
Jihan mendongakan kepalanya, melihat Johan dan Malik, yang kini begitu Mengkhawatirkannya. Tidak mau sampai kalah strat dari Malik, dengan cepat Johan meraih tangan Jihan dan membalutnya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku bajunya.
"Kamu harus di obati, terlalu banyak darah yang keluar," ucap Johan sambil membalut telunjuk Jihan dengan menggunakan sapu tangan.
"Saya benar-benar tidak apa-apa," ucap Jihan lirih.
Malik memperhatikan Johan dengan intens. Malik merasa aneh melihat tingkah Johan yang begitu Mengkhawatirkan Jihan sampai seperti itu.
Bukan hanya malik saja, namun semua orang yang ada di sana, termaksud Raksa sekertarisnya dan juga Clara manager tim.
***
Jihan kembali ke tenda setelah selesai mengobati lukanya di tenda petugas kesehatan. Dia masuk kedalam tenda dan langsung menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah antara Jenny dan Cika yang sedang asik melakukan ritual maskeran mereka, demi kulit cerah bersinar.
Jenny dan Cika sampai terperanjat kaget saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari Jihan.
"Ah kamu, Mengagetkan saja," ucap jenny.
"Masker ku jadi retak," ucap Cika.
"Kalian tidak lihat tangan ku," ucap Jihan dengan nada sedih.
Jenny dan Cika langsung beralih menatap jari telunjuk Jihan dengan serius.
"Jari kamu kenapa?" tanya Jenny.
"Keiris pisau saat di dapur tadi," ucap Jihan dengar wajah cemberutnya.
"Sakit ya, lukanya parah?" tanya Jenny.
"Tidak juga, hanya teriris biasa saja," ucap Jihan.
"Huh. kirain aku kira tangan mu patah, haha," ucap Jenny lalu terkekeh.
"Kurang asem kamu," ucap Jihan pada Jenny.
Jenny dan Cika saja tidak sepanik mereka, kenapa Malik dan kak Jo bersikap seperti itu. Tatapan mata orang-orang tadi di sana membuat ku tidak nyaman," Batin Jihan.
Malam harinya, sekitar pukul tujuh malam, setelah selesai makan malam, semua peserta camping, membuat formasi lingkaran, mengelilingi api unggun berukuran besar yang berada di tengah-tengah mereka.
Acara malam ini, adalah penampilan bakat-bakat terpendam dari para peserta camping.
Ada yang membaca puisi, beradu akting, hingga memaikan alat musik, seperti gitar, harmonika, ukulele dan sebagainya.
Johan baru saja tiba, di dampingi oleh Raksa seketaris barunya.
Johan sengaja memilih duduk di dekat Jihan, padahal panitia camping sudah menyiapkan kursi khusus untuknya.
Jihan hanya melirik sebentar, kemudian kembali fokus ke depan, pura-pura tidak melihat saja pikirnya.
"Bagaimana dengan luka mu, apa sudah lebih baik," ucap Johan pada akhirnya.
Jenny dan Cika memperhatikan Jihan dan Johan, yang duduk di depan mereka, mereka heran kenapa pria itu begitu perhatian pada Jihan dan dari mana CEO mereka itu tahu, jika tangan Jihan terluka.
Namun pada akhirnya Jenny dan Cika sadar jika Jihan pernah menjadi sekretaris Johan meskipun hanya sebentar.
"Ah ini, tidak apa-apa, hanya luka kecil saja," ucap Jihan.
"Jangan terluka atau membuat ku khawatir, kamu tahu aku tidak akan membiarkan itu," ucap Johan pelan, namun tetap terdengar oleh Jihan.
__ADS_1
Untung saja Cika dan Jenny tidak mendengar ucapan Johan barusan karena mereka kembali fokus melihat penampilan salah satu peserta camping yang sedang beradu akting.
Jihan tak menjawab dan hanya fokus melihat ke depan. Johan melirik jihan sebentar lalu kemudian kembali menatap kedepan, menyaksikan pertunjukan bakat salah satu peserta camping, meskipun matanya fokus ke depan namun fikiranya tetap fokus kepada Jihan seorang.
Mencintai dalam diam, memperhatikan setiap langkahnya, melindungi dari kejauhan. Itulah yang kini Johan lakukan. Meskipun tak tampak namun ia tidak akan melepaskan Jihan lagi, membawa Jihan terbelenggu padanya.
Penampilan salah satu peserta camping itu sudah selesai. Sorak sorai terdengar menggema, tiba saatnya pembawa acara di sana mencari lagi relawan yang mau menampilkan bakatnya.
Tiba-tiba saja Johan mengangkat tangannya, semua orang cukup kaget, atas tindakan Johan, seluruh orang yang ada di sana mulai berbisik-bisik dan menerka-nerka nerka apa yang akan Johan tampilkan.
Termasuk dengan Jihan yang kini menoleh kearah Johan, menatap Johan tak percaya.
Johan yang ia kenal adalah Johan yang tidak percaya diri tampil di depan umum, tapi nampaknya waktu telah merubah banyak hal pada diri Johan.
Semua orang yang ada di sana, bersorak-sorai saat Johan melangkah maju ke depan. bahkan beberapa dari rombongan wanita di sana terus meneriakkan nama Johan.
"Jihan!, tuan Johan mau menampilkan apa?" tanya jenny yang duduk di belakang Jihan.
"Aku juga tidak tahu," ucap Jihan sambil menoleh ke belakang, tempat Jenny dan Cika berada.
Sementara di seberang sana, Malik sedang duduk berdampingan dengan Rendy, ia melihat Jihan dari kejauhan. Ia merasa jika ia benar-benar salah tempat, harusnya ia duduk di samping Jihan tadi.
Alunan musik akustik mulai terdengar dari petikan gitar sang gitaris. Untung saja di sana sudah di sediakan sumber daya listrik sehingga acara malam ini benar-benar sempurna. Johan mengambil mic dari stand mic di hadapannya.
Semua orang bersorak histeris, mereka tidak menyangka Jika CEO mereka akan bernyanyi. Namun tidak dengan Jihan, ia tahu betul jika Johan pandai bernyanyi bahkan suaranya mampu menggetarkan hati, memberikan kenyamanan.
Saat mereka masih berpacaran dulu,Johan sering bernyanyi untuknya dengan sebuah gitar yang selalu Johan bawa saat mereka pergi ke tepi danau.
Jihan seolah bernostalgia dengan kenangan masa lalu yang ia katakan, tidak ingin Mengingatnya lagi. Namun saat fikiran dan perasaan tak sejalan, semua bisa saja terjadi.
Johan mulai menyanyikan sebuah lagu yang di populerkan oleh once, yang berjudul Dealova.
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh, karena hati telah letih.
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh.
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu.
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh, bayangmu seakan-akan.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada.
O-o-o-o-oh ...
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi.
__ADS_1
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada.
Mata Jihan mulai memanas mendengar lantunan suara Johan. Dadanya terasa sesak karena lagu ini, lagu yang selalu Johan lantunkan untuknya saat di tepi danau masa itu. Dulu Jihan sering protes karena Johan terus menyanyikan lagu yang sama.
Dan jawaban johan adalah, karena lagu Dealova, benar-benar mewakili perasaannya kepada Jihan.
Johan sudah selesai dengan persembahannya, semua orang yang ada di sana, memberikan tepuk tangan dan sorak gembira. sementara Jihan hanya diam mematung sambil terus melihat Johan. Sang pembawa acara tentu saja tidak melepaskan Johan begitu saja.
"Saya tidak menyangka, jika suara anda sangat merdu sekali tuan," ucap sang pembawa acara dengan mic yang ia arahkan ke depan mulutnya.
"Ah terimakasih," ucap Johan dengan mengunakan mic.
"Maaf jika saya lancang ... Kalau boleh tahu nih, apa ada kisah di balik lagu ini, karena anda begitu menghayati saat bernyanyi tadi," ucap pembawa acara itu dengan menggunakan mic.
Johan diam sesaat, membuat banyak orang penasaran dengan jawabannya.
"Benar, lagu ini memang sarat akan kenangan di masa lalu, lagu ini adalah lagu yang selalu saya nyanyikan untuk seseorang dari masalalu, yang masih saya cintai sampai, detik ini," ucap Johan sambil melirik kearah Jihan.
Semua orang di sana, dan wanita khususnya, berteriak histeris mendengar jawaban Johan. mereka begitu penasaran siapa wanita yang pernah mengisi hati CEO tampan mereka.
Mata Jihan semakin memanas, hingga tanpa ia sadari dari sudut matanya keluar cairan bening yang mengisyaratkan suatu makna yang mendalam dari ucapan Johan hingga membuat ia tak bisa menahan perasaannya.
Bersambung 💕
__ADS_1
Jangan lupa berikan vote ya bunda-bunda kakak-kakak semuanya 🙏🥰