
Menjelang pagi, Jihan sudah bangun dari tidurnya, ia melihat notifikasi di layar ponselnya, ada pesan masuk . Siapa lagi kalau bukan Dari Johan.
[ Hari ini kamu tidak perlu masuk kerja, tenangkan dirimu dulu, aku akan datang sore nanti sepulang berkeja, sampai jumpa]
Jihan membaca isi pesan itu, saat menerima pesan seperti ini, jihan kembali mengingat masa lalu, dimana saat itu belum ada istilah voice note atau video call.
Dulu ia dan Johan begitu sering berkirim pesan, kadang ia sampai harus menghabiskan uang jajannya untuk membeli pulsa. Jaman semakin modern dengan peningkatan perkembangan teknologi yang semakin mumpuni.
Dalam kehidupan sehari-hari pun semua serba mengadalkan teknologi. Manusia seakan sudah ketergantungan hingga lupa bergantung pada diri sendiri.
Surat menyurat, tentu saja sudah tidak berlaku di era ini apa lagi berkunjung ke rumah kerabat untuk sekedar silaturahmi. Aplikasi tatap muka pun kini menjadi pilihan untuk bersilaturahmi secara Virtual.
Begitu juga yang di rasakan Jihan kini, masa SMA yang tersimpan dalam memori begitu membekas sampai kini. Apalagi masa betemu cinta pertama hingga di tinggal pergi.
Tujuh tahun berlalu, bukan hanya bumi yang semakin tua tapi juga mahluk di dalamnya. Tak Jihan sangka akan di umur yang menginjak 25 tahun, ia akan bertemu dengan cinta pertamanya, mantan terindah yang tidak pernah tergantikan. Di saat ia mencoba menjauh namun Tuhan seolah malah semakin mendekatkan.
~
Lama Jihan larut dalam kenangan hingga tak sadar fajar sudah menjelang. Jihan bangkit dari tempat tidurnya. Ia ingin mandi, namun Kinan belum datang membawakan pakaian untuknya. Akhirnya Jihan memutuskan untuk cuci muka saja.
Jihan melangkah keluar dari kamar. Ia membuka pintu kamar tempat mela tidur, terlihat Mela dan Nino masih terlelap di bawah selimut. Jihan kembali menutup pintu itu secara perlahan. Ia tahu Mela dan Nino pasti kelelahan karena peristiwa kemarin.
Setelah menutup pintu kamar itu kembali, Jihan berjalan menuju dapur. Di bukanya kulkas dan tidak ada apapun di sana. Jihan kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket dan dompetnya. Ia berharap semoga saja ada toserba yang biasanya buka 24 jam di dekat sini, maklum ini masih jam 6 pagi.
Jihan membuka pintu dan hendak keluar, namun Johan tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Astaga," ucap Jihan kaget.
"Kamu mau kemana?" tanya Johan.
"Mau mencari toserba, kenapa kamu datang, ini kan masih pagi, bukannya kamu bilang akan kemari sepulang kerja," tutur Jihan.
"Hehe, aku berubah pikiran. Kamu bilang mau ke toserba, ayo aku antar," pinta Johan.
"Ehm, Ya ... baiklah, memangnya di sekitar sini ada?" tanya Jihan dengan begitu kaku.
__ADS_1
"Ada, ayo ikut aku," kata Johan sambil meraih tangan Jihan.
Sontak Jihan langsung menarik kembali tangannya, Johan suka sekali memberikan reaksi tiba-tiba seperti itu.
"Tidak perlu pegang-pegang segala, aku bisa jalan sendiri," ujar Jihan kesal.
"Maaf," ucap Johan sambil mengangkat kedua tangannya.
Jihan melangkahkan kakinya mendahului Johan, Johan pun langsung menyusul Jihan agar bisa berjalan beriringan dengan gadis pujaannya itu.
~
Sesampainya di toserba, Jihan lansung mengambil troli untuk menaruh barang-barangnya nanti, sementara Johan hanya mengikuti dari belakang. Berbelanja itu memang keahlian perempuan kan.
Jihan mendorong troli itu menuju rak-rak yang ada di toserba, mengambil satu bungkus roti tawar, dan Johan menambahnya menjadi dua Jihan mengambil satu pack sosis, Johan menambahkannya lagi menjadi dua pack, lalu Jihan mengambil satu box telur, Johan lagi dan lagi menambahnya menjadi dua box.
Jihan menatap tajam kearah Johan, ia geram karena Johan terus menambah barang belanjaannya.
"Kenapa di tambah lagi?" tanya Jihan kesal.
"Ya terserah kamu saja, asal kamu yang membayar ini semua," ujar Jihan kesal.
"Wah ... kamu meragukan ku, seisi toseba berserta tempatnya akan aku belikan untuk mu," ujar Johan yang juga ikut kesal.
Jihan tak lagi mau meladeni Johan, ia melanjutkan langkahnya untuk mencari beberapa bahan makanan yang belum ia beli. Perdebatan kecil antara mereka tadi, sudah seperti perdebatan seorang pasangan suami istri bukan.
Setelah selesai berbelanja, Jihan dan Johan kembali pulang ke apartemen. waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Jihan Bergegas berjalan menuju pintu dan menekan kode kunci, yang tentu saja adalah tanggal dan tahun kelahirannya.
Johan terseyum lebar saat melihat Jihan menekan kode pintu, "Ternyata kamu masih ingat, kodenya."
"Bagaimana aku bisa lupa jika kode yang kamu buat itu tanggal dan tahun kelahiran ku," ucap Jihan kesal, lalu membuka pintu untuk masuk kedalam.
Jihan meletakkan semua barang belanjaannya di atas mej kitchen set mewah itu. Jihan akan membuat sarapan yang cepat jadi saja, karena Johan harus segera berangkat bekerja. Sudah seperti istri benaran saja.
Tak butuh waktu lama satu piring besar berisi sandwich sudah selesai dan tinggal di hidangkan saja.
__ADS_1
Johan sudah duduk di kursi meja makan, ia sudah tidak sabar untuk sarapan bersama Jihan. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Mela dan Nino sudah bagun. Nino nampak bersemangat saat melihat kedatangan Johan pagi ini.
"Tuan, kapan datangnya?" tanya Nino yang kini sudah menghampiri Johan di meja makan.
"Baru saja, ayo sarapan bersama," pinta Johan.
"Selamat pagi Johan" ucap Mela yang pagi ini sudah nampak lebih baik.
"Selamat pagi Tante," ucap Johan pada Mela.
Jihan keluar dari dapur dengan membawa sandwich buatannya. Nino sudah tidak sabar untuk menyantap makanannya, karena malam tadi ia tidak berselera makan.
Jihan duduk di samping Johan, ia mengisi piring Johan dengan sandwich buatannya. Mela yang melihat hal itu merasa sedikit aneh, apa lagi melihat tatapan mata Johan pada Jihan. Jelas sekali jika hubungan mereka bukan hanya sekedar bos dan bawahannya.
Setelah selesai sarapan, Johan hendak pamit untuk pergi ke kantor, dan di saat bersamaan Kinan dan Raksa datang. Jihan membuka pintu, ia cukup kaget melihat ada tiga koper besar yang di bawa oleh Kinan dan juga Raksa.
Tanpa menunggu untuk di suruh masuk, Kinan dan Raksa Melangkahkan kakinya masuk ke unit apartement mewah itu. Setelah berhasil masuk Kinan dan Raksa, langsung melemparkan tubuh mereka di sofa ruang tamu, mereka kelelahan karena memabawa tiga koper besar berisi pakaian.
Mela dan Nino memperhatikan koper besar itu, " ini isinya apa?" tanya Mela.
"Itu pakaian untuk Jihan, Nino dan Tante," tutur Kinan yang masih nampak kelelahan.
"Loh Ki, bukanya kamu tidak menjual pakaian anak-anak dan pakaian hari-hari?" tanya Jihan bingung.
"Siapa bilang ini semua pakaian dari toko ku, Malam tadi bos kamu itu mengirimi Raksa uang dua ratus juta, untuk membeli pakaian baru, sepertinya kami sudah memborong isi toko itu," ujar Kinan.
Jihan beralih menatap Johan yang sedang berdiri di sampingnya, ia tidak habis pikir kenapa Johan sampai mengeluarkan bajet sebesar itu untuk membeli pakaian. Sadar jika sedang kesal, Johan membuang muka ke sembarang arah, lalu kembali pamit untuk bekerja.
"Ehm ... saya harus kembali ke kantor, permisi," ucap Johan lalu berjalan dengan cepat keluar dari unit apartement mewah itu.
Jihan terus melihat Johan, hingga menghilang dari balik pintu. Ia tahu Johan punya segalanya.
Tapi semakin Johan menunjukkan betapa berkuasanya seorang CEO king grup. Jihan semakin bisa merasakan benteng tinggi yang membentang di antara mereka.
Bersambung 💕
__ADS_1