Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.18


__ADS_3

Semalaman Johan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena ia memikirkan perkejaaan, tapi ia memikirkan Jihan, memikirkan kenapa ia terus menyimpan dendam kepada Jihan.


Selama tujuh tahun, kisah mereka sudah lama berlalu, penghianatan Jihan tujuh tahun lalu benar-benar membutakan batinnya, ia membenci Jihan hingga jijik akan semua wanita.


Namun hari ini Johan sadar jika ia salah, salah karena sudah larut dalam dendam yang berkepanjangan, Jihan juga berhak untuk melanjutkan hidupnya.


Jika mereka di takdirkan untuk kembali bertemu, mungkin itu satu jalan untuk mereka saling bersilaturahmi, dan melupakan masalalu yang kelam.


Pagi ini Johan dan Jihan duduk saling berhadapan. Johan menatap lekat Jihan, seolah mencari jawaban, atas pertanyaan yang tidak terjawab, atas sebuah kenangan masa lalu yang tak sengaja ia temukan di meja rias Jihan malam tadi. Terlihat abu-abu, tidak jelas. Johan tak menemukan jawaban apapun.


"Tuan ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Jihan, memecah keheningan antara mereka.


Johan kini sudah tersadar dari lamunannya, ia kembali bersandar di kursinya sambil berpangku tangan.


"Ehm ... ada rapat di ruangan tim perencanaan pergilah kesana, catat inti rapat dalam bentuk Notula," ucap Johan.


Ternyata hanya itu, jantungku hampir copot dan dia hanya bicara itu saja, batin Jihan.


"Baik tuan, Permisi."


Jihan berdiri dari posisi duduknya tadi, lalu melanjutkan langkah keluar dari ruang kerja Johan.


Johan menatap kepergian Jihan, hingga menghilang dari balik pintu. Perasaannya menjadi kacau sendiri. Hanya karena kalung itu, kini ia bingung dengan perasaannya sendiri.


Ia bahkan sudah melupakan rencananya menyingkirkan Jihan dari perusahaan, lupa jika ia membenci Jihan yang ia anggap sudah mengkhianatinya tujuh tahun yang lalu, biarlah semua mengalir, biarkan takdir melakukan tugasnya.


~


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, rapat tim perencanaan baru saja selesai, Jihan berjalan keluar dari ruangan itu. Saat tengah berjalan, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Jenny, Cika dan juga Malik yang kebetulan baru saja selesai melakukan tugas lapangan.


"Jihan!" seru Jenny.


Cika dan Jenny, berhambur memeluk Jihan, sudah beberapa hari tak bertemu, mereka saling melepaskan kerinduan. Tentunya Malik hanya bisa melihat saja tanpa bisa ikut berpelukan dengan rekan-rekan kerjanya itu.


"Kalian dari mana?" tanya Jihan.


"Kami baru saja dari menjalankan tugas di luar, kamu dari mana," ucap Malik.


"Aku baru saja menghadiri Rapat di ruangan tim perencanaan," ucap Jihan.


"Ah kamu pasti sangat sibuk sekarang ya Jihan, aku jadi iri karena kamu setiap hari bisa bertemu dengan CEO tampan kita," ujar Cika.


"Andai kita bisa bertukar posisi, aku akan dengan senang hati memberikan tugas ini kepadamu," ucap Jihan.


"Hehe andai saja bisa ya," ucap Cika.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita makan siang di luar bersama, bagaimana?" ajak jenny.


Cika, Jihan, dan Malik saling berpandangan sejenak, "Setuju!" ucap mereka secara bersamaan.


~


Jam makan siang telah tiba, Jihan masuk keruangan Johan untuk meminta izin, makan siang di luar, di luar dugaan Johan hanya menjawab dengan singkat, Johan mengizinkan Jihan untuk makan siang di luar,membuat Jihan mengerutkan keningnya, apa Johan salah makan pagi ini, pikirnya.


Tidak mau ambil pusing, Jihan berjalan keluar, mengambil tas dan Ponselnya dari atas meja kerjanya. Makan siang bersama mantan timnya yang a fikir pasti akan sangat menyenangkan.


Setibanya di lobby, Jenny, Cika, Malik, dan Rendy sudah menunggunya di sana. Jihan berjalan dengan cepat, menghampiri teman-temannya.


"Ayo berangkat," ucap Jihan.


~


Akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang berada dekat dengan kantor, setelah mendapatkan tempat, mereka langsung memesan menu favorit mereka masing-masing.


Sebagaimana teman yang jarang bertemu, Jihan dan teman-temannya menyempatkan diri untuk foto selfi bersama, untuk di posting di sosial media mereka masing-masing.


"Eh kalian foto bersama ya," ucap Jenny pada Jihan dan Malik.


"Boleh ... Malik sini," panggil Jihan.


Malik Mendekati Jihan, entah kenapa tubuhnya terasa kaku, saat berdekatan dengan Jihan. Ia melirik Jihan yang sedang tersenyum ke arah kamera, rasa aneh mulai muncul, detak jantung yang tidak beraturan, dan senyum yang mengembang dengan sendirinya.


"Selamat makan," ucap mereka secara bersamaan, lalu mulai menyantap makanan mereka masing-masing.


Suasana menjadi semakin hangat saat Rendy terus saja menceritakan lelucon yang membuat Jihan dan yang lain sakit perut karena terlalu banyak tertawa.


"Eh di sini ada live musiknya," ucap Cika saat Pandangannya tertuju pada live musik yang akan segera berlangsung.


Live musik di cafe itu, benar-benar membuat suasana semakin meriah, banyak pengunjung yang maju untuk menyumbangkan suara mereka.


"Ayo siapa nih, yang mau maju buat nyanyi?" tanya Jenny.


"Cika saja," tunjuk Jihan.


"Aku mana bisa nyanyi. Mau sakit kuping, sini, biar aku maju," ucap Cika.


"Malik saja," ucap Rendy.


"Kenapa aku?" tanya Malik yang terlihat panik.


"Waktu itu aku liat video di ponselnya dia lagi nyanyi, suaranya ... bagus," ucap Rendy sambil mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Aku tidak minat, kalian saja," ucap Malik menolak.


"Malik ... ayo maju," ucap Jihan pada Malik.


Namun sepertinya ia tidak bisa mengelak lagi, jika Jihan yang memintanya. Malik berdiri dari duduknya, berjalan menuju pentas sederhana yang di sediakan.


Jenny, Cika, dan Rendy berteriak untuk memberikan semangat, namun malik hanya fokus pada Jihan, yang sedang tersenyum ke arahnya.


Malik sedang berdiskusi dengan pemain musik untuk lagu yang akan ia nyanyikan. setelah selesai Malik meraih mic yang sudah di sediakan, dan langsung maju kedepan.


Musik mulai terdengar, Malik terus saja memandang ke arah Jihan,


Malik mulai bernyanyi.


Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir.


Rasa hati ini inginkan dirimu.


Hati tenang mendengar suara indah menyapa,


geloranya hati ini tak ku sangka.


Rasa ini tak tertahan, hati ini selalu untukmu.


Terimalah lagu ini dari orang biasa tapi cintaku padamu luar biasa.


Aku tak punya bunga, aku tak punya harta


yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu. Hari-hari berganti kini cinta pun hadir


melihatmu, memandang mu bagai bidadari.


Lentik indah matamu, manis senyum bibirmu,


hitam panjang rambutmu anggun terikat. Rasa ini tak tertahan, hati ini selalu untukmu terimalah lagu ini dari orang biasa tapi cintaku padamu luar biasa.


Aku tak punya bunga, aku tak punya harta


yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu.


Lagu yang di nyanyikan Malik membuat semua pengunjung yang ada di cafe itu terpana. Bukan hanya suaranya saja yang bagus, tapi penghayatannya juga luar biasa.


Tak berapa lama, suara riuh tepukan tangan terdengar. Jihan, Cika, jenny dan Rendy , bersorak gembira.


"Kamu luar biasa!" teriak Jihan pada Malik.

__ADS_1


Melihat Jihan tersenyum kepadanya, hati Malik berdesir hebat, seolah menemukan pemeran utama dari lagu yang tadi ia nyanyikan.


Bersambung 💕


__ADS_2