Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Kondisi Menurun


__ADS_3

Kevin dan Alea keluar dari ruangan Reka. Baru saja sampai di ambang pintu, tubuh Alea tiba-tiba melemas.


"Alea!!" Kevin menahan tubuh Alea yang tiba-tiba tak sadarkan diri. "Alea kamu kenapa?" Kevin begitu khawatir melihat wajah pucat Alea.


"Alea kenapa?" Niko dan Luna juga terkejut melihat tubuh Alea yang tiba-tiba limbung dan tak sadarkan diri.


"Suster! Dokter!" teriak Kevin.


Seketika Dokter dan suster yang menjaga di bangsal itu berlari menghampiri. "Ada apa? Kita periksa dulu."


Suster segera membuka salah satu kamar rawat lalu Kevin menurunkan tubuh Alea di atas brangkar. "Istri saya sedang hamil muda, Dok. Dia tiba-tiba saja pingsan."


"Iya, akan segera kami periksa."


Dengan cepat suster mengambil beberapa alat. Dokter segera memeriksa tekanan darah Alea dan detak jantung janin. "Suster pasang infusnya, pasien dehidrasi dan tekanan darahnya sangat rendah."


Kevin yang menunggu tak jauh dari tempat itu hanya menghela napas panjang. Betapa hancur hatinya melihat kondisi Alea yang tiba-tiba menurun seperti ini.


"Sepertinya istri bapak kelelahan dan terlalu stress. Harus perbanyak istirahat. Suhu tubuhnya juga mulai naik, kami akan beri obat penurun demam yang sesuai dengan dosis ibu hamil. Untuk beberapa hari harus dirawat di sini dulu."


Kevin menganggukkan kepalanya. "Baik Dok, terima kasih."


Setelah itu Dokter dan suster keluar.


Kevin duduk dengan lemas di sisi brangkar Alea. Dia genggam tangan yang terasa panas itu.


Alea, kamu harus kuat ya sayang. Aku tahu kamu lelah, harus merawat Reka, harus me nyu sui Raffa, tiap hari masih sering bergadang. Bahkan kamu juga yang merawat aku. Maafin aku ya, aku yang buat kamu kayak gini. Harusnya aku bisa jagain kamu.


Tangan Kevin terulur mengusap rambut Alea yang sedikit berantakan. "Astaga, sayang badan kamu panas sekali sekarang."


Alea nampak menggigil kedinginan tapi dengan mata yang terpejam. Sedangkan suhu tubuhnya terus naik "Raffa..." igaunya.


"Sayang, ada aku di sini." Kevin sedikit menepuk pipi Alea tapi tidak ada respon.


"Reka..." igau Alea lagi.


"Sayang..." Kevin tahu tugas seorang ibu sangat berat. Dia memikirkan anak-anaknya tanpa memikirkan keadaan dirinya sendiri.


Kevin berdiri dan memanggil Dokter lagi. Beberapa saat kemudian Dokter dan suster kembali datang dengan membawa beberapa alat.


Meskipun panik tapi Kevin berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Dia menghubungi Bi Sum untuk memastikan keadaan Raffa.

__ADS_1


"Tuan ASIP Raffa kalau sampai besok pagi tidak cukup."


Kevin segera mencari solusi lain. Dia bertanya pada Dokter tentang rekomendasi susu formula yang baik untuk bayi. Setelah itu dia menyuruh Anton untuk membeli susu forula sesuai rekomendasi itu.


Raffa maaf sayang. Kamu terpaksa harus minum susu formula dulu. Mama lagi sakit.


Kevin kembali menghela napas panjang. Lalu dia duduk di dekat brangkar Alea.


"Kev, gimana keadaan Alea?" tanya Niko yang baru saja masuk bersama Luna. "Kalau butuh bantuan, biar Luna menjaga Raffa. Aku bisa jaga Reka sendiri. Reka juga sudah besar, dia pasti bisa mengerti kondisi Mamanya."


Kevin mengusap wajah kusutnya. "Ya udah. Untuk malam ini titip Raffa ya. Aku takut dia rewel kalau gak tidur sama mamanya."


"Pak Kevin tenang saja, saya akan bantu merawat Raffa malam ini."


"Iya, terima kasih."


Setelah itu Niko dan Luna keluar dari ruangan Alea.


Semoga besok jauh lebih baik.


Sepanjang malam Kevin terus menjaga Alea. Dia tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Meskipun rasa kantuk dan lelah juga telah singgah di dirinya.


...***...


Saat hari menjelang pagi, Alea mulai membuka matanya. Dia sangat terkejut mendapati dirinya terbaring di brangkar dengan jarum infus yang terpasang di tangannya.


"Kok, aku di sini!" suara terkejut Alea membuat Kevin yang tertidur sambil menangkup wajahnya itu terbangun.


"Sayang kamu udah bangun?"


"Kev, kok aku di sini. Gimana Raffa?"


"Tenang dulu, jangan panik. Badan kamu semalam panas banget kamu sampai pingsan. Kamu istirahat dulu di sini biar kondisi kamu pulih."


"Gimana aku bisa istirahat tanpa Raffa. Aku kan juga janji pagi ini mau ketemu Reka." Alea duduk dan menyingkap selimutnya. "Aku udah gak papa. Aku mau ke hotel lihat Raffa."


Kevin menahan tubuh Alea agar tetap terbaring. "Sayang, kamu istirahat dulu. Bukan hanya Reka dan Raffa yang harus kamu pikirkan tapi juga kondisi kamu. Kamu juga harus ingat, ada satu nyawa lagi yang harus kamu jaga."


Seketika Alea memegang perutnya. "Anak kita gak papa kan?"


"Gak papa, meski kemarin waktu kamu demam denyut jatungnya sempat menurun."

__ADS_1


Dadanya berdegup dengan kencang mendengar hal itu. Dia hampir saja melupakan calon anak yang ada di dalam kandungannya. "Sayang maafin Mama ya..." Alea mengusap lembut perutnya sendiri.


"Mulai sekarang jangan terlalu stress. Kalau capek istirahat. Anak-anak kita sudah ada yang jaga."


"Tapi Raffa minum apa? ASIP nya kemarin cuma sedikit."


Kevin terdiam beberapa saat. "Terpaksa aku belikan sufor."


Seketika air mata Alea meleleh. Dia selama ini berjuang demi memberikan ASI eksklusif pada Raffa meski sedang hamil.


"Jangan nangis." Kevin menghapus air mata Alea. "Tidak apa-apa. Tadi aku lihat Raffa mau kok minum susu formula."


Dadanya yang sudah terasa kencang semakin berdenyut sakit karena tidak dihisap semalaman. "Kenapa kamu gak pompa ASI aku aja. Lihat ini sampai merembes sekarang."


"Aku gak tega lakuin itu waktu kamu gak sadarkan diri." Kevin meraih tas Alea dan mengambil pompa ASI yang dibawa Alea. "Sini aku bantu." Kevin menyingkap blouse Alea yang telah basah di bagian dadanya. "Bentar lagi biar Pak Anton ambil baju kamu di hotel."


Alea mulai memompa ASI nya. "Aduh, tumben perut aku rasanya kram gini."


Kevin menatap Alea dengan serius. Lalu mengusap lembut perut Alea. "Coba jangan dipompa dulu. Dokter kan pernah bilang, kalau ada efek pada perut, kamu harus berhenti me nyu sui."


Seketika Alea melepas pompa ASI itu lalu dia memiringkan dirinya sambil menangis.


"Lea, jangan nangis gini." Kevin meletakkan alat pompa itu di atas nakas. Dia harus bisa menenangkan mood dan kondisi Alea yang sangat menurun seperti ini. "Jangan terlalu stress, gak bagus buat kesehatan kamu dan bayi yang ada di kandungan kamu."


"Terus Raffa harus jadi korban gitu?"


"Gak ada yang jadi korban. Kita masih bisa berikan yang terbaik buat Raffa." Kevin naik ke atas brangkar dan memeluk Alea dari belakang. "Maafin aku. Ini semua salah aku..."


.


.


💞💞💞


.


Jangan lupa like dan komen..


.


Masih ada yang baca gak ya...🤔

__ADS_1


__ADS_2