
Seketika Niko melihat rok yang berwarna grey itu. Matanya membulat melihat bercak merah. Jantungnya berdetak dengan kencang hingga keringat membasahi pelipisnya.
Pernikahannya dengan Luna sudah satu bulan dan itupun Niko melakukannya setiap hari tanpa jeda. Jangan-jangan, Luna memang hamil tapi belum terasa tanda-tandanya.
Niko segera mengangkat tubuh Luna dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Reka, tolong buka pintu mobilnya."
Reka membuka pintu belakang.
"Reka temani Bunda di belakang ya." Niko membantu Luna masuk ke dalam mobil.
"Mas, aku kenapa?" tanyanya lirih.
"Jangan mikir macam-macam, kita segera ke rumah sakit."
Niko menutup pintu belakang lalu dia segera masuk ke dalam kursi pengemudi.
"Reka, tolong telepon Papa!" Niko memberikan ponselnya pada Reka agar menyambungkan panggilannya pada Kevin.
Niko segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Reka menghubungi Kevin. Terdengar nada sambung yang cukup keras melalui speaker ponsel itu.
"Iya, hallo.." terdengar suara Kevin di seberang sana.
"Kevin, kamu jemput Reka ke rumah sakit husada ya. Sekarang!"
"Reka kenapa?"
"Bukan Reka tapi Luna pendarahan. Nanti aja aku ceritakan di sana."
Setelah selesai memberi kabar pada Kevin. Niko semakin menambah kecepatan mobilnya saat melihat wajah Luna yang semakin pucat dari rear spion.
"Sayang, bertahan. Kita akan segera sampai di rumah sakit."
Beberapa saat kemudian Niko menghentikan mobilnya di parkir rumah sakit. Setelah itu, dia menggendong Luna keluar dari mobil. "Reka, ayo, jangan jauh-jauh dari Ayah."
Reka berpegangan pada jas Niko saat berlari masuk ke dalam IGD.
"Dokter, tolong istri saya pendarahan." Niko menurunkan tubuh Luna di atas brangkar dan langsung dihampiri seorang dokter bersama dua suster.
"Baik, tolong tunggu diluar. Kami akan segera menangani."
Niko dan Reka kini menunggu di depan ruang IGD.
"Ayah, Bunda gak papa kan?" tanya Reka sambil memeluk Ayahnya dari samping.
"Kita berdoa ya, semoga bunda tidak kenapa-napa." Niko berusaha untuk tetap tenang meski dalam hatinya dia sangat khawatir dan menyimpan dendam pada dalang dibalik semua ini.
Beberapa saat kemudian terlihat Kevin berlari ke arah mereka berdua.
"Reka!"
"Papa..."
"Untung kamu cepat ke sini. Kamu cepat bawa Reka pulang dan jaga Alea juga. Tadi Reka hampir diculik," jelas Niko.
Seketika Kevin melebarkan matanya. "Diculik?"
__ADS_1
"Iya. Luna kena hajar penculik itu sampai dia pendarahan." Ada satu penyesalan saat Niko bercerita tentang hal itu.
"Sial!! Pasti ini juga ulah Robi. Dia berhasil kabur dan jadi buronan." Kevin segera menghubungi satpam rumahnya. "Pak, tolong tutup pintu gerbang rapat. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam rumah!"
"Tapi Pak barusan ada tukang service ac yang masuk ke dalam."
"Suruh dia keluar sekarang!!"
Seketika Kevin sangat khawatir dengan Alea dan Raffa. Dia kini beralih menghubungi Alea.
"Alea, kamu dimana?"
"Aku dikamar lagi nemeni Raffa tidur."
"Ya udah, jangan keluar dari kamar. Kamu kunci kamarnya."
"Kenapa?"
"Nanti aku ceritakan."
Setelah itu Kevin memutuskan panggilan dengan Alea.
"Kev, lebih baik suruh anak buah kamu buat jaga di rumah. Kamu sekarang juga bawa pengawal kan?" tanya Niko. Karena sepertinya keadaan semakin berbahaya.
"Iya, nunggu di mobil. Reka jangan jalan sendiri ya, pegangan terus sama Papa."
"Iya, Pa. Reka takut, Pa."
"Tidak apa-apa. Ada Papa. Sekarang kita pulang nemeni Mama sama Raffa di rumah." Kevin dan Reka berdiri. "Kamu juga hati-hati. Kalau ada apa-apa kabari aku."
Setelah kepergian Kevin dan Reka, Dokter yang menangani Luna pun keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Niko.
"Istri Bapak mengalami keguguran."
"Keguguran? Bahkan kami belum tahu kalau hamil."
"Usia kandungannya masih sangat muda sekitar lima sampai enam minggu."
"Boleh saya menemui istri saya?" tanya Niko.
"Iya. Istri bapak sudah dipindahkan ke ruang rawat."
Niko segera berlari menuju ruang rawat yang di tunjukkan oleh Dokter. Saat membuka pintu itu, terlihat Luna sedang melamun menatap langit-langit.
Niko berjalan mendekat dan duduk di dekat brangkar Luna. "Sayang, jangan sedih." Niko mengusap lembut rambut Luna hingga membuatnya kini menoleh.
Luna menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita kehilangan sebelum kita tahu kehadirannya. Aku tahu apa yang kamu rasakan."
"Sini Mas, peluk aku."
Niko naik ke atas brangkar lalu memeluk Luna dengan erat. "Jangan sedih sayang."
Luna mengangguk pelan.
__ADS_1
Meski sebenarnya dendam Niko sangat besar pada seseorang yang telah membuat Luna celaka. Dia harus segera membereskan orang itu.
"Aku telepon orang tua kamu dulu ya." Niko mengambil ponselnya tanpa melepas pelukannya pada Luna.
Setelah berhasil terhubung, Niko segera memberi kabar pada kedua orang tua Luna. Mereka terdengar panik lalu segera meluncur ke rumah sakit.
"Sebentar lagi orang tua kamu datang."
Luna justru menenggelamkan wajahnya di dada Niko. Tapi rasanya Niko sudah tidak sabar menangkap dan memberi perhitungan pada pelaku itu.
"Sayang, setelah orang tua kamu ke sini, aku balik ke kantor ya?" Izin Niko sambil mengecup puncak kepala Luna.
Seketika Luna mendongak dan menatap Niko.
"Mas Niko gak bohong kan?"
Niko hanya terdiam. Sebenarnya dia memang tidak ada niat ke kantor.
"Mas Niko pasti mau nyari Robi kan? Aku gak mau Mas Niko kenapa-napa." Luna semakin mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin Niko pergi.
"Aku gak bisa diam diri kayak gini. Bagaimana pun juga dia sudah membuat calon anak kita hilang."
Luna tak menjawab lagi. Dia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Niko. "Mas boleh aku nangis?"
Niko tersenyum masam. Istrinya memang seorang wanita kuat tapi bagaimana pun juga dia mempunyai satu sisi hati yang lemah. "Iya, menangislah sepuasnya."
Seketika Luna terisak di dada Niko.
"Aku tahu, meskipun kamu seorang wanita yang kuat tapi kamu tetaplah seorang wanita yang harus aku lindungi." Niko mengusap lembut rambut Luna. "Kamu jangan merasa semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri. Kamu punya aku. Aku yang akan selalu berusaha melindungi. Dan aku gak akan biarkan seseorang yang bersalah masih bebas berkeliaran."
"Ini semua karena masa lalu aku," kata Luna dengan suara seraknya.
"Sssttt, udah. Sekarang, saatnya masa lalu itu berakhir."
Kedua orang tua Luna kini masuk ke dalam ruangan Luna. Seketika Niko melepas pelukan Luna lalu dia turun dari brangkar.
"Mas..." Luna menahan tangan Niko sesaat.
"Percaya sama aku, semua pasti baik-baik saja."
"Niko, kamu mau kemana?" tanya Pak Ari yang melihat Niko buru-buru pergi.
"Saya ada urusan penting. Titip Luna, biar Luna yang menceritakan semua sama Ayah."
"Ya sudah hati-hati."
Niko keluar dari ruangan Luna. Dia berjalan cepat sambil mengepalkan tangannya. Dia harus membalas apa yang sudah dilakukan pada Luna.
💞💞💞
.
.
Masih belum bisa up sehari dua bab.. 😥 kemarin aku yg sakit, terus suami, terus sekarang anak kesayangan aku. 😠Kalau anak yg sakit, rasanya gak bisa mikir lagi.. 😓
Jangan lupa like dan komen .
__ADS_1