
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang," ujar Raksa pada Kinan.
Kinan terkejut karena Raksa nampak marah padanya padahal tadi Raksa berjanji tidak akan marah. Raksa mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar tidak habis pikir karena Kinan menyembunyikan hal sebesar ini.
"Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahu kamu, karena Jihan meminta ku untuk merahasiakannya, Jihan adalah sahabat ku, dan aku harus membantunya," tutur Kinan dengan suara yang mulai bergetar.
Kinan nampak sudah akan menangis, ia tidak tahu jika bungkamnya akan menimbulkan masalah yang begitu besar. Melihat Kinan seperti itu, tentu saja Raksa tidak tinggal diam ia beralih duduk disamping kinan dan langsung merangkul dan menenangkannya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyalahkan mu, tapi kenapa sekarang kamu memutuskan untuk mengatakan hal ini," ujar Raksa sambil menepuk-nepuk punggung Kinan.
"Karena kak Johan tidak jadi menikah, jadi aku pikir ia harus tahu di mana keberadaan Jihan sekarang," tutur Kinan sesegukan.
Raksa berdiri dari posisinya, ia baru ingat, seharusnya iya memberitahu Johan sekarang. Johan pasti sangat senang jika mengetahui keberadaan Jihan saat ini.
"Kenapa?" tanya kinan saat kaget dengan gerakan tiba-tiba Kinan.
"Aku harus memberitahu Tuan Johan sekarang," jawab Raksa yang terlihat begitu antusias.
"Kamu benar, cepat telpon kak Johan," ujar Kinan.
~
Johan sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang,ia menatap nanar langit-langit kamar tidurnya. Ia mencoba memejamkan mata, namun nampaknya pikirannya sedang tidak bersahabat, ia terus saja membayangkan wajah Jihan dan Jihan lagi.
Tak lama dering ponsel membuyarkan lamunannya, di lihatnya layar ponsel yang terpampang pangilan masuk dari Johan. Ia merasa heran karena tidak biasanya Raksa menelponnya saat saat tidak bekerja. dengan malas Johan menerima panggilan masuk itu.
[Kenapa?]
[Tuan, saya sudah mengetahui keberadaan Jihan]
__ADS_1
Seketika Johan langsung bangkit dari posisinya. Johan berharap ia benar-benar tidak salah dengar, Johan kembali memperjelas apa yang di ucapkan Raksa tadi.
[Kamu benar-benar mengetahui keberadaan Jihan?]
[Iya tuan, akan saya beritahu alamatnya melalui pesan]
[Bagus, cepat kirimkan padaku alamatnya]
Johan mematikan panggilan telepon itu, ia langsung beranjak dari ranjang untuk berganti pakaian. Akhirnya ia bisa bertemu Jihan lagi setelah hampir satu bulan, mereka tidak bertemu.
Johan meraih kunci mobilnya, dan berjalan keluar dari kamar. Saat turun ke lantai bawah, ia tidak sengaja berpapasan dengan sang ibu, yang hendak pergi ke dapur. Sontak saja Johan langsung menghentikan langkahnya.
"Jo kamu mau kemana?" tanya Maria pada anaknya.
Johan menghentikan langkahnya, memandang Ibu dan sang Ayah sedang duduk di sofa ruang keluarga. Dia mendekat untuk dan langsung bersikap di hadapannya kedua orangtuanya.
"Ayah, Ibu. Aku mohon restui aku. Hari ini juga aku akan menjemput Jihan. Aku sangat mencintainya Ayah, Ibu."
Ayah terlihat berpikir sebentar, hingga tangannya bergerak menepuk pundak Johan. "Ya, baiklah. Kejar cintamu Johan. Ayah benar-benar menyesal karena sudah memaksa kamu menikmati dengan Vita. Sekarang Ayah serahkan semuanya kepada kamu, jika memang kamu mencintai dia, pergilah, bawa dia kembali kehadapan kami."
Johan tidak menyangkut akan mendapatkan restu itu. "Terima kasih Ayah, Ibu. Kalau begitu aku pergi dulu." Tanpa menunda waktu dia bergegas meninggalkan ruangan itu.
~
Pagi ini Jihan terbangun dengan suasana hati yang masih sama. Hampa dan seolah kehilangan harapan. Sudah cukup lama dia di desa namun waktu itu tidak cukup untuk menghilangkan perasaan dihatinya.
Cukup lama dia duduk termenung di tepi ranjang sampai akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Sesampainya di ruang tamu dia menghentikan langkahnya ketika dari kejauhan melihat sosok seorang lelaki yang selama ini dia rindukan.
Saking tidak percayanya Jihan sampai mengucap-ucap matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat dan itu benar-benar Johan.
__ADS_1
Terlihat sang tante dan juga Nino sudah berada di sana mengobrol akrab dengan Johan dan Saat itu pula Jihan sadar Jika dia sedang tidak berhalusinasi. "Kak Jo?"
"Jihan?" Johan segera berdiri dari posisinya. Dia mendekat dan langsung memeluk Jihan dengan erat. "Sudah begitu lama aku mencarimu, dan akhirnya aku menemukan kamu kembali."
Jihan melepaskan pelukan itu secara paksa. "Kenapa Kakak kesini, bukannya kakak sudah menikah kemarin? Aku mohon pergilah jangan ganggu aku!"
"Jihan,jangan seperti itu. Johan sudah menjelaskan semuanya dan dia tidak jadi menikah," ujar Tante.
"Benar itu, Kak Joham kesini mau jemput Kakak," sambung Nino.
"Benarkah?" tanya Jiham tak percaya.
Johan segera bersimpuh di hadapan Jihan sambil mengeluarkan sebuah cincin dari dalam saku celananya. "Untuk waktu yang teebuang sia-sia, untuk semua kesalahanku kepadamu, dan untuk semua kesedihan yang telah aku torehkan. Jihan, aku mohon berikan aku kesempatan, Will you marry me?"
Jihan baru saja terbangun dari tidurnya dan dia masih menyangkai sebuah sel hanya mimpi. "Aw sakit," keluhnya saat mencubit pipinya sendiri, itu berarti dia sedang tidak bermimpi.
Sebelum menjawab, Jihan masih sempat melihat kearah Nino dan Tante Mela. Kedua Ibu dan anak itu menganggukan kepalanya, seolah meminta Jihan untuk segera menjawab, iya.
Jihan pun kembali melihat Joham yang masih bediam di sana. Tak terasa, air matanya tumpah begitu saja. "Hm, yes I Will."
Johan pun tak luput dari rasa haru, setelah selesai memasangkan cincin yang sudah lama dia persiapkan, dia kembali berdiri dan langsung memeluk Jihan.
Kisah mereka mengajarkan kita bahwa, sejauh apapun kita terpisah dan sepedih apapun cobaan yang datang menerjang, jika memang ditakdirkan berjodoh pasti akan bersatu juga.
Tamat.
Thanks for reading, Author sangat be removed berterimakasih karena sudah membaca kisah ini, huhu.
Jangan lupa mampir ke novel terbaru author yang akan update rutin setiap hari.
__ADS_1
Judul After One Night Mistake.
Yuk cek profil Author, terima kasih 😘