
Entah bagaimana cara berpikir Vita, setelah melakukan cinta satu malam dengan pria asing, akhirnya pagi ini ia kembali menormalkan dirinya. Ia sudah bertekad untuk mendapatkan Johan, bagaimanapun caranya.
Vita berjalan dengan anggun menuju ruang kerja Johan. Sebagai seorang putri dari orang tua yang berprofesi sebagai seorang dokter hebat, dan memiliki sebuah rumah sakit besar di daerah Jakarta.
Vita tumbuh menjadi anak yang manja, setelah kuliahnya di Amerika selesai, ia tidak bercita-cita menjadi apapun selain memiliki Johan seutuhnya. Terlalu terobsesi meski sudah sering kali di tolak mentah-mentah oleh Johan.
Vita langsung masuk kedalam ruang kerja Johan, meskipun Raksa sudah mengatakan Jika Johan sedang sibuk, tapi Vita bersikeras untuk masuk.
"Maaf tuan, saya sudah melarang nona ini untuk masuk," ucap Raksa.
Johan yang tengah sibuk di depan layar laptopnya, beralih menatap Vita yang masih terdiam seribu bahasa.
"Kamu boleh keluar," ucap Johan pada Raksa.
"Baik tuan," ucap Raksa.
Vita berjalan menghampiri Johan, ia langsung mengambil posisi duduk di hadapan Johan.
"Untuk apa kamu kemari," ucap Johan tanpa menoleh kepada Vita.
"Aku ingin meminta maaf untuk kesalahan ku yang kemarin, dan masalah tujuh tahun lalu, aku juga menyesal telah melakukan semua itu," ucap Vita penuh dusta.
"Aku akan memaafkan kamu jika kamu meminta maaf langsung kepada Jihan," ucap Johan yang kini menoleh kepada Vita.
Ekspresi wajah Vita tiba-tiba berubah, bagaimana mungkin ia meminta maaf kepada wanita yang sangat ia benci, membayangkannya saja membuatnya muak.
"Kenapa? kamu tidak mau," ucap Johan.
"Aku mau, hanya saja aku belum bisa melakukannya sekarang," ucap Vita.
"Jika kamu belum siap ... aku juga belum siap memaafkan kamu, pergilah aku sedang S
sibuk," ucap Johan yang kembali fokus ke layar laptopnya.
Vita mencengkeram erat kedua lututnya, Rasanya ia ingin berteriak sekencang mungkin di hadapan Johan jika ia sangat membenci Jihan. Namun ia berusaha menahannya demi tetap bisa melihat Johan.
~~
Jihan baru saja selesai dengan pekerjaannya, ia merapikan berkas-berkas di hadapannya dan membawanya ke meja pak Kus.
"Ini pak, sudah saya rekap," ucap Jihan.
"Wah Jihan, kamu hebat," ucap pak Kus dengan mata yang tetap fokus ke layar laptopnya.
"Hebat kenapa pak, bapak saja belum memeriksa hasil pekerjaan saya, dan sudah bilang saya hebat,"ujar Jihan.
__ADS_1
"Kamu lihat ini, klien kita yang dari Malaysia kemarin, mengirimkan saya email, dan ia tertarik untuk merekrut kamu di Perusahaannya di Malaysia, dengan posisi yang sangat bagus, dan yang lebih bagusnya lagi, selama bekerja di sana, kamu di fasilitasi apartement dan juga mobil dinas," ujar pak kus dengan menggebu-gebu.
Jihan hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar, Sementara rekannya yang lain, kini sudah berhambur menghapiri meja pak Kus.
"Apa benar yang bapak bilang tadi," ucap Jenny.
"Tentu saja," ucap pak Kus.
"Jika benar, apa kamu akan menerimanya?" tanya Cika pada Jihan.
"Tentu saja terimalah, gaji di Malaysia pasti berlipat-lipat ganda ya kan," ucap Rendy.
"Aku tidak betanya padamu," ucap Cika lalu memukul legan Rendy.
"Aku tidak tahu, aku belum memutuskan apapun, aku juga masih kaget," ucap Jihan tak percaya.
"Mereka masih di Indonesia, dan akan pulang besok. sebelum pulang, mereka ingin bertemu kamu di Restaurant Soka, malam ini," ucap pak Kus.
"Saya takut pergi sendiri," ucap Jihan.
"Jangan takut, aku akan menemani kamu," ucap Malik tiba-tiba.
"Terimakasih," ucap Jihan.
Jika ia ingin, ini adalah salah satu cara untuk keluar dari belenggu cinta Johan, namun rasa tertarik pun tidak ada. Apa Jihan sudah kembali memiliki perasaan kepada Johan.
~~
"Kamu benar tidak mau ku antar pulang," ucap malik yang saat ini sudah berdiri di depan lobby bersama dengan Jihan.
"Iya, tidak perlu, kamu mau menemani aku menemui orang dari Malaysia itu saja aku sudah sangat berterimakasih," ucap Jihan.
"Ya baiklah, aku jemput jam tujuh ya ... sampai jumpa nanti malam," ucap Malik lalu berbalik pergi.
Jihan hendak pergi juga, namun ia baru ingat jika ia lupa mengambil ponselnya di dalam laci meja. Dengan gerakan cepat Jihan berjalan menuju lift, kenapa dia jadi pelupa seperti ini, pikirnya.
Sesampainya di ruangan departemen keuangan, Jihan bergegas menghampiri meja kerjanya, di lihatnya di dalam laci, ponselnya masih ada, untung lah, jihan benar-benar merasa lega.
Jihan kembali berjalan keluar, namun tak sengaja ia berpapasan dengan Johan dan juga Raksa.
"Selamat sore tuan," sapa Jihan sopan saat Johan berhenti di hadapannya.
"Ehm ... apa kamu ada acara malam ini," ucap Johan.
Untuk merayakan keberhasilan Jihan kemarin, Raksa kembali memberikan ide kepada bosnya itu untuk mengajak Jihan makan malam, sebagai hadiah atas keberhasilan Jihan.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya sudah ada janji, permisi," ucap Jihan lalu berjalan dengan langkah seribu, berlama-lama di sana,hanya akan membuat ia terus di tanyai berbagai hal.
Johan masih, diam mematung di tempatnya, ia bahkan belum sempat bicara, Jihan sudah pergi. Raksa yang sedang berdiri di belakang bosnya itu merasa ingin tertawa namun ia kembali mengurungkan niatnya karena jika ia tertawa saat ini, esok ia tidak yakin bisa melihat matahari terbit di pagi hari.
"Maaf tuan, apa tuan akan terus berdiri di sini,"ucap Raksa pelan.
Johan mengembuskan napasnya dengan berat lalu berbalik menatap Raksa.
"Cari tahu, dengan siapa Jihan akan pergi malam ini," ucap Johan kepada Raksa.
"Baik tuan," ucap Raksa.
~~
Malam harinya, Jihan sudah bersiap-siap di depan teras rumahnya, Mela juga ikut menemani Jihan menunggu kedatangan Malik.
Jihan sudah menceritakan tentang perusahaan dari Malaysia yang ingin merekrutnya namun, Mela menyerahkan semua kepada Jihan, karena bagi Mela Jihan lah yang berhak atas hidupnya, Mela hanya merestui saja setiap langkah yang Jihan tempuh.
"Memangnya mereka ingin bertemu jam berapa?" tanya Mela.
"Jam delapan tante," ucap Jihan.
Tak lama terdengar suara klakson mobil yang membuat Jihan dan Miska menoleh kearah halaman depan.
"Itu malik sudah datang," ucap Mela sambil memandangi Malik yang sedang berjalan kearahnya dan Jihan.
"Selamat malam tante," Sapa Malik.
"Selamat malam Malik," ucap Mela.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya tante," ucap Jihan.
"Iya, kalian hati-hati di jalan," ucap Mela.
Jihan dan Malik masuk kedalam mobil, lalu melaju pergi. Saat mobil Malik keluar dari halaman rumah Jihan, sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari halaman rumah Jihan. Dane orang yang ada di dalam mobil itu adalah Raksa yang mendapatkan tugas tambahan sebagai mata-mata.
Melihat Jihan dan Malik pergi, Raksa dengan cepat menghubungi Johan.
"Jihan pergi bersama dengan Malik tuan," ucap Malik pada Johan dari balik telepon.
"Ikuti terus kemanapun mereka pergi," seru Johan dari balik telepon.
Buru-buru Raksa menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas menyusul Jihan dan Malik, jangan sampai ia kehilangan jejak.
Bersambung 💕
__ADS_1