
Johan keluar dari sebuah restaurant berbintang bersama dengan Raksa. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharian ini ia tidak pernah melihat Jihan karena telalu sibuk bekerja di luar kantor.
Johan berjalan dengan cepat menuju parkiran di ikuti Raksa dari belakang, setelah sampai di parkiran, ia berbalik melihat Raksa yang berada di belakangnya.
" Coba cek kembali data yang tadi, sebelum kamu berikan ke tim perencanaan," ucap Johan pada Raksa.
"Baik tuan, kalau begitu saya pamit pulang," ucap Raksa.
"Iya pulang lah," kata Johan pada Raksa.
Raksa beranjak masuk kedalam mobilnya, dan melaju pergi. Johan pun tak membuang-buang waktu, ia langsung masuk kedalam mobilnya dari tancap gas menuju apartement.
Ya, ia tidak sabar untuk bertemu Jihan Setelah seharian tidak melihat wajah cantik sang pujaan hati.
Setelah hampir sampai di gedung apartement, ponsel Johan tiba-tiba berdering tanda telepon masuk. Johan melirik ponselnya yang tertera panggilan masuk dari Vita. Johan begitu malas untuk meladeni Vita, akhirnya ia tidak mengangkat telepon itu.
Ponsel Johan berdering untuk kedua kalinya, dan itu cukup mengganggu konsentrasinya saat menyetir. Johan yakin, jika ia tidak mengangkat telpon itu, Vita tidak akan berhenti menghubunginya.
[Ya kenapa]
[ Datanglah ke apartement ku sekarang]
[Ada apa, aku sedang sibuk]
[ Jika kamu tidak datang, aku akan melompat dari jendela apartement ku]
[ Hey, apa kamu gila]
Belum selesai Johan bicara, Vita sudah memutuskan sambungan telepon. Karena takut terjadi apa-apa dengan Vita, akhirnya Johan putar balik, menuju apartement Vita. walau bagaimanapun Vita adalah sahabatnya.
Untung saja jarak dari apartement tempat Jihan beradanke apartemen Vita cukup dekat, jadi ia bisa dengan cepat menemui Vita dan memastikan Vita baik-baik saja lalu kembali menemui Jihan.
Sesampainya di depan pintu apartemen Vita, Johan langsung menekan bel, setelah beberapa kali, barulah Vita membuka pintu untuknya. Vita muncul dari dalam dengan hanya menggunakan jubah mandinya. Wajahnya terlihat sendu seperti orang yang habis menangis.
"Masuklah, kita harus bicara sebentar," ucap Vita.
"Aku akan masuk, tapi hanya sebentar saja," ujar Johan.
__ADS_1
"Iya aku tahu, aku janji tidak akan lama," ujar Vita.
Johan melangkahkan kakinya masuk kedalam apartement Vita. Vita ikut menyusul Jihan masuk, setelah menutup pintu. Johan duduk di sofa ruang tamu, Kini ia dan Vita sudah duduk saling berhadapan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Johan langsung ke intinya tanpa basa basi.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin memberiku kesempatan?" tanya Vita.
"Kamu tahu akau tidak mempunyai perasaan apapun padamu, jadi menyerah lah," ujar Johan.
"Ya aku akan menyerah," ucap Vita lagi.
"Kamu serius?" tanya Johan memastikan.
"Iya aku serius ... sebelum kamu pergi, minumlah dulu," ucap Vita lalu beranjak pergi menuju dapur untuk mengambil teh yang sudah ia campurkan obat perangsang sebelumnya.
Vita meletakkan teh itu di hadapan Johan, Johan pun tanpa curiga meneguk teh itu sampai habis, agar ia bisa cepat-cepat keluar dari apartemen Vita.
"Aku akan membicarakannya besok dengan kedua orang tua ku," tutur Vita yang kini sudah duduk di samping Johan.
Tiba-tiba Johan merasakan kepalanya begitu pusing dan badannya terasa sangat panas, ia mendurkan dasinya yang kini terasa mencekik. Vita tersenyum menyeringai saat melihat reaksi dari obat perangsang yang ia masukkan kedalam minuman Johan sudah mulai bereaksi.
"Jo, kamu kenapa?" tanya Vita pura-pura tidak tahu.
"Kepala ku berat sekali," ucap Johan.
Johan menoleh kearah Vita dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Vita yang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Johan langsung berdiri dari duduknya dan menjauh dari Vita.
"Apa yang kamu lakukan, cepat pakai bajumu!" teriak Johan.
Vita tak mendengarkan ucapan Johan, ia malah terus berjalan menghampiri Johan yang kini semakin merasa pusing.
"Jangan menahan diri sayang, kamu akan hanya akan mati karena tersiksa," ucap Vita sambil membelai wajah Johan.
Johan langsung menyingkirkan tangan Vita dari wajahnya, " Apa maksud kamu?"
"Aku memasukkan obat perangsang ke dalam minuman kamu, ayolah kamu hanya perlu melampiaskannya pada ku, dan kamu akan merasa lega setelahnya," ucap Vita sambil menggesek-gesekkan tubuhnya ke dada Johan.
__ADS_1
Johan bisa merasakan naluri lelakinya bangkit. Namun ia berusaha bertahan sekuat tenaga, agar tidak ada penyesalan setelahnya. Johan mendorong tubuh Vita sampai Vita terjatuh kelantai. Vita meringis karena merasakan sakit di bagian lututnya.
"Tega kamu sama aku Jo, aku sudah berusaha sampai sejauh ini!" teriak Vita dengan air mata yang sudah bercucuran keluar.
"Kamu terlalu nekat, aku salah karena masih saja percaya jika kamu bisa berubah," ucap Johan dengan emosi yang meluap-luap.
Johan berjalan dengan cepat menuju pintu. Salah satu kecerobohan Vita dalam rencananya adalah, lupa mengunci pintu, sehingga Johan bisa dengan mudah keluar. Pintu itu kembali tertutup, dan Johan sudah pergi meninggalkan Vita sendiri.
Vita memandangi kepegian Johan sambil terus menangis histeris. Ia sudah membuang jauh-jauh harga dirinya demi mendapatkan Johan, namun Johan tetap kekeh pada pendiriannya.
Sia-sia, semuanya terjadi dengan sia-sia. Vita berdiri sendiri posisinya dan mulai menghacurkan setiap barang yang ada di sekitarnya, ia stres, ia depresi karena Johan yang menolaknya terus menerus.
Sesampainya di parkiran Johan masuk kedalam mobilnya meski tubuhnya terasa semakin terasa panas, dan hasratnya semakin memuncak, minta untuk segera di salurkan. Ia bersyukur bisa selamat dari jebakan Vita, namun ia belum selamat dari jeratan obat perangsang itu.
Johan menghidupkan mesin mobil dan melaju pergi meninggalkan parkiran apartement itu. Sepanjang perjalanan, Johan semakin tidak bisa mengontrol dirinya, entah berapa tinggi dosis obat itu hingga membuat Johan seperti ini.
Johan mengambil jalan menuju apartement tempat Jihan berada, entahlah di saat seperti ini, bayangan Jihan lah yang memenuhi kepalanya. Ia menginginkan Jihan dan hanya pada Jihanlah ia ingin mengakhiri masa keperjakaannya.
Akhirnya Johan sampai di basement apartement. Dengan keringat yang semakin bercucuran, Johan keluat dari mobilnya, ia berjalan dengan sempoyongan,.masuk kedalam gedung apartement itu.
Johan menelusuri lorong demi lorong hingga akhirnya ia berhenti di depan pintu unit Apartement miliknya. Pandangan Johan mulai berputar-putar, hingga ia tidak bisa lagi menekan angka-angka yang ada di pintu itu.
Akhirnya Johan hanya bisa menekan bel, dengan harapan Jihan segera membuka pintu untuknya. setelah dua kali memencet bel pintu, akhirnya pintu itu terbuka. Johan bisa tersenyum lega karena kini Jihan sudah berada di hadapannya.
"Kak Jo, kamu kenapa?" tanya Jihan saat melihat wajah Johan yang nampak sangat pucat, keringat yang bercucuran dengan deras, hingga tatapan mata Johan yang nampak sangat aneh.
Johan tidak menjawab pertanyaan Jihan, ia langsung mendorong tubuh Jihan masuk kedalam, dan pintu terkunci secara otomatis. Johan mendorong tubuh Jihan hingga membentur tembok, dengan gerakan cepat Johan melahap bibir Jihan dengan rakus, deru nafasnya semakin memburu beriringan hasrat yang kian memuncak.
Johan menghentikan aktivitasnya saat merasakan Jihan memukul-mukul dadanya karena susah bernafas. Jihan bernafas dengan tersengal-sengal saat Johan melepaskan sentuhannya, Jihan tidak bisa bergerak karena Johan menghimpit tubuhnya dengan kedua tangan menggenggam erat kedua tangan Jihan.
Jihan hanya bisa menatap Johan tanpa bisa berkata apa-apa, ia masih kaget atas serangan tiba-tiba yang di berikan Johan.
Johan menatap Jihan dengan tatapan yang susah untuk di artikan, yang pasti menginginkan lebih dari ini, ia menginginkan Jihan, dan semua yang ada pada diri Jihan.
"Aku menginginkan malam ini," ucap Johan dengan nada suara yang sangat berat.
Bersambung 💕
__ADS_1