
Suasana hening mulai terasa menyayat keheningan malam. Johan berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati minuman kaleng yang ada di tangannya.
Ucapan Jihan siang tadi benar-benar membuatnya resah, gelisah hingga tak bisa fokus bekerja. Johan mulai berfikir apa dia terlalu egois menahan seseorang yang di cinta.
Begitu banyak waktu yang terlewatkan kini berbuah penyesalan. Ingin memperbaiki kembali ternyata tak semudah yang di bayangkan.
Ada saja Penghalangnya, baik faktor internal maupun eksternal.
Johan masih memikirkan cara untuk membatalkan pertunangan konyolnya dengan Vita. Bagaimana tidak, hanya karena harta, tahta, anak jadi tersiksa.
Perjanjian perjodohan itu begitu menggelikan, anak masih bau kencur di ikat dan di jodohkan setelah mereka dewasa. Saking kesalnya Johan ingin bertemu dengan pencetus janji perjodohan model ini.
Johan menghabiskan minumannya, lalu menginjak kaleng minuman itu hingga remuk, sambil membayangkan wajah Vita yang tersenyum di hadapan banyak orang di malam pesta waktu itu.
Vita seolah menari-nari di atas penderitanya, entahlah tapi Johan sudah muak, hilang kesabaran pada wanita yang dulu ia sapa sahabat itu.
Johan melangkahkan kakinya, masuk kedalam kamar, bukan untuk tidur tapi ia akan pergi ke rumah Jihan. Sudah larut memang tapi ia belum bisa tenanh jika belum melihat Jihan.
Saat memasuki kamar, Johan hendak mengambil kunci mobilnya, namun gerakan tangannya terhenti saat melihat kunci motor yang tergantung di samping kunci mobilnya. Johan pikir, tidak ada salahnya jika ia memakai motor itu lagi.
Motor ninja 250R yang dulu selalu setia menemaninya kemanapun semasa SMA dulu. Mesin masih oke, casing juga masih kinclong, Helm jangan di tanya, terletak rapi di dalam lemari kaca.
Johan akhirnya memutuskan untuk mengendarai motor itu setelah sekian lama. di ambilnya salah satu helm yang selalu ia pakai lalu beranjak keluar dari kamar. Untung saja semua penghuni rumah sudah tidur.
Johan membuka garasi, di antara mobil-mobil mewah yang terparkir di garasi itu ada satu tempat khusus di mana motor Johan berada. Tak lupa untuk mengecek kondisi kendaraan sebelum berangkat. Jangan sampai ada insiden macet di tengah jalan, ban bocor atau apapun kesialan yang berhubungan dengan kendaraan.
Karena tidak ingin, membangunkan Macan yang sedang tidur, Johan mendorong motornya hingga sampai di depan gerbang. Ia membangunkan satpam yang sedang berjaga katanya, namun faktanya sedang tertidur lelap bak snow white di dunia nyata.
"Pak ... pak, bangun!" seru Johan tepat di telinga satpam itu.
Pak satpam sampai terperanjat kaget karena suara keras yang menghantam gendang telinganya, " Siap tuan," ucapnya tegas namun mata masih sayu karena mengantuk.
"Bukakan di pintu gerbang sekarang," pinta Johan.
"Tuan mau kemana, ini sudah larut?" tanya pak satpam kepo.
"Bukan urusan mu ... dan satu lagi, tutup mulutmu, jangan beritahu siapapun aku pergi malam ini," ancam Johan.
__ADS_1
"Ba-baik tuan," ucap satpam itu gugup.
"Tunggu apalagi, cepat buka," ucap Johan lagi.
Pak satpam itu beranjak dari tempatnya, lalu mengambil kunci yang ia gantung di dekat pintu. Ia membuka pagar yang menjulang tinggi itu, hanya sedikit cukup muat motor Johan lewat saja ucap sudah cukup.
Johan langsung menghidupkan mesin motornya dan melaju pergi, ia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia mempercepat laju motornya agar lebih cepat sampai di rumah Jihan.
Tak pernah ada yang mengerti cara kerja rindu. Datang secara tiba-tiba, di saat sang pemilik rindu tidak di depan mata. Tak di hiraukan mata tak bisa terlelap.
Di turuti malah merepotkan, apalagi saat semua penduduk bumi sedang terlelap dalam mimpi. Johan memasuki area lingkungan tempat tinggal Jihan, sudah nampak seperti, hanya ada warung pecel lele yang masih terjaga.
~~
Jihan masih duduk di depan meja, dengan tumpukan berkas yang menggunung. Siang tadi ia terlalu banyak merenung, hingga pekerjaan terbengkalai. Rasa panik kian mendera saat ingatanya kembali memberi peringatan bahwa laporan harus di kumpulkan besok.
Setelah selesai Jihan berdiri dari posisinya, untuk meregangkan otot-ototnya, "akhirnya selesai juga."
Jihan membereskan kertas-kertas itu dan juga laptopnya. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti saat berhenti saat Ponselnya bergetar. Ia mengerutkan keningnya saat mendapati panggilan telepon itu berasal dari Johan.
Jihan memutuskan untuk tidak menjawab panggilan telepon itu, tapi ia mulai risih saat ponselnya terus saja bergetar tanpa henti. Dengan malas Jihan mengangkat telepon dari Johan.
[Kenapa baru di angkat, aku sedang berada di depan rumah mu, kemari lah]
[Apa! Di depan rumah ku]
Jihan Melangkahkan kakinya menuju jendela yang ada di samping pintu masuk, matanya membulat saat ia melihat Johan sedang duduk di atas motor, di depan rumahnya, selarut ini.
[Pulanglah, ini sudah larut]
[Aku akan terus disini jika kamu tidak keluar]
Jihan menghembuskan nafasnya dengan berat. Untuk apa Johan ingin menemuinya selarut ini.
[ Ya baiklah, tunggu sebentar]
Akhirnya Jihan menyerah juga, mempertahankan pendiriannya, hanya akan memperumit masalah, apa lagi kalau di lihat tetangga, bisa jadi bahan gosip saat membeli sayur esok hari.
__ADS_1
Jihan mengintip ke kamar Mela, terlihat Mela yang sedang tertidur sangat pulas bersama dengan Nino. Jihan melangkah menuju kamarnya untuk mengambil jaket.
Setelah keluar dari rumah, Jihan tak lupa mengunci pintu dari luar. untuk berjaga-jaga. Ia berjalan menghampiri Johan yang masih setia menunggu.
Jihan celingak-celinguk, melihat kondisi sekitar yang masih terpantau sepi.
"Kamu kenapa?" tanya Johan saat melihat tingkah aneh Jihan.
"Ini Sudah jam sepuluh malam, tetangga akan curiga melihat seorang pria datang malam-malam seperti ini ke rumah seorang wanita dan aku tidak bisa membawa kamu masuk, Tante dan Nino sedang tidur," tutur Jihan.
"Maaf, aku hanya ingin melihat mu," ucap Johan.
"Untuk apa seorang lelaki yang sebentar lagi akan bertunangan, ingin melihat wanita lain," ucap Jihan dengan jengah.
"Jangan membahas masalah pertunagan itu, kamu tahu aku tidak akan pernah bertunangan dengan Vita," ujar Johan.
"Terserahlah ... sekarang kamu sudah melihat ku kan, jadi pulanglah," ucap Jihan.
"Apa bisa kita berjalan-jalan sebentar?" tanya Johan sambil menyodorkan sebuah helm kepada Jihan.
Jihan tediam sejenak, ia baru menyadari jika Johan mengendarai motor yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. bahkan helmnya pun sama masih yang dulu, nampaknya terlihat sangat terawat tidak memudar sedikit pun.
"Jika kamu menolak, aku tidak akan pulang,"ucap Johan.
"Kamu mengancam ku," ucap Jihan dengan kesal, namun ia tetap meraih helm yang di berikan Johan, langsung di pakai dan naik keatas motor.
"Ayo cepat jalan, ini sudah hampir jam sepuluh malam," ucap Jihan kesal.
"Siap tuan putri," ucap Johan merasa senang.
Johan merasa senang karena Jihan mau ia ajak berkeliling, meski tidak selengket dulu.
Dulu sekali Jihan pasti akan memeluknya dengan erat.
Motor Johan menyuri jalanan ibukota yang semakin malam semakin meriah, karena malam ini di taman kota sedang di adakan car free night. Johan melirik Jihan dari kaca spion, Jihan nampak memperhatikan lokasi car free night itu.
"Mau mampir?" tanya Johan.
__ADS_1
"Terserah,"ucap Jihan.
Johan masih hafal, jika Jihan mengatakan terserah itu berarti ia mau, ia ingin. Bahasa wanita memang sangat amat banyak macamnya, bukan hanya lewat kata-kata, namun dari gerakan tubuh dan mimik wajah juga. Laki-laki yang ingin hubungannya bertahan lama harus mengerti semua hal itu.