
Seketika Aldi menatap Kevin. Dia sangat terkejut dengan kalimat Kevin yang menyatakan bahwa Della sedang hamil.
Kandungan? Siapa yang telah menghamili Della?
Saking paniknya Kevin sampai lupa dengan keberadaan Aldi.
"Saya tidak apa-apa." perlahan Della duduk dan minum air mineral itu sampai habis. Kemudian dia kembali ke meja kerjanya.
"Aldi, jangan cerita masalah ini sama siapapun termasuk Alea. Biar aku sendiri yang cerita masalah ini." kata Kevin.
Aldi menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia sangat penasaran tentang masalah itu. Tapi dia tidak ada hak bertanya macam-macam pada bosnya.
"Saya permisi dulu." Aldi keluar dari ruangan Kevin.
Beberapa saat kemudian Kevin menerima panggilan dari seseorang.
"Iya, nanti malam di hotel Mandala... Malam, sekitar jam 8..."
...***...
"Mas, masak sih aku tadi salah lihat. Itu beneran Pak Kevin sama sekretaris baru itu. Ngapain ya mereka ke Dokter kandungan?" Tadi pagi saat Luna memeriksakan kandungannya bersama Niko tanpa sengaja dia melihat Kevin dan Della keluar dari ruang periksa Dokter kandungan.
Niko masih saja tak percaya, bagaimana mungkin Kevin memeriksakan kandungan wanita lain. Mereka yang kini sedang mengobrol di sebuah kafe itu semakin menebak kemungkinan yang terjadi.
"Aku jadi curiga deh Mas. Dari awal bertemu Della, tatapannya ke Pak Kevin itu sangat berbeda. Dia seperti mengagumi Pak Kevin."
Niko menghela napas panjang. "Tapi mana mungkin Kevin selingkuh." Niko berusaha menepis pikiran kotornya karena hal itu sepertinya memang tidak mungkin terjadi. Mengingat selama ini Kevin sangat mencintai Alea.
"Lalu mereka ada hubungan apa?" Luna masih saja penasaran.
Niko nampak berpikir sesaat. "Gini aja, bagaimana kalau aku suruh orang buat menyelidiki hubungan mereka berdua. Meski sebenarnya aku juga gak yakin Kevin tega menghianati Alea. Ya, biar kita gak main tuduh yang bukan-bukan."
"Iya juga. Ya, semoga aja itu hanya kesalah pahaman kita saja. Kayaknya memang gak mungkin Pak Kevin kayak gitu."
Niko tersenyum lalu menggenggam tangan Luna sesaat. "Cepat dihabiskan ya. Bentar lagi aku antar kamu pulang."
"Mas Niko mau ke kantor?" tanya Luna.
"Iya sayang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku periksa."
__ADS_1
Luna menghela napas kecewa. "Yah..."
"Eh, kok jadi gak bisa ditinggal gini sekarang." Niko mengusap puncak kepala Luna. "Kemarin-kemarin kesal banget sama aku."
"Sekarang udah sembuh, maunya dimanja terus."
Niko semakin tersenyum. "Iya, mulai sekarang saatnya aku manjain kamu. Aku cuma bentar nanti balik lagi gak sampai sore."
Luna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
...***...
Malam itu Kevin sedang bersiap-siap untuk pergi. Dia memakai kemeja lengan pendeknya lalu blazer warna abunya itu.
"Mau kemana?" tanya Alea karena tak biasanya Kevin keluar malam. Biasanya Kevin akan menyelesaikan semua pertemuan dan meetingnya di jam kerja.
"Ada undangan makan malam sekalian bahas proyek baru," jawab Kevin.
Alea mengernyitkan dahinya. Setahu dia Kevin tidak suka saat diundang makan malam dengan siapapun. Kevin akan memilih makan malam dengannya daripada dengan rekan bisnisnya.
"Ya udah, hati-hati. Pulangnya jangan terlalu malam." Meski sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan tapi dia urungkan. Lebih baik dia membuktikannya sendiri daripada menuduh tanpa bukti.
"Iya sayang." Kevin mencium kedua pipi Alea. "Kamu tidur dulu ya, jangan menunggu aku. Mungkin aku pulang agak larut."
Kemudian Kevin keluar dari kamar. Setelah itu, Alea segera mengambil ponselnya, membuka map yang terhubung dengan gps yang terpasang di mobil Kevin. Untunglah semua kata sandi sama hingga kini kemanapun mobil Kevin melaju Alea pasti tahu.
Alea mengambil jaketnya. Dia tidak mungkin menunggu dengan rasa penasaran yang menggunung. Dia segera mencari Anton untuk mengajaknya mengikuti Kevin.
"Bi, tolong jaga Reka dan Raffa ya. Kebetulan mereka juga sudah tidur. Aku mau keluar sebentar," suruh Alea.
"Baik nyonya."
Alea segera masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan Anton itu melaju
"Pak, tolong ikuti mobil Kevin ya. Lewat navigasi ini." Alea menyerahkan ponselnya pada Anton.
Anton meletakkan ponsel itu di tempat ponsel yang berada di depannya. "Baik nyonya."
Jarak antara mobil Kevin dan Alea tidak terlalu jauh. Hingga kini dia bisa melihat mobil Kevin berhenti di depan sebuah rumah.
__ADS_1
Mobil Alea menunggu dari kejauhan. Beberapa saat kemudian terlihat Kevin sudah kembali bersama seorang wanita.
"Siapa wanita itu?" Alea semakin bertanya-tanya.
Anton kembali mengikuti mobil Kevin setelah mobil Kevin melaju.
Perasaan Alea semakin tidak tenang. Benarkah Kevin telah berselingkuh? Pikiran buruk dan kotor terus singgah di benaknya. Apalagi saat mobil Kevin masuk ke dalam tempat parkir sebuah hotel.
"Pak, tunggu di mobil saja, aku mau mengikuti Kevin," kata Alea. Dia sangat penasaran, apa yang dilakukan Kevin dengan wanita itu di hotel?
"Biar saya temani, Nyonya."
Alea menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sebentar, Pak Anton tunggu di sini saja." Kemudian Alea turun dari mobil dan diam-diam mengikuti Kevin.
Ternyata seperti ini rasanya cemburu? Sakit yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ya, ada yang terluka dan sakit tapi tidak berdarah.
Alea semakin menatap nanar Kevin saat satu tangan itu merengkuh pinggang wanita itu. Dia terus berjalan perlahan hingga masuk ke taman hotel dimana hanya ada beberapa suite room di sana.
Alea menghentikan langkahnya. Dia tidak sanggup mengikutinya lagi. Meski kini Kevin dan wanita itu memasuki salah satu suite room itu.
Alea memutar kembali langkahnya dan berjalan ke tempat parkir. Air mata itu sudah tidak bisa dia bendung lagi. Sambil terisak dia kini masuk ke dalam mobil.
"Nyonya kenapa?" tanya Anton. Walau sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.
Alea menggelengkan kepalanya. "Jalan, Pak."
Sepanjang perjalanan Alea masih saja menangis. "Pak, tolong jangan bilang kalau aku ngikuti Kevin," pesan Alea.
"Iya nyonya. Tapi menurut saya lebih baik nyonya bicarakan baik-baik dengan Tuan. Sepertinya ini hanya salah paham. Tidak mungkin Tuan Kevin selingkuh dari Nyonya."
"Aku juga awalnya tidak mengira tapi setelah aku melihatnya sendiri..." Alea menghentikan perkataannya dan semakin memangis.
"Tenang nyonya. Sabar... Saya yakin ini hanya salah paham."
Setelah itu sudah tidak ada lagi percakapan di dalam mobil. Hanya ada suara isak tangis Alea saja yang sesekali terdengar. Alea menatap jalanan malam itu yang mulai sepi sambil terus mengusap perutnya. Berusaha mencari kekuatan untuk dirinya sendiri.
Sebuah gerakan dari dalam perut membuat dirinya sedikit tenang. Alea tidak boleh hanya menangis dan berdiam diri. Dia harus mencari tahu kebenarannya sendiri.
💞💞💞
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen ya...