Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.22


__ADS_3

Jihan membuka pintu secara perlahan, dilihat Johan yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya.


"Selamat pagi tuan," sapa Jihan.


"Dimana ibuku?" tanya Johan saat tak melihat keberadaan ibunya bersama Jihan.


"Nyonya, sudah pulang tuan, beliau bilang ada arisan mendadak, jadi tidak sempat menemui tuan lagi," ujar Jihan.


"O begitu ... baiklah," ucap Johan.


"Kalau begitu saya permisi tuan," ucap Jihan yang sudah akan beranjak pergi.


"Tunggu sebentar, kemarilah," ucap Johan.


Jihan mendekati Johan, sementara Johan langsung berdiri dari duduknya saat jihan sudah berada di depan meja kerjanya. Johan melangkah mendekati Jihan.


Sekarang mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, Johan meraih tangan Jihan dan meletakkan kalung yang sempat ia ambil dari meja rias Jihan, sewaktu ia mengantarkan jihan pulang waktu itu.


Jihan cukup terkejut, dan sedikit bingung, karena sudah beberapa hari, kenapa Johan baru memberikannya sekarang.


"Maaf karena sudah, mengambil kalung milik mu," ucap Johan.


Jihan menatap Johan lekat, ada rasa nyeri di hatinya saat johan berkata bahwa itu adalah kalung miliknya. Jihan meraih tangan Johan dan meletakkan kalung itu kembali di tangan Johan.


"Maaf tuan, sudah sejak lama saya ingin mengembalikan kalung ini, bahkan sebelum ke berangkatan anda ke amerika tujuh tahun yang lalu, saya sudah tidak punya hak untuk kalung ini, silahkan anda buang saja," ujar Jihan.


Jihan bahkan tak berani untuk berharap lebih kepada Johan, karena Johan bukanlah pria biasa seperti dulu, sekarang Johan adalah pengusaha sukses yang bergelimang harta, di tambah lagi ibu johan sendiri yang mengatakan bahwa johan, akan di jodohkan dengan Vita.


"Di buang?" ucap Johan tak percaya, entah kenapa ada rasa sakit di hatinya, saat Jihan mengatakan agar ia membuang kalung itu saja.


"Ehm, ya baiklah jika itu mau mu, kamu boleh Keluar sekarang," ucap Johan dengan kesal.


Kenapa dia marah, batin Jihan.


~


Hari menjelang sore, Jihan masih mengerjakan beberapa laporan, di lihatnya jam di tangannya yang menunjukkan pukul lima sore, ia segera merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang.


Baru saja dia akan keluar, tiba-tiba Malik masuk dan menghampirinya di meja kerjanya.


"Baru saja aku mau menghampiri kamu," ucap Jihan.


"Aku selesai lebih awal, jadi aku kemari ... bagaimana jadi makannya?" tanya Malik.

__ADS_1


"Ya jadi lah, hehe," ucap Jihan terkekeh sendiri.


Klek.


Johan keluar dari ruangannya dan mendapati. jihan sedang mengobrol dengan Malik, ia memicingkan matanya saat melihat Jihan sedang tertawa lepas saat sedang tertawa dengan lepas bersama dengan Malik. Tawa itu, Johan masih sangat mengfahal suara tawa lepas Jihan yang dulu selalu mendengung di telinganya.


"Hy kak Johan!," seru Malik saat melihat Johan berdiri di ambang pintu.


Jihan ikut menoleh ke arah pandangan Malik tertuju. Sementara Johan berjalan mendekati mereka.


"Panggil aku tuan, saat berada di kantor," ucap Johan pada Malik.


"Ah iya, aku lupa," ucap Malik sambil menepuk jidatnya.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Johan pada Malik.


"O ini, aku dan Jihan sudah janjian untuk pulang bersama," ujar Malik.


Johan beralih menatap Jihan, sementara Jihan langsung membuang muka, saat tatapan Johan tertuju padanya.


"Kalian boleh pergi," ucap Johan dengan mata yang terus menatap Jihan.


"Kami permisi dulu Tuan, laporan mingguan akan saya telah selesai, besok akan saya serahkan," ujar Jihan.


Jihan dan Malik beranjak pergi, tatapan mata Johan tak pernah lepas sekalipun dari Jihan, sampai Jihan menghilang dari balik pintu.


Johan kembali ke ruang kerjanya, ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa, Johan membaringkan tubuhnya yang kini terasa lelah dengan fikiranya yang campur aduk.


Melihat Jihan bisa tertawa lepas bersama laki-laki lain, membuat Johan kembali merenungi kesalahannya Melepaskan jihan dulu. andai mereka masih bersama, akankah Jihan bisa tertawa seperti itu lagi saat bersamanya.


Kini semuanya terasa canggung, tak ada lagi, jihan yang dulu selalu memanggilnya dengan sebutan kak Jo, Kini selalu bersikap formal padanya.


Jika sejak lama Johan tahu ini semua hanyalah kesalahpahaman, Ia akan cepat-cepat pulang ke Indonesia untuk memperbaiki semuanya.


Namun kini seolah tak ada lagi kesempatan, Johan tak mengerti harus memulai dari mana, senyum pahit yang Jihan berikan padanya saat ia meminta maaf kemarin, membuat ia takut untuk terlalu banyak menggali luka di masa lalu.


Johan mulai berfikir, untuk mencari tahu kejadian apa saja yang sudah jihan lewati selama tujuh tahun belakangan ini tanpa dirinya.


Johan tiba-tiba memiliki sebuah ide, ia harus menemui Kinan, sahabat dekat Jihan, Johan pikir, Kinan pasti mengetahui hal yang ingin ia ketahui.


~


Di sebuah restaurant berbintang, dengan suara musik klasik menggema di setiap sudut ruangan. Jihan menggedarkan pandanganya ke sekeliling restaurant yang berkonsep American klasik itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Malik yang merasa heran dengan sikap Jihan.


"Sepertinya restaurant ini sangat mahal, bagaimana jika kita pindah saja," ucap Jihan berbisik kepada Malik.


"Tidak perlu, kan aku yang traktir," ucap Malik.


"Tetap saja, aku yang minta traktir kan. Aku tidak ingin membebani mu, ayo kita pindah saja," ucap Jihan.


Malik menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Jihan "Aku suka jika di bebani oleh mu."


"Ah kamu ini ... baiklah, jangan menyesal ya, aku makannya banyak loh," ucap Jihan sambil membaca buku menu.


"Iya pesan saja," ucap Malik sembari terus memperhatikan Jihan yang sedang berada di depannya.


~


Johan sudah sampai di butik Kinan, kebetulan sekali Kinan baru saja akan tutup. Kinan terkejut melihat sosok pria di hadapannya.


"Kak Johan," ucap Kinan terbatabata.


"Apa bisa kita bicara sebentar," ucap Johan.


Kinan bahkan tak sanggup untuk menjawab, ia hanya bisa mengangguk tanda setuju.


Di sebuah cafe yang tidak jauh dari butik Kinan, Johan duduk berhadapan dengan Kinan, Kinan merasa seperti di intimidasi saat melihat tatapan mata Johan yang begitu tajam.


"Apa yang ingin Kak Johan Bicarakan?" Tanya Kinan, memecah keheningan yang sempat membelenggu.


"Aku hanya ingin mengetahui, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jihan di masa lalu saat aku tidak ada," ucap Johan.


"Apa maksud kakak?" tanya Kinan, ia cukup kaget saat Johan menanyakan hal ini.


"Beberapa hari yang lalu, aku datang ke butik mu, dan aku mendengar obrolan kalian, tentang Vita yang menjebak Jihan, aku penasaran, hal apa saja yang terjadi saat aku tidak ada, aku sudah mencoba untuk mengetahuinya dari Jihan, tapi Jihan tak mau bicara, aku bisa melihat luka yang begitu dalam dari matanya," ujar Johan.


"Apa kak Johan, masih perduli? ... Selama tujuh tahun Jihan banyak menderita, menceritakannya sekarang hanya akan membuat Jihan kembali mengingat masa-masa sulitnya," ujar Kinan.


"Aku nohon ceritakan padaku, aku ingin memperbaiki semuanya, meski sudah terlambat," ucap Johan.


"Baiklah, jika kakak benar-benar ingin memperbaiki kesalahan kakak, aku akan cerita," ucap Kinan.


"Hari itu, hari di mana kak johan berangkat ke Amerika, aku dan Jihan pergi menemui kak Vita untuk meminta pertanggung jawaban untuk semua fitnah yang di berikan kak Vita kepada Jihan. Aku sangat kesal saat kak Vita bahkan tidak meminta maaf kepada Jihan, aku dan Jihan memutuskan untuk pergi ke rumah kakak, dan ternyata kakak sudah berada di bandara. Jadi aku dan Jihan naik taksi untuk menemui kakak di bandara, di pertengahan jalan, tante Jihan menelpon, memberitahukan jika kedua orang tua Jihan masuk rumah sakit karena kecelakaan, kami tidak jadi pergi menemui kak Johan, sesampainya di rumah tante Jihan mendapat telepon bahwa kedua orang tua Jihan sudah tiada, di saat bersamaan dengan kakak pergi meninggalkannya ke Amerika ... Jihan terpuruk cukup lama, hingga sempat mencoba mengakhiri hidupnya. Selama tujuh tahun Jihan mencoba membangun hidupnya kembali. Tapi kak johan datang dengan mengibarkan bendera perang padanya. aku selalu meminta Jihan untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya kepada kakak, tapi dia tidak mau," tutur Kinan panjang lebar.


Setiap ucapan Kinan yang Johan dengar seakan menyudutkan dirinya, menyayat hatinya, dan membuat ia merasakan apa yang Jihan rasakan, penyesalan selalu datang belakangan, tapi untuk memperbaiki, tak pernah ada kata terlambat.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2