
Jihan meletakkan berkas-berkas yang di minta pake kus ke atas meja kerjanya. Ia bisa merasakan nyeri pada punggungnya karena mengangkat berkas-berkas tadi dari ruangan tim perencanaan menuju ruangannya.
Yang membuat Jihan kesal adalah, saat ia masuk ke ruangan tim perencanaan tadi, Clara yang menjadi kepala bagian di ruangan itu, malah mengerjai Jihan dengan memberikan berkas yang salah, sehingga Jihan harus bolak-balik hingga dua kali karenanya.
"Pagi-pagi sudah kerja keras saja," ucap Rendy.l
"Aku sepertinya di kerjai oleh nenek sihir di ruangan perencanaan," ucap Jihan kesal.
"Haha ... maksud kamu Nona Clara?" tanya Cika.
"Iya, aku tidak tahu kenapa dia sangat tidak suka dengan ku," ucap Jihan.
"Itu karena kamu lebih cantik dari dia," ucap Rendy.
"Iya, benar tu," ucap Jenny.
"Entahlah, aku mau ke toilet sebentar," ucap Jihan lalu melangkah keluar.
Jihan berjalan menuju toilet yang ada di samping pantry, ia membasuh wajahnya di wastafel yang berada di toilet itu. masih pagi dan ia sudah benar-benar lelah.
Jihan berbalik hendak keluar dari toilet dan tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang hingga tas wanita yang ia tabrak langsung terjatuh. Dengan gerakkan cepat, Jihan memungut tas yang terjatuh itu.
Saat hendak memberikan tas itu kembali kepada pemiliknya, mata Jihan tiba-tiba membulat sempurna karena ternyata wanita yang ada di hadapannya sekarang adalah Vita.
bukan hanya Jihan yang terlihat kaget, tapi Vita pun lebih kaget lagi, karena ini kali pertama dirinya bertemu lagi dengan Jihan setelah tujuh tahun berlalu.
"Kamu!" seru Vita.
Jihan tak menjawab ucapan Vita, entah kenapa ia merasa trauma berurusan dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang, ia hendak pergi meninggalkan tempatnya namun langsung di cegah oleh Vita.
Vita mencengkeram erat lengan Jihan, hingga Jihan tak bisa melanjutkan langkahnya.
"Kamu Jihan kan?" tanya Vita sambil menatap wajah Jihan dengan intens.
Jihan menghela nafas yang cukup berat, sampai pada akhirnya ia memberanikan diri menatap Vita secara langsung.
"Iya ini saya," ucap Jihan malas.
"Kenapa kamu bisa berada disini," ucap Vita tak percaya.
"Apa anda tidak melihat, saya bekerja di sini," ucap Jihan sambil memperlihatkan kartu identitas pegawainya yang tergantung di saku kemejanya, kepada Vita.
"Dasar tidak tahu diri, kamu pasti mau menggoda Johan lagi kan," ucap Vita sambil berpangku tangan.
Jihan memutar bola matanya malas, ternyata selama tujuh tahun ini, tidak banyak yang berubah dari Vita, ia tetap Vita yang dulu selalu membenci Jihan.
__ADS_1
"Saya sudah bekerja di sini, sebelum Kak Jo datang dari Amerika, dan saya tidak tahu jika dia adalah anak dari pemilik king grup," ujar Jihan sambil menatap mata Vita dengan tajam.
"Kamu sudah berani menatap ku seperti itu," ucap Vita
Vita menaikkan tangannya hendak menampar Jihan, namun Jihan langsung menahan tangan Vita.
"Jika kamu berfikir, aku masih anak ingusan seperti tujuh tahun yang lalu, anggapan kamu salah besar ... kenapa selama tujuh tahun ini, kamu masih belum menyadari kesalahan mu kak Vita yang terhormat," ucap Jihan lalu menghempaskan tangan Vita.
Vita mencengkeram erat kedua tangannya, ia tidak menyangka Jihan bisa seberani itu padanya, padahal tujuh tahun yang lalu Jihan bahkan tidak bisa menatapnya secara langsung.
Vita keluar dari toilet itu dan meninggalkan Jihan sendiri. Jihan mengusap wajahnya dengan kasar, deru nafasnya sampai tak beraturan karena berhadapan dengan wanita yang tujuh tahun lalu sudah mengfitnahnya, ia kembali membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan kegelisahannya.
Satu persatu bagian dari masalalu nya telah kembali, baik itu bagian yang baik maupun buruk. Takdir membawa Jihan kembali ke lingkaran itu lagi, namun Jihan yang dulu dan yang sekarang tentunya sudah berbeda.
Selama tujuh tahun, mentalnya sudah di tempa hingga sekuat baja, dia bukan lagi Jihan yang bisa ditindas seperti dulu.
~~
Vita memasuki ruangan Johan tanpa permisi terlebih dulu, terlihat Johan sedang mengerjakan beberapa berkas bersama dengan Raksa.
"Jo ... aku mau bicara!" ucap Vita dengan nada suara yang diluar batas normal.
Johan memberikan kode kepada Raksa untuk keluar, Raksa pun langsung memahami maksud dari Johan, Raksa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kemudian berjalan keluar dari ruangan Johan.
"Aku tadi bertemu dengan Jihan di toilet, Jihan mantan pacar kamu semasa SMA dulu, bagaimana bisa dia bekerja di perusahaan kamu," ujar Vita yang kini sudah duduk di hadapan Johan.
Johan memijat-mijat keningnya, ia tidak menyangka secepat itu Vita bisa bertemu dengan Jihan.
"Memangnya kenapa kalau dia bekerja di perusahaan ku, dia salah satu pegawai terbaik di sini," ucap Johan.
"Apa kamu lupa, wanita murahan itu, telah mengkhianati kamu," ujar Vita.
"Cukup Vita!" teriak Johan yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Johan benar-benar tidak terima dengan ucapan Vita. Johan sudah tidak bisa menahan semuanya, ia harus menanyakan langsung kepada Vita tentang masalah tujuh tahun yang lalu.
"Jangan pernah menyebut Jihan wanita murahan. Aku sudah mengetahui semuanya, Jika kamulah yang telah menjebak Jihan waktu itu, dan memfitnah dia," ujar Johan kesal.
"Kamu percaya dengan ucapan wanita murahan itu," ucap Vita yang malah membuat Johan semakin naik pitam.
"Aku bilang berhenti memanggil Jihan wanita murahan! lihatlah dirimu sendiri, kamu bahkan pernah menawarkan tubuhmu dengan cuma-cuma kepada ku, dan aku menolak itu, karena aku sudah menganggap kamu saudara ku sendiri, dan aku tidak ingin kamu menjadi wanita murahan, jika ada pun ada yang di cap murahan, itu adalah kamu dan bukan Jihan," ujar Johan.
"Jadi kamu membela dia sekarang," ucap Vita.
"Aku tidak membela siapapun, aku hanya bicara fakta ... keluar kamu dari sini!" ucap Johan yang sudah semakin emosi.
__ADS_1
Vita tak bisa mengatakan apapun lagi, nyalinya pasti akan ciut jika melihat Johan marah seperti ini, dengan langkah cepat, Vita keluar dari ruang kerja Johan.
Johan berusaha mengatur nafasnya sampai kembali normal, tiba-tiba ia teringat Jihan, Vita bilang tadi ia bertemu dengan Jihan di toilet. Rasa khawatir mulai menderanya, ia harus bertemu dengan Jihan sekarang.
Johan berjalan dengan cepat menuju ruangan bagian keuangan, di lihatnya jenny yang baru saja keluar dari ruangan itu, buru-buru Johan menghapiri Jenny.
"Apa Jihan ada di dalam?" tanya Johan tiba-tiba, membuat Jenny terkesiap.
"Tadi Jihan pergi ke toilet, tapi sampai saat ini dia belum kembali tuan," ucap jenny.
"Oh baiklah, terimakasih," ucap Johan lalu kembali melangkah pergi.
Jenny memandangi kepergian Johan dengan bingung.
"Untuk apa tuan Johan mencari Jihan, raut wajahnya terlihat sangat khawatir," batin Jenny.
Johan kini berada di depan toilet wanita, ia menunggu sampai seseorang keluar dari dalam, tak beberapa lama seorang pegawai wanita keluar dari dalam toilet.
"Apa masih ada orang di dalam sana?" tanya Johan pada pegawai wanita itu.
"Ti ..tidak ada tuan, tidak ada satu pun orang di dalam," ucap wanita itu gugup.
Johan kembali melangkah pergi, ia mencoba berfikir keras, kira-kira di mana Jihan berada. Ada satu tempat lagi, yang mungkin saja Jihan berada di sana.
Johan melangkah dengan cepat, menaiki pintu darurat, menuju atap, ia butuh menaiki sepuluh bagian tangga untuk sampai ke atas. Johan benar-benar berharap Jihan ada di sana.
Akhirnya Johan sampai di atas, dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia bisa melihat Jihan yang sedang berdiri di depan tiang pembatas.
Johan langsung menghampiri Jihan, dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Jihan," panggil Johan.
Jihan membalikkan badannya dan Johan cukup terkejut karena melihat Jihan yang kini sedang menangis.
"Kamu, baik-baik saja," ucap Johan.
Jihan tak menjawab ucapan Johan, ia langsung memeluk Johan dengan sangat erat, ia butuh sandaran diam saat seperti ini, sudah sejak lama Jihan tidak menangis seperti ini.
Bayangan kepegian Johan, penghinaan Vita, hingga kepegian kedua orang tuanya yang membuat ia trauma kembali membayanginya, hingga dadanya terasa penuh sesak dan air mata yang tak bisa di bendung akhirnya keluar.
Johan mengelus punggung Jihan dengan lembut, ia bisa merasakan luka lama Jihan yang kembali tersayat karena Kehadiran Vita. Rasa bersalah itu kembali muncul, trauma masalalu yang di alami Jihan tidak lain karena dirinya juga.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," ucap Johan kepada Jihan yang sekarang berada dalam pelukannya.
Bersambung 💕
__ADS_1