
Johan mengambil ponselnya yang ada di dalam kantong celananya. Terlihat Johan sedang menelepon seseorang, yang sudah membuat janji dengannya.
Semua orang yang ada di ruangan itu semakin di buat penasaran dengan apa yang kini dilakukan Johan. terutama Vita, ia sejak tadi duduk sambil mencengkram erat gaunnya, dahinya pun mulai berkeringat. Entah kenapa ia punya firasat buruk tentang hal ini.
"Masuklah," ucap Johan dengan seseorang di balik telepon.
Suara pintu terbuka, dengan setelan jas berwarna biru tua, Albert masuk kedalam ruangan itu. Semua orang betartanya-tanya siapa laki-laki itu, namun tidak demikian dengan Toni, dia tahu betul siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.
Albert sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama dengan King grup. Meskipun tergolong perusahaan baru, tapi perusahaan Albert mampu menjaga kepercayaan King grup hingga sejauh ini.
Lain Toni, lain pula Vita, sesaat ia nampak bingung namun sedetik kemudian, ia langsung Membulatkan matanya, ia berdiri dari duduknya dengan seluruh tubuh yang terasa bergetar.
Malam itu, Vita ingat malam itu ia dan pria yang ada di hadapannya sekarang, melalui malam panas yang tak mungkin ia lupakan. Malam di mana kesuciannya yang ia jaga hanya untuk Johan, terenggut begitu saja.
Wajah dengan cambang di pelipis kiri kanan, mata coklat, dan lesung pipi di sisi kiri wajahnya. Vita memang mabuk, tapi ia bisa dengan jelas melihat wajah Albert yang berada di atasnya semalaman.
Albert melangkahkan kakinya, mendekati Johan yang kini sedang berdiri di tengah-tengah kerumunan keluarga besar Johan dan Vita.
"Albert, kenapa kamu bisa disini?" tanya Toni bingung.
"Maaf mengganggu tuan, tapi saya ada sedikit urusan di sini," ujar Albert kepada Toni.
"Katakanlah, apa yang ingin anda katakan," ucap Johan yang kini berdiri samping Albert.
Albert menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum kepada Johan, ia baru satu kali bertemu dengan Johan, dan ia tahu jika Johan adalah pria yang baik. Albert melirik Vita yang berdiri tidak jauh darinya, sebenarnya begitu berat mengatakan hal ini, saat Vita begitu bahagia hari ini.
Tapi Albert tahu jika cara Vita mendapatkan kebahagiaan adalah dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain, dan itu salah.
Entah bagaimana caranya, Albert ingin membuka mata Vita melihat dunia yang begitu luas, tak terbatas hanya pada cinta pertama yang tidak harus di miliki.
Meskipun pada awalnya Vita hanya pelarian dan tempat pelampiasan, namun perasaan itu berubah saat Albert mengetahui bibit yang ia tanam, tumbuh dengan baik di rahim Vita.
"Perkenalkan saya Albert dan saya kemari untuk membatalkan pernikahan ini ... karena Vita sedang mengandung anak saya," tutur Albert tanpa ragu.
Seketika semua orang yang ada berada di ruangan itu menatap ke arah Vita. Mereka kaget, mereka bingung jika Vita sedang hamil anak pria lain, lalu kenapa Vita akan menikah dengan Johan.
Vita yang mendengar pernyataan Albert, mendadak menjadi lemas. Ia bahkan tidak bisa lagi menopang tubuhnya, ia duduk tersugkur di atas lantai. Pupus sudah harapan terakhirnya, harapan terakhir untuk memiliki Johan.
Kedua orang tua Vita, langsung menghampiri Vita, mereka membopong Vita duduk di atas sofa, mama Vita sudah tidak bisa membedung air matanya. Ia kecewa, marah dan tak percaya.
"Vita jawab mama, apa benar yang di katakan pria itu, kamu bukan hamil anak Johan tapi anaknya?" tanya Mama Vita dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Vita memadangi mamanya dengan mata yang sudah mengeluarkan cairan bening, ia hancur, lebih dari apapun ini bukanlah pernikahan yang ia impikan. Pernikahan yang hancur seketika karena hasil dari perbuatannya sediri.
"Vita! Jawab mama kamu, apa benar yang pria itu katakan?" bentak papa Vita dengan perasaan campur aduk.
Semua orang yang ada di ruangan itu tidak tersentak kaget, karena mendengar suara seorang Benny Irawan membentak putri tunggal yang selalu di bangga-banggakan.
Vita melihat Albert dengan penuh kebencian, karena Albert pernikahannya menjadi seperti ini, hancur, kacau. Albert pun juga melihat Vita, kini mereka saling beradu pandang. Dengan tatapan mata yang tidak lepas dari Albert, Vita menjawab pertanyaan papanya.
"Ya aku memang hamil karenanya. Tapi ... aku tidak akan pernah mengakui orang bejat sepertinya sebagai ayah dari anakku," ujar Vita sambil melihat Albert.
Mama Vita menangis histeris mendengar pernyataan anaknya. Sementara papanya duduk bersimpuh di lantai, mereka malu kepada keluarga besarnya, dan keluarga besar Johan.
Johan merasakan kelegaan yang teramat sangat, akhirnya ia tidak perlu menyia-nyiakan hidupnya dengan wanita yang tidak ia cintai.
Maria mengahampiri Toni yang masih diam mematung di tempatnya. Saat keadaan menjadi kacau seperti ini, apa yang harus dilakukan, seluruh undangan sudah di sebar, dan tamu juga sudah banyak yang berdatangan.
"Bagaimana ini, apa yang harus kita katakan kepada para tamu yang datang," tanya Maria pada suaminya.
Toni hanya diam, tanpa bicara apapun, ia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Ia marah, ia kecewa kepada Vita yang sudah ia percayai melebihi anaknya sendiri malah melemparkan kotoran ke wajahnya.
Malik dan papanya menyusul Toni, mereka khawatir jika penyakit jantung Toni tiba-tiba saja kambuh. Maria kembali duduk di sofa karena merasakan pandanganya yang sudah mulai berkunang-kunang. Maria tak habis pikir kenapa hal seperti ini bisa terjadi pada keluarganya.
Johan yang melihat ibunya seperti itu, langsung menghampiri sang ibu dan ikut duduk di sampingnya, ia merangkul Maria dengan lembut.
"Tidak Jo, ibu yang seharusnya minta maaf karena tidak mempercayai kamu," ujar Maria.
Selfi ibu dari Malik juga ikut duduk di samping Maria, mencoba menenangkan kakak iparnya itu. Ia merasa begitu prihatin atas apa yang menimpa keluarga Alexander.
Benny bangkit dari posisinya, dengan susah payah ia menopang tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia berjalan menghampiri Albert yang kini masih berdiri di tempatnya. Dengan kedua matanya yang memerah, dan tangan mengepal, Benny melayangkan tinjunya ke atas perut Albert, higga Albert terjatuh ke lantai meringis kesakitan.
Albert hanya diam tanpa perlawanan, ia pikir ini bukanlah apa-apa di bandingkan keperawanan yang telah terenggut. Vita terus menagis di pelukan mamanya. Jika di suruh memilih, saat ini ia ingin menghilang dari dunia yang tidak pernah memijaknya.
Benny mencengkeram erat kerah baju Albert. marah, kecewa, malu dan kata-kata apa saja yang mampu mewakili perasaan hancur seorang ayah yang gagal.
"Pernikahan ini akan tetap berlanjut dan kamu yang akan menjadi mempelai prianya, saya tidak ingin cucu saya lahir tanpa seorang ayah," tutur Benny kepada Albert.
"Saya bersedia," ucap Albert lugas.
Vita hanya bisa pasrah, toh hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi, kebahagiaannya sudah hilang seiring harapan yang kini hancur lebur.
Albert kembali melihat kearah Vita, dia berpikir apa keputusannya ini sudah tepat. Entahlah, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, akan membalikkan hati Vita yang saat ini hanya tertuju pada satu nama ya itu Johan. Ia bukan pria jahat, tapi ia juga bukan pria baik-baik lagi setelah apa yang ia lakukan malam itu, dan hari ini.
__ADS_1
~
Pernikahan itu tetap berlangsung sebagaimana mestinya, meskipun para tamu bertanya-tanya kenapa mempelai pria bukalah Johan Alexander sesuai undangan yang beredar, Malu tidak dapat di sembunyikan dari raut wajah kedua orang tua Vita, namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan ini lah konsekuensinya.
Vita hanya duduk di pelaminan dengan tatapan kosong, tak ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Hanya Albert lah terus berdiri menyalami para tamu yang datang.
Johan dan keluarga memutuskan untuk pulang, karena jika berada di sana , hanya akan menimbulkan pertanyaan dari para tamu yang datang. Benny meminta maaf ya sebesar-besarnya kepada kepada keluarga besar Alexander namun, maaf saja rasanya belum cukup untuk menghapus rasa kecewa yang di alami Toni dan keluarga.
Meskipun tak pernah mengatakannya secara langsung tapi Toni begitu menyesal dan merasa bersalah kepada anaknya Johan. Toni hanya duduk termenung didalam mobil di temani sang istri Maria.
Johan nampaknya belum bisa bernafas lega karena masih memikirkan suatu masalah, apalagi kalau bukan Jihan. Ia masih belum menemukan titik terang tentang di mana Jihan berada.
Setelah sampai di rumah, tak ada satupun yang bicara, baik Johan ataupun kedua orangtuanya langsung beranjak menuju kamar mereka masing-masing. Sepertinya mereka sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Johan melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya, hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Ia berdiri di bawah shower, merasakan air dingin yang kini membasahi tubuhnya yang terasa lelah.
Setelah semua yang telah berakhir,
Johan masih harus menyelesaikan satu lagi masalah yaitu menemukan keberadaan Jihan.
~
Raksa dan Kinan baru saja pulang dari lokasi pesta pernikahan Vita, mereka kaget karena mempelai pria yang tergantikan, namun mereka juga lega kerena Johan tidak jadi menikah dengan Vita.
Sekarang mereka sedang berada di sebuah restaurant. Saat berada di lokasi pesta, Raksa dan Kinan langsung pulang tanpa menikmati hidangan yang tersedia di sana.
Kinan nampak gelisah, karena ia merasa ingin mengatakan yang sejujurnya tentang keberadaan Jihan, tapi ia takut Raksa akan marah padanya karena baru mengatakannya sekarang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi, apa kamu bisa berjanji tidak akan marah kepada ku," ujar Kinan ragu-ragu.
"Katakan lah, kamu tahu aku tidak pernah bisa marah kepada mu," tutur Raksa.
Kinan mencengkram erat kedua lututnya, ia tertegun sesaat, mencoba mengumpulkan keberanian dari untuk mengatakan semua kebenaran yang ia tahu. Ia kembali menegapkan posisinya dengan mata yang menatap Raksa dengan lekat.
"Se-sebenarnya, aku ... aku," ucap Kinan ragu-ragu.
"Sebenarnya apa?" tanya Raksa yang malah semakin penasaran.
"Sebenarnya aku tahu di mana keberadaan Jihan," ucap Kinan dengan cepat sambil memejamkan kedua matanya.
"Apa!" ucap Raksa yang kaget dengan pernyataan Kinan.
__ADS_1
Bersambung 💕