
Mobil Raksa memasuki area danau buatan. Tempat ini adalah tempat Johan dan Jihan selalu menghabiskan waktu bersama. Jihan keluar dari dalam mobil, dari kejauhan ia bisa bisa melihat Johan sedang menunggunya di bawah pohon tepi danau.
Raksa hanya menunggu di dalam mobil. Entah sejak kapan tapi ia begitu mendukung hubungan Johan dan Jihan. Tapi sejak Johan menceritakan kisah masalalunya dengan Jihan beberapa hari yang lalu, hati Raksa seolah tergeraj untuk membantu hubungan keduanya.
Jihan berjalan menghampiri Johan di tepi danau.
Hembusan angin menerpa tubuhnya, menambah suasana sendu yang kini terasa, Jihan mengehentikan langkahnya sejenak beberapa meter dari Johan, di lihatnya punggung Johan yang berdiri membelakanginya.
Ingatan tentang kenangan putih abu-abu kembali menyambangi kepalanya, seakan sedang mengalami deja vu. Tempat ini, danau ini adalah saksi bisu betapa bahagianya Jihan dan Johan masa itu.
Jihan kembali melanjutkan langkahnya, ia berjalan menghampiri Johan lalu berdiri di sampingnya.
"Untuk apa kamu memanggil ku kemari?" tanya Jihan.
Johan menoleh kearah Jihan yang kini sedang berdiri di sampingnya, kemudian kembali melihat kedepan, "Aku hanya ingin merasakan suasana ini lagi ... bersama mu."
"Saat sampai kemari, aku seperti kembali ke masa lalu, pohon ini, dan semua yang terukir di batang pohon di belakang mu. Sepertinya masih terukir dengan jelas," ujar Jihan.
Johan menarik tangan Jihan. Ia memandu Jihan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang ada di bawah pohon itu. Kini mereka duduk saling bersebelahan.
Tatapan mata mereka sama-sama fokus ke arah danau, suasana hening kembali terasa, baik Jihan maupun Johan saling tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat, Johan menoleh kepada Jihan. Hembusan angin yang menimpa wajah cantik Jihan, membuat Johan terpana seketika. Ternyata benar ia merasakan getaran itu lagi, bahkan semakin kuat hingga hatinya begitu mendamba Jihan yang seperti dulu lagi.
Jihan yang selalu bergelayut manja padanya.
"Ternyata kamu masih mengingat pohon ini," ucap Johan.
Jihan menoleh ke arah Johan, sekarang mereka saling berpandangan dengan begitu dalam.
"Aku bingung, kenapa semua ini terjadi kepada kita. apa kita memang tidak di takdirkan untuk bersama," ujar Jihan.
"Jangan mendahului kehendak Tuhan, perjalanan hidup kita masih panjang," ujar Johan.
Jihan kembali menatap nanar ke arah danau, bayangannya kembali terbang ke masa paling terpuruknya. Saat itu setelah kepegian Johan dan kematian kedua orang tuanya, ia sering kemari untuk meluapkan kesedihannya, menangis sendiri tanpa ada seorangpun tahu.
__ADS_1
"Di masa terpuruk ku, aku sering kemari, karena hanya di sini aku bisa menagis tanpa membuat Tante, Nino ataupun Kinan khawatir," tutur Jihan.
"Di sini, di tempat ini, aku berikrar sendiri, bahwa setelah kepegian mu, aku tidak akan membuka hati ku untuk orang lain lagi, cukup sekali dan tak mau merasakan hal itu lagi Karena itulah aku tidak pernah sekalipun mencoba memulai hubungan dengan pria lain," ujar Jihan lagi.
"Apa Janji itu masih berlaku?" tanya Johan sambil terus melihat kearah Jihan.
"Janji apa?" tanya Jihan yang kini sudah menoleh ke arah Johan.
"Dulu kamu pernah berjanji padaku, akan terus percaya pada ku, mencintai ku seumur hidup dan kamu akan selalu menjadi tempat ku pulang sejauh apapun aku pergi ... apa janji itu masih berlaku?" tanya Johan.
"Kenapa kamu bisa mengingat janji ku, tapi melupakan janjimu sediri," ucap Jihan.
"Maafkan aku, aku sungguh menyesal. Aku harap janjimu masih berlaku, karena hanya kamu tempat ku pulang, aku ingin memulainya lagi dengan mu," ujar Johan.
Air mata Jihan seakan tak tertahan, ia ingin sekali menyambut Johan kembali, memperbaiki masa yang terlewatkan. Tapi saat hatinya ingin mengatakan iya, pikirannya kembali mengingatkan Jihan tentang kata-kata Maria beberapa waktu lalu. Maria dengan jelas mengatakan Jika Johan akan di jodohkan dengan Vita.
Jihan sudah tidak bisa menahan kesedihannya, air matanya tumpah membasahi wajah cantiknya, akibat pergelutan batin yang menyiksa. Johan kaget dan bingung, ia menuntun Jihan kedalam dekapannya.
"Katakan padaku ... kenapa kamu menangis kenapa kamu selalu seperti ini, saat aku meminta mu kembali, katakan ... jangan memendamnya sendiri," ujar Johan.
Johan melepaskan pelukannya, di tatapnya Jihan dalam-dalam sementara, gadis tak berani menatap Johan, ia menundukkan pandangannya dan terus menangis.
"Apa maksud kamu?" tanya Johan.
"Aku tidak bisa memberitahu mu, tapi cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya sendiri. Sampai saat itu tiba, Jangan meminta ku kembali, karena aku tidak akan sanggup jika harus merasakan sakit itu lagi," ucap Jihan.
Johan tak ingin bertanya lagi karena sungguh ia tidak sanggup melihat Jihan menangis seperti ini. Setidaknya walaupun status hubungan mereka belum jelas, tapi Jihan sikap Jihan sudah lebih mencair padanya.
"Baiklah aku tidak akan mengatakan hal itu lagi, aku mohon jangan menangis lagi," ucap Johan sambil menghapus air mata di sudut mata Jihan.
~~
Setelah mengartakan Jihan pulang, Johan pulang menuju rumahnya bersama Raksa yang menyetir mobil. Johan menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia sedang mencari jawaban dari teka-teki yang Jihan ucapkan padanya.
Raksa melirik Johan dari cermin, yang ada di bagian atas mobil, " Gagal lagi tuan?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dia mengatakan jika kami tidak bisa bersama lagi, dan kami tidak di takdirkan untuk bersama, apa maksudnya coba," tutur Johan.
"Mungkin maksud Jihan, ada suatu hal yang membuat hubungan tuan dan Jihan tidak bisa di lanjutkan, kalau pun di lanjutkan dia akan teluka lagi," ujar Raksa yang tetap fokus menyetir.
"Iya aku tahu, tapi apa?" tanya Johan kesal.
"Jawabannya hanya tuan yang bisa mencari tahu sendiri," ucap Raksa.
"Huh ... kamu benar-benar tidak bisa di harapkan," gumam Johan kesal.
~~
Kediaman keluarga Alexander.
Johan memasuki rumah, Jam menunjukkan pukul 6 sore, sudah hampir malam dan ia baru sampai di rumah. Ia berjalan menuju taman belakang untuk mencari keberadaan ibunya.
Ternyata benar saja, Maria sedang berada di sana, sudah hendak beranjak, namun ia mengurungkan niatnya karena melihat putra semata yang datang menghampirinya.
"Kamu baru pulang Jo?" tanya Maria.
"Iya Bu," jawab Johan.
"Apa kamu sudah bertemu ayah mu, dia sudah pulang sejak siang tadi," ucap Maria.
"Benarkah, dimana ayah sekarang?" tanya Johan lagi.
"Sedang di ruang kerjanya. Tadi ayah kamu mengatakan pada ibu jika kamu sudah pulang, kamu di suruh untuk pergi keruang kerja ayah, katanya mau membicarakan sesuatu," tutur Maria.
"Kalau begitu, aku keruang kerja ayah dulu bu," ucap Johan.
"Iya pergilah ... ayah kamu pasti sudah menunggu," ucap Maria.
Johan berbalik lalu melangkah pergi menuju ruang kerja ayahnya yang ada di samping tangga. Entah apa yang akan Toni bicarakan dengan Johan, apa mungkin Toni akan membicarakan masalah perjodohan antara Johan dan Vita? Jika benar, itu bukanlah sebuah kabar baik untuk Johan.
Bersambung 💓
__ADS_1