
Kevin kini naik ke atas brangkar dan memeluk Alea dari belakang. "Maafin aku. Ini semua salah aku. Aku yang udah buat kamu kayak gini. Aku tahu kamu capek, kamu lelah, kamu juga ingin istirahat tapi kamu selalu mendahulukan Raffa, Reka, dan aku."
Tangis Alea mulai surut mendapat perlakuan manis dari Kevin.
"Aku mohon jangan bersedih lagi. Jaga kondisi tubuh kamu juga, karena yang bisa merasakan bagaimana tubuh kamu hanya kamu sendiri. Aku hanya bisa membantu sebisa mungkin meringankan beban kamu." lanjut Kevin lagi.
Alea mengusap sisa-sisa air matanya. "Ini semua bukan beban. Aku bahagia menjalani semua ini. Aku hanya shock saja mendengar kabar Reka jadinya aku langsung down."
Alea memutar tubuhnya hingga kini dia terbaring. Dia kembali mengusap perutnya yang sudah tidak terasa kram. "Iya, kamu benar. Kita masih bisa memberikan yang terbaik buat Raffa. Aku juga harus memikirkan kesehatan anak kita yang ada di dalam perut."
Kevin tersenyum lalu mengecup kening Alea. "Kamu segalanya buat aku. Cepat sembuh ya."
Alea menganggukkan kepalanya sambil tersenyun tipis. Dia tahu, di saat dia merasa lelah, ada Kevin tempatnya bersandar. Di saat dia bersedih dan putus asa, akan selalu ada Kevin yang selalu memeluk dan menenangkannya. "Aku cinta sama kamu."
"Aku juga cinta sama kamu. Banget, melebihi apapun." Kevin menggeser dirinya dan turun dari brangkar. "Sebentar aku panggilkan Dokter dulu biar periksa kamu." Kevin menekan tombol emergency dan beberapa saat kemudian Dokter beserta seorang suster masuk ke dalam ruangan Alea.
"Syukurlah, Bu Alea sudah bangun." Dokter itu mulai memeriksa kondisi Alea. "Suhu tubuhnya sudah turun. Tekanan darahnya juga mulai naik." Kemudian Dokter itu sedikit membuka perut Alea untuk memeriksa detak jantung janin yang ada di perut Alea.
Alea dan Kevin tersenyum mendengar suara detak jantung dari calon anaknya itu. Terdengar sangat indah melebihi musik indah apapun.
"Detak jantungnya normal. Bu Alea tidak boleh terlalu stress karena itu sangat berpengaruh pada kehamilan."
"Iya, Dok. Kapan saya boleh pulang? Soalnya saya juga masih punya bayi yang harus dijaga."
"Kita pantau sehari ini. Kalau semakin membaik, ibu nanti sore sudah boleh pulang."
"Iya Dok, terima kasih."
Setelah itu, Dokter dan suster itu keluar dari ruangan Alea.
"Kev, aku lapar."
"Ini ada roti, kamu makan ya." Kevin membuka roti sandwich itu lalu diberikan untuk Alea. "Ini masih jam 5, sarapan kamu diantar nanti jam 7. Tapi kalau kamu mau sesuatu aku bisa belikan."
Alea menggelengkan kepalanya. "Makan ini saja."
Kemudian Kevin membungkukkan dirinya dan menciumi perut Alea. "Sehat-sehat ya sayang. Jadi anak yang kuat ya..."
...***...
"Ayah, Mama kok gak ke sini?" tanya Reka di pagi hari itu setelah selesai sarapan.
"Mama lagi sakit. Mama juga dirawat di ruang sebelah," jelas Niko.
__ADS_1
"Mama sakit apa?" tanya Reka. Dia menjadi khawatir dengan mamanya. Dia paling tidak bisa melihat mamanya sakit.
"Kayaknya Mama kecapekan. Reka sama Ayah saja ya, yang pintar. Bunda juga masih jaga Raffa." Niko mengusap rambut Reka.
"Ayah, Reka mau lihat Mama. Kita ke ruangan Mama ya?" ajak Reka.
"Kaki Reka masih sakit gak?" tanya Niko. Dia melihat bengkak di kaki Reka sudah mengecil.
Reka menggelengkan kepalanya. "Tapi masih sakit kalau digerakkan. Reka masih takut mau jalan."
Niko berdiri dan mengambil cairan infus Reka. "Ayo, Ayah gendong."
Setelah menggendong Reka, Niko berjalan menuju ruangan Alea. Karena dia mengerti baik Reka maupun Alea pasti saling membutuhkan dan ingin bertemu.
"Mama..." panggil Reka saat sampai di ruangan Alea.
Alea yang baru saja selesai makan, dia kini tersenyum sumringah melihat kedatangan Reka. "Reka, duduk sini sayang. Mama baru saja minta sama Papa untuk antar Mama ketemu Reka. Ternyata Reka sudah ke sini duluan."
Niko menurunkan Reka di sebelah Alea lalu menggantung kembali cairan infus Reka pada tiang penyangga.
"Mama sakit? Sakit apa? Reka gak mau Mama sakit." tanya Reka sambil setengah memeluk Alea.
"Iya, tapi sekarang Mama sudah sembuh. Maaf ya, Mama gak bisa nemenin Reka."
"Gak papa, Ma. Ada Ayah yang nemenin Reka."
"Bulan madu kamu jadi berantakan gini. Sabar ya." Kevin menepuk bahu Niko.
Niko tersenyum masam. "Aku niatnya mau bahagiakan Reka tapi malah kayak gini."
"Namanya kecelakaan, kita gak pernah menduga. Ya, kayak yang terjadi sama Alea semalam. Aku takut sekali kehilangan Alea." Kevin menghela napas panjang saat mengingat kejadian semalam.
"Tapi sekarang semua sehat kan?"
"Iya, syukurlah Alea wanita yang kuat. Dia bisa melalui ini semua."
"Masih mau nambah anak lagi?" ledek Niko, yang sebenarnya dia iri pada Kevin.
"Masih. Tapi kali ini aku kasih jarak," jawab Kevin sambil tersenyum penuh arti.
"Astaga. Aku aja jadi sekali sama Luna langsung gagal. Lah, ini anak masih juga dalam perut udah punya rencana lagi."
Kevin kembali tertawa. "Biar semangat hidup dan bekerja. Tenang aja, sebentar lagi kamu pasti juga akan dapat gantinya."
__ADS_1
"Amin..."
...***...
Setelah dua hari dirawat, Reka sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka semua akhirnya bisa pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Alea langsung merebahkan dirinya di tempat tidur bersama Raffa.
"Raffa, akhirnya kita tidur di rumah."
Raffa si bayi anteng yang jarang rewel itu tertawa dengan ceria seolah ikut senang sudah sampai di rumah. Dia kini sudah bisa memiringkan dirinya dan tengkurap.
"Raffa makin pintar aja tengkurapnya."
Raffa masih saja tertawa dan memainkan kakinya sambil tengkurap sampai badannya ikut tergerak maju.
Kevin yang baru saja masuk kamar, ikut tersenyum melihat kehebohan Raffa dan Alea.
"Duh, Raffa udah gak sabar mau merangkak ya." Kevin duduk di sebelah Alea dan ikut menggoda Raffa.
Raffa hanya menjawabnya dengan senyum ceria.
"Gemes banget sih pipinya." Kevin mencubit pelan pipi chubby Raffa.
Tapi kali ini ekspresi yang ditunjukkan Raffa justru lain. Tiba-tiba dia menangis.
"Eh, dicubit dikit langsung nangis, duh manja."
"Cup! Cup! Papa nakal ya sayang." Alea membaringkan Raffa lalu mulai me nyu suinya.
"Loh, sayang udah gak kram?" Kevin setengah berbaring di belakang Alea dengan kepala yang dia tahan dengan tangan.
"Tadi aku coba udah gak. Sekarang juga gak. Syukurlah, Raffa bisa minum ASI lagi."
Kevin tersenyum lalu mengecup pipi Alea. "Kamu wanita hebat. Jangan sampai stress lagi ya. Kalau kamu merasa lelah, bilang sama aku. Ada aku yang akan selalu meringankan beban kamu."
"Iya, makasih kamu selalu ada buat aku."
"Pasti, aku akan selalu ada buat kamu..."
💞💞💞
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen..