
"Sayang, lihat status Luna gak? Dia post foto USG," kata Kevin sambil menatap layar ponselnya.
Alea yang baru saja menidurkan Raffa, kini ikut melihat ponsel Kevin. "Wah iya, dia sudah hamil 7 minggu."
"Akhirnya mereka dapat gantinya juga." Kevin meletakkan ponselnya di atas nakas lalu merengkuh tubuh Alea yang sedang bersandar di headboard.
Mereka kini memandangi wajah pulas Raffa yang sudah akan berumur tujuh bulan itu. Dia sudah mulai merangkak, dan ada saja gerak aktifnya setiap hari. Semakin menggemaskan dan semakin suka diajak bercanda.
"Raffa aktif banget sekarang, kamu jangan terlalu ngikuti geraknya, biar Bi Sum saja. Pembantu baru kan juga sudah mukai kerja. Jadi pekerjaan Bi Sum sekarang fokus merawat Raffa." kata Kevin. Dia tidak mau Alea sampai kelelahan dan kondisinya menurun lagi.
Alea menyandarkan dirinya di bahu Kevin sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit.
Tangan Kevin juga beralih menyentuh perut Alea yang sudah hampir 4 bulan itu. "Udah terasa belum gerakannya?" tanyanya.
"Udah, kadang kayak ada kedutan gitu. Gak sabar mau tahu jenis kelaminnya."
"Kalau cowok lagi jangan sedih ya. Nanti kita coba lagi." Kevin tersenyum kecil. Tentu, dia tidak akan pernah bosan membuatnya.
Satu tangan Alea beralih mencubit pinggang Kevin. "Ih, nanti kasih jarak. Jangan dekat banget gini."
"Iya sayang." Kevin mencium pipi Alea. "Aku gak mau kamu sakit lagi kayak kemarin. Nanti kita besarkan dulu Raffa dan si kecil dalam perut ini."
"Ngidam kamu udah sembuh?" tanya Alea, karena setelah kejadian di puncak, Alea sudah tidak pernah melihat Kevin ingin memakan sesuatu dan sudah tidak melihatnya muntah lagi di pagi hari.
"Sepertinya, coba sini tes dulu."
"Caranya tes?"
Kevin menangkup kedua pipi Alea lalu dia mendekatkan dirinya. Bibir yang sudah hampir tiga bulan itu tidak dia rasakan, kini bisa merasakannya kembali dengan dada yang berdebar bagai ciuman pertama.
Kevin mulai mencari celah dan bermain di rongga mulut Alea, dengan sesekali menyesapnya dan bertukar saliva. Tangan yang tadinya berada di pipi, kini pindah ke tengkuk leher Alea dan semakin menekan kepala Alea agar dia dengan leluasa memagutnya.
Perlahan Kevin melepas pagutannya saat napas Alea sudah terasa berat.
"Sudah gak mual, berarti udah sembuh. Akhirnya setelah tiga bulan gak cium kamu sekarang merasakannya lagi. Udah kayak ciuman pertama aja barusan. Deg deg ser."
Wajah Alea bersemu merah. Lalu dia menyandarkan kembali dirinya di dada Kevin.
"Sayang kamu capek gak?" tanya Kevin sambil mengeratkan rengkuhannya.
__ADS_1
Alea semakin tersenyum karena pertanyaan itu merupakan kode keras baginya. Ya, setelah Alea sakit, Kevin memang mengurangi intensitas ber cinta nya. Dia begitu menjaga Alea agar tidak terlalu kecapekan.
Alea menggelengkan kepalanya pelan.
"Ke sofa yuk!" ajak Kevin sambil mencium puncak kepala Alea.
Alea hanya mengangguk malu.
Kevin langsung menggendong tubuh Alea.
"Emang aku gak berat? Aku udah naik 5 kilo loh."
Kevin tertawa kecil. "Iya emang berat. Tapi aku senang, itu tandanya kamu dan calon anak kita sehat." secara perlahan Kevin menurunkan Alea di atas sofa. "Siap untuk petualangan hari ini?" tangan Kevin mulai membuka kancing piyama Alea satu per satu.
"Siap komandan."
Kevin merasa sangat gemas dengan ekspresi Alea. Dia kembali mendekatkan dirinya. Semakin lama ciuman itu semakin liar dan menuntut. Bibir itu sudah semakin ke bawah menyusuri titik sensitif Alea yang sudah tanpa penghalang apapun. Suara de sah sudah terdengar. Secara perlahan Kevin menghujam Alea. Dengan penuh perasaan dan penghayatan. Sampai keringat membasahi tubuh mereka berdua dengan suara de sah yang kian beradu, hingga melemas bersama.
...***...
"Mas, gak usah ikut naik. Aku bisa bilang sendiri sama Pak Kevin." sedari tadi Luna terus menggerutu karena Niko memaksa ikut ke kantor Kevin. Dia ingin memastikan sendiri pengunduran diri Luna.
"Dih, posesif banget." Luna yang memang berjalan di depan Niko semakin menambah kecepatan langkah kakinya.
"Iya lah. Kok ngambek lagi sih?" Niko menggelengkan kepalanya karena masih pagi Luna sudah kesal beberapa kali dengannya.
Tapi Niko tetap sabar dan berjalan satu meter di belakangnya. Tetap pada jarak aman.
Sampai di depan ruangan Kevin, Luna justru duduk di meja kerjanya.
"Loh, sayang katanya mau bilang sama Kevin."
"Udah ah, Mas Niko aja. Apa kata Mas Niko aja."
Niko menghela napas panjang lalu dia masuk ke dalam ruangan Kevin. Kebetulan Kevin memang sudah datang pagi hari itu.
"Ada apa Nik? Kesasar ke sini. Tuh, istri di depan."
Niko justru berdengus kesal sambil menghempaskan dirinya di sofa.
__ADS_1
"Selamat ya atas kehamilan Luna," kata Kevin sambil membuka layar laptopnya. Merasa tidak ada jawaban dari Niko, akhirnya Kevin meliriknya. "Muka ditekuk aja, gak dapat jatah semalam?"
"Iya, jelas. Dan malam-malam selanjutnya juga."
Kevin ingin tertawa tapi dia tahan. "Loh, kok bisa?"
"Luna mual tiap dekat aku. Udah gitu bawaannya kesal banget sama aku."
Kevin sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Ternyata Niko lebih menderita daripada apa yang dialaminya kemarin.
"Shits. Kamu malah nertawain aku!"
"Karma is real! Lebih parah daripada aku. Untung aku sekarang udah sembuh." Kevin berdiri lalu duduk di sebelah Niko. "Jadi kamu ke sini mau curjat soal ini?"
Niko menggelengkan kepalanya. "Kamu segera cari sekretaris baru ya, biar Luna fokus dengan kesehatannya. Dia gak aku perbolehkan kerja lagi."
Kini Kevin yang menghela napas panjang. Dia sandarkan dirinya di sofa. Ingin dia menolak keinginan Niko tapi dia mengerti Niko pasti menginginkan yang terbaik untuk istrinya. "Ya sudah, aku akan secepatnya cari pengganti Luna meskipun sulit cari kualifikasi yang pas."
"Ya, sebelum kamu dapat pengganti, aku izinkan Luna bekerja dulu di sini. Tapi ingat, jangan sampai kamu kasih banyak pekerjaan."
Kevin tertawa sambil menepuk bahu Niko. "Oke. Bucin banget."
"Kayak kamu gak aja."
"Waduh, tambah parah banget."
Mereka berdua tertawa kemudian obrolan mereka berlanjut tentang masalah pekerjaan.
Sedangkan Luna yang tak juga melihat suaminya keluar dari ruangan menjadi penasaran, apa saja yang diobrolkan suaminya itu. Dia berjalan mendekat dan sedikit mendengar obrolan mereka.
Luna tersenyum karena hubungan mereka semakin membaik, jika mengingat dulu, Kevin yang sangat membenci Niko dan berniat membalas dendam karena kesalahan Niko tapi sekarang mereka seperti keluarga bahkan sering bekerja sama dalam masalah pekerjaan. Syukurlah, semakin hari semua semakin membaik dan semoga akan terus seperti itu sampai nanti.
.
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya...