
"Aku apa?" tanya Jihan saat Malik tidak melanjutkan ucapannya.
"A-aku ... itu ak--
klek.
"Hai, kami datang," ucap Rendy saat memasuki ruangan.
Sepertinya Malik harus kembali mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Jihan, karena Jenny dan yang lainnya sudah datang.
Jenny, Cika dan rendy datang dengan membawa dua plastik besar makanan ringan, dan juga bakmi, mereka tadinya ingin makan di kantin Kantor, namun karena tidak enak meninggalkan Jihan sendirian, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di ruangan saja.
"Kalian cepat sekali," ucap Jihan.
"Iya, kami tidak tega meninggalkan kamu sendiri, jadi kita makan di ruangan saja, mumpung pak kus lagi dinas ke luar kota, hihi," ucap Rendy.
"Eh, Malik kamu tadi dari mana saja?" tanya Cika.
"Oh aku ...," ucap Malik menggantung, namun langsung di sambung oleh Jihan.
"Dia tadi keluar membelikan aku sepatu, lihat ini bagus kan," ucap Jihan.
"Ehm ... perhatian sekali kamu sama Jihan," ucap Jenny.
"Jangan-jangan kalian," ucap Cika menggatung.
"Tidak seperti itu, kita semua kan teman. Bukan hanya Malik tapi kalian semua sangat perhatian pada ku, terimakasih ya," ujar Jihan.
~~
Setelah jam makan siang berakhir, Jihan dan Malik pergi ke lantai lima untuk menghindari rapat yang akan di pimpin langsung oleh CEO mereka.
Jihan berjalan beriringan bersama dengan Malik, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu hingga Jihan sesekali tertawa bersama dengan Malik, dari arah berlawanan Johan sedang berjalan di ikuti Raksa dari belakang, Johan bisa melihat ke akraban Jihan dan Malik yang tergambar jelas.
Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Raksa tak sengaja menabrak punggung Johan.
"Tuan kenapa berhenti?" tanya Raksa.
Johan tak menjawab dan terus melihat kedepan, melihat senyum manis Jihan yang tak pernah terpancar saat mereka sedang bersama. Raksa mengikuti arah pandangan mata Johan, Raksa kembali Menghembuskan nafas berat.
"Ternyata pria itu, orang ketiganya?" ucap Raksa pelan.
__ADS_1
Johan menoleh kearah Raksa, menatap Raksa dengan tajam, Johan mendengar semua ucapana Raksa barusan, Raksa langsung menundukkan kepalanya dan tak berani bicara lagi.
Johan kembali melanjutkan langkahnya, di ikuti dengan Raksa di belakang. Tatapan mata Johan tetap fokus pada Jihan. Di saat bersamaan Jihan dan Johan sampai di depan pintu ruang rapat.
Mengetahui Jika orang yang ada di hadapannya adalah Johan, Jihan menundukkan pandangannya dan memberikan salam, begitu pula dengan Malik.
"Selamat siang tuan," ucap Jihan dan Malik secara bersamaan.
Johan tak menjawab dan meneruskan langkahnya masuk kedalam ruang rapat. Setelah Johan dan Raksa masuk, barulah Jihan dan Malik menyusul masuk kedalam.
Di dalam ruangan Rapat, semua perwakilan dari setiap bagian sudah duduk di posisi masing-masing, Clara kebetulan duduk berhadapan dengan Jihan, tatapan mati tak lepas dari Jihan, dengan mata yang melotot.
Jihan tak memperdulikan hal itu, ia hanya fokus melihat Raksa yang sedang mempresentasikan proyek terbaru king grup. Johan tidak lagi memperhatikan apa yang di jelaskan Raksa, matanya terfokus kepada Jihan saja.
Johan meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk di kirimkan kepada Jihan. dirinya bisa dengan mudah mendapatkan nomor ponsel Jihan. Jika ia meminta langsung, Jihan pasti tidak akan memberikannya.
drett ... drettt.
Suara getar ponsel, membuyarkan konsentrasi Jihan, ia mengambil ponselnya yang ia simpan di saku blazer nya, Jihan membuka pesan yang di kirimkan nomor tidak di kenal.
"Temui aku di atap gedung, setelah rapat selesai," isi pesan itu.
Jihan mengeryitkan dahinya, membaca pesan yang ia terima, sedetik kemudian, ia sadar jika pesan itu pasti dari Johan. Jihan menatap kearah Johan, Johan menyunggingkan senyumnya saat jihan melihat kearahnya.
"Maaf saya tidak mau," balas Jihan.
Membaca balasan pesan dari Jihan, Johan langsung melirik kearah Jihan sebentar, kemudian kembali mengetikkan pesan lagi.
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengumumkan tentang hubungan kita di masalalu di ruangan ini," balas Johan
Jihan membuka pesan dari Johan, matanya langsung membulat, membaca isi pesan itu, dengan cepat, Jihan membalas pesan Johan.
"Iya baiklah, aku akan datang," balas Jihan.
Kali ini Johan, langsung tersenyum saat membaca balasan pesan dari Jihan.
~~
Setelah Rapat selesai, Jihan dan Malik keluar secara beriringan, "Malik, kamu duluan saja, aku ada sedikit urusan di ruangan HRD," ucap Jihan mencari alasan.
"Oh iya, baiklah," ucap Malik.
__ADS_1
Setelah memastikan Malik sudah jauh, Jihan buru-buru memutar arah menuju lift untuk naik kelantai paling atas, baru kemudian naik tangga ke atap gedung.
Sesampainya di atap gedung, Jihan mencoba mengatur nafasnya, karena ia terburu-buru saat naik tadi. Jihan menggedarkan pandanganya, melihat sekeliling, sampai pandangannya menangkap sosok Johan yang sedang duduk santai di sebuah kursi yang tersedia di sana.
Semilir angin membuat Rambut panjang Jihan tertiup angin. Jihan Melangkahkan kakinya mendekati Johan. Sekarang ia sudah berada di hadapan Johan, Johan mendongak untuk melihat Jihan.
"Duduklah," ucap Johan dengan ekor mata mengarahkan jihan untuk duduk di sampingnya.
Dengan malas Jihan, melangkah duduk di samping Johan, memberi jarak yang cukup jauh antara mereka.
"Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jihan.
Johan menoleh kearah Jihan yang sedang duduk di sampingnya. Johan menghembuskan nafas berat lalu kembali melihat kearah depan.
"Aku minta maaf atas sikap ku, di perkemahan waktu itu, aku sedikit kecewa mendengarkan jawabanmu ... sehingga aku tanpa sadar terbawa emosi," ucap Johan.
Jihan melirik Johan sebentar, mendengar Johan mengucapkan maaf seperti ini mengingatkannya saat mereka berpacaran dulu, masa itu Johan akan langsung minta maaf saat melakukan kesalahan dan Jihan adalah tipe orang yang tidak bisa marah berlama-lama, ia akan langsung luluh saat Johan meminta maaf padanya.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah pribadi di kantor ... permisi," ucap Jihan yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan pastikan kamu, kembali padaku lagi," ucap Johan yang kini melangkah menghampiri Jihan.
Johan melangkah ke hadapan Jihan, menatap wajah Jihan dengan lekat, sementara Jihan membuang muka ke sembarang arah.
"Sudah tujuh tahun berlalu dan aku tidak pernah melupakan mu sedetik pun, aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama, aku tahu selama tujuh tahun belakangan ini, kamu belum sekalipun membuka hati untuk pria lain," ujar Johan.
Jihan beralih menatap Johan dengan jengah, " Tak akan lama lagi, kamu akan mengerti alasan, kenapa kita tidak bisa bersatu lagi ... aku menjauh bukan tanpa alasan," ucap Jihan.
Jihan merasakan nyeri di hatinya saat Ingatanya kembali di mana Maria mengatakan bahwa Johan akan di Jodohkan dengan Vita, setelah Vita kembali dari California.
"Maaf, aku harus kembali bekerja," ucap Jihan lalu melangkah pergi.
Johan masih diam mematung di tempatnya, ia mencoba meresapi ucapan Juga tadi, otaknya mencoba berfikir keras namun tak menemukan jawaban, apa ini hanya bagian dari alasan Jihan, agar bisa menjauh darinya, pikir Johan.
Tanpa Jihan dan Johan sadari, sejak tadi Malik sudah berdiri di balik sebuah tembok, mendengar semua yang mereka bicarakan, secara diam-diam, tangan Malik tercengkram erat, matannya memerah dan dadanya merasakan sesak yang terasamat sangat.
Malik tadinya akan kembali keruangan, namun ia lupa mengembalikan bolpoin milik Jihan. Namun saat ia kembali berbalik, ia melihat dari kejauhan Jihan yang malah pergi berlawanan arah dari arah ruang HRD, ia melihat Jihan naik ke lift yang menunjukkan lantai paling atas. Karena merasa penasaran Malik, menyusul Jihan sampai ke atap gedung.
Namun pemandangan yang ia dapat sungguh di luar dugaan. semua yang dirinya lihat dan dengar, benar-benar di luar ekspektasinya.
Bersambung 💕
__ADS_1
karena kemarin gak update, hari ini triple up ya gaess jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya