Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.68


__ADS_3

Jihan baru saja tiba di kampung halamannya, sebentar lagi ia akan sampai di rumah, semakin masuk kedalam perkampungan, pemandangan yang di sajikan pun semakin indah, sawah-sawah yang nampak hijau, dan para petani yang sedang sibuk di landang mereka masing-masing.


Mobil travel itu memasuki area halaman rumah Jihan, terlihat Nino yang sedang bermain di halaman depan, nampak kebingungan. Jihan keluar dari dalam mobil dan melambaikan tangannya kepada Nino.


Nino berdiri dari posisinya dan menghapiri Jihan. Ia memeluk Jihan bahkan tanpa Jihan minta.


"Ma, kak Jihan datang ma!" teriak Nino memanggil Mela.


Pak supir membantu menurunkan barang-barang Jihan, kemudian meletakkannya di teras rumah. Tak lam mela muncul dari dalam rumah bersama bi Siti.


Bu siti seorang janda tua tanpa anak adalah kakak tertua dari Mela. semenjak kedua orang tua Jihan meninggal, bi Siti memutuskan untuk pindah ke rumah Jihan dan mengurusi sawah milik orang tua Jihan.


Jihan tersenyum saat melihat Mela dan bi siti


muncul dari dalam rumah, ternyata masih ada kebahagiaan kecil yang menantinya di rumah. Meskipun hatinya masih saja terluka karena masalah pribadinya sendiri.


Mela dan siti berhambur memeluk Jihan yang baru saja tiba. Terutama bi siti yang sudah lama tidak bertemu dengan Jihan. Seharusnya Jihan pulang kampung empat hari lagi, Mela pun langsung menanyakan hal itu kepada Jihan.


"Loh katanya mau pulang sehari sebelum ziarah makam," ujar Mela.


"Nanti akan aku ceritakan alasannya Tante" tutur Jihan


"Kakak Jihan tidak membawakan aku oleh-oleh?" tanya Nino tiba-tiba.


"Oh kakak lupa, nanti kita belanja di warung saja ya," ujar Jihan.


"Ya ... kak Jihan tidak seru ah," keluh Nino.


"Sudahlah, ayo kita masuk dulu," ajak bi siti


Jihan, dan Mela, bi Siti dan Nino masuk kedalam rumah. Sesampainya di dalam suasana rumah yang begitu tenang membuat Jihan bisa lebih tenang.


Meskipun kecil dan sederhana, rumah ini adalah tempat ternyaman yang ia punya. satu-satunya peninggalan dari kedua orangtuanya.


Jihan masuk kedalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hanya muat satu orang saja, ia baru saja tiba di kampung tapi ia sudah merundukan pekerjaannya, rekan-rekannya dan sepertinya ia juga merindukanya Johan.


Saat bayangan kejadian malam itu kembali muncul, buru-buru Jihan menggelengkan kepalanya, membuang semua bayangan-bayangan itu dari kepalanya. Jihan berajak dari posisinya dan membuka kopernya untuk mengeluarkan pakaiannya dan akan di letakkan ke dalam lemari.

__ADS_1


Mela masuk kedalam kamar Jihan. dengan sebuah nampan berisi pisang goreng dan juga teh untuk Jihan. Mela meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu menghapiri Jihan yang sedang membereskan pakaiannya.


"Kok banyak sekali pakain yang kamu bawa?" tanya Mela saat melihat isi koper Jihan yang begitu banyak.


"Ah ini ... aku mungkin akan tinggal lebih lama di sini," jawab Jihan.


"Kenapa? bukannya kamu bekerja," ujar Mela bingung.


"A- aku memutuskan untuk berhenti Tante, aku tidak bisa bekerja di tempat itu lagi," ujar Jihan dengan suara bergetar.


Mela duduk di samping Jihan, ia penasaran kenapa Jihan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya padahal Jihan baru dua bulan bekerja.


Mela menatap Jihan dengan intens, ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari wajah keponakannya itu.


"Kamu kenapa Jihan, cerita sama Tante?" tanya Mela.


Jihan menoleh kearah Mela, dengan raut wajah sendunya. Ia terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Mela sekarang haruskah ia menceritakan semuanya kepada Mela.


Ya ia pasti akan merasa lega jika telah menceritakan semuanya kepada Mela, ah tidak kecuali bagian yang itu, bagian di mana Jihan dan Johan menghabiskan malam panas bersama, Jihan tidak akan menceritakan tentang itu.


"Aku tidak bisa kembali ke sana, karena aku mencintai seseorang yang sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain," ujar Jihan ragu-ragu.


"Maksud kamu, Johan?" tanya Mela memastikan.


Jihan hanya bisa mengangguk, dadanya begitu sesak saat mendengar Mela menyebutkan nama Johan, ia mencintai pria itu, baik dulu ataupun sekarang, ia hanya mencintai Johan. Tapi kenapa takdir tak pernah berpihak kepadanya, bahkan setelah malam itu ia masih saja harus lari.


"Sebenarnya, Kak Johan adalah mantan kekasih ku semasa SMA dulu, dia memutuskan hubungan kami tujuh tahun yang lalu, dan sekarang ia kembali datang, sialnya aku masih saja mencintai dia meskipun hubungan kami tidak mungkin bersatu Tante," ucap Jihan lalu kembali terisak.


"Ternyata pria yang membuat kamu menangis tujuh tahun yang lalu, adalah Johan, begitu,?" tanya Mela.


"Iya Tante," ucap Jihan yang sudah berderai air mata.


Mela membawa Jihan kedalam pelukannya, ia seakan kembali ke masa lalu di mana pernah memeluk Jihan dalam kondisi yang sama dan ternyata menangisi pria yang sama pula.


Waktu itu Jihan masih sangat muda dan Mela mengerti itu, anak ABG yang sedang jatuh dan putus Cinta sudah pasti terjadi dalam suatu hubungan anak seumuran Jihan waktu itu. Namun saat ini, Mela tidak bisa mengerti kenapa Johan memberikan harapan jika sudah memiliki wanita lain yang akan menjadi pendampingnya.


"Kenapa dia memberikan harapan jika akhirnya akan seperti ini," ucap Mela yang masih memeluk Jihan.

__ADS_1


"Dia di jodohkan oleh kedua orang tuanya, aku tahu derajat kami memang berbeda, untuk itu aku pergi," ujar Jihan.


"Sudah jangan menangis lagi, masih banyak pria yang lebih baik di dunia ini, kamu tidak perlu menangisinya lagi, tante dan ayah Nino sudah lama berpisah, lihatlah Tante sekarang, tante tidak lagi sedih, tante sudah mengikhlaskannya. Kamu hanya perlu ikhlas saja maka luka itu akan sembuh dengan sendirinya," tutur Mela.


Pintu kamar Jihan terbuka dan ternyata orang yang membuka pintu adalah bi Siti. Bu Siti mengeryitkan dahinya saat mendapati Jihan dan Mela sedang berpelukan dengan Jihan yang menangis di dalam pelukan Mela.


"Ada apa ini," ucap bi Siti dengan wajah bingungnya.


Mela melepaskan pelukannya dari Jihan, kemudian menoleh kearah bi Siti yang masih diam terpaku di ambang pintu. Mela beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri bi Siti.


"Biarkan jihan istirahat dulu mbak, akan aku ceritakan di luar saja, ayo," ajak Mela.


"Baiklah, ayo," ucap bi siti lalu mengikuti langkah Mela, tak lupa ia menutup pintu kamar Jihan.


~~


Vita kini sedang berada di rumah kedua orang tuanya, ia akan mulai menjalankan rencananya. dengan deraian air mata Vita terduduk di hadapan kedua orangtuanya.


"Vita Katakan, kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya mama Vita.


"Iya Vita, jangan membuat kami bingung," ucap papa Vita.


Vita menegakkan kepalanya dan menatap kedua orang tuanya yang kini berada di hadapannya. akting Vita benar-benar luar biasa, ia menangis bak orang yang sedang begitu tersakiti.


"Aku hamil ma, pa," ucap Vita pada akhirnya.


Kedua orang tua Vita nampak sangat terkejut. Papa Vita langsung berdiri dari posisinya dan menghampiri Vita, ia duduk di samping anaknya itu dan menatap dalam-dalam mata Vita.


"Katakan pada papa, siapa ... siapa laki-laki itu,. katakan!" ucap papa Vita dengan suara yang sudah meninggi.


"Jo-johan pa, Johan," ucap Vita sambil terisak-isak.


"Kurang ajar! dia bahkan tidak pernah menganggap kamu calon istrinya tapi dia malah menghamili kamu," tutur papa Vita kesal.


Vita tak menjawab apapun, ia hanya fokus pada akting menangis nya. Wajahnya nampak sedih, namun hatinya bersorak gembira, ia berpikir rencananya ini pasti akan berhasil.


"Ternyata ada gunanya juga kamu ada di rahimku, Haha ... sebentar lagi aku akan memiliki kamu, aku yakin kedua orang tua mu akan lebih percaya padaku," ucap Vita dalam hati.

__ADS_1


Vita benar-benar sudah buta karena obsesinya kepada Johan, jika di suruh memilih antara mati atau hidup tanpa Johan, ia pasti lebih memilih untuk mati saja.


Bersambung 💕


__ADS_2