Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.17


__ADS_3

Johan sedang dalam perjalanan untuk pulang kerumah, dengan tangan yang masih menggenggam erat kalung itu di tangannya. Jika memang Jihan sudah melupakannya, kenapa jihan masih menyimpan kalung penuh kenangan buruk mereka.


Teringat kembali ucapan Jihan di parkiran tadi, Jihan mengatakan, Maaf jika saya bicara lancang karena ini sudah di luar jam kantor. Saya hanya ingin mengatakan ... bagaimana jika, apa yang anda lihat dengan kenyataan yang sebenarnya itu tidak sama, saya harap anda tidak akan menyesalinya, Permisi. ucap Jihan tadi.


Johan menghentikan mobilnya di sebuah halte bus tempat terakhir kali mereka bertemu, tempat biasa ia menjemput Jihan. Ia duduk di kursi halte itu menatap nanar ke arah jalanan.


Johan kini sadar jika ia masih terjebak di masa lalu, bukan Jihan tapi dirinya, dengan membenci Jihan apa yang dirinya dapatkan, kepuasan melihat jihan tersiksa, ketidak relaan melihat Jihan bahagia.


Tiba-tiba Johan sadar jika tingkahnya benar-benar tidak mencerminkan seorang pria dewasa.


"Bagaimana sekarang aku harus bersikap, aku bingung dengan perasaanku sendiri," gumam Johan sambil melihat kalun yang ada di tangannya.


Johan masih bingung tentang perasaanya sendiri, apakah ia benar-benar sudah melupakan Jihan atau ia masih mempunyai rasa kepada Jihan.


~


Jihan mengerjapkan kedua matanya, saat merasakan silau dari jendela yang terbuka, di lihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, sontak Jihan langsung turun dari tempat tidurnya, mengambil handuk, lalu berhambur menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, jihan tidak bisa langsung masuk, karena Nino adik sepupunya itu berada di dalam.


"Nino, kami di dalam?" tanya Jihan.


"Iya!" pekik Nino.


"Masih belum selesai ya, kakak sudah terlambat ini," ucap Jihan.


" Belum!" pekik Nino lagi.


Mela yang baru saja selesai membuat sarapan pagi, melangkah mendekati Jihan yang masih berada di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa sih, kok heboh sekali?" tanya Mela.


"Aku hampir telat Tante, ini sudah jam tujuh pagi, bisa-bisa nanti bos ku marah, dia itu galak sekali," ujar Jihan.


"Galak? ... Tidak kok, bos kamu itu sopan dan lembut sekali saat bicara," ucap Mela.


"Bagaimana tante bisa tahu?" tanya Jihan.


"Kamu tidak ingat, bos kamu yang mengantarkan kamu pulang tadi malam, dia juga yang menggedong kamu sampai ke kamar, sudah tampan, mapan, baik lagi," ujar Mela.

__ADS_1


Terbalik dengan ekspresi wajah Mela saat ini, wajah jihan malah nampak pucat, Johan masuk ke kamarnya, ia ingat meletakkan kalung pemberian Johan di atas meja rias.


Jihan langsung berlari menuju kamarnya, Mela semakin di buat bingung dengan tingkah keponakannya itu.


"Jihan kamu kenapa?" ucap Mela sambil memandangi kepergian Jihan.


Jihan membuka pintu kamarnya, berjalan menuju meja riasnya yang ada. di sudut kamar, ia mulai mencari-cari di mana kalung itu, seingatnya ia meletakkan kalung itu di atas meja dekat rak aksesorisnya, namun sudah ia cari namun tidak ketemu juga.


Jihan beralih memeriksanya di dalam laci, siapa tahu ia sudah menaruhnya kembali di dalam kotak, dan tidak ada, kalung itu tidak ada.


"Tidak!!" Teriak Jihan menggema ke seluruh penjuru rumah.


Nino yang masih berada di kamar mandi sampai di terperanjat kaget. Sedangkan mela langsung menghampiri Jihan di dalam kamarnya.


"Jihan, kamu kenapa?" tanya Mela.


"Tidak apa-apa tante, tadi ada kecoa di atas kaki ku," ucap Jihan, mencari alasan, tidak mungkin kan, ia menceritakan hal itu kepada Mela.


"Huh ... tante kira kenapa, sana mandi, itu Nino sudah selesai," ujar Mela, lalu beranjak pergi.


Jihan memukul-mukul jidatnya sendiri, menggerutuki kecerobohannya, sebenarnya ia juga tidak menyangka jika Johan akan mengantarkannya sampai ke dalam kamar.


~


Jihan bersandar di sebuah tembok, pikirannya kacau, bagaimana ia akan menghadapi Johan sekarang.


Pura-pura tidak tahu saja, seharusnya kan memang begitu, Batin Jihan.


.


"Hy Jihan!" seru Malik Mengagetkan Jihan yang sedang melamun.


"Malik, Mengagetkan saja," ucap Jihan.


"Hehe, maaf ... kamu kenapa masih berdiri di sini?" tanya malik.


"Aku sedang menunggu Pak CEO kita datang, Huh ... ada-ada saja peraturannya, kenapa juga dia harus di sambut," keluh Jihan.


"Kamu yang sabar saja, bagaimana jika aku temani?" tanya Malik.

__ADS_1


"Oke ... lebih baik, jika berdua, sendirian di sini, membuat aku seperti orang bodoh," ucap Jihan.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya mobil yang membawa Johan datang, terparkir di depan lobby. Johan keluar dengan gagah seperti biasa, para karyawan wanita yang berada di sana, berteriak-teriak histeris, karena melihat kedatangan Johan.


Sementara Jihan, hanya diam, tanpa ekspresi, ia melirik ke arah wanita-wanita yang ada di sampingnya, Jihan menggelengkan kepalanya, seolah berkata dalam hati, jangan langsung memujanya kalian tidak tahu sikap aslinya kan.


"Selamat pagi tuan," ucap Jihan dan Malik secara bersamaan.


Johan mengerutkan keningnya, saat mendapati adik seperguruannya Malik berada di perusahaannya, dan mengunakan kartu identitas pegawai.


"Malik," ucap Johan sambil terus melihat Malik.


"Selamat siang tuan, saya pegawai baru di bagian keuangan," ucap Malik lugas.


Jihan merasa heran, bagaimana Johan bisa tahu nama Malik, namun ia tidak bisa bertanya karena masih merasa canggung dengan Johan.


Malik, meletakkan telunjukdi depan mulutnya, seolah Memberi tahu Johan, agar tidak mengatakan jika Johan adalah kakak sepupunya, untung saja Jihan tak melihatnya.


Johan langsung mengerti maksud Malik, entah apa maksudnya, namun Johan tak perduli, ia kembali melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Jihan dari belakang.


Jihan berbalik sebentar, melambaikan tangannya ke pada Malik, dan langsung di balas oleh Malik yang ikut melambaikan tangannya.


Sesampainya di ruangan, jihan langsung berhenti di depan meja kerjanya. Ia meletakkan tasnya, baru saja ia akan duduk, Johan sudah bersuara.


"Ikut ke ruangan ku," ucap Johan tanpa menoleh ke arah Jihan.


Jihan semakin panik, jangan-jangan Johan akan membahas masalah kalung itu, apa yang Harus di katakanya nanti, dia benar-benar belum siap untuk ini, belum siap untuk semua pertanyaan yang akan di ajukan Johan nanti.


Jihan melangkah dengan lemas, ia sudah memegang handel pintu, membukanya sedikit, mengintip Johan yang sudah duduk di kursi kebesarannya, kemudian menutup pintu itu kembali.


.


Jihan Menghembuskan Nafas perlahan, mencoba mengukir senyum dj wajahnya yang nampak pucat, berkeringat.


"Selamat pagi tuan," Ucapanya saat sudah masuk kedalam ruangan Johan.


Johan melihat jihan sekilas lalu kemudian kembali fokus ke layar laptopnya, " Duduklah."


Jihan melangkah kearah meja kerja, dengan perasaan campur aduk, ia duduk di hadapan Johan.

__ADS_1


Entah apa yang akan Johan katakan, namun kini Johan belum mengatakan apapun kecuali terus menatap Jihan lekat.


Kenapa aku terus saja memikirkan wanita seperti mu, kamu yang telah mengkhianati ku seharusnya tidak pernah muncul lagi, Jihan kamu benar-benar menyiksa ku, batin Johan.


__ADS_2