Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.73


__ADS_3

Jihan dan Malik pergi ke sawah, membawakan makan siang untuk pak Diaman, yang mengurus sawah milik almarhum bapak Jihan. Untung saja Jihan naik mobil kali ini, karena cuaca hari ini cukup panas.


Sesampainya di area persawahan, Jihan dan Malik berjalan hingga ke tengah sawah untuk memberikan makan siang untuk pak Diaman.


Malik baru kali ini menginjakkan Kakinya ke tempat seperti ini, pemandangan serba hijau sejauh mata memandang membuat Malik terpesona.


Ternyata di balik sesaknya dunia karena polusi, masih ada tempat sejuk nan hijau seperti ini.


Jihan terseyum lega, saat seseorang yang di cari-cari akhirnya terlihat juga. Ternyata mang diaman sedang memandikan kerbau di pinggir sawah. Langsung saja Jihan dan Malik menghampirinya.


"Mang, ternyata ada di sini," ucap Jihan.


"Eh Jihan, kamu kenapa kemari siang bolong seperti ini, terus ini siapa?" tanya mang diman yang sudah berdiri dari posisi jongkoknya.


"Ini teman Jihan ... oh iya ada makan siang untuk mang Diaman dari bibi," ujar Jihan sambil memperlihatkan rantang yang ada di tangannya.


"Wah mamang sudah makan, taruh saja di pondok ya, nanti mamang makan kalau sudah selesai mandiin si jeky," ujar mang Diaman.


"Baik mang," ucap Jihan.


Jihan dan Malik berjalan menuju pondok yang ada ditengah sawah, karena pemandangan yang sangat indah mengarah langsung ke pegunungan, Jihan dan Malik beristirahat, duduk di pondok itu sambil menikmati pemandangan.


Jihan menoleh kearah Malik yang kini duduk di sampingnya. Pertanyaan Jihan masih belum terjawab, ia masih penasaran kenapa Malik bisa sampai ke tempat itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi," ujar Jihan tiba-tiba.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Malik.


"Dari mana kamu tahu aku disini?" tanya Jihan balik.


"Oh itu ... kamu ingat waktu itu kamu pernah memberitahu ku nama gunung yang ada di hadapan kita sekarang, nah kalau dari situ lah aku tahu jika kamu pasti ada disini," tutur Malik.


"Kamu memang pintar, tapi apa tujuan kamu kemari?" tanya Jihan.


Malik tertegun sesaat. Jihan benar, sebenarnya apa tujuan ia datang kemari, ia juga bingung harus berkata apa. Lebih tepatnya hatinya yang mengarahkannya untuk datang menemui Jihan.

__ADS_1


Sejenak Malik berpikir, apa ia harus bertanya, kenapa Jihan pergi dan apa alasannya, ia ingin bertanya seperti itu, namun apa ia sanggup mendengar jawaban Jihan yang kemungkinan besar akan menyakitinya, tapi jika tidak bertanya, ia tidak akan tenang.


"Apa aku boleh tahu kenapa kamu pergi kemari?" tanya Malik pada akhirnya.


Jihan menundukkan kepalanya, ia tahu pasti Malik akan menanyakan hal ini kepadanya, " Tepat hari ini, adalah hari peringatan kematian kedua orangtuaku ku dan aku akan tinggal lebih lama disini." Jihan kembali menoleh kearah Malik yang sejak tadi terus memandanginya sejak tadi.


"Kenapa?" tanya Malik ragu-ragu.


"Apa aku masih perlu menjawabnya, kamu pasti tahu alasannya," ujar Jihan sambil menatap kearah pegunungan.


"Ya aku tahu, pasti sangat sulit ya," tutur Malik.


" Ya begitulah, tapi aku tidak apa-apa. Baik dulu atau pun sekarang, aku selalu dalam posisi yang sulit," ujar Jihan.


Malik menatap Jihan dengan lekat, ia memikirkan bagaimana cara memberitahu Jihan tentang pernikahan Johan yang di percepat. Ia tidak tega mengatakan hal ini kepada Jihan, tapi Jika tidak sekarang, Jihan malah akan semakin sakit, jika mengetahuinya setelah pernikahan itu sudah terjadi.


"Maaf mengatakan hal ini, tapi aku pikir kamu harus tahu .... Kak Johan akan menikah minggu depan."


Deg.


Kenapa begitu cepat hal ini terjadi, rasanya baru kemarin ia bertemu lagi dengan Johan setelah sekian lama, tapi sekarang ia harus kembali merelakan Johan menikah dengan wanita lain.


"Jihan, kamu baik-baik saja," ujar Malik saat melihat jihan hanya diam tanpa mengatakan apapun.


"Oh begitu ya, baguslah jika dia akan menikah," tutur Jihan dengan senyum yang di paksakan.


Jihan segera memalingkan wajahnya, saat ia merasakan matanya terasa panas, karena air mata yang meronta-ronta ingin keluar. Malik menepuk pundak Jihan lembut, ia tahu Jihan tidak sekuat itu, Jihan hanya wanita biasa yang mempunyai jiwa yang rapuh.


"Menangis lah, jika kamu ingin menangis, menahannya hanya akan membuat mu makin tersiksa," ujar Malik.


Jihan menoleh kearah Malik dan langsung menumpahkan semua air mata yang tertahan selama ini di hadapan Malik. Malik langsung membawa Jihan kedalam pelukannya. mencoba menguatkan Jihan meskipun hatinya hancur saat menerima kenyataan bahwa hanya Johan seorang yang ada di hati Jihan.


Malik merasakan sesak di dadanya seiring Isak tangis Jihan di dalam pelukannya, ia menghembuskan nafasnya dengan berat, karena mata yang semakin memanas. Ia terluka saat melihat Jihan seperti ini karena pria lain.


Jihan kembali mengingat kejadian malam panas bersama Johan. Dimana kesuciannya telah hilang saat itu, tidak ada lagi harapan untuk hidupnya, ia bukan lagi wanita yang suci.

__ADS_1


"Setelah malam itu, aku menutup hatiku untuk siapapun, jika bukan dengan mu, maka aku akan menyediri untuk selamanya, berbahagialah, karena aku akan berusaha ikhlas meski bukan sekarang, karena aku masih belum mampu, tapi seiring waktu aku pasti bisa melupakanmu," ucap Jihan dalam hati.


~~


Vita baru saja keluar dari gedung apartement dengan mengendarai mobilnya. Hari ini ia sudah ada janji dengan salah satu disaigner terkenal untuk Fitting baju pengantinnya. Meskipun tanpa Johan ia tetap akan membuat gaun pengantinnya.


Tanpa di sadari Vita, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Orang yang mengikuti Vita adalah Albert yang telah melakukan cinta satu malam dengan Vita.


Albert tersenyum senang saat mendapatkan alamat dan nomor telepon Vita dari teman Vita di club waktu itu.


Akhirnya apa yang di cari-cari selama ini ketemu juga. Albert ingin tahu bagaimana keadaan Vita saat ini, apakah Vita sudah mengadung buah dari cinta satu malam mereka.


Vita memarkirkan mobilnya di halaman sebuah butik ternama di ibukota. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam butik. Sementara dari dalam mobil, Albert terlihat kesal saat melihat Vita memasuki sebuah butik yang khusus mendesain gaun pengantin.


Dengan cepat Albert mengikuti langkah Vita masuk kedalam butik, tentu saja Albert tetap menjaga jarak aman agar Vita tidak menyadari jika ia mengikutinya.


Vita memasuki ruangan Fitting, sang disaigner mulai mengukur tubuh Vita, Vita terlihat sangat antusias sekali karena sebentar lagi akan menjadi nyonya Alexander.


"Pernikahan Nona dengan Tuan Johan Alexander, pasti akan sangat meriah sekali," ucap salah satu asisten disaigner yang berada di ruangan itu.


"Tentu saja, maka dari itu, buat gaun yang paling mewah dan elegan, aku akan menjadi wanita yang paling cantik hari itu," ujar Vita dengan pecaya diri.


"Nona tenang saja, kami tidak pernah mengecewakan customer kami," ucap sang disaigner.


"Kalau boleh tahu dimana acara pernikahan nona akan di gelar?" tanya asisten disaigner itu.


"Grand hotel, lokasi pesta juga di sediakan," ujar Vita.


Dari balik tirai, Albert mencengkeram erat kedua tangannya, ia tidak akan membiarkan Vita menikah dengan pria lain begitu saja. Ia harus menemui pria yang akan menikahi Vita.


Hanya dia yang boleh memiliki Vita, tidak ada pria lain yang boleh menyetuh vita kecuali dirinya, karena kesucian Vita sudah ia renggut maka selamanya Vita akan terikat padanya.


Entah keyakinan dari mana tapi Albert sangat yakin jika Vita kini sedang mengadung anaknya.


"Johan Alexander," gumam Albert dengan kedua mata yang menatap tajam kearah Vita.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2