
Sore hari itu, Niko sudah menunggu Luna pulang. Begitulah selama tiga bulan menjadi suami Luna, dia selalu rajin mengantar dan menjemput Luna. Dia juga tidak membiarkan Luna menunggu. Lebih baik dirinya yang menunggu Luna. Ya, sebucin itu Niko sekarang.
Seperti kantor sendiri, Niko langsung naik ke lantai lima dan menuju ruang kerja Luna.
"Rajin banget tiap hari jam segini udah jemput," kata Kevin yang kebetulan dia baru saja keluar dari ruangannya dan melihat Niko.
Niko hanya tersenyum lalu menghampiri istrinya.
"Bentar masih aku suruh ngeprint." Kevin berdiri di dekat meja Luna dan menyuruhnya mencetak beberapa dokumen.
"Udah saatnya pulang. Itu besok aja."
"Besok? Ini belum saatnya pulang." Kevin masih saja berdiri di dekat sepasang suami istri itu.
"Mas, jangan duduk sini." suruh Luna sambil mengerjakan permintaan Kevin.
"Kenapa?" seketika Niko bingung. Tidak biasanya Luna menyuruhnya menjauh. Biasanya jika dia dekati, Luna akan menempel seperti perangko.
"Mas Niko bau."
Seketika Kevin tertawa dengan keras. "Makanya kalau mau jemput itu mandi dulu."
Niko pun menggeser duduknya meski sebenarnya Niko tidak terima tuduhan istrinya itu. "Sayang, aku ya kayak biasanya." Niko mencoba mencium lengannya lalu jasnya, dia merasa sama saja seperti sebelumnya. Bahkan aroma parfumnya saja bisa bertahan sampai 24 jam.
Luna masih saja menutup hidungnya sambil menyerahkan hasil print out pada Kevin.
"Ya udah kalau kamu mau pulang, pulang saja duluan gak papa." Kemudian Kevin kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Tuh kan, Mas Niko gak enak baunya. Perut aku sampai mual gini. Mas Niko ganti parfum?"
Niko menggelengkan kepalanya cepat. "Sama kayak biasanya. Ya udah yuk kita pulang." Niko berdiri sedangkan Luna kini memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas.
"Ayo sayang..." Niko merangkul bahu Luna tapi seketika Luna mendorongnya cukup keras.
Luna semakin menutup bibirnya. Kali ini perutnya terasa diaduk. "Mas Niko jangan dekat-dekat."
"Kenapa?" Niko masih saja mendekati Luna hingga membuat Luna kini berlari menuju toilet. Entahlah, aroma tubuh itu biasanya sangat dia sukai tapi kini justru terasa sangat mual bahkan sampai muntah.
"Loh, sayang..." Niko menyusul langkah cepat Luna. Dia melihat Luna mengeluarkan isi perutnya, apa jangan-jangan...
"Mas, jauh-jauh!" suruh Luna karena perutnya masih sangat tidak enak.
"Oke," Niko berdiri satu meter dari Luna.
__ADS_1
Setelah membersihkan bibirnya, Luna keluar dari kamar mandi dan tetap berjaga jarak dengan Niko. Dia mengambil tasnya lalu berjalan menuju lift. Seharian badan Luna memang sudah tidak enak ditambah aroma tubuh Niko yang tiba-tiba menjadi sensitif di hidungnya.
Niko hanya mengira-ngira apa yang terjadi dengan Luna. Jangan-jangan Luna memang hamil. Hanya dugaan saja sudah membuat Niko tersenyum. "Sayang, kita periksa yuk kalau gak enak badan." ajak Niko pada Luna setelah sampai di tempat parkir.
"Besok aja Mas. Aku capek mau istirahat." Luna membuka pintu belakang. Ya, memang tidak seperti biasanya, Luna kini duduk di belakang.
Tapi Niko membiarkannya daripada Luna mual lagi. Dia kini masuk ke kursi pengemudi lalu beberapa saat kemudian mobil Niko telah melaju meninggalkan area perkantoran milik Kevin.
"Mas, aku pengen mangga." kata Luna saat mobil Niko melewati penjual buah.
Niko segera menepikan mobilnya. "Aku belikan ya, tunggu sini sebentar."
Luna tersenyum melihat suaminya keluar dari mobil lalu membelikan mangga untuknya.
Beberapa saat kemudian Niko kembali dengan membawa sekantong mangga yang langsung dicek oleh Luna.
"Loh Mas, kok matang semua. Aku ingin yang masih asam."
Niko memutar bola matanya. Sepertinya dugaannya memang benar, Luna memang sedang mengidam.
"Aku gak mau." Luna menyodorkan kembali buah itu pada Niko.
"Ya udah, aku belikan lagi. Itu biarkan di sini, gak usah ditukar."
Niko menghela napas panjang. Benarkah mood ibu hamil merubah sifat Luna seperti ini.
Niko kembali keluar dan membeli buah mangga sesuai keinginan Luna.
Tapi Luna justru menatap kesal pada Niko yang sedang tertawa pada penjual buah. Samar-samar dia mendengar kata istri, pasti Niko sedang membicarakannya. Entahlah, mengapa rasanya sekesal itu.
Niko kembali dan memberikan sekantong buah mangga keinginan Luna. Tapi Luna justru membuang mukanya.
Kali ini apanya yang salah lagi?
"Sayang ini coba dicek dulu, benar gak?"
"Mas tadi ngomong apa sama penjualnya? Aku gak suka diomongin ya Mas."
Niko menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sensitif sekali perasaan Luna.
"Iya, iya. Maaf ya kalau kamu gak suka." akhirnya Niko juga meletakkan mangga itu di jok depan. Kini Niko mulai melajukan mobilnya kembali.
Di kursi belakang, Luna hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya. Wajahnya terlihat begitu kesal dengan Niko.
__ADS_1
Niko hanya bisa bersabar. Beberapa saat kemudian, mobil Niko berhenti di depan rumahnya. Tanpa menunggu Niko, Luna keluar dari mobil lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Niko hanya menggelengkan kepalanya. Dengan membawa dua kantong plastik mangga itu, Niko masuk ke dalam rumah dan meletakkan mangga itu di dapur.
"Tumben beli mangga?" tanya Bu Mayang.
"Maunya Luna, Ma."
"Luna hamil?" tanya Bu Mayang dengan mata berbinarnya.
"Sepertinya, Ma. Belum aku ajak periksa. Mama do'ain ya."
"Iya, semoga saja. Mana Mama kupasin mangganya. Pasti Luna ingin yang asam-asam."
Niko hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Dia melihat Luna sedang merebahkan dirinya. Ingin dia mendekat tapi tadi kata Luna dia bau. Akhirnya Niko membersihkan dirinya terlebih dahulu dan ganti baju.
Setelah selesai, baru Niko berani mendekati Luna.
"Sayang kamu gak enak badan?" tanya Niko.
Luna hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita periksa yuk?" ajak Niko sambil mengusap rambut Luna yang berantakan. "Siapa tahu kamu hamil."
"Hamil?" seketika Luna memutar tubuhnya dan menatap Niko. Meski aroma sabun menguar dari tubuh Niko tapi tetap saja rasanya dia mual ketika harus berdekatan dengan Niko.
"Iya, udah hampir dua bulan loh tiap malam kita lembur." Niko tertawa kecil mengingat antusiasnya setiap malam, dan kini saatnya membuahkan hasil.
Perlahan Luna duduk dan bersandar di headboard. "Tapi kok aku mual kalau dekat sama Mas Niko. Agak sana!"
"Aku baru aja mandi. Nih, harum kan?" Niko semakin mendekatkan dirinya. Rasanya jika harus berjauhan dan tanpa menyentuh Luna mana bisa.
Luna mendorong dada Niko dan semakin menutup mulutnya. "Mas!" Luna sudah tidak bisa menahannya lagi, dia kini turun dari ranjang lalu setengah berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi.
"Iya, iya. Maaf. Aku akan jaga jarak aman mulai sekarang." Niko hanya bisa berdiri diambang pintu menatap khawatir pada Luna. Apa ini hukuman dari calon anaknya? Niko menghela napas panjang, tanpa menyentuh Luna setiap hari, mana bisa?
.
.
💞💞💞
.
__ADS_1
Like dan komen ya....