Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Cepatlah Sadar


__ADS_3

Kevin tersenyum melihat putri kecilnya yang sekarang tidur dengan nyenyak di dalam inkubator. Dia masukkan satu tangannya lalu mengusap lembut pipi merah itu.


Wajah yang sangat mirip dengan Alea. Tanpa sadar air mata itu kembali menetes, bahkan sampai sekarang Kevin belum bisa menemui Alea.


"Sayang, doakan Mama cepat sadar dan sehat ya. Biar kita bisa segera berkumpul bersama." ucapnya pelan.


Bayi itu bergeliat gemas seolah merespon ucapan Papanya. "Cantik, mirip banget sama Mama. Kelak kamu pasti jadi gadis yang kuat, Rania."


Rendra kini berdiri di sebelah Kevin. Dia tersenyum menatap keponakannya itu. "Gak nyangka aku udah punya tiga ponakan. Papa pasti senang melihat cucu-cucunya."


Kevin hanya terdiam. Dia masih canggung dengan kakak iparnya itu.


"Makasih, selama ini kamu sudah menjaga Alea."


Kevin menggelengkan kepalanya. "Aku gagal menjaganya."


"Ini bukan salah kamu."


Kevin kembali menghela napas panjang lalu dia keluar dari ruangan bayi. Dia kembali bertanya pada suster apa dia sudah boleh menemui Alea.


Suster itu memberi tahu ruangan vip Alea. Kevin segera menuju ruangan itu dengan langkah panjangnya.


Perlahan dia masuk ke dalam ruangan Alea. Hatinya terasa sakit melihat wajah pucat Alea yang terbaring tak berdaya dengan selang oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Satu jarum infus terpasang di pergelangan tangan sebelah kanan dan satu lagi jarum transfusi darah yang terpasang di sebelah kiri.


Kevin duduk di dekat brangkar Alea. Dia menundukkan kepalanya dan kembali menangis. Dia benar-benar tidak sanggup melihat kondisi Alea yang seperti ini. Bahkan Alea pingsan sebelum kesalahpahaman itu jelas.


"Alea, cepat bangun sayang." satu tangan Kevin terulur mengusap puncak kepala Alea. "Ada Rania yang menunggu untuk kamu gendong dan kamu kasih ASI. Dia cantik, mirip sekali sama kamu. Gadis kecil kita yang sudah kamu nantikan."


Tidak ada respon apapun dari Alea.


Kevin semakin terisak, harusnya ini adalah momen bahagia untuknya dan Alea, karena putri kecilnya telah lahir, tapi momen ini justru penuh dengan air mata.


"Cepat sembuh sayang. Gak akan ada yang bisa menggantikan kamu dalam hidup aku selamanya. Aku sangat menyayangimu." Kevin mengecup dalam kening Alea. Cukup lama, berharap semua energinya tersalur untuk Alea.


"Semoga kamu besok membuka mata kamu dan berhasil melewati masa kritis ini."


Itulah harapan Kevin, karena jika sampai besok Alea belum juga tersadar, dia dinyatakan koma.


...***...

__ADS_1


"Ayah, Reka mau ketemu Mama." Pagi itu Reka yang ditemani Niko dan Luna merengek ingin bertemu dengan Mamanya. "Reka juga ingin bertemu dengan adik Rania."


"Mama masih belum boleh dijenguk. Besok saja ya kalau Mama sudah sadar." Niko berusaha menenangkan putranya itu. Dia mengerti, Reka pasti sangat khawatir dengan Mamanya.


Reka menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil melipat tangannya bersebelahan dengan Raffa yang sedang asyik bermain remote tv.


"Reka bantu jaga adik saja ya di rumah. Papa juga belum bisa pulang," jelas Niko yang melihat wajah cemberut Reka.


"Tapi Reka khawatir sama Mama. Mama gak akan ninggalin Reka kan?"


Seketika Niko membawa Reka dalam dekapannya. Mendengar cerita keadaan Alea saja, Niko tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Alea saat ini.


"Reka berdo'a ya sayang untuk kesembuhan Mama." satu kecupan dalam mendarat di puncak kepala Reka.


Luna yang sedang menyuapi Raffa sampai meneteskan air matanya lagi meski buru-buru dia hapus. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana sakit yang Alea rasakan. Ditambah lagi memikirkan bayi yang baru lahir yang harusnya berada dalam dekapan ibunya.


"Mamma..."


"Raffa sama Bunda dulu ya sayang. Ayo, makannya di habiskan." Luna kembali menyuapi Raffa.


"Mamma.." Raffa menggelengkan kepalanya dan justru melempar remote tv. Padahal Raffa baru saja habis setengah porsi makanannya.


Sepertinya Raffa sudah sangat merindukan Mamanya. Raffa menempelkan kepalanya di dada Luna dengan wajah yang sedih.


"Raffa ngantuk? Minum susu dulu ya."


Niko mengambilkan dot susu Raffa dan memberikannya pada Raffa.


Masih dalam posisi yang sama. Raffa memegang sendiri dot itu dan meminumnya. Lama kelamaan Raffa memejamkan matanya.


Luna terus mengusap rambut Raffa. Dia merasa kasihan dengan Raffa. Seandainya Raffa bisa bicara, pasti dia akan menyakan hal yang sama seperti Reka.


...***...


"Selamat pagi sayang..." kata Kevin meskipun pagi itu Alea belum juga membuka matanya. "Aku lap ya badannya biar segar." Kevin mengambil handuk kecil lalu membasahinya dengan air hangat.


Dia usap perlahan wajah Alea. Beberapa saat kemudian ada dua suster yang masuk ke dalam ruangan. Suster itu sudah membawa perlengkapan untuk Alea.


"Biar kami bantu, Pak." kedua suster itu mengambil alih handuk kecil dari tangan Kevin. Kevin mundur beberapa langkah, dia merasa tidak tega saat kedua suster itu merawat luka sayatan yang ada di perut Alea.

__ADS_1


Akhirnya Kevin duduk di sofa, selama kedua suster itu merawat dan memeriksa Alea. Badan Kevin terasa lemas dan gemetar. Pantaslah, sejak semalam dia belum makan sama sekali.


Setelah selesai, kedua suster itu keluar. Beberapa saat kemudian Rendra masuk ke dalam dengan membawa sekotak nasi dan minuman hangat.


"Kamu makan, kalau kamu sakit gak ada yang jagain Alea."


Kevin terdiam beberapa saat lalu meraih kotak nasi itu. "Terima kasih." Meski sebenarnya selera makan itu tidak ada, tapi dia harus tetap makan. Ya, demi menjaga Alea dan memantau perkembangan Rania di inkubator ruang bayi.


"Mulai sekarang anggap aku dan Papa juga keluarga kamu. Meskipun dunia kita berbeda. Aku gak seburuk yang kamu kira, meski hidup aku penuh dengan kasus kriminal, tapi aku gak pernah mengusik orang lain tanpa alasan."


Kevin masih saja terdiam.


"Semalam Papa sudah berangkat ke Indonesia. Sebentar lagi pasti sampai di sini."


Kali ini Kevin menganggukkan kepalanya. Dia masih berusaha menelan makanan yang sebenarnya sangat sulit melewati tenggorokannya.


"Semoga dengan datangnya Papa ke sini bisa memberi kekuatan pada Ale."


"Iya," jawab Kevin sambil menyudahi makannya.


Kemudian ada panggilan masuk di ponsel Rendra. Rendra mengangkatnya dan keluar dari ruangan Alea.


Beberapa saat kemudian, ada seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan Alea. Kevin bersitatap sesaat dengan pria itu.


Jadi ini Papa Alea...


Tapi sedetik kemudian pandangan Pak Marko tertuju pada putrinya. "Ale..." Dia berjalan mendekat dan menatap lekat wajah Alea. "Putri kecil Papa,." Pak Marko menyusuri gurat wajah yang masih terlihat pucat itu.


Pak Marko membungkukkan badannya dan setengah memeluk tubuh Alea. "Ale, cepat sadar sayang. Papa merindukan kamu. Sangat merindukan kamu." air mata itu lolos dari mata Pak Marko hingga membasahi leher Alea.


Pelukan hangat itu seolah menarik jiwa Alea....


💞💞💞


.


.


Jangan lupa like dan komen. .

__ADS_1


__ADS_2