Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Menembus Awan


__ADS_3

"Maaf ya, honey moon kita jadi berantakan gini," kata Niko sambil mengusap pipi Luna dengan jari telunjuknya.


"Kok minta maaf? Gak papa Mas. Ini juga bukan mau kita." Luna memutar tubuhnya hingga kini dia bisa menatap suami tampannya dengan leluasa.


"Kalau mau honey moon lagi, nanti kita rencanakan lagi tapi hanya berdua, takut kita lagi enak-enak malah lalai jaga anak."


Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Bagi aku di rumah sama aja. Rasanya juga sama kan."


Niko tersenyum lalu menarik tubuh Luna dalam pelukannya. "Makasih, kamu sudah jadi Bunda yang baik untuk Reka."


"Sama-sama."


Niko mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Luna. Mulai menjelajah dan menyesapi manisnya madu itu. Satu tangan Niko sudah bergerak naik turun secara perlahan menyusuri punggung Luna.


"Tiga malam aku tidur di rumah sakit, gak tidur sama kamu."


"Baru juga tiga malam."


"Gak enak, gak bisa peluk."


Luna mencubit gemas hidung mancung Niko. "Ih, manja."


Niko kembali mendekatkan dirinya, kali ini dia telusuri leher seputih susu itu. Dia usap lembut dengan lidahnya yang membuat Luna semakin mendongak. Dia semaki menghisapnya kuat seperti vampir yang kehausan darah yang membuat bekas merah tercetak di sana.


"Ahh, Mas..." gelenyar nikmat sudah memenuhi tubuh Luna saat menerima setiap sentuhan lembut dan hangat dari Niko.


Bibir Niko yang awalnya singgah di leher kini semakin turun ke dada. Tangan Niko sudah membuka satu per satu piyama Luna. Dia tersenyum saat merasakan buah sintal itu tak tertutup apapun.


"Sayang, tiap malam kayak gini ya. Dalamnya jangan pakai apa-apa." Niko langsung melahap dua gundukan itu dengan rakus secara bergantian.


Luna semakin membusungkan dadanya saat Niko menghisapi puncak berwarna pink itu.


Satu tangan Niko sudah masuk ke dalam celana Luna dan membuai Luna dengan sentuhannya.


Suara de sah Luna sudah tidak bisa dia tahan. "Mas, ayo..." ajak Luna yang sepertinya sudah tidak sabar untuk ke adegan intinya.


Niko hanya tersenyum, bibirnya terus turun ke bawah dan mengecupi perut datar Luna lalu perlahan turun ke bawah lagi, dengan tangan yang sudah berhasil meloloskan celana Luna. Dia dekatkan bibirnya pada inti Luna yang telah basah.


"Ahh, Mass..." Luna semakin men de sah merasakan lincahnya lidah Niko bermain di bawah sana. Sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik. Kedua kaki Luna semakin terbuka lebar saat Niko menyesapi kacang kecil yang menjadi titik tersensitif Luna.

__ADS_1


Luna semakin meracau tak karuan. Pinggulnya terangkat seolah ingin merasakan bibir Niko semakin dalam.


Niko semakin menambah sensasi permainannya dengan memasukkan ujung jarinya dan mencari titik nikmat di dalam.


Beberapa detik kemudian tubuh Luna menggelinjang hebat dengan lelehan hangat di bawah sana.


Niko melepas bibir dan jarinya saat Luna telah melemas. Dia tersenyum melihat Luna yang telah berkeringat dengan napas yang tersenggal.


"Pelepasan pertama. Malam ini aku akan buat kamu keluar berkali-kali." Niko melepas kaos lalu celananya.


Luna menatap lekat tubuh yang sangat menggoda itu. Dia sentuh otot perut yang keras itu lalu perlahan semakin ke bawah dan singgah di otot yang telah menegang dan berdiri tegak itu. Mengusapnya naik turun yang membuat Niko berdesis nikmat.


"Sayang, mau coba?"


Luna menatap Niko tak mengerti. "Apa?"


Sambil berlutut Niko mendekatkan dirinya pada Luna yang setengah duduk itu. "Nyoba ini..." Niko menggoda Luna dengan kerlingan matanya.


Baru Luna mengerti maksud suaminya itu. Dadanya berdebar tak karuan menatap bagian tubuh Niko yang selalu membuatnya melambung tinggi. Haruskah dia mencicipinya sekarang dengan bibirnya? Bagaimana rasanya? Antara ingin menolak tapi sangat penasaran. Ditambah aura Niko yang sangat menggodanya seolah meruntuhkan pertahanan image-nya.


"Kalau gak mau, gak papa. Next time saja." Niko akan memundurkan dirinya tapi ditahan oleh Luna.


Wajah itu begitu sangat menggemaskan. Dada Niko berdebar tak karuan menatap wajah Luna yang semakin mendekat dan baru saja bibir tipis itu menyentuh ujung miliknya, tubuhnya bagai tersengat listrik ribuan volt. Untunglah dia tidak sampai pingsan. Hanya keringat dari hawa panas yang diciptakan Luna kini membasahi pelipisnya.


"Ouh, sayang, nikmat sekali."


Awalnya Luna melakukannya dengan kaku dan malu-malu. Bahkan dia hampir saja tersedak tapi lama-lama Luna semakin lihai bermain, mengullumnya dengan sesekali hisapan. Apalagi mendengar de sa han Niko yang semakin keras membuatnya semakin bersemangat.


"Sayang, udah." Niko menahan kepala Luna agar berhenti. "Nanti bisa keluar."


Luna pun melepas bibirnya.


Niko kini menindih tubuh Luna lalu mencium bibir manis itu dengan liar. Menggigit kecil dan menyesap sampai bibir itu terasa menebal dan bengkak.


"Mas..." Luna mengusap bibirnya saat Niko melepas pagutannya.


"Maaf, sampai merah gini. Habis kamu nagih banget." Niko mengambil bantal dan mengganjal pinggang Luna.


"Buat apa?"

__ADS_1


"Biar bisa sampai di titik yang terdalam." Niko mulai memposisikan dirinya. Perlahan dia mulai menghujam Luna.


Perlakuan Niko yang selalu lembut membuat Luna tak kuasa menahan suara nikmatnya. Dia sudah terbuai oleh hujaman Niko.


Luna mengalungkan tangannga di leher Niko. Mereka saling bertatapan lekat dengan gairah yang semakin terbakar.


"I love you..."


"I love you too..."


Kedua wajah itu kembali mendekat dan saling bersentuhan. Menikmati indahnya cinta yang tanpa batas dan melayang bersama menembus awan.


Peluh semakin membanjiri kulit yang saling bersentuhan itu. Untuk kesekian kalinya Luna sampai pada puncaknya.


Niko mengusap peluh dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Luna. Dia pandangi wajah yang memerah penuh gairah itu.


Semakin lama rasa cinta itu semakin besar.


"Aku sayang kamu." Niko semakin mempercepat gerak pinggulnya. Rasanya sudah berada diujung. Dengan erangan cukup keras Niko menumpahkan seluruh hasratnya di titik terdalam. Berharap kecebong miliknya berenang dengan kuat dan salah satu dari mereka akan segera menjadi pemenang.


Kemudian Niko melepas dirinya lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah Luna. Dia menarik bantal yang ada di pinggang Luna. Ya, setelah membaca beberapa artikel cara missionaris itu memang paling ampuh membuat istri terlena dan terbukti pada Luna, selain itu juga bisa mempermudah kehamilan karena pene trasi semakin dalam mendekati rahim.


Niko memiringkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi tubuh polos mereka.


Luna juga memutar tubuhnya lalu menenggelamkan dirinya di dada bidang Niko. Tempat ternyaman adalah tidur dalam dekapan suami. Sudah tidak ada lagi percakapan antara mereka berdua, hanya ada suara napas yang kian lama kian teratur.


.


.


💞💞💞


.


.


Jangan lupa like dan komen, vote juga gitu.. 😥


.

__ADS_1


Boleh meniru gaya mereka tapi pada pasangan halal ya, dan catat poin pentingnya.. 😁


__ADS_2