Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Don't Kiss


__ADS_3

Malam itu Kevin meringkuk di pelukan Alea. Padahal tadi pagi dia bilang ingin memanjakan Alea, tapi justru tubuhnya lah yang sekarang ingin dimanja Alea. Benar-benar terbalik.


"Aku jadi gak tega lihat kamu kayak gini." Alea menjurai rambut hitam Kevin. Untunglah akhir-akhir ini Raffa jarang rewel. Bahkan saat malam Raffa cepat tertidur dengan lelap.


"Gak papa sayang. Daripada kamu yang ngerasain, aku malah gak tega. Kan kamu masih me nyu sui Raffa juga."


"Kamu lagi pengen apa? Besok biar dimasakkan sama Bi Sum."


"Terserah sayang. Tapi aku gak mau sayur," kata Kevin yang sekarang seperti anak kecil yang manja dan tidak suka sayur.


"Ya udah. Yang penting kamu makan yang banyak ya."


Kevin semakin menenggelamkan dirinya di dada Alea. Tapi satu tangannya sudah tidak bisa diam lagi. Dia menyusup di balik daster pendek Alea.


"Ih, tangannya. Katanya pusing tapi tangannya masih bisa bergerilya."


"Yang pusing kepala aja, yang lain masih sehat." Jemari Kevin kini sudah singgah dan membelai di balik kain segitiga itu.


Alea menggigit bibir bawahnya saat lenguhan kecil akan lolos dari bibirnya.


"Jadi gampang basah sekarang." Kevin tertawa kecil. Saat hamil gairah Alea memang mudah sekali terpancing, begitu juga dengan dirinya. Kevin kini mendongak menatap wajah Alea yang telah memerah. "Ayo, tapi tanpa ciuman ya."


Alea tersenyum kecil mendengar permintaan Kevin. Sepertinya bibir yang menjadi candu itu untuk sementara tidak akan dia rasakan.


Mereka berdua sama-sama beranjak dari ranjang dan menuju sofa. Daster pendek Alea dengan cepat sudah teronggok di lantai. Kevin hanya memanjakan Alea dengan sentuhan jemarinya tanpa sapuan bibirnya.


"Aku sayang kamu Alea." Kevin memposisikan dirinya di atas Alea tanpa menindih perut Alea. Dia benamkan miliknya yang membuat Alea berdesis nikmat. Gerakan naik turun berirama itu telah membuat Alea mabuk kepayang. Semakin lama gelenyar nikmat itu semakin memenuhi dirinya.


Kevin menautkan kelima jemarinya di jari Alea. Dia pandangi wajah yang sangat terlihat menggoda itu. Semakin bersemu merah dengan sesekali menggigit bibir bawahnya. Semakin menambah sensasi kenikmatan Kevin.

__ADS_1


"Kev, aku..." Alea menegang beberapa detik saat mencapai puncaknya. Napasnya tersenggal hingga membuat dada yang bulat itu ikut naik turun.


Kevin kembali menggencarkan serangannya. Keringat telah membasahi tubuh mereka. Tapi tiba-tiba Alea mengalungkan tangannya di leher Kevin dan sedikit menekannya. Alea lupa dengan pesan Kevin karena bibir Kevin yang setengah berdesis itu begitu menggoda Alea. Alea mulai memagut bibir itu tapi sedetik kemudian, Kevin mendorong dirinya.


Hasrat belum tuntas tapi isi dalam perut memaksa untuk keluar.


"Shits!" umpat Kevin sambil melompat turun dari sofa. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi dalam perutnya.


"Kevin?" Alea beranjak dari tempatnya dan menyusul Kevin. Dia usap punggung Kevin. "Maaf, aku cium kamu. Aku lupa."


Kevin membersihkan bibirnya dan berkumur.


"Iya, gak papa," kata Kevin, seketika gairah yang tadi menggebu menguar begitu saja.


"Yah, udah mengecil." Alea tersenyum kecil melihat milik Kevin yang tadi berdiri tegak menantang sekarang sudah mengecil tanpa penuntasan.


"Iya, aku ambilkan air hangat dulu."


"Biar aku ambil sendiri kamu tidur aja."


"Sebentar." Alea melangkah cepat keluar dari kamar tanpa mendengaf larangan dari Kevin lagi. Dia sangat bersyukur karena kehamilannya yang ketiga ini dia sangat sehat, bahkan dia tetap bisa menyu sui dan merawat Raffa. Tentu saja juga bisa merawat Kevin.


Beberapa saat kemudian Alea masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas minuman hangat.


"Makasih ya sayang. Maaf, jadi merepotkan kamu seperti ini." Kevin segera meminum air hangat itu agar perutnya lebih enakan.


"Gak papa. Justru aku yang makasih sama kamu. Kalau seandainya aku sendiri yang merasakan morning sickness itu, aku gak yakin bisa menyu sui Raffa juga." Alea mengusap punggung Kevin agar mualnya mereda. "Kamu tidur ya. Sebentar lagi Raffa pasti bangun karena haus."


Kevin menganggukkan kepalanya lalu merebahkan dirinya di samping Raffa. Begitu juga dengan Alea. Mereka saling memandang lalu tersenyum.

__ADS_1


"Met tidur." satu tangan Kevin mengusap puncak kepala Alea agar dia segera terlelap.


...***...


"Sayang besok menginap di villa yuk," ajak Niko. Setelah satu bulan masa pemulihan, Niko ingin mengajak Luna berbulan madu untuk beberapa hari.


"Berapa hari Mas? Soalnya Pak Kevin masih mabuk. Tiap hari hanya sebentar ke kantor."


"Besok kan weekend. Dua hari aja, nnti sisanya kita lanjutkan di rumah. Lagian gak jauh, cuma ke villa di puncak saja. Kalau lama-lama nanti Reka kangen." Niko menarik tubuh Alea agar tidak ada jarak di antara mereka. "Kita bulan madu ya di sana. Kita mulai lagi misi kita."


Luna tersenyum sambil menenggelamkan wajahnya di dada Niko. "Gak ajak Reka sekalian?"


"Ajak Reka?"


"Iya, kasihan dia udah lama gak jalan-jalan. Bu Alea lagi hamil muda dan Pak Kevin lagi ngidam pasti Reka bosan di rumah terus."


Niko menghela napas panjang. Perkataan Luna ada benarnya juga. "Ya sudah, sekalian kita ajak Angga sama ibunya, biar mereka jaga Reka dan kita bisa berdua di kamar."


Luna tertawa kecil. Niko memang tidak akan melewatkan kesempatan yang ada. "Semoga kita bisa segera mendapatkan apa yang kita mau."


"Iya Mas. Amin.."


💞💞💞


.


Jangan lupa like dan komen ya..


Jujurly, author udah bingung mau dibawa kemana cerita ini. Ya, lanjutin sampai anak2 mereka lahir ajalah. Terus langsung lanjut ke ceritanya Reka di novel baru yg rencananya masuk event 100% kekasih ideal.. 😅

__ADS_1


__ADS_2