
"Mama..." Reka langsung berlari masuk ke dalam ruang rawat Alea setelah sampai di rumah sakit.
"Reka, Mama masih sakit. Jangan naik ke perut Mama ya," kata Kevin sambil menggendong Raffa.
"Iya Papa." Reka naik ke sisi brangkar Alea dan menciumi pipi Mamanya. "Mama cepat sembuh biar cepat pulang ke rumah."
"Iya sayang, doakan Mama cepat sembuh ya."
"Mamma..." Raffa merentangkan tangannya menunjuk Alea.
"Raffa, gendong Papa saja ya. Mama masih sakit." Kevin mendekat dan mendudukkan Raffa di samping Alea tapi Kevin masih memegangi Raffa karena kalau tidak, Raffa akan bergerak aktif dan naik ke atas tubuh Alea.
"Mama, adik Rania cantik banget." Reka kini berdiri di dekat box Rania. Perlahan tangannya terulur memegang pipinya.
Raffa juga ingin melihatnya. Bayi 11 bulan itu seolah mengerti kalau dia sudah mempunyai adik.
"Raffa mau lihat juga? Ayo." Kevin menggendong Raffa dan mengajaknya melihat Rania yang sedang terlelap. Alea tersenyum melihat kebahagiaan mereka menyambut anggota baru dalam keluarganya.
Beberapa saat kemudian Pak Marko dan Rendra datang yang langsung disambut tatapan dari mereka semua yang berada di dalam ruangan itu.
Pak Marko tersenyum bahagia menatap mereka semua. Setelah sekian lama dia berpisah dengan Alea, kini dia dipertemukan lagi dengan kebahagiaan yang berkali lipat. Meski pada kenyataannya dia sudah kehilangan istrinya tapi Tuhan memberi tiga cucu untuknya.
"Pa, mereka siapa?" tanya Reka sambil menatap kakeknya.
"Kakek dan paman Reka."
"Kakek?"
"Iya, orang tua Mama sama Kakaknya Mama."
Pak Marko mengusap rambut Alea sambil menanyakan kabarnya hari itu. "Bagaimana hari ini? Sudah semakin membaik?"
Alea menganggukkan kepalanya. "Sudah, Pa."
Pak Marko semakin tersenyum lebar saat Alea akhirnya mau memanggilnya Papa. Karena kemarin saat dia menemui Alea lagi, Alea masih canggung dan kaku berbicara dengannya.
"Pa, yang besar itu namanya Reka dan yang digendong Kevin namanya Raffa."
"Cucu Papa ganteng semua." Pak Marko berjalan mendekati Reka. Dia membungkukkan badannya memeluk Reka. "Cucu kakek sudah besar."
"Kakek, kakeknya Reka?" tanya Reka memastikan lagi.
"Iya sayang. Reka udah besar ya tapi baru bertemu kakek." Kemudian Pak Marko beralih meraih Raffa. Awalnya Raffa menolak tapi akhirnya Raffa mau digendongnya. "Raffa, ganteng banget. Sini duduk sama kakek. Kak Reka juga." Pak Marko duduk di atas sofa bersama kedua cucu lelakinya itu.
Tapi Rendra justru mengambil Rania yang masih tertidur dan menggendongnya. "Aku sama si cewek cantik ini aja."
Alea hanya tersenyum melihat interaksi mereka semua.
__ADS_1
"Ren, kamu udah cocok gendong bayi. Udah saatnya kamu memikirkan masa depan. Tinggalkan dunia gelap kamu," kata Pak Marko saat Rendra ikut duduk di dekatnya.
Rendra justru mencium kecil pipi Rania. "Iya, suatu saat nanti kalau sudah menemukan seseorang yang tepat buat hidup aku."
"Berulang kali Ayah bilang, selama kamu masih berkutat di dunia itu, gak akan ada gadis baik-baik yang mau deketin kamu."
Rendra mengangkat sebelah bibirnya. Benarkah seperti itu? "Kita lihat saja nanti, Pa. Tapi beberapa minggu ini aku mau menghabiskan waktu sama ponakan aku dulu."
"Kakek, nanti ke rumah Reka ya. Kita main di rumah."
"Iya. Nanti Kakek sama Paman Rendra ke rumah Reka."
"Reka punya playstation gak?" tanya Rendra.
"Reka punya ps 4. Paman bisa main? Nanti kita main ya tapi di hari libur saja soalnya Mama kasih main Reka waktu libur saja."
"Oke. Kalau Reka mau, nanti paman belikan ps 5 ya."
Alea sedikit terkejut mendengar Rendra. Pasalnya dia melarang Kevin untuk membeli playstatiom seri kelima tapi Rendra justru akan membelikannya.
Kevin tersenyum kecil. Dia mengerti ekspresi Alea sekarang. "Fix, gak bisa melarang kalau sekarang. Sepertinya bakal ada teman bergadang buat main ps nih sama aku."
Alea mencubit lengan Kevin yang justru menggodanya. "Ih, bapak-bapak gak boleh ikut main ps."
"Siapa bilang?" Kevin memencet hidung Alea. "Emang kalau bapak-bapak bolehnya cuma mainan sama istrinya aja ya?" bisik Kevin di telinga Alea yang sarat akan kode.
Alea mendorong lengan Kevin agar berhenti menggodanya. "Udah cukup tiga aja."
Alea hanya memutar bola matanya yang dibalas usapan lembut dipuncak kepalanya dari Kevin. "Cepat sehat ya, biar kita berlima bisa kumpul di rumah."
Alea mengangguk sambil tersenyum menatap Kevin.
...***...
Satu minggu telah berlalu, keadaan Alea sudah jauh lebih baik. Dia sudah bisa duduk meski jalan masih dibantu Kevin.
"Ayo, kita pulang." Kevin membantu Alea duduk di kursi roda dan mendorongnya keluar dari rumah sakit. Sedangkan di dekat mereka ada Niko dan Luna yang sedang berjalan menggendong Rania.
Setelah sampai di tempat parkir, Kevin segera mengangkat tubuh Alea masuk ke dalam mobil.
"Rania aku bawa pulang aja ya." kelakar Niko.
"Enak aja. Bentar lagi kamu juga punya sendiri."
Perlahan Luna meletakkan Rania di pangkuan Alea.
"Makasih Luna. Langsung ke rumah ya. Di rumah pasti sekarang ramai banget."
__ADS_1
"Iya."
Setelah itu, mobil yang ditumpangi Alea dan Kevin segera melaju meninggalkan rumah sakit.
Baru seminggu tapi pipi Rania sudah sedikit chubby. Rasanya Alea begitu ingin menciumnya terus.
Tak banyak obrolan selama perjalanan pulang karena mereka berdua sibuk memandangi Rania yang diselingi dengan saling pandang seolah mereka sedang jatuh cinta lagi.
Beberapa saat kemudian mobil mereka berhenti di depan rumah Kevin. Dua assistant rumah tangga Kevin langsung membantu membukakan pintu dan meraih Rania di gendongannya.
Buru-buru Kevin keluar lalu mengangkat tubuh Alea dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. "Kev, turunin. Biar aku belajar jalan juga."
"Iya, nanti aku turunin di dalam."
Jelas saja, di dalam rumah mereka semua langsung menyambut kedatangan Alea dan Rania.
Bukan hanya ada Pak Marko dan Rendra tapi juga kedua orang tua Niko.
Ada Reka yang langsung berlari melihat Rania dan juga Raffa yang sedang berjalan sambil berpegangan ujung sofa mendekati mamanya.
Sebentar lagi Luna dan Niko pasti juga sampai.
Rumah yang dulunya sepi hanya ada Kevin di dalamnya, kemudian bertambah sedikit ramai dengan adanya Reka dan Alea. Sekarang suasana rumah Kevin benar-benar hidup. Hari-hari selanjutnya pasti juga akan seperti ini.
"Mamma.." Raffa berusaha naik ke atas sofa dan ingin duduk di sebelah Alea.
"Ayo, Raffa bisa naik gak? Ayo berusaha!" Kevin justru menyemangati Raffa tanpa membantunya. Perkembangan Raffa memamg cepat. Baru 11 bulan, dia sudah bisa rambatan kemana-mana dan terkadang berani melangkah satu dua langkah tanpa berpegangan.
"Yee, berhasil."
Raffa tersenyum gembira saat berhasil duduk di samping Alea.
Kevin mengedarkan pandangannga. Diujung sana terlihat Pak Marko yang sedang mengobrol dengan Pak Haris. Sedangkan Rendra dan Reka justru berebut Rania. Begitulah kata Rendra, sepertinya dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Rania.
"Senang banget melihat kebersamaan ini."
"Iya, dan semoga selalu seperti ini..."
💞💞💞
.
.
Jangan lupa like dan komen..
.
__ADS_1
Kasih vote juga oke..
😁😁😁