Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.15


__ADS_3

Sesampainya di ruangan, jihan langsung meraih ponselnya, dan mengikuti langkah johan masuk ke ruang kerja Johan. Ruangan Sekertaris dan CEO di pisahkan satu tembok saja.


Johan langsung duduk di kursi kebesarannya, sementara Jihan masih diam mematung di hadapan Johan.


"Tunggu apa lagi, cepat bacakan jadwalku," ucap johan, membuat jihan terperanjat kaget.


Jihan mulai membacakan jadwal johan dari pagi hingga sore, secara detail, sesuai dengan yang Tama kirimkan padanya. Setelah selesai Jihan hendak pamit untuk kembali ke meja kerjanya, namun Johan langsung bersuara, mencegah Jihan untuk keluar.


"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan," ucap Jihan.


Johan berjalan mendekati Jihan, sekarang mereka saling berhadapan, jarak mereka hanya tersisa setengah meter saja, johan melihat penampilan jihan dari ujung kaki hingga ujung kepala, penampilan Jihan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya.


Pakaian yang Jihan pakai hari ini masih tertutup namun cukup ketat, hingga membuat lekuk tubuh indahnya lebih terlihat, dan Johan menyadari itu.


"Apa kamu berniat menggoda ku," ucap Johan.


"Apa!" ucap Jihan tak percaya dengan yang Johan ucapkan.


"Aku tahu kamu berusaha menggodaku kan, dengan pakaian seperti ini," ucap Johan.


"Maaf tuan ... pakaian ini masih tertutup, hanya sedikit ketat saja, tapi saya tidak ada maksud untuk menggoda anda, jika tuan tergoda, itu salah tuan sendiri," ucap Jihan yang sudah tidak bisa menahan Emosinya, bisa-bisanya Johan berfikir seperti itu.


"Saya keluar dulu, permisi," ucap Jihan namun lagi-lagi Johan mencegahnya, kali ini johan Menarik tangan Jihan, hingga tubuh jihan menempel padanya, Johan Melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Jihan.


Tak ada jarak antara mereka, pandangan mereka saling beradu. Tubuh jihan terasa kaku, sentuhan ini, deru nafas ini, sudah lama sekali sejak terakhir ia merasakannya.


Sementara Johan malah fokus pada bibir Jihan yang dulu selalu membuatnya candu, ciuman pertama mereka semasa SMA, seakan ada magnet yang membuat ia menginginkannya lagi setelah sekian lama.


Sejak putus dari Jihan ia tak punya keinginan untuk memulai hubungan dengan wanita lain, bahkan Vita yang jelas-jelas mengejarnya.


Sampai akhirnya Johan mampu menguasai diri, ia menjauhkan jihan dari tubuhnya.


"Keluar dari sini!" seru Johan.


Jihan yang juga masih syok, tak bisa berkata-kata, ia langsung berjalan dengan cepat keluar dari ruang kerja Johan. Johan mengusap wajahnya dengan kasar, ia menyesali apa yang tadi hampir ia lakukan.


"Hampir saja ... sebenarnya apa yang aku inginkan tadi, itu tidak benar, aku tidak boleh tergoda lagi oleh wanita rendahan Sepertinya" gumam Johan.


Niatnya untuk membuat jihan tidak betah bekerja di perusahaannya, namun sepertinya Johan malah terjebak di lubang yang ia buat sendiri. Apa Rasa itu masih tersisa hingga membuat pikiran dan perasaannya tak berjalan.


Sementara di luar, Jihan duduk di belakang mejanya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia membenci sisi dirinya saat ini, sisi dimana ia masih saja lemah saat merasakan sentuhan itu.


Jihan fikir seiring berjalannya waktu semuanya akan seratus persen berubah, namun sepertinya semua masih sama, tubuhnya masih memberikan reaksi terhadap sentuhan Johan.


"Anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi ... tidak pernah ... tidak pernah," ucap Jihan berulang kali.

__ADS_1


~


Jam menunjukkan pukul lima sore, namun sepertinya jihan harus pulang malam karena harus ikut dengan johan ke sebuah restaurant untuk menghadiri meting , sekaligus jamuan makan malam dengan salah satu tekan bisnis sekaligus temannya semasa kuliah di amerika.


Setelah kejadian tadi, baik Jihan maupun Johan, mereka sama-sama bersikap senormal, dan setenang mungkin, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Johan berjalan dengan gagah, sementara jihan berjalan cukup sulit, karena johan menyuruhnya untuk membawa setumpuk berkas yang tingginya melampaui tinggi badannya.


Padahal Johan tidak membutuhkan berkas-berkas itu, ia hanya ingin mengerjai Jihan saja. Jihan bisa merasa lega saat berkas-berkas itu kini sudah berpindah ke bagasi mobil.


Belum sampai di situ saja, Johan kembali memberikannya tugas yang membuatnya kembali tercengang.


"Kamu bisa menyetir kan?" tanya Johan.


"Bukannya kita di antarkan supir ... saya hanya bisa mengendarai mobil sedikit, tapi belum ahli bahkan saya belum punya SIM," ujar Jihan.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu yang menyetir," perintah johan tak mau di bantah, Johan mengulurkan tangannya, dengan kunci mobil yang tergantung di jarinya.


Jihan meraih kunci mobil dari tangan Johan, melangkah masuk kedalam mobil, di ikuti oleh Johan yang duduk di belakang. Jihan sudah seperti supir pribadinya saja.


Sepanjang perjalanan jihan hanya mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah, yang jihan ingat terakhir kali ia menyetir mobil, saat ia bekerja di sebuah minimarket, jihan belajar mengemudikan mobil untuk mengangkut stok barang.


Johan mulai bosan, karena mobil yang di kendarai Jihan berjalan seperti keong, "Kamu bisa lebih cepat sedikit tidak!"


"Saya kan sudah bilang, saya tidak lancar mengemudikan mobil," ujar Jihan yang masih fokus Melihat jalanan.


Mobil itu kini sudah menepi, Johan keluar dari dalam mobil, sementara jihan masih diam di posisinya.


" Minggir!" seru Johan.


Jihan membuka sabuk pengaman yang ia kenakan, kemudian beranjak turun. Johan akan mengambil alih kemudinya, ia sudah tidak tahan lagi dengan cara menyetir Jihan, jika terus seperti tadi, mereka akan telat menghadiri metting.


Johan langsung masuk dan duduk di kursi kemudi, sementara jihan masuk dan duduk di kursi belakang. Johan berbalik menatap jihan yang sudah duduk manis di kursi penumpang.


"Kenapa kamu duduk di situ!" ucap johan kesal.


"Lalu dimana saya harus duduk?" tanya Jihan.


"Di depan, kamu fikir aku ini Supir kamu, cepat pindah kedepan," ujar Johan.


Dengan berat hati jihan langsung pindah, duduk di samping Johan, karena kejadian tadi, ia masih takut terlalu dekat dengan Johan.


~


Perjalanan menjadi lancar karena pengemudi mobil yang ahli. Jihan dan Johan kini sudah sampai di sebuah restaurant bintang lima tempat metting bersama rekan bisnis barunya. saat masuk kedalam, sudah ada p-elayan yang menunggu mereka dan mengantarkan mereka menuju ruangan VIP.

__ADS_1


"Selamat datang teman ku," ucap Agus, menyambut kedatangan johan, menjabat tangan teman lamanya itu.


"Sudah lama sekali ya," ucap Johan.


"Iya, terakhir bertemu waktu di kampus kita dulu, saat mengetahui kepulangan mu, aku langsung meminta seketaris ku untuk mengatur waktu untuk membahas bisnis baru kita," ujar Agus.


"Ini siapa?" tanya Agus.


"Dia sekretaris ku," ucap Johan.


"Selamat malam tuan Agus" ucap jihan sambil mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Agus.


"Wah, kamu memang pintar memilih wanita ya, Haha," ujar Agus lalu terkekeh sendiri.


Agus langsung terseyum sumbringah saat istrinya yang tadi pergi ke toilet, kini sudah kembali ke ruangan VIP itu, Agus langsung merangkul sang kekasih dan memperkenalkannya kepada Jihan dan Johan.


"Sayang ... perkenalkan ini Teman kuliah ku di amerika, namanya Johan dan ini sekretarisnya Jihan," ujar Agus.


"Saya Hana, senang bisa bertemu kalian," ucap Hana saat menjabat tangan Jihan dan Johan secara bergantian.


"Ayo silahkan duduk," ajak Agus.


Setelah mengobrol sebentar tentang kerjasama antara perusahaan mereka, akhirnya makanan yang sudah di pesan agus datang juga, makanan khas Indonesia adalah menu yang di pilih Agus.


Agus tahu Johan pasti sangat merindukan makanan khas tanah air, karena semenjak di Amerika, Johan sangat jarang menemukan makanan Indonesia.


"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Agus pada Johan.


"Enak sekali, kamu memang sangat mengerti selera ku," ucap Johan setelah selesai mengunyah makanannya.


"Tentu saja ... hanya satu yang tidak aku mengerti, yaitu selera wanita kamu seperti apa, selama empat tahun kuliah bersama, aku belum pernah menemukan kamu berkencan dengan wanita manapun di California," ujar agus.


Johan sudah selesai dengan makanannya, ia meneguk habis air putih yang ada di tangannya. Mendengar ucapan Agus, bukan hanya johan yang terkejut, tapi jihan juga begitu, tapi Jihan memilih untuk pura-pura tidak dengar saja.


"Belum ada yang cocok saja," ucap johan singkat.


"Tapi kamu pernah berpacaran kan?" tanya Agus membuat Jihan melirik ke arah Johan yang duduk di hadapannya.


"Pernah, tapi aku di khianati ... dia memutuskan hubungan kami secara sepihak karena dia memiliki pria lain," ujar Johan sambil menatap jihan yang duduk di hadapannya.


"Wah ... aku jadi penasaran siapa wanita itu," ucap Hana.


"Dia masih ada di sekeliling ku," ungkap Johan.


"Pfuuuttt uhuk uhuk." Jihan yang sedang meneguk minumannya, langsung tersedak.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2