
Johan mengerjapkan matanya, ia merasakan sesuatu membelenggu tubuhnya. Saat kesadarannya mulai pulih, di lihatnya tubuhnya di tutupi selimut yang cukup tebal. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, tubuhnya terasa begitu pegal karena tertidur di atas sofa.
Sejenak Johan baru sadar, jika ia tertidur di sofa apartement. Ia baru ingat, malam tadi ia menunggu Jihan pulang sampai ia ketiduran.
"Sudah bangun."
Johan menoleh kebelakang saat mendengar suara Jihan. Ia langsung terpana saat melihat Jihan yang sedang menggunakan celemek, rambut terikat ke atas dengan pakaian tidur yang masih di atas lutut yang menambah pesona Jihan pagi ini. Bagi Johan, cantiknya seorang wanita adalah saat wanita itu turun ke dapur.
Johan tenggelam dalam lamunannya sendiri. Ia berkhayal jika saja ia dan Jihan Menikah apa ia akan melihat pemandangan seperti ini setiap pagi, sarapan bersama, dan bahkan mandi bersama.
Lamunannya buyar seketika saat Jihan menepuk pundaknya, " Kok malah melamun." Johan langsung tersadar saat Jihan menepuk pundaknya.
"Oh maaf, kamu sedang memasak?" tanya Johan.
"Iya, tapi semuanya sudah selesai. Kamu bisa sarapan dulu sebelum pulang.
"Iya, terimakasih," ucap Johan sambil mendongak ke arah Jihan.
Jihan kembali ke dapur, sementara Johan beranjak pergi ke kamar mandi yang ada di samping dapur untuk mencuci mukanya. Jihan menata makanan yang sudah ia masak tadi ke atas meja makan.
Bau harum dari masakan Jihan begitu menggugah selera, Johan yang baru saja selesai dari kamar mandi, langsung duduk di kursi meja makan. Jihan menyodokkan nasi ke keatas piring Johan, Johan sangat senang karena Jihan memperlakukannya dengan sangat baik, sudah seperti suaminya saja.
Menu yang di masak Jihan juga beragam, sudah seperti menu makan siang saja. Ada Nila saos asam manis, sayur sop, capcay dan juga perkedel kentang. Johan sampai bingung mau memakan yang mana dulu, karena semuanya nampak sangat enak.
"Mau lauk apa?" tanya Jihan saat melihat Johan kebingungan.
"Aku mau mencoba semuanya," ucap Johan sambil tersenyum kearah Jihan.
Jihan pun menyendokkan berbagai macam lauk yang di buatnya ke atas piring Johan, setelah selesai, Johan langsung menyantap makanan yang ada di atas piringnya.
Matanya terbelalak saat indra pengecapnya merasakan hasil masakan Jihan yang begitu pas di lidah. Johan tipikal orang yang tidak sembarang makan masakan, ia hanya memakan masakan ibunya saja saat berada di rumah, sementara saat di California Amerika serikat, ia lebih memilih memasak sendiri.
"Enak sekali," ucap Johan sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Benarkah, syukurlah kalau begitu," ujar Jihan sambil melirik melihat Johan yang makan dengan lahap sekali.
"Aku ingin kamu memasak untuk ku lagi," ujar Johan merasa senang.
Jihan tertegun sesaat setelah mendengar ucapan Johan barusan. Memasak makanan untuk Johan lagi, seolah menjadi harapan yang tidak pasti. Jihan tidak tahu apakah dirinya masih bisa merasakan makan bersama Johan lagi, baik itu besok, lusa, bulan , depan ataupun satu tahun ke depan.
"Makanlah setelah itu, kamu harus pulang," ucap Jihan lalu kembali menyendokkan makanan yang ada di piringnya.
Johan meilirik kearah Jihan yang wajahnya nampak sendu, ia tahu sepertinya kata-kata yang ia ucapkan tadi menyinggung perasaan Jihan.
"Maafkan aku karena membawamu sejauh ini dalam ketidak pastian, aku harap kamu tidak akan menghilang lagi dari pandangan ku," batin Johan.
~
Setelah sarapan, Johan pamit untuk pulang kerumah, karena ia harus segera bersiap-siap untuk pergi kekantor. Jihan mengantarkan Johan sampai ke depan pintu. Sebelum keluar dari pintu, Johan menoleh ke belakang dimana Jihan berada.
"Aku pamit dulu, terimakasih untuk sarapannya," ucap Johan.
Setelah kepegian Johan, Jihan kembali ke kamarnya, ia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Untung saja jarak dari apartement ke kantor hanya lima belas menit saja. jadi ia tidak perlu khawatir terlambat.
~
Sementara itu Vita sedang berada di apartement miliknya. Ya semenjak pulang ke Indonesia ia lebih sering menginap di apartemennya dari pada di rumah.
Vita menatap layar ponselnya yang terpampang foto Johan dan dirinya saat acara kelulusan di kampus merek dulu. Air mata Vita mengalir seiring remuknya hati karena Johan yang masih saja tidak membuka hati untuk nya.
Entah bagaimana lagi ia harus berusaha, ia sudah menyuruh orang untuk membakar rumah Jihan, dan hal itu malah membuat Johan semakin perduli kepada Jihan. Vita mencoba berpikir keras, setidaknya pasti ada cara lain untuk membuat Johan menjadi miliknya seutuhnya.
Cinta tak berbalas itu begitu menyakitkan, namun sudah tahu sakit masih saja di perjuangkan. Perjuangan yang hanya akan menjadi harapan kosong yang tak berujung.
Namun cinta selalu saja begitu. otak seolah tak berfungsi saat hati sudah bicara, Vita bukanlah wanita bodoh namun jika menyangkut cinta ia seakan buta.
Vita membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, sambil terus berpikir rencana apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Gerakan tiba-tiba Vita yang kini terduduk di ranjangnya karena ide yang tiba-tiba muncul di kepala. Idenya kali ini cukup nekat tapi itu lah yang ia harap bisa membuat Johan bertekuk lutut di hadapan.
~
Johan baru saj tiba di rumah, ia berjalan dengan cepat hendak naik keatas. Namun tiba-tiba suara ibunya yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga menghentikan langkahnya.
"Kamu dari mana saja semalaman tidak pulang?" tanya maria sambil memandangi Johan yang berdiri di ambang tangga.
Johan melangkah mendekati ibunya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Maria menatap curiga kearah Johan yang hanya diam tanpa bicara.
"Ibu tanya lagi sama kamu ... kamu kemana saja sampai tidak pulang semalaman?" ucap Maria mengulang pertanyaannya.
Johan menghembuskan nafasnya dengan berat, kemudian beralih menatap ibunya yang duduk di sampingnya. Ibu yang selalu memihak kepadanya kini sudah tidak ada lagi.
Yang ada kini Maria yang selalu mendesaknya untuk menuruti perjodohan antara dirinya dan Vita.
Dulu Johan selalu menumpahkan keluh kesahnya kepada sang ibu, namun kini ia seolah takut untuk bicara, karena ibunya tidak memihaknya lagi.
"Jika ibu tahu, aku mencintai Jihan, apa ibu akan mendukung ku," batin Johan.
"Jo, kok malah melamun, ayo jawab, kamu kemana saja semalaman tidak pulang?" tanya Maria lagi, membuyarkan lamunan Johan.
"Aku menginap di kantor, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, maaf karena lupa pamit pada ibu," tutur Johan berbohong.
"Huh, ibu kira kamu kelayapan kemana, untung saja ayah kamu sedang tidak ada di rumah, kalau tidak, habis kamu di interogasi," ujar Maria.
"Iya bu, maaf ... aku ke kamar ku dulu, aku harus bersiap-siap untuk ke pergi ke kantor," ucap Johan.
"Iya pergilah," kata Maria sambil menepuk pundak Johan pelan.
Johan melangkahkan kakinya naik kelantai atas. Entah sudah berapa kali ia tidak berkata jujur pada ibunya dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Namun ia tidak punya pilihan lain, ia mencintai Jihan dan dukungan dari orang tuanya belum ia dapatkan.
Bersambung 💕🙏
__ADS_1