Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.53


__ADS_3

Malik menghapiri Jihan yang masih mematung di depan pintu. Jihan nampak bingung karena melihat keberadaan Malik di ruangan Johan.


"Ayo kita kembali keruangan," ajak Malik.


Jihan masih menatap Malik dengan bingung. Karena tak ada respon dari Jihan, akhirnya Malik meraih tangan Jihan agar berjalan mengikutinya, lalu melangkah menuju pintu keluar.


Sesampainya di depan pintu, Johan tiba-tiba saja masuk, ia kaget melihat keberadaan adik sepupunya itu di ruang kerjanya. Johan memperhatikan tangan Malik yang memegang pergelangan tangan Jihan.


Malik berhenti melangkah karena Johan mengahalangi jalannya. Malik dan Johan saling beradu pandang, aura persaingan antar keduanya begitu terasa hingga membuat Raksa yang berjarak dua meter dari mereka, merasakan bulu kuduknya berdiri.


"Lepaskan tanganmu darinya," ucap Johan pada Malik.


Malik terseyum sinis mendengar ucapan Johan padanya, ia begitu muak karena seolah Jihan adalah milik Johan, padahal Johan akan segera bertunangan dengan wanita lain.


"Maaf tuan Johan yang terhormat, saya datang kemari, hanya untuk menjemput rekan kerja saya. Permisi," tutur Malik.


Malik tak melepaskan genggaman tangannya, ia hendak kembali melangkah, namun sepertinya tidak akan mudah, karena Johan kembali menghadang langkahnya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu dan Jihan keluar, sebelum kamu melepaskan tanganmu darinya," ujar Johan yang semakin kesal.


Malik berbalik melihat Jihan, Jihan menganggukkan kepalanya, pertanda agar Malik menuruti kemauan Johan. Akhirnya Malik melepaskan tangannya, dari pergelangan tangan Jihan.


Setelah Malik melepaskan genggaman tangannya, Jihan kembali melangkah meninggalkan itu, tanpa menoleh sedikit pun kepada Johan.


Raksa yang juga berada di belakang Malik beranjak pergi dari ruangan itu, karena ruangan itu sedang memasuki zona berbahaya, sepertinya akan terjadi perang antara saudara.


"Jangan terlalu ikut campur Malik," ucap Johan.


"Aku tidak akan ikut campur, jika kak Johan berhenti mengejar Jihan, biarkan aku mengisi hatinya," ujar Malik.


"Sampai kapan pun tidak akan ku biarkan," ucap Johan yang kini menatap Malik dengan tajam.


Hal seperti ini memang sering terjadi, bukan hanya antara saudara sepupu, namun saudara kandung pun sering berada di situasi dimana mereka sama-sama menyukai wanita yang sama.


Tak ada yang mau mengalah itu sudah pasti, namun pilihan tetap pada Jihan, hati mana yang akan ia pilih. keduanya sungguh membingungkan Jihan, ia tidak mencintai Malik tapi ia mencintai Johan.


Johan yang sebentar lagi akan terikat dengan wanita lain. Hanya ada dua pilihan, menyakiti atau disakiti. Jika ia memilih Malik, otomatis secara tidak langsung Jihan akan menyakiti Malik karena tak adanya rasa cinta yang Jihan rasakan pada rekan kerjanya itu.


Namun jika ia memilih Johan, maka ia yang akan tersakiti, karena penghalang antara keduanya yang begitu besar.

__ADS_1


Jihan membuka pintu ruangan departemen keuangan, Ia berjalan dengan cepat menuju meja kerjanya dan langsung duduk di kursinya.


Jenny, Cika, Rendy bahkan pak Kus pun ikut mengerumuni meja Jihan.


"Jihan kamu tidak apa-apa kan?" tanya pak Kus.


"Tidak apa-apa Bagaimana, lihat sudut bibirnya berdarah," ucap Jenny khawatir.


"Aku baik-buruk saja," ucap Jihan.


"coba ceritakan, apa masalahnya sehingga kamu dan Clara berkelahi?" tanya pak Kus pensaran.


"Saya hanya tidak bisa menahan emosi saya, saat ucapannya benar-benar sudah kelewatan batas ... maafkan saya karena membuat nama baik departemen keuangan tercoreng," tutur Jihan.


"Ah sudahlah Jihan, Jangan meminta maaf, dia memang pantas mendapatkan pelajaran, aku sudah lama geram dengan sikapnya, untung saja dia wanita kalau tidak, sudah lama ku hajar habis-habisan," ujat Rendy.


"Benar Jihan, yang paling penting kamu baik-baik saja," ucap Cika.


~~


Menjelang sore, Jihan mampir ke butik Kinan untuk bertemu sahabatnya itu, ia melangkah dengan lemas memasuki butik Kinan.


Senyumannya mengembang saat melihat kedatangan Jihan. segera saja Kinan mengahampiri Jihan.


"Baru pulang kerja?" tanya Kinan saat berada di hadapan Jihan.


"Iya," jawab Jihan lemas.


Kinan memperhatikan sudut bibir Jihan yang terlihat memar, ia sampai terperanga karena melihat Jihan terluka, seumur hidup bersahabat dengan Jihan, Kinan tak pernah melihat wajah Jihan memar seperti ini.


"Bibir kamu kenapa seperti ini?" tanya Kinan khawatir.


"Akan aku ceritakan di ruangan mu saja," ucap Jihan.


"Oke, ayo ikut aku." Kinan menarik tangan Jihan agar berjalan mengikutinya.


Sesampainya di ruangan Kinan, Jihan langsung duduk di atas sofa dengan wajah lemasnya. Kinan langsung mengambil posisi duduk di hadapan Jihan, seolah akan segera melakukan interogasi.


"Kita sudah disini, ayo cepat ceritakan pada ku, dari mana kamu mendapatkan luka memar ini," ucap Kinan sambil menunjuk luka di sudut bibir Jihan.

__ADS_1


"Aku berkelahi dengan salah satu kepala staf" tutur Jihan.


"Apa!" Kinan kaget mendengar penuturan Jihan.


"Pelan kan suara mu," ucap Jihan.


"Maafkan aku, bagaimana bisa kamu berkelahi di kantor dengan kepala staf lagi," ujar Kinan.


"Dia yang memulai, aku sudah telalu sering bersabar namun kali ini, kesabaran ku sudah habis," ucap Jihan kesal.


"Sabar Jihan, apa karena masalah itu, seketaris kak Johan sampai kemari membelikan kamu pakain?" tanya Kinan.


"Iya ... Kenapa juga Raksa membeli banyak sekali, aku hanya memakai satu, dan yang nilainya aku tinggal di ruangan kak Jo," ujar Jihan.


"Bagaimana dengan pesta, malam kemarin, apa semua berjalan lancar?" tanya Kinan.


"Berjalan lancar apanya ... di pesta itu, mungkin aku adalah orang yang paling menyedihkan. Karena menyaksikan laki-laki yang masih aku cintai akan bertunangan dengan wanita yang sangat membenciku," ujar Jihan lirih.


"Maksud kamu si Vita itu?" tanya Kinan.


"Iya ... tidak ada kesempatan lagi untuk kembali," ucap Jihan.


"Masalah percintaan kamu benar-benar rumit Jihan," ucap kinan yang sudah tidak bisa memberikan solusi apapun.


Kinan ikut duduk di samping Jihan, menyandarkan tubuhnya sandaran sofa, Kinan menoleh ke arah Jihan yang kini hanya terdiam membisu.


"Jihan," panggil Kinan.


"Apa," jawab Jihan tanpa menoleh kepada Kinan.


"Sekertaris Kak Johan .... Dia mengajak ku berkencan," ucap Kinan sambil menahan senyumnya.


"Apa!" seru Jihan kaget.


Sebelum Raksa menyelesaikan pembayaran untuk semua pakaian yang di belinya, ia meminta nomor ponsel Kinan. Kinan awalnya kaget, tapi karena Raksa adalah orang kepercayaan Johan, akhirnya Kinan bersedia memberikan nomor ponselnya.


Tidak Kinan sangka, beberapa jam setelah kepegian Raksa dari butiknya. Ponsel Kinan berdering tanda pesan masuk, dan ternyata pesan itu berasal dari Raksa. Raksa mengajak Kinan untuk makan malam di sebuah restaurant malam ini.


Entah sejak kapan, tapi Kinan merasa senang dengan ajakan Raksa. Sudah dua tahun ia menjomblo dan akhirnya seorang pria datang padanya, tanpa ia duga-duga.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2