, ia menatap pria yang ada di hadapannya saat ini, ia mengerutkan keningnya, karena sepertinya Malik baik-baik saja setelah ia menolaknya kemarin.


"Ini untuk kamu," ucap Malik sambil memberikan dua buah cup cake yang terbungkus cantik kepada Jihan.


Jihan benar-benar merasa tidak enak dengan Malik, padahal ia sudah menolaknya kemarin, namun Malik masih saja memperhatikannya. Jihan benar-benar merasa tidak nyaman.


"Malik, tidak perlu seperti ini, sebaiknya kamu jangan terlalu perhatian seperti ini pada ku," ucap Jihan.


"Apa maksudmu ... aku juga memberikan cup cake ini kepada mereka," ucap Malik sambil melihat kearah meja Pak Kus.


Terlihat, pak Kus dan yang lainnya sedang menikmati cup cake pemberian Malik. Alangkah malunya Jihan saat ini, karena sudah berburuk sangka kepada Malik.


Padahal Malik bukan hanya memberikan cup cake itu untuk dirinya, tapi yang lain juga.


"Ehm ... terimakasih," ucap Jihan mengambil cup cake itu dari tangan Malik dengan penuh rasa canggung.


Jihan benar-benar menggerutuki kebodohannya, ia benar malu dengan sikapnya sendiri. Melihat tingkah Jihan, Malik malah tersenyum lalu menepuk pundak Jihan pelan, lalu kembali ke meja kerjanya.


~~


Jihan duduk dan mencoba fokus pada layar laptopnya, namun tiba-tiba pak kus memanggilnya. Dengan cepat Jihan menghapiri pak Kus.


"Ada apa pak?" tanya Jihan.


"Tolong kamu, berikan laporan keuangan ini, kepada seketaris Raksa," ucap pak Kus sambil menyodorkan sebuah map kepada Jihan.


"Ah iya, baik pak," ucap Jihan.


Jihan melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO yang ada di lantai tiga puluh. untung saja ia hanya perlu mengatakan berkas ini sampai ke sekretaris Raksa saja, ia tidak perlu bertemu dengan Johan, pikirnya.


Sesampainya di ruangan, Jihan langsung masuk dan mendapati seketaris Raksa yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya.


"Permisi," ucap Jihan yang kini berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Jihan .. kemari lah, tumben sekali kamu kemari," ucap Raksa.


"Pak kus menyuruhku untuk memberikan ini kepada mu," ucap Jihan kemudian menyodorkan map itu di atas meja Raksa.


Raksa hendak mengambil map itu, namun tiba-tiba ide gila menghinggapi kepalanya, ia langsung tersenyum miring saat ia merasa jika ide yang ia dapatkan sangat bagus.


"Maaf Jihan, tapi tuan Johan, ingin laporan ini di jelaskan secara langsung, ayo ikut aku keruangan tuan Johan," ucap Raksa lalu beranjak dari duduknya.


Jihan menghela nafas yang cukup berat, hal ini benar-benar di luar ekspansinya. Jihan mengikuti langkah Raksa masuk kedalam ruangan Johan.


"Selamat siang tuan, laporan yang anda minta, sudah datang, Jihan yang akan segera menjelaskan detailnya," ucap Raksa lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Johan, Johan yang awalnya bingung, pada akhirnya mengerti maksud Raksa.


"Ah iya baiklah, kamu boleh keluar," ucap Johan kepada Raksa.


Sekarang tinggalah Jihan dan Johan saja di ruangan itu, Johan berjalan menghampiri Jihan yang masih diam mematung di tempatnya.


"Duduklah, dan jelaskan laporan yang kamu bawa," ucap Johan mempersilahkan Jihan duduk di sebuah sofa yang ada di ruangannya.


"Baiklah," ucap Jihan lalu beranjak duduk di sofa, di ikuti oleh oleh Johan yang juga ikut duduk di samping Jihan.


"Berikan laporan itu," pinta Johan.


Jihan memberikan laporan itu kepada Johan, " Ini adalah laporan pengeluaran dana untuk proyek pembangunan Rumah sakit di Banten dan Surabaya untuk minggu ini," ujar Jihan.


"Emm ... aku akan mendalami laporan ini sebentar, kamu tidak boleh kemana-mana, jika ada yang salah, kamu harus bertanggung jawab," ucap Johan.


"Apa! tapi saya tidak bisa terus disini, saya harus bekerja," ucap Jihan.


"Ini perintah," ucap Johan yang membuat Jihan tak mampu berkata apapun lagi Jihan kini hanya bisa duduk dengan bosan di samping Johan.


Rasa kantuknya pun kembali datang, tanpa sadar Jihan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu sedetik kemudian ia mulai tertidur.


Sebenarnya Johan hanya pura-pura membaca laporan itu, agar Jihan lebih lama berada di ruangannya. Namun saat menoleh ke samping, ia langsung terseyum saat melihat Jihan sudah tertidur dengan lelap.


Dengan perlahan, Johan mengangkat tubuh Jihan, lalu membawa Jihan masuk ke dalam ruangan istirahat yang tersedia di ruang kerjanya, lebih tepat untuk di sebut sebuah kamar, karena benar-benar di fasilitasi seperti kamar hotel pada umumnya.


Pelahan Johan meletakkan tubuh Jihan di atas tempat tidur, kini ia duduk di tepi ranjang, di belainya pucuk kepala Jihan lembut. Senyumannya kembali mengembang karena melihat wajah cantik Jihan yang kini terlihat sangat polos dan lucu, seperti bayi yang sedang tertidur.

__ADS_1


Johan mengecup pucuk kepala Jihan dengan lembut, karena merasa tidak puas, ia memberanikan diri untuk mengecup singkat bibir Jihan. hanya sekilas tanpa adanya nafsu yang menyertai untuk meminta lebih.


Bersambung 💕


__ADS_2