Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.51


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Johan dan kedua orangtuanya baru saja tiba di rumah. sesampainya di dalam, Johan langsung menghadang langkah kedua orang tuanya.


Johan sudah sejak tadi, ingin meminta penjasan kepada kedua orangtuanya. Namun di acara tadi terlalu banyak orang. Tentu saja Johan tidak mau membuat keributan.


"Aku mau Ayah dan Ibu, menjelaskan semuanya padaku," kata Johan sambil menatap ayah dam ibunya secara bergantian.


Toni dan Maria, saling menatap sebentar seolah sedang mendiskusikan sesuatu.


Mereka sudah menduga jika Johan akan memberi respon seperti ini.


"Duduklah. Ayo kita bicara," ucap Toni pada putranya.


Toni melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di ruang keluarga dan di ikuti oleh Johan dan Maria. Kini Johan sudah duduk di hadapan kedua orangtuanya, ia benar-benar sudah tidak sabar mendengar penuturan yang akan Ayah dan Ibunya sampaikan.


"Ayah, ibu ... katakan pada ku, kenapa situasinya menjadi seperti ini, aku tidak mencintai Vita, dan bagaimana bisa kami bertunangan," ujar Johan.


"Jo, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, jadi kamu hanya perlu membiasakan diri saja mulai sekarang," tutur Maria.


"Aku tidak ingin menjalani hubungan dengan Vita Bu, aku tidak akan pernah merasa bahagia, dan begitu pula dia," ucap Johan.


"Johan! Dengarkan ayah, ayah hanya akan mengatakan ini satu kali. Sejak kecil kamu dan Vita sudah kami Jodohkan, ayah sudah berjanji pada kedua orangtua Vita, jika kami akan menjadikan Vita anak menantu kami, dan tidak akan ada satupun hal yang bisa merubah keputusan ayah," tutur Toni dengan wajah memerah karena emosi.


"Kenapa ayah baru mengatakan hal ini sekarang! seharusnya dari dulu ayah mengatakan hal ini, jika memang kami sudah terikat sejak kecil. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mencintai dia, aku sudah mencintai wanita lain," ujar Johan dengan emosional.


Toni terdiam sejenak, rahasia perjodohan Johan dan Vita sudah lama ia pendam. hanya Toni, maria dan kedua orang tua Vita yang mengetahui tentang perjodohan ini.


"Siapa wanita itu!" Seru Toni.


"Ayah jangan membentak Johan seperti ini," ucap Maria mencoba menenangkan suaminya


"Aku tidak akan pernah mengatakannya, sebelum pertunagan ini di batalkan," ucap Johan lalu beranjak pergi meninggalkan ayah d ibunya di sofa.


Toni menatap kepergian putranya hingga menghilang dari ujung tangga. Toni tidak habis pikir, kenapa anak penurut seperti Johan kini sudah berani bersuara tinggi di hadapannya.


~


Jihan melangkahkan kakinya dengan lemas,ia benar-benar tidak ingin masuk hari ini. Tapi jika ia tidak masuk, Mela akan menghujaninya sejuta pertanyaan. Akhirnya dengan berat hati Jihan masuk kantor hari ini.


Langkahnya terhenti di depan lift, ia berdiri di depan lift itu sampai lift itu terbuka. Namun kesabaran Jihan kembali di uji tak kala Clara yang begitu tak menyukainya kini berjalan menghampirinya dan ikut berdiri di sampingnya.


Clara baru saja tiba di lobby kantor, matanya langsung melotot saat melihat Jihan sedang berdiri di depan lift, tentu saja Clara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meledek Jihan. Clara melirik Jihan yang ada di sampingnya, ia tersenyum menyeringai saat melihat Jihan yang nampak tidak bersemangat hari ini.


"Aduh, kasian sekali ya kamu. Di campakkan oleh tuan Johan, sekarang kamu harus sadar, dimana posisi kamu. Jangan bermimpi terlalu tinggi untuk bisa berdampingan dengan tuan Johan. Haha," tutur Clara meledek Jihan.

__ADS_1


Jihan menoleh ke arah Clara yang benar-benar menguji kesabarannya, pagi ini mood Jihan sudah berantakan dan sekarang semakin berantakan karena ucapan Clara.


Jihan menatap Clara dengan tajam sambil berpangku tangan. Sudah terlalu lama ia mencoba bersabar menghadapi mulut nyinyir Clara. Tapi kali ini ia sudah kehilangan kesabarannya.


"Jika aku tidak pantas, terus kamu sendiri apa ... tuan Johan saja bahkan tidak pernah melirik mu," kata Jihan tak kalah pedasnya dengan ucapan Clara.


"Dasar, wanita ******!" pekik Clara lalu menarik rambut Jihan dengan kedua tangannya.


Jihan meringis kesakitan karena Clara menarik rambutnya dengan sangat kuat. Tak mau kalah Jihan juga ikut menarik rambut Clara dan jadilah aksi tarik-menarik rambut antar keduanya terjadi.


Tidak ada satupun yang mau mengalah, para pegawai bahkan petugas keamanan yang bertugas di sana berusaha melerai namun sepertinya tidak ada gunanya, Jihan dan Clara malah makin menjadi-jadi.


"Hentikan!"


Jihan dan Clara menghentikan perkelahian mereka saat suara yang tidak asing bagi keduanya terdengar menggema. Tentu saja orang itu adalah Johan.


Johan di ikuti Raksa di belakang, berjalan menghampiri Jihan dan Clara, membela kerumunan orang yang menutupi Jihan dan Clara.


Jihan memaki dalam hatinya, kenapa juga ia tidak bisa menahan emosinya tadi. Saat ini Jihan hanya tertunduk malu di hadapan banyak orang dan di hadapan Johan tentunya.


Johan melihat Jihan yang kini dalam kondisi berantakan. Rambut kusut, bibir yang memar dan bahkan kancing kemejanya di bagian atas yang kini telah terlepas, dan roknya juga robek di bagian bawah, sehingga tubuh Jihan sedikit terekspos.


Jihan memegangi sisi roknya yang sudah robek dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi bagian atas kemejanya, setidaknya dengan melakukan ini, Jihan bisa menutupi tubuhnya.


"Kalian ikut keruangan saya sekarang," tegas Johan.


Jihan dan Clara mengikuti langkah Johan dan Raksa masuk kedalam lift. Clara masih saja memberikan tatapan tajam pada Jihan, jihan pun hanya bisa mebuang muka, dan tidak meladeni Clara lagi.


Sekarang Clara dan Jihan berada di ruangan Johan, Johan langsung duduk di kursi kebesarannya dan Raksa berdiri di belakangnya.


"Duduklah," perintah Johan.


Jihan dan Clara pun mengikuti instruksi dari Johan, sekarang mereka sudah duduk di hadapan Johan, dengan menundukkan pandangannya.


"Nona Clara," ucap Johan sambil menatap Clara tajam


"I-iya tuan," ucap Clara terbata-bata.


"Saya sudah pernah memberikan kamu surat peringatan. Dan sekarang kamu kembali berulah," ujar Johan.


"Maafkan saya tuan ... tapi Jihan yang memulai," ucap Clara berbohong.


Jihan yang tadinya menunduk, kini menoleh ke arah Clara. Bagaimana bisa Clara memutar balikkan fakta seperti ini, pikirnya.

__ADS_1


"Huft ... baiklah, saya akan memaafkan kamu kali ini, tapi jika kamu kembali berulah, saya tidak akan segan-segan memecat kamu," ujar Johan.


"Terimakasih tuan, saya berjanji akan bersikap baik," tutur Clara.


"Kamu boleh keluar sekarang, Raksa, antarkan Clara keluar," perintah Johan.


Clara tersenyum lega, karena ia terbebas dari hal yang di khawatirkan nya. Ia melirik Jihan yang masih duduk di posisinya. Clara yakin, Jihan akan di tegur habis-habisan oleh Johan.


Setelah kepegian Clara, kini tinggallah Johan dan Jihan di ruangan itu. Jihan masih duduk sambil tertunduk malu. Tangannya juga masih memegangi bagian pakaiannya yang robek tadi.


Johan duduk bersimpuh di hadapan Jihan, namun Jihan malah membuang pandangannya ke samping, untuk menghindari tatapan mata Johan.


"Lihat aku sekarang," ucap Johan.


Jihan tak bergeming ia masih saja, melihat kesamping dan tak berani menatap mata Johan. Untuk kejadian malam tadi dan kejadian pagi ini, Jihan benar-benar belum siap bertemu dengan Johan.


Johan Melepaskan jas yang ia pakai untuk menutupi tubuh Jihan. Jihan terlihat kaget dengan tindakan Johan.


"Seluruh yang ada padamu, hanya aku yang akan melihat dan memilikinya, lain kali jika pakaian kamu menjadi seperti ini lagi, aku tidak akan menahan diriku untuk mencolok semua mata laki-laki yang melihat bagian tubuh mu seperti di lobby tadi," ujar Johan kesal.


Jihan yang tadinya membuang muka kini memberanikan diri menatap Johan, tapi masih tanpa suara, namun seolah hatinya sedang berteriak.


Johan menghembuskan nafasnya dengan berat, saat melihat sudut bibir Jihan yang terluka. Ia berdiri dari posisinya untuk mengambil kotak P3K yang ada di laci meja kerjanya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Johan kembali mendekati Jihan, di ambilnya kapas dan cairan pembersih luka untuk mengobati luka di sudut bibir Jihan.


perlahan namun pasti, Johan mulai mengoleskan obat pada luka Jihan. Jihan nampak memejamkan matanya, karena menahan perih di bibirnya.


"Sudah selesai ... aku sudah memerintahkan Raksa untuk membelikan kamu pakain di butik Kinan. Karena Kinan pasti sudah tahu ukuran pakain mu," ujar Johan.


Jihan belum memberikan respon apapun, dan Johan mengerti itu, Johan berdiri dari posisinya hendak meletakkan kembali kotak obat itu kedalam laci, namun tiba-tiba Jihan menarik tangan Johan. Sontak Johan langsung menoleh kembali kepada Jihan.


"Kak Jo," ucap Jihan sambil menatap Johan dengan sendu.


Johan kembali bersimpuh di hadapan Jihan, bulir air mata mulai membasahi wajah Jihan, dan membuat Johan semakin bingung.


"Katakan padaku, apa yang ingin kamu katakan," ucap Johan.


"Apa kamu bisa mengakhiri drama ini, aku lelah," kata Jihan dengan suara bergetar karena isak tangis yang mengiringi.


Bersambung 💕


maaf karena baru sempat update, karena akhir bulan kemarin author sibuk kejar daily updated di sebelah.

__ADS_1


__ADS_2