Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Cepat Sembuh


__ADS_3

Beberapa bulan pun telah berlalu. Perut Alea sudah terlihat membuncit bahkan sudah ada tendangan-tendangan kecil dari dalam perut itu.


Kevin tersenyum tiap kali bisa merasakan pergerakan itu. "Sehat sekali anak Papa. Baru lima bulan tapi sudah aktif."


Pagi itu bukannya beranjak tapi Kevin justru bermain dengan perut buncit Alea. Padahal dia juga sudah mandi dan rapi, tapi dia masih menemani Alea yang ingin bermalasan.


"Iya, seneng banget tiap kali bisa rasakan tendangannya."


Mereka berdua kini saling bertatapan penuh cinta dan tersenyum. Tapi tatapan mereka dibuyarkan oleh sebuah ketukan pintu dari Bi Sum.


Tidak biasanya asisstant rumah tangganya itu mengetuk pintu kamarnya. Kevin segera beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu itu.


"Maaf tuan, Rania demam. Saya bangunkan dia tidak mau bangun."


"Rania demam?" Kevin segera berjalan menuju kamar Rania yang diikuti oleh Alea.


"Rania." Alea meraih tubuh Rania dan mengecek suhu tubuh Rania dengan termometer. "Demamnya tinggi sekali." Alea menjadi sangat khawatir saat suhu badan Rania menunjukkan angka 39,5°c.


"Kita langsung bawa ke rumah sakit saja." Kevin menggendong Alea. "Bi, tolong ambilkan tas kecil aku dan jaket Alea."


"Iya Tuan."


Kevin segera membawanya menuju mobil.


Alea mengikuti langkah Kevin lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Setelah Bi Sum menyerahkan tas dan jaket Alea, dia segera kembali masuk ke dalam rumah untuk menemani Raffa.


"Pak, cepat ya." Kevin terus memeluk tubuh panas Rania. Rania hanya memejamkan matanya dan merintih.


"Sayang, kenapa bisa demam gini? Pantas akhir-akhir ini kamu gak mau makan." Alea menggenggam tangan kecil Rania.


Setelah sampai di rumah sakit, Kevin segera membawa masuk Rania ke IGD agar segera ditangani.


Dokter segera memeriksa keadaan Rania, sedangkan suster mulai memasang jarum infus di pergelangan tangan Rania.


Rania menangis saat jarum itu kini menancap di pembuluh venanya.


"Sayang, tenang ya. Sakitnya cuma sebentar." Alea memeluk Rania agar berhenti menangis.


"Mama sakit."


"Iya sayang. Ini biar kamu cepat sembuh."


Dokter segera memberikan obat penurun demam lalu mengambil sample darah untuk dicek lab.


"Sebentar lagi akan kami pindah ke ruang rawat. Tunggu sampai hasil tes darah keluar untuk mengetahui penyakitnya. Karena demam pada tubuh adalah pertanda jika ada sesuatu yang terinfeksi atau peradangan di dalam tubuh."

__ADS_1


"Iya, Dok." Alea dan Kevin mengikuti Rania yang sedang di dorong di atas brangkar untuk dipindah ke ruang rawat inap rumah sakit.


Kevin terus merengkuh tubuh Alea yang sedari tadi menangis itu.


"Nia pasti gak papa. Bentar lagi aku belikan makan ya, kamu makan dulu."


Alea mengangguk pelan lalu mengusap sisa air matanya.


Setelah selesai memindah Rania, suster itu keluar dari ruang rawat.


Alea kini duduk dengan lemas di sisi brangkar Rania. Dia usap rambut Rania yang telah tertidur karena efek obat.


"Cepat sembuh ya sayang, Mama sedih lihat Nia sakit seperti ini."


Alea menghela napas panjang. Apa ini cobaan yang dia hadapi lagi saat dia hamil. Satu hal yang sangat dia takutkan melihat orang yang dia sayangi sakit.


Beberapa saat kemudian Kevin masuk dengan membawa dua kotak makanan dan dua minuman hangat.


"Sayang kamu makan dulu ya." Kevin duduk di sebelah Alea dan mulai menyuapinya.


Suapan dari Kevin seolah sulit untuk dia telan. Mengapa cobaan itu menimpanya lagi di saat dirinya sedang hamil anak keempat.


Kevin sedikit membungkakkan dirinya menatap mata Alea yang berulang kali mengembun. "Sayang, Rania pasti gak papa. Udah kamu makan dulu ya."


"Cobaan ini mengapa datang lagi saat aku hamil, Mas. Rania sudah beberapa kali sakit demam gini."


Alea menganggukkan kepalanya.


"Jangan sedih lagi. Sekarang kamu habiskan makannya. Aku juga gak mau kamu sakit." Kevin melepas pelukannya lalu meraih kotak makanan yang sempat dia taruh dan melanjutkan menyuapi Alea.


Kali ini Alea menerima suapan itu dan mau memakannya sampai habis.


"Nanti malam kalau kamu capek, kamu tidur di rumah. Biar aku yang jaga Rania." kata Kevin setelah makanan itu habis.


Alea menggelengkan kepalanya. "Aku mau jaga Rania. Pasti Rania butuh aku."


Kevin menghela napas panjang. Sepertinya setelah ini dia benar-benar tidak akan membuat Alea hamil lagi. Meskipun dia tahu ini adalah suratan takdir tapi kejadian yang terus-menerus ini membuatnya sangat kasihan pada Alea.


Dia usap lembut perut Alea. Lalu menciummya. "Jangan ikut sedih ya sayang. Besok Mama pasti kembali tersenyum lagi."


Alea tersenyum kecil mendengar kalimat Kevin. "Mas, makan dulu saja."


"Iya." Kevin beralih duduk di sofa sedangkan Alea terus memandangi wajah pulas Rania.


Sampai hari menjelang siang, Rania akhirnya terbangun.


"Mama..."

__ADS_1


Mendengar panggilan itu Alea seketika tersenyum. "Iya sayang..."


"Nia lapar." kata Rania.


Kebetulan makanan untuk Rania baru saja diantar oleh suster.


"Sini, Mama suapin ya." Alea membantu Rania duduk dan bersandar.


"Papa mana?" tanya Rania


"Papa sedang menemui Dokter." dengan telaten Alea menyuapi Rania sampai makanan habis tak tersisa.


Beberapa saat kemudian Pak Marko dan Raffa datang menjenguk Rania.


"Nia..."


Mendengar suara Raffa seketika Rania tersenyum. "Kak Raffa.."


"Nia, sudah tidak demam, nak?" Pak Marko mengecek suhu tubuh Rania dengan punggung tangannya. "Wah, demamnya sudah turun. Sebentar lagi pasti bisa bermain lagi."


Alea tersenyum melihat Rania yang sudah mulai ceria lagi. Kini dia duduk di sofa dan harap-harap cemas menanti hasil tes darah. Dia kini melihat Kevin yang masuk ke dalam ruangan. Jantungnya berdetak dengan cepat saat melihat wajah sedih Kevin.


"Gimana hasilnya Mas?" tanya Alea.


Tapi Kevin hanya terdiam saja.


"Jangan ada yang ditutupi dari aku."


"Kita bicara diluar saja." Kevin menuntun Alea untuk duduk di kursi lobi. Dia memeluk tubuh Alea. "Maafkan aku, sudah memberikan penyakit pada Rania." kata Kevin dengan suara yang bergetar.


"Ke-kenapa?"


"Leukosit Rania sangat tinggi dan dia punya gejala leukimia."


Dunia seolah berhenti berputar. Mengapa cobaan silih berganti menerpa hidupnya. Tapi kali ini dia tidak boleh cengeng. Dia harus kuat demi Rania. Baru gejala, Rania pasti bisa sembuh.


"Penyakit itu menurun dari aku." lanjut Kevin lagi.


Alea meregangkan pelukan Kevin. Kevin yang biasanya selalu menenangkannya kini justru bersedih. Pasti dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Masih gejala kan Mas. Pasti masih bisa sembuh. Buktinya Mas Kevin sekarang sehat. Kita harus kasih suport terus untuk Rania."


Kevin menganggukkan kepalanya lalu dia semakin mengeratkan pelukannya.


💞💞💞


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen...


__ADS_2