
Jihan baru saja selesai dengan tugas-tugasnya. Bersama dengan Jenny dan Cika, Jihan berjalan menuju tenda mereka.
Namun sepertinya Jihanharus mengurungkan niatnya saat ia mengingat akan janji bertemu dengan Malik, di area api unggun.
Jihan langsung menghentikan langkahnya, membuat Jenny dan Cika menatap ke arahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Cika
"Aku baru ingat, aku sudah janji akan bertemu dengan Malik di area api unggun," ucap Jihan.
"Cie ... janjian bertemu, sebenarnya kalian ada hubungan apa sih?" tanya Jenny meledek.
"Apa sih, tidak ada apa-apa kok ... kalian duluan saja ke tenda, nanti aku menyusul,"ucap Jihan kemudian melangkahkan kakinya pergi.
Jihan melangkahkan kakinya, menuju area api unggun, sebenarnya ia juga penasaran kenapa Malik mengajaknya bicara.
***
Johan sedang menunggu Jihan di bawah pohon tak jauh dari area api unggun. Ia yakin Jihan pasti akan melewati tempat ini nanti.
Sudah sejak tadi Dia berada di tempat itu, ia bahkan sudah masih setia menunggu meski banyak nyamuk ganas yang menggigiti tubuhnya.
Setelah penantian yang cukup menguras rasa sabar, akhirnya Jihan datang juga, buru-buru Dia bersembunyi terlebih dulu.
Setelah Jihan semakin dekat, barulah Dia menghadang langkah Jihan.
"Jihan tolong aku," ucap Johan yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Jihan.
"Ada apa?" tanya Jihan.l
"Raksa sepertinya tersesat saat pergi berbelanja, bantu aku pergi mencarinya," ucap Johan sok panik.
"Saya tidak bisa, saya sudah ada janji ... ajak yang lain saja," ucap Jihan yang sudah ingin melangkah, namun kembali di cegat oleh Johan.
"Aku tidak punya waktu untuk mencari orang lain, ayo ikut aku sekarang," ucap Johan lalu menarik tangan Jihan berjalan menuju mobil yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Jihan masih nampak bingung, tapi ia fikir sepertinya ini cukup berbahaya, membiarkan Raksa sendirian di daerah asing. Akhirnya Jihan memutuskan untuk ikut mencari, ia sampai lupa janji temunya dengan Malik.
***
Johan sudah keluar dari area perkemahan, ia mulai memikirkan langkah selanjutnya, kemana ia akan pergi, alasan apa yang Johan harus siapkan saat tiba-tiba Jihan bertanya padanya nanti. semua hal itu membuatnya menjadi gugup.
"Memangnya Raksa pergi sendiri?" tanya Jihan.
"I-iya, dia itu memang sok berani, sudah aku bilang, ajak seseorang tapi dia tetap ngotot untuk pergi sendiri," ucap Johan, berbohong.
"Kita akan mencarinya kemana?" tanya Jihan.
"Em ... ke sana saja," ucap Johan menunjuk sebuah jalan, menuju Kota.
Johan mempercepat laju mobilnya, ia sesekali melirik Jihan yang menatap ke arah jendela.
"Ehm ... memangnya tadi kamu mau kemana?" tanya Johan.
"Saya sudah berjanji akan menemui Malik di area api unggun," ucap Jihan sambil menoleh ke arah Johan.
"Kalian terlihat dekat, apa kamu Menyukainya?" tanya Johan.
"Kami hanya teman, dia baik dan perhatian," ucap Jihan.
"Jika hanya menganggapnya teman, jangan berbuat sesuatu yang bisa membuat orang salah paham," ucap Johan.
Terlihat kebingungan, Jihan menoleh melihat Johan sedang fokus menyetir. "Apa maksud anda?" tanyanya bingung.
"Ah tidak ... lupakan," ucap Johan lalu tersenyum.
__ADS_1
Sementara itu Jihan kembali bersandar dan menatap jalanan dari arah jendela.
***
Sekitar setengah jam, akhirnya Johan sampai di sebuah kota kecil namun sangat ramai penduduk yang khas dengan logat sundanya.
Johan melajukan mobilnya dengan perlahan, karena mereka melewati area pasar malam.
Tiba-tiba pandangan Jihan fokus pada kedai jagung bakar yang ada di pinggir jalan.
"Apa kamu mau jangung bakar," tanya Johan saat mendapati gelagat aneh jihan saat melewati kedai jagung bakar.
"Ehm ... apa boleh, kita kan sedang mencari Raksa," ucap Jihan.
"Sebentar saja, tidak apa-apa, nanti kita lanjutkan pencarian," ucap Johan.
"Baiklah, saya mau," ucap Jihan.
Johan langsung memutar arah kembali ke depan kedai jagung bakar tadi. Sesampainya di depan kedai, tanpa aba-aba Jihan sudah turun terlebih dulu.
Jihan dan Johan menghampiri ibu-ibu penjual jagung bakar itu.
"Permisi Bu, saya mau pesan jagung bakarnya dua ya," ucap Jihan.
"Naon anu anjeun pikahoyong (mau yang rasa apa)," ucap penjual jagung bakar itu.
Jihan terdiam karena tidak tahu arti bahasa Sunda, ia kan asli orang Jawa dan tinggal di tengah-tengah orang betawi untuk tahu bahasa sunda kemungkinannya sangat tidak ada. Namun tiba-tiba Johan membuka suara, membuat Jihan langsung menoleh ke arah Johan.
"Anjeun ngagaduhan rasa na( ada rasa apa saja)?" tanya Johan.
"Original, BBQ, balado," ucap penjual jagung bakar.
"Baladonya dua ya teh," ucap Johan.
"Siap," ucap penjual jagung bakar itu.
Setahu Jihan, ayah Johan adalah orang betawi asli, dan ibunya keturunan Jerman, Kalimantan. tidak ada unsur Sunda sama sekali.
Jihan dan Johan, beranjak duduk di sebuah kursi yang di sediakan di tepi jalan, Jihan masih saja menatap Johan dengan bingung, dan Johan sadar akan hal itu.
"Kenapa melihat aku seperti itu ... awas nanti jatuh cinta lagi," ucap Johan.
"Apa sih ... saya itu cuma heran, anda tahu bahasa sunda dari mana, bukannya anda tidak ada keturunan Sunda?" tanya Jihan.
"Dari pengasuhku waktu kecil, namanya bi Ina, asli orang Sunda, beliau sering berbicara sunda, sampai aku bisa mengikuti dan memahami maksudnya ... sampai sekarang pun dia masih mengapdi di keluarga kami," jelas Johan.
"Oh begitu ... pantas saja," ucap Jihan sambil mengangguk tanda mengerti.
"Jangan berbicara terlalu formal saat di luar kantor seperti ini ... bicara santai saja," ucap Johan.
Melihat Jihan terdiam, Dia tahu mantan kekasihnya itu masih berusaha membangun jarak di antara mereka.
"Sebenarnya rasanya cukup aneh, saat harus bersikap formal dengan orang yang dulu sedekat nadi," ucap Johan lagi.
Jihan hanya menoleh kepada Johan sambil tersenyum tanpa menjawab, mulutnya terasa selalu terasa kaku saat gejolak masa lalu terbawa ke obrolan mereka.
Tak lama pesanan jagung bakar mereka sudah datang, dua buah jagung bakar rasa balado yang di pesan Johan tadi.
"Punten (silahkan)," ucap tukang jagung bakar itu.
"Hatur nuhun teh," ucap Johan.
"Terimakasih," ucap Jihan.
"Sami-sami ( sama-sama)," ucap tukang jagung bakar itu.
__ADS_1
" Geulis pisan ( cantik sekali)," ucap tukang jagung bakar kepada Johan.
"Hatur nuhun teh," ucap Johan.
Seketika Jihan langsung menoleh kepada Johan, untuk menanyakan maksud dari ucapan tukang jagung bakar itu.
"Ibu itu bilang apa?" tanya Jihan.
"Katanya kamu cantik," ucap Johan lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ehm ... oh begitu," ucap Jihan merasa grogi.
***
Setelah selesai memakan jagung bakar, Jihan dan Johan kembali kedalam mobil.
Johan kembali melancarkan aksinya karena melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Johan fikir, Malik pasti sudah tidak menunggu Jihan lagi.
"Hallo," ucap Johan dengan ponsel yang kini menempel di telinganya, pura-pura mendapatkan telepon dari Raksa.
"Kamu sudah pulang ... ya baiklah kalau begitu," ucap Johan pura-pura menelpon.
~
"Siapa?" tanya Jihan penasaran.
"Raksa sudah sampai di perkemahan, syukurlah ... haha," ucap johan lalu terkekeh sendiri.
"Apa! Tahu seperti itu ... kita tidak usah mencarinya tadi," ucap Jihan kesal.
"Kita pulang sekarang," ucap Jihan lagi.
"Iya baiklah," ucap Johan.
Johan kembali melajukan mobilnya, menyuri jalanan untuk kembali pulang tempat perkemahan.
Setelah setengah perjalanan, melewati jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja mobil Johan berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Jihan.
"Aku tidak tahu ... sepertinya ada masalah pada mesinnya, aku akan cek dulu," ucap Johan, lalu turun dari mobil untuk memeriksa bagian depan mesin mobil.
Saat Johan memeriksa mesin, tiba-tiba saja keluar asap yang cukup banyak, membuat Johan sampai terbatuk-batuk. Melihat hal itu, Jihan langsung ikut turun.
"Apa yang terjadi?" tanya Jihan.
"Uhuk ... mesinnya mengalami masalah," ucap Johan.
"Apa! ... lalu bagaimana kita akan pulang," ucap Jihan panik.
"Tenang lah, aku akan mencoba menghubungi seseorang di perkemahan," ucap Johan.
Johan melihat ponselnya, dan ternyata baterai ponselnya habis. Jihan menjadi semakin panik.
"Apa kamu membawa ponsel mu?" tanya Johan.
"Aku lupa membawanya, ponselku ada di tenda," ucap Jihan.
"Sepertinya kita akan menginap di sini malam ini," ucap Johan.
Jihan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menginap di dalam mobil, bersama dengan Johan, Dia
sudah memastikan tidak akan bisa tertidur malam ini.
Bersambung 💕
__ADS_1
Jangan lupa supportnya ya Bunda-bunda, Kakak-kakak 🙏🥰💖