Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Baby Shower


__ADS_3

Kevin tersenyum sambil terus mengusap lembut perut buncit yang tertutup dress berwarna pink itu. Karena setiap usapannya kini dibalas oleh tendangan dari si kecil yang ada di dalam perut Alea.


"Kev, ih, usap-usap terus." Alea merasa geli sendiri, karena setiap usapan Kevin selalu dibalas gerakan aktif dari dalam. Sepertinya sejak dalam kandungan ikatan Papa dan Anak sudah sangat kuat.


"Lucu, tangan aku ditendangi terus." Tangan Kevin kini meraih pinggang Alea dan memeluknya meski tak bisa erat karena terhalang perut buncit Alea. "Makasih ya kamu sudah beri aku kebahagiaan sebanyak ini."


"Kok makasih? Semua kebahagiaan aku tuh kamu yang beri." Kevin melepas pelukannya lalu menciumi wajah Alea dan terakhir singgah di bibir meski tangan Alea sempat mendorong dada Kevin agar menjauh.


"Kev, make up aku."


Kevin terkekeh melihat ekspresi bumil satu ini. Alea segera berdiri dan kembali berkaca membenarkan make up nya karena 30 menit lagi acara baby shower dan tujuh bulanan akan segera dimulai.


"Masih cantik sayang. Ayo keluar, Raffa sama Reka udah stand by sedari tadi di depan sama Niko dan Luna." Kevin menggandeng tangan Alea dan berjalan beriringan menuju ruang tamu yang sudah berhiaskan nuansa pink begitu juga dengan dress code yang mereka pakai, semua serba pink. Ya, pasti bisa ditebak jenis kelamin adik Raffa kali ini.


"Mama..." Reka yang sedang bermain bersama Raffa, Niko, dan Luna memanggil mamanya yang berjalan mendekat bersama Kevin. "Adik Reka cewek kan Ma? Nih, pakai warna pink semua."


Alea tersenyum. Ya memang sudah bisa ditebak dari nuansa warna, entahlah dia begitu suka warna pink sejak tahu anak ketiganya perempuan.


"Ma.. Mama..." Raffa yang sudah mulai rambatan, dia berpegangan unjung kursi dan mendekati sang mama.


"Raffa, gendong Papa saja ya. Ada adik yang udah semakin besar di perut Mama.." Kevin meraih Raffa lalu menggodanya dan membuat bayi sepuluh bulan itu tertawa lepas.


Kemudian mereka segera menyambut tamu yang datang dan memberi selamat.


Mereka berempat nampak bahagia yang membuat Luna kini memeluk Niko dari samping. "Mereka keluarga yang sempurna ya. Ikut bahagia lihatnya."


Tapi apa yang dilakukan Luna justru membuat dada Niko berdetak tak karuan, karena setelah empat bulan baru kali ini Luna memeluknya. Bayangkan saja betapa tersiksanya Niko terus-terusan menjaga jarak aman dengan Luna.


"Sayang, aku udah gak bau?" tanya Niko memastikan.


Pertanyaan Niko membuat Luna juga tersadar, Luna mendekatkan dirinya ke bahu Niko dan mengendusnya. Lalu dia tersenyum. "Harum..."


"Syukurlah, akhirnya hidung kamu sembuh." Niko semakin mengeratkan pelukannya. Ingin dia mendekatkam dirinya dan mencium Luna tapi...


"Mas, tamunya udah pada datang. Nanti ada yang lihat."


"Iya, lupa lagi di acara orang." Niko mengajak Luna untuk duduk saat acara itu dimulai. Tak hentinya dia mengusap perut Luna yang sudah empat bulan itu. Rasanya dia juga sudah tidak sabar untuk bertemu buah hatinya.


Senyum bahagia terus mengembang di bibir Alea dan Kevin. Apalagi saat mereka membuka box balon yang sebenarnya bukan surprise lagi karena sudah terbaca dari nuansa warna pink.

__ADS_1


Baby girl...


Ya, sebahagia itu Alea akan mempunyai anak perempuan. Dia tersenyum lebar sambil tepuk tangan saat balon yang bertuliskan baby girl itu melayang di udara.


Tentu, acara baby shower ini sangat berbeda dengan acara tahun lalu, dimana banyak kesedihan di saat Kevin sakit parah di tahun itu. Tapi semua telah berlalu, sekarang hanya ada tawa yang mewarnai keluarga mereka.


Raffa mengangkat tangannya berusaha mengambil balon yang melayang itu.


"Raffa, nih kakak punya balon."


Seketika Raffa berusaha meraih balon yang dipegang Reka.


"Raffa, gendong Papa dulu banyak tamu."


Raffa masih saja merengek turun. Akhirnya Kevin menurunkan Raffa di dekat dekor yang memang ada alas lantainya. Kedua kakak beradik yang berjarak tujuh tahun itu asyik bermain balon dan tertawa riang.


"Sayang, duduk dulu." Kevin menarik kursi agar Alea duduk sambil mengamati kedua putranya. "Kalau capek bilang ya."


"Iya. Tapi capeknya hilang kalau lihat mereka bahagia."


"Mereka atau mamanya nih yang bahagia akan dapat seorang putri."


Alea kembali tertawa karena memang seperti itu adanya.


Setelah acara selesai, Alea segera menidurkan Raffa karena Raffa sudah mengantuk dan rewel.


"Reka gak mau menginap di rumah Ayah?" tanya Niko saat akan berpamitan pulang.


Reka menggelengkan kepalanya. "Minggu depan saja Ayah. Sekarang Reka capek."


Niko mengusap puncak kepala Reka. "Ya sudah, Reka cepat tidur ya."


"Iya Ayah."


Setelah mendapat ciuman dari Niko, Reka berjalan menuju kamarnya.


"Nik, mau langsung pulang?" tanya Kevin setelah menyalami beberapa rekan yang pulang terakhir.


"Iya, sudah malam."

__ADS_1


"Ya udah hati-hati."


Setelah kepergian Niko dan Luna, Kevin masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum melihat Alea dan Raffa yang sudah tertidur. Dia mengambil baju gantinya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai dan berpakaian, Kevin segera naik ke atas ranjang dan memeluk Alea dari belakang.


"Kev?" merasakan tangan Kevin di atas perutnya, Alea pun terbangun.


"Ssstt, kamu tidur lagi. Maaf jadi kebangun." Satu tangan Kevin menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua.


Alea justru memutar tubuhnya perlahan hingga kini terbaring. "Pinggang aku pegal banget." keluh Alea karena memasuki trimester ketiga Alea memang sering merasa pegal di bagian pinggangnya.


"Sini aku pijitin pelan. Hadap sana."


Alea kembali memutar tubuhnya dan membelakangi Kevin.


Kevin mulai memijat pinggang Alea perlahan yang membuat Alea merasa nyaman.


"Aku jadi ingat satu tahun yang lalu. Waktu acara baby shower Raffa dan kamu justru makin drop. Saat itu juga Raffa lahir prematur." Alea memejamkan matanya sambil mengingat perjuangannya waktu itu.


Kevin tersenyum kecil. "Semua itu telah berlalu. Aku bersyukur diberi kesembuhan dan kesehatan untuk keluarga kecil kita."


Alea mengangguk pelan. "Semoga keluarga kita selalu bahagia seperti ini ya."


"Amin. Tapi namanya hidup pasti ada saja cobaan. Entah itu besar atau kecil, tapi yang jelas kita harus bisa melaluinya."


"Iya, dan kita harus tetap bersama sampai tua nanti. Membesarkan anak-anak kita bersama sampai sukses." Alea tersenyum kecil membayangkan jika suatu saat nanti dia bisa melihat kesuksesan anak-anaknya.


"Iya sayang. Amin. Semoga kita bisa menua bersama."


Pijatan lembut di pinggangnya membuat Alea ingin memejamkan matanya. Dia menguap panjang.


"Udah malam, tidur sayang."


Alea mengangguk lalu mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen..


__ADS_2