
Johan menggenggam erat kartu identitas pegawai itu di tangannya, ia berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri jihan yang masih diam mematung di posisinya, ucapan para karyawan yang ia lewati seolah tak terdengar lagi oleh johan saat ini, ia hanya fokus pada satu titik, yaitu Jihan.
Jarak mereka kini hanya tersisa setengah meter saja. Johan berdiri di depan jihan tanpa rasa canggung sama sekali, seolah ingin membuktikan jika hidupnya kini sangat baik-baik saja.
"Jihan Oktavia ... apa ini milik mu," ucap Johan, sambil membaca nama di kartu identitas pegawai itu.
Jihan terdiam sesaat, menatap johan dengan seksama. Kini semua terasa benar-benar asing antar ia dan Johan, tak ada lagi tatapan penuh cinta yang dulu selalu terpancar dari mata Johan.
Takdir macam apa ini, kenapa kita kembali dipertemukan. Kamu benar-benar sudah melupakan aku, apa kamu ingin kita menjadi orang asing yang tidak pernah saling mengenal, jika itu mau kamu, aku terima, batin Jihan.
"Benar Tuan, itu adalah milik saya," ucap jihan sambil menundukkan pandangannya, sebagaimana mestinya seorang karyawan yang berbicara kepada bosnya.
Johan menyeringai, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jihan. Johan meraih tangan jihan dan meletakkan kartu identitas itu di telapak tangannya.
"Kamu pegawai baru?" tanya Johan.
"Benar tuan," ucap Jihan seraya terus menatap sang mantan, lekat.
"Dengarkan baik-baik, salah satu peraturan baru yang akan saya buat ... jika kamu dan kalian semua yang ada disini, tidak menggunakan atau kehilangan kartu identitas pegawai kalian, saya tidak akan segan-segan memecat kalian," ucap johan dengan mata melirik tajam, kearah Jihan.
Jihan kembali menundukkan pandangannya, ia pikir tidak ada gunanya membela diri, berhadapan kembali dengan johan saja sudah membuatnya pusing. Johan melanjutkan kembali langkahnya, melewati jihan yang masih mematung di tempatnya.
~~
Jihan kembali duduk termenung di belakang meja kerjanya, ia meletakkan kepalanya di atas meja. Hari ini adalah hari yang paling sial pikirnya.
Selama tujuh tahun, ia mencoba untuk membangun kehidupan barunya, namun pada akhirnya ia harus kembali ke lingkaran masalalu lagi, semakin dekat, semakin tidak bisa di hindari.
Jika bukan karena cita-cita Membuat bahagia Mela dan Nino, mungkin sudah sejak tadi jihan menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Jihan Kembali menghembuskan nafas berat ,saat mengingat cara bicara, cara pandang johan padanya. Jelas sekali mantan kekasihnya itu masih menyimpan dendam masalalu padanya, meski itu hanya kesalahpahaman yang tak sempat jihan jelaskan kepada Johan.
"Jihan ... kamu baik-baik saja?" tanya jenny yang kini menghapiri Jihan.
"Sepertinya begitu," ucap Jihan.
__ADS_1
"Ternyata CEO baru kita itu hanya wajahnya saja yang tampan, tapi dia itu cukup mengerikan, Ucapanya tadi jangan kamu ambil hati ya," ujar jenny.
Jihan Kembali menegapkan posisinya, menatap jenny yang kini duduk di hadapannya.
Seandainya kamu tahu seperti apa hubungan ku dan CEO sombong itu di masalalu, dia yang dulu dan dia yang sekarang jauh berbeda," batin Jihan.
~
Johan menyadarkan kepalanya di kursi kebesarannya, bayangan wajah jihan masih terngiang-ngiang di kepalanya, bagaimana ekspresi jihan saat ia membentaknya, masih tergambar jelas. ia kembali menyeringai saat mengingat kejadian itu.
Bagaimana bisa ia bertemu dengan jihan dengan cara seperti ini pikirnya. Di tengah lamunannya, Tama tiba-tiba saja masuk, membuyarkan lamunan Johan.
Tama adalah seketaris dari ayahnya, Tama sudah menjadi orang kepercayaan Toni selama dua tahun belakangan, menggantikan posisi sang ayah yang sudah pensiun menjadi Sekertaris Toni.
"Permisi Tuan," ucap Tama yang kini sudah kini berada di depan meja kerja Johan.
"Iya, ada apa," ucap Johan.
"Rapat direksi akan dilaksanakan satu jam lagi ... ini adalah berkas yang harus tuan pelajari Sebelum rapat di mulai," ucap Tama sambil menyodorkan berkas itu kepada Johan.
Johan langsung meraih berkas itu dan membaca isinya, "Baiklah, terimakasih."
"Apa kamu tahu seorang staf wanita bernama Jihan Oktavia?" tanyanya.
"Jihan Oktavia ... oh staf bagian keuangan, dia adalah pegawai baru," ujar Tama.
"Kamu mengenalnya?" tanya johan.
"Tidak tuan, hanya saja banyak pegawai laki-laki di sini yang mengaguminya, karena Jihan cantik dan cerdas, dari ratusan orang pendaftar, dia meraih nilai tertinggi," Jelas Tama.
Johan terdiam sejenak, mencoba menetralisir ucapan Tama barusan.
Cantik dan cerdas, banyak laki-laki yang mengaguminya .... Cih, dia tidak lebih dari wanita murahan, pengkhianat, aku akan membuat dia tidak betah bekerja di sini, kita lihat saja nanti, batin Johan.
"Maaf tuan, apa ada yang ingin tuan tanyakan lagi?" tanya Tama tiba-tiba, kembali membuyarkan lamunan Johan.
__ADS_1
"Ah tidak, kamu boleh pergi sekarang," ucap Johan.
Tama beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Johan dengan seribu tanda tanya yang tak berani ia ungkapkan, untuk apa Johan, bertanya tentang jihan padanya ,apa bosnya itu juga mengagumi sosok Jihan.
~~
Hari menjelang sore, kini jihan sudah sampai di rumah, ia langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa, membuat Nino yang sedang asik duduk sambil bermain game, terperanjat kaget.
"Ya ampun, kak!" pekik Nino tiba-tiba.
"Apa sih," ucap jihan lemas.
"Kak jihan ngagetin tau, lihat nih aku jadi kalah kan main gamenya," protes Nino.
"Jangan ganggu kakak dulu, lagi pusing nih," ucap jihan sambil bersandar di sandaran kursi. Nino langsung beranjak pergi, berjalan menghentakkan kakinya karena kesal.
"Jihan kamu baru pulang," ucap Mela yang baru saja pulang dari tempat kerjanya di laundry.
"Iya tante ... tante juga baru pulang dari laundry?" tanya jihan balik.
" Iya nih, cuciannya numpuk," ucap Mela
"Tante ke belakang dulu ya, kamu mandi terus bantu tante masak," ucap Mela.
"Iya Tante," ucap jihan.
Jihan kembali memejamkan matanya, namun lagi-lagi Bayangan johan kembali menghampirinya.
"Kenapa harus bertemu dengan dia lagi sih ... dan kenapa dia yang harus menjadi CEO baru king group." Gumam jihan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tiba-tiba saja ia merasa menyesal telah menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan tersebut. Jihan kembali berpikir dari sekian banyaknya perusahaan di Jakarta kenapa ia harus bertemu kembali dengan pria dari masa lalunya.
Bukan hanya sekedar pertemuan, tetapi Jihan harus menerima kenyataan bahwa pria itu adalah atasannya sendiri. Mungkin setelah hari ini Jihan akan berpikir dua kali untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di perusahaan tersebut.
Akankah kejadian di masa lalu terlupakan, sehingga keprofesionalan dalam pekerjaan bisa terjaga, ataukah Johan akan terus membenci Jihan?
__ADS_1
Ya, setiap takdir yang di geriskan semesta pasti mempunyai maksud dan tujuan, mau itu baik ataupun buruk.
Bersambung 💕🙏